KHUTBAH POLITIK

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Motivasi
dipublikasikan 01 September 2017
KHUTBAH POLITIK

Sumber: Toa Islamic Centre Mataram.
Disiarkan langsung: RRI Mataram
Dilansir: Catatan Ingatan Jamaah

Tak sedikit jamaah terlihat khusyu' pertanda antusias menyimak khutbah sang khotib yang tampak berbeda dari biasanya. Ada semangat yang ditularkan, ada semacam orasi yang disuarakan pada kaum muslimin yang hadir. Ada kebangkitan yang lantang diteriakkan, tak gentar membongkar muslihat musuh Allah. Banyak dari jamaah Bapak-Bapak hingga Nenek-Nenek, terperangah dan nganga-nganga "mungkin" timbul pertanyaan di benak mereka. Apa sebenarnya yang menjadi dalih khutbah tersebut di momen Idul Adha kali ini?

Fakta demi fakta dijabarkan dengan kompleks, mulai dari insiden bendera terbalik hingga pada penderitaan umat islam di seluruh belahan dunia. Analisa demi analisa yang diseru khotib pagi tadi begitu tajam. Disebutlah ada makar dan konspirasi kaum kuffar yang begitu terang-terangan dan nyata-nyata memecah belah pilar-pilar negeri muslim. Belum lagi persoalan khilafiyah dan furu' yang paling depan dijadikan mainan cantik kafir Barat untuk merusak persatuan muslim.

Takjub kami sebagai pendengar, tentu saja. Sayangnya, saya sedang tak menyiapkan alat tulis atau notebook saking terbirit-biritnya berangkat dari rumah. Khawatir tak kebagian tempat dan jatah duduk, kebiasaan meletakkan perekam pun lupa terbawa. Alhasil, tak semua terekam dalam memori. Saya skemakan poin-poin yang kiranya menjadi titik utama bahasan khutbah bersumber dari toa Islamic Centre Mataram.

Khutbah penghantarnya memang diracik sedemikian rupa, entah pesanan siapa. Yang saya yakini, ramuannya adalah pesanan Allah dan umatnya. Jamaah diminta berada dalam satu barisan, kembali pada ajaran islam dan umatnya. Mengikuti sunnah khulafa'urrasyidhin saja, berpegang pada tali agama Allah, cukuplah itu yang menjadi keterwakilan kita untuk bersatu menyerang makar kaum kafir.

Rupanya dampak ujaran kebencian dari masa ke masa, membuat setiap masjid tak memilih diam menyembunyikan kebenaran. Puncaknya, semua luapan amarah itu dibeberkan sampai akar-akarnya oleh sang khotib. Mungkin dia lelah, atau lebih tepatnya, mungkin dia marah. Lebih-lebih dia menceritakan bahwa Indonesia, Malaysia, Arab Saudi, dan seluruh negeri muslim sedang menjadi bulan-bulanan kafir Barat. Sikap kita hendaknya jangan mudah terhasut, tak perlu mencontoh sikap kekanak-kanakan Arab Saudi yang mudah sekali diadudomba sehingga memerangi saudara muslimnya sendiri.

Suriah, Rohingya, Bangladesh, Myanmar, dan beberapa nama negeri muslim tak lepas disebut sang khotib. Saking hafalnya, beliau ceritakan setiap alur peristiwa dan konspirasi jahat didalamnya. Sekali lagi saya ingin katakan, mungkin khotibnya mulai gerah. Gerah menyaksikan kebrutalan kapitalis sekuler yang berujung pada menderitanya umat islam di berbagai belahan bumi.

Alhamdulillaah, istilah demi istilah keren pun keluar dari lisan sang khotib. Apakah semua jamaah yang hadir mengerti dengan istilah hegemoni Barat? Agaknya, saya hanya terbiasa mendengar istilah ini dari lisan pengemban ideologi islam saja. Lalu, siapa yang mewabahi pemikiran sang khotib sampai beliau berpesan bahwa "Hendaknya ummat islam kembali pada syariatnya, tidak menolak ajakan ideologi kebenaran." Sayang, tak disebutkan pula ideologi apakah itu? Namun dia kisahkan pula, seharusnya kaum muslimin menguat dengan ideologi shohih-nya, yang mengajak kita kembali pada islam dan assunnah. Berpihaklah pada mereka yang menawarimu ideologi kebenaran, persis seperti itu penyampaian yang dilontarkan begitu tegas.

Berkali-kali saya berdecak lirih, hampir-hampir menetes air mata mendengarnya, "Siapakah beliau?" Adakah dirinya ini salah satu pejuang dari ideologi kebenaran itu?

Kemudian, sang khotib mengutuk kekejaman kaum kafir, lagi dan lagi. Tak habis-habisnya beliau bongkar kebusukan ideologi Barat, tapi saya masih belum mendengar, ideologi apa yang dimaksudkan? Adakah itu kapitalis sekuler dan sosialis komunis? Mungkin begitu, hanya saja tak disebut dengan gamblang. Cukuplah beliau jelaskan ciri-ciri ideologi itu, yakni memusuhi islam dan menggelontorkan islamophobia yang membuat umat ini ketakutan dengannya. Demikian kemudian, kita mestinya menyadari titah Allah untuk bersatu. Kitalah ummat yang satu dibawah Nabi yang satu, Qur'an kita satu, Tuhan dan tauhid kita satu. Dengan alasan apa kita tidak mau dipersatukan dengan ideologi yang benar?

Ckckck.. Terlalu berani. Beliau begitu lepas menghantam hati jamaah untuk setia pada syariat islam, bahkan bila perlu gigitlah ia dengan gigi-gigi gerahammu. Saking wajibnya kembali pada syariat itulah, kita wajib menggigitnya erat-erat, lekat-lekat. Lamat-lamat ia akan kembali, itu pasti dan mutlak terjadi.

*Keep Standing Argument: Berpeganglah pada ideologi kebenaran. Jangan menolak kelompok yang datang mengajak kita pada ideologi yang benar.*

Maasyaa Allaah, Bapak ini luarbiasa beraninya. Siapa dia?
Pandai sekali menganalisa berita dan fakta. Solusinya cerah dan bersinar, betul-betul membakar dada-dada kaum muslimin yang hadir. Terkesima kami atasnya, kemudian jamaah pun ternganga-nganga, "siapa sih dia?"
===============================================
Terimakasih, Ustadz! Jujur, darah juang kami terbakar!
Dan saya yakin, dari corong kota kecil ini, akan lahir barisan pejuang Syariah Kaffah yang teguh diatas diin. Tidak menawar hukum Allah dengan dunia yang tiada berisi.
Allaahu akbar!

 

  • view 53