Menyentil Ingatan: Benarkah Kita Telah Merdeka?

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Renungan
dipublikasikan 30 Agustus 2017
Menyentil Ingatan: Benarkah Kita Telah Merdeka?

Indonesia saat ini bertarung dengan sejarahnya sendiri. Dunia sosial media dipenuhi napak tilas kisah para pejuang yang digelari pahlawan tanpa tanda jasa. Harusnya masyarakat Indonesia bangga atas perjuangan para maestro, mereka telah membebaskan negeri ini dari penjajahan bersenjata. Sayangnya, Indonesia hari ini tengah bertengkar dengan sejarah mereka sendiri. Ada yang menganggap sejarah hanyalah masa lalu, saatnya kita menatap masa depan sebagai jalan baru. Sebagian memandang bahwa tinta sejarah kita banyak dihapuskan dari ingatan. Hampir-hampir kita lupa, Indonesia memproklamasikan kemerdekaannya tepat pada 17 Agustus 1945.
 
72 tahun berlalu, kemerdekaan itu nyatanya hanya menjadi buah bibir. Indonesia yang merdeka diatas tanah airnya, kini dirampas haknya untuk berkepemilikan. Semua lahan di-privatisasi hari ini, mulai dari hulu ke hilir. Sejak memproklamirkan hari kemerdekaannya, Indonesia nyata-nyata masih terjajah dengan jajahan model baru. Kita tidak lagi diserang dengan meriam atau peluru menembus dada, karena para penjajah tampaknya paham bahwa pemuda Indonesia punya sejarah manis untuk turun ke medan perang. Mereka tak siap kembali melawan pemuda kita dengan melempar bom dari atas helikopternya.
 
Menyadari catatan sejarah di medan laga yang terlalu pahit dan para penjajah acapkali kalah melawan fisik pahlawan Indonesia, maka sekarang mereka tidak lagi berkoalisi untuk mengeluarkan amunisi dari pistol-pistolnya. Yang dilakukan adalah dengan meracuni pemikiran pemuda Indonesia, bahkan dari rakyat pribumi hingga kelas penguasa pun telah terkepung oleh gaya hidup keBarat-Baratan persis penjajahnya dulu. Akhirnya, warga pribumi tumbuh menjadi orang-orang yang malas bergerak, lebih banyak menghabiskan waktu untuk menunggu datangnya bantuan ketimbang berjuang langsung untuk menghidupi diri. Tidak heran, hari ini revolusi mental yang dikampanyekan pemerintah Indonesia lebih mirip “tong kosong nyaring bunyinya.” Kita sibuk berteriak “Merdeka,” tapi harta dan moral dikuliti sampai ke akar-akarnya. Kita lantang meneriakkan “Indonesia merdeka,” tapi lupa bahwa kekayaan alam negeri ini sudah habis dijarah dari semua arah. Saya hanya sekedar menyentil ingatan, apakah benar Indonesia telah merdeka?
 
Teorinya, jika Indonesia telah merdeka secara resmi, maka rakyatnya pasti sejahtera, makmur, aman dan sentausa. Faktanya, rakyat Indonesia justru hidup dalam kesengsaraan, kemiskinan dan kelaparan, penderitaan yang berkepanjangan, bahkan tinggal di kolong-kolong jembatan dalam jangka waktu yang sangat lama. Rupanya ingatan kita perlu disegarkan, bahwa tanah air Indonesia ini dipersembahkan untuk sebesar-besarnya kesejahteraan rakyat. Sayang beribu sayang, sertifikat tanah dan aliran air yang mengairi dan menyuburkan Indonesia hari ini cuma bisa dimiliki kalangan yang berduit.
 
Tambang emas Freeport dan Newmont dikelola pihak asing, mereka yang menikmati hasilnya, rakyat pribumi yang menanggung derita. Upah diberikan kepada warga sekitar dengan angka yang paling kecil, dimana letak sejahteranya? Warga di sekitar tambang terpaksa hidup dalam bencana yang sewaktu-waktu akan menimpa diri dan keluarganya dampak penggalian tambang emas tersebut, tak ada kemakmuran sedikitpun yang mereka rasakan. Jelas, pihak asing makin gemuk, orang Indonesia tambah kurus kering kerontang badannya.
 
Belum lagi garam yang diimpor hingga beras petani lokal yang dianggap buruk kualitasnya, padahal tanah kita ‘tanah syurga,’ gemah ripah loh jinawi ‘katanya.’ Secara terang-terangan karakter orang Indonesia telah dikhianati oleh pemimpinnya sendiri. Mereka tak diakui keberadaan dan mutu kerjanya, lalu pada siapa hendak menumpang makan di tanah sendiri? Perairan Indonesia melimpah dari timur ke barat, tapi mereka bilang kita harus segera impor garam. Mengherankan bukan, kemanakah perginya laut dan pantai di Indonesia? Padahal, Indonesia adalah negeri maritim yang berlimpah sumber daya alamnya, mengapa masih membeli bumbu dapur dari tempat lain?

Indonesia dikelilingi lautan yang bisa dipastikan pelautnya pun telah berpengalaman mengais ikan di samudera luas. Indonesia dikelilingi gunung dan dataran tinggi, disana berbagai hasil rempah-rempah dengan mudah didapati bahkan sampai di ekspor ke luar negeri, agar supaya turis mancanegara dapat ikut mencicipi buah dan sayuran yang tumbuh di Indonesia yang beriklim tropis. Dibandingkan negeri-negeri lain, Indonesia mampu memproduksi sumber daya alamnya sendiri tanpa harus meminjam otak mantan penjajah. Namun disayangkan, kita masih senang dininabobokkan dan memilih menjadi badut di negeri sendiri. Kita masih bahagia didikte oleh bangsa Barat, kemudian tertidur diatas pangkuan pendikte. Selama mereka belum puas menjarah kekayaan alam Indonesia, selama itu pulalah Indonesia kita terus didikte untuk mengesahkan Undang-Undang pesanan mereka. Buktinya, penjajah masih mendikte Indonesia. Tak bisa mencuri kekayaan kita dengan senjata, yang dilakukan adalah memburu kekayaan itu dengan Undang-Undang pesanan. Kontrak Freeport contohnya, diperpanjang demi mengkayakan pihak asing, memiskinkan warga pribumi. Begitulah Undang-Undang dipesan untuk memerdekakan warga asing, bukan untuk melepaskan rakyat Indonesia bebas merdeka dari penjajahan. Benarkah Indonesia telah merdeka?

  • view 72