Rohingya Dkk

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Renungan
dipublikasikan 30 Agustus 2017
Rohingya Dkk

Kaum muslimin di Indonesia terperangkap oleh jebakan nasionalisme yang mereka buat sendiri. Perlawanan yang mereka tampilkan di lapangan hijau, dari hari ke hari, atas Malaysia dan Myanmar misalnya, akhirnya berhasil menabur amarah dan kebencian muslim lain secara serempak. Kemarin (30/08), Indonesia bertemu Myanmar sebagai sahabat muslimnya di lapangan hijau. Sebelumnya Indonesia juga menemui kawan sepermainannya di ruang konferensi pers atas insiden bendera terbalik.

Inilah yang menjadi warna baru bagi Indonesia, melawan negeri muslim sendiri adalah bentuk jebakan yang diciptakan nasionalisme itu. Sayang kebanyakan kita alpa dari fakta ini, bahwa semangat membela bangsa ternyata berjalan seiringan dengan semangat membenci saudara seakidah. Demikian, jebakan nasionalisme telah mengaburkan pandangan rakyat Indonesia dan tidak lagi mengenali mana kawan mana lawan.

Di Rohingya sana, kaum muslimin tengah dibantai oleh rezim tiran Myanmar. Miris, tentu saja. Saudara muslim kita disini begitu tegang menonton pertandingan sepakbola antara Indonesia versus Myanmar. Persis di hari yang sama, muslim Rohingya mengalami pengusiran oleh rezim Myanmar. Mencari tempat untuk bernaung ke Bangladesh hingga di Aceh, tidak membuat keadaan mereka membaik. Mereka terlunta-lunta seperti tidak punya kewarganegaraan, dimana-mana tak ada satu negeri pun yang mengakuinya. Hal ini tampak menyedihkan sehingga kondisi tersebut menjadi headline news pada sebagian besar media nasional maupun internasional.

Kita mungkin sedikit berharap pada PBB agar melakukan diplomasi kepada rezim Myanmar, bahkan negosiasi pemimpin-pemimpin muslim terhadap Myanmar pun harus segera cepat diagendakan. Resolusi PBB dan Negosiasi negeri-negeri muslim harus mengedepankan tercapainya keamanan dan menjamin kehidupan muslim Rohingya yang bebas menganut atau memeluk agama, bahkan menjalankan ibadah di negerinya dengan lancar. Muslim Rohingya membutuhkan suara dan gerakan kampanye umat islam secara massif. Bukankah pergerakan yang massif akan membuat Myanmar terdesak dan terpaksa berdamai dengan muslim Rohingya. Sekecil apapun usaha yang kita lakukan akan mendobrak serta menjatuhkan kesombongan rezim Myanmar, sehingga membuka pintu perdamaian bagi muslim di Rohingya.

PBB memang bukan lembaga yang bisa diharapkan bantuannya secara global, sebagaimana kita pahami, kebebasan beribadah di Masjid Al Aqsha Palestina pun terkesan lambat dan enggan digubris Persatuan Bangsa-Bangsa ini. Secara politis, yang dibutuhkan umat islam Rohingya saat ini adalah dukungan dan bantuan, tak lepas juga doa tulus dari saudara muslimnya di berbagai belahan dunia. Dukungan yang kita berikan dapat berupa energi positif tehadap kekuatan yang mereka contohkan dan terus-menerus menggempur kebiadaban rezim Myanmar melalui opini yang massif. Membongkar buruknya rezim Myanmar, setidaknya akan membuka mata dunia bahwa negeri anti islam itu telah terang-terangan menabur kebencian pada golongan.
Ujaran kebencian semacam ini rupanya tidak saja membanjiri sosial media, pemerintah dalam setiap rezim di beberapa negeri demokrasi pun jelas-jelas menunjukkan sikap islamophobia-nya. Mereka belum puas menebar fitnah ganda pada islam dan umatnya. Padahal sejarahnya, islam tak pernah melakukan prasangka buruk berupa tafsir kebencian pada agama lain. Tetapi setelah institusinya dijatuhkan, islam dan umatnya kini mengalami penderitaan di negeri-negeri mereka. Kaum muslimin mengalami penindasan, penjajahan, sampai keterbelakangan semangat pembelaan atas negeri muslim lainnya. Nyata-nyata nasionalisme telah memecah belah perasaan dan persatuan umat islam hingga kita tumbuh menjadi generasi egois yang cuek dan apatis pada nasib Rohingya.

Kaum muslimin membutuhkan semangat untuk mengembalikan institusi pemersatunya, agar nasionalisme tidak lagi menjadi angan-angan yang hanya akan mengikat rakyat Aceh sampai di Jakarta saja. Harusnya, ikatan islam itu dibentangkan mulai dari Jazirah Arab hingga Timor Leste. Artinya, kita perlu belajar memupuk ikatan persaudaraan lebih besar dari sekedar satu negeri. Ikatan akidah Inilah yang tidak tertandingi kuatnya. Ia tak mudah luntur dan hilang, bahkan setelah Sea Games berlalu. Ia tak pergi sehabis kompetisi diakhiri. Ikatan ini tak akan lenyap sesudah pesta pora kemerdekaan selesai dirayakan. Ikatan islam ini tidak muncul pada musim-musim tertentu saja, lalu mati jika musimnya telah berganti.

Ikatan akidah ini terbentang dari Al Maghrib sampai ke Merauke. Ikatan iman ini layak dijadikan pengikat umat islam seluruh dunia. Kapanpun ia hadir ke tengah-tengah umat dengan semangat bersatu dibawah persatuan islam yang mendunia, sehingga mengikat persatuan dengan akidah islam ini sulit untuk dihancurkan, sebab tali penyambungnya adalah islam yang berkedudukan tertinggi lagi mulia di hadapan Allah sebagai satu-satunya agama yang terbaik di sisiNya. Ikatan inilah yang akan dengan sangat cepat merekatkan persaudaraan antara seluruh muslim Rohingya dengan Indonesia, Palestina, Syam, Qatar, Arab Saudi, Afhganistan, India, Eropa, Cina, dan negeri-negeri muslim di seluruh penjuru dunia.

Rohingya dan kawan-kawannya, kelak kembali dipersaudarakan dengan tali agama Allah. ISLAM.