"The Day of Freedom"

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Renungan
dipublikasikan 21 Agustus 2017

H+3 Hari yang Diperingati.

Jumat, Sabtu, Ahad telah lewat. Tiga hari ia selesai diperingati sebagai hari perayaan. Saya rasa tiga hari kemarin memang bukan hari kemerdekaan, lebih tepatnya disebut "hari perayaan." Demi merayakan satu hari itu, kita rela berpesta pora mengarak merah putih sampai terinjak-injak. Memperingati hari kemarin, kita berhura-hura diatas panggung hiburan dan menyebut aktivitas itu sama dengan "Mengenang Kemerdekaan."

Bagian apa yang dikenang, ketika artis korea datang kemari dan para penonton pribumi ditertawakan. Kabarnya, SNSD jadi tampil. Liuk-liuknya menyayat hati kami yang masih terpancarkan benteng penjagaan, tapi mengusir mereka pun tak ada daya. Beritanya, warga Korea menertawakan para penonton pribumi yang tampak aneh tingkahnya saat didatangkan SNSD didepan mereka. Wah, rupanya kita masih senang dianggap badut dan justru riang mengenang kemerdekaan dengan bebas menjual tangan-tangan jahil.

Hum. Bukankah, kemerdekaan itu hendaknya dikenang dengan perjuangan? Tidak lantas bersama Girl Band yang datang merusak moral pejuang. Bisa kan, kemerdekaan itu dikenang dengan merevolusi arah perjuangan. Tidak kemudian menghiasinya dengan meninggalkan sampah di setiap ruas jalan. Apakah dengan cara itu kita mengenangnya?

Sempurnanya, habis berlalu hari yang dirayakan, kita mengenangnya sebagai hari bebas berekspresi.
Kalau boleh, saya ingin memberi nama pada hari yang dikenang itu sebagai "Hari Kebebasan", The Day of Freedom.
Pada hari itulah semua orang bebas membuang sampah, mungkin mereka buta dan tuli pada nasehat "kebersihan sebagian dari iman."
Pada hari itulah yang berteriak "Merdeka" telah mencampakkan perjuangan pahlawan islam di negeri ini.
Mereka agaknya lupa, syuhada' telah berdarah-darah meneriakkan takbir demi memerdekakan diri dari penghambaan kepada manusia.
Namun di hari itu, mereka pikun dan melupakan bagaimana cara mengenang perjuangan.

Bagi saya, kita tak usahlah repot-repot mengenang lepasnya Indonesia dari penjajah. Malah yang saya tahu, Indonesia masih didikte oleh penjajah, sampai detik ini. Ketika kekayaannya dicaplok dari hulu ke hilir, Indonesia "manut-manut wae." Ini hanya gambaran saja, bahwa penjajahan itu sudah berubah bentuknya. Dulu mungkin, kita dijajah dengan dipaksa kerja rodi. Hari ini, Indonesia kita terjajah dengan gaya terbarukan berlabel Neo Imperialisme. Inilah model penjajahan gaya baru, para penjajahnya main cantik, ciamik, sekali lirik langsung diculik. Habislah sudah harta Ibu pertiwi.

Lain kali, tak usah merepotkan diri dengan merayakan hari yang membuatmu terbebas dansa sana-sini. Baiknya ambil air wudhu, tegakkan sholat. Itulah senam paling dahsyat yang akan memerdekakanmu dari jajahan manusia.
Tak perlu kerepotan menari bolak-balik, toh para pejuang dulu tidak mengajarkan gaya berjoged saat mengangkat meriam. Ketahuilah, sesungguhnya mereka masih gusar dengan kondisi Indonesia detik ini. Sebab, kemerdekaan hakiki yang mereka perjuangkan itu masih belum tercapai.
72 tahun Sang Maestro memproklamirkan kemerdekaan, lalu pertiwi diakui oleh Negara-negara lain bahwa "ia telah merdeka," padahal sesungguhnya di hadapan Allah hari itu bukanlah hari kemerdekaan hakiki yang diperjuangkan pahlawan sebelumnya.

Dan di hadapan mereka yang serius memerdekakan dirinya lepas dari pendiktean manusia menuju bebas merdeka tunduk pada syariat Allah, tiga hari yang lalu bukanlah hari kemerdekaan.
Jika memang kita merdeka, mengapa sampai hari ini negeri-negeri muslim masih dikuasai kapitalis?
Asal tau saja, Indonesia bukan dijalankan oleh pemimpin negerinya. Ada Boss yang memerintah para pemimpin itu, ada penguasa yang paling tinggi kekuasaannya bebas merdeka memberi perintah pada kita. Siapakah dia?

  • view 56