Dibunuh Waktu

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Renungan
dipublikasikan 13 Agustus 2017
Dibunuh Waktu

Kita tidak bisa lagi bermain-main dengan waktu.  Ibarat mata pedang, bila telah sampai ia didepan dada, maka terbunuhlah siapa saja yang melawannya. Kita tak punya kesempatan untuk memundurkan mata pedangnya, bahkan menepisnya kemanapun. Yang diserang sudah berada di posisi sasaran, habislah para pelanggarnya. Jangan sekali-kali bercanda dengan waktu.

Lihatlah golongan non muslim di negerinya Pangeran Charles, meski tak memeluk islam, namun mereka bisa menghargai waktu dalam kesehariannya. Bersungguh-sungguh membuat janji dengan siapapun orangnya, tepatilah sesuai waktu yang sudah disepakati. Jangan bersenda gurau dengan waktu. Jika tidak, waktu itu akan menyerangmu dan menerkam nyawamu sampai di titik penghabisan. Bahkan, ia akan menuntut balas dendam ketika kita di Indonesia terlalu meremehkan waktu dan membuat kecewa banyak orang. Tolong, prioritaskanlah waktu diatas kepentingan yang lainnya. Karna waktu itu suatu saat akan datang untuk menuntut hidupmu, sampai ia puas mengajarimu betapa pentingnya satu detik yang berharga.

Kita harus lebih banyak belajar menghormati waktu di kala senggang. Saat luang itulah kita bisa memanfaatkannya dengan menjalankan aktivitas yang bermanfaat, dengan begitu waktu akan menjunjung tinggi nilai harga dirimu. Tetapi ketika kau tak pernah bisa belajar memanfaatkan waktu luang, maka dirimu akan dibuat lebih sibuk terhadap hal-hal yang sama sekali tak bermanfaat, alias sia-sia. Padahal bukan itu yang diinginkan waktu darimu. Waktu ini dijadikan penanda agar kita bisa lebih mawas diri untuk tidak merepotkan orang lain menunggu atau menggerutu ketika kita datang terlambat sekian menit.

Didalam islam, kita telah belajar mendisiplinkan waktu. Pertanda adzan dalam lima kali sehari pun dapat dijadikan latihan untuk lebih mendisiplinkan diri kita setiap saat. Ada waktu yang harus dikejar, bukan berarti terburu-buru memburu waktu, hanya saja kita perlu memiliki ketegasan mengatur dan mengelola waktu dengan benar. Tidak perlu memanajemen waktu dengan baik, kau tidak butuh itu. Saat ini yang kita butuhkan adalah mengantisipasi terjadinya pembunuhan nafas orang lain atau bahkan bisa saja menghantam diri kita sendiri, ketika waktu itu merasa dirinya sangat tak dihargai sebagai objek yang paling memudahkan manusia mengawali atau mengakhiri kegiatannya. Jangan sekalipun membiarkan waktu habis percuma tanpa amalan, pun jangan pernah mencoba membiarkan waktu itu lelah menunggumu untuk bangkit dari tempat duduk.

Segeralah datang, lekaslah pergi jika memang sudah waktunya kau harus berangkat ke tempat tujuan. Cepatlah bergegas mempersiapkan diri bertemu orang yang hendak ditemui, jangan biarkan dia menunggu sambil pasang wajah merengut. Kasihan dia, kasihan sang waktu yang akan selalu disalahkan atas keteledoranmu sendiri. "Sudah jam berapa ini?"
Nah! Saat mengetahui bahwa ia, sang waktu ini telah difitnah sebagai target pertama yang dipersalahkan atas kesalahan yang kau buat, saat itu pulalah ia akan melepas pedangnya dan menusuk-nusuk pusat jantungmu. Kebodohan dan kebiasaan burukmu itu akan mengakibatkan keluarnya darah segar, berdampak kecacatan sementara atau 'mungkin' permanen jadinya. Buruk sekali pembalasan dendam sang waktu ketika ia membalaskan dendamnya padamu yang bodoh sebab tak belajar untuk mengutamakannya.

Jangan permainkan waktu. Jangan menyelingkuhinya sepersekian detik, atau ia akan langsung membunuhmu di tempat.

  • view 41