Remaja Berpeluang Sehat

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Psikologi
dipublikasikan 11 Agustus 2017
Remaja Berpeluang Sehat

Masa remaja adalah masa transisi dari kanak-kanak menuju tahapan yang lebih matang secara fisik, psikologis, kognitif, dan sosial. Setidaknya seorang remaja mulai mengubah pola pikir terhadap banyak hal. Tidak lagi berpikir kekanak-kanakan, serta dianjurkan membangun hubungan sosial yang baik dan sehat. Namun masa remaja merupakan masa krisis dalam kehidupan seseorang. Krisis yang dimaksud adalah tersedianya banyak sekali peluang dan resiko dalam waktu bersamaan, namun remaja seringkali abai pada keadaan ini. Memilih peluang positif belum tentu beresiko positif, begitupun sebaliknya. Sebab, dunia yang sedang dihadapi remaja adalah dunia dengan penuh tantangan untuk membuktikan mereka bisa mengambil peluang sebanyak-banyaknya dengan resiko yang paling rendah. Dengan demikian, apabila remaja pintar melihat peluang yang muncul dan mengatasi resiko dengan sangat hati-hati, maka dapatlah dikatakan cukup berhasil mengatasi tugas di masa perkembangannya.
 
Banyak tugas perkembangan yang harus diselesaikan agar bisa mencapai kematangan diri. Untuk mencapai level kematangan diri, seorang remaja harus pandai mengatasi setiap rintangan dalam menyelesaikan semua tugas perkembangan tersebut. Pada masa transisi ini biasanya remaja agak kesulitan melewatinya. Ada perasaan-perasaan terkejut setelah menyadari bahwa fisiknya berubah, seperti keadaan akil baligh bagi laki-laki maupun wanita. Terutama remaja perempuan, merupakan masa yang sangat labil bagi perkembangan psikologisnya. Mereka masih harus belajar untuk menyesuaikan emosi diri dengan keadaan fisik agar tetap imbang saat mengalami menstruasi misalnya. Muncul perasaan takut mengetahui keadaan fisiknya yang berubah sangat cepat sehingga ada kekhawatiran terhadap perubahan tersebut.
 
Di sisi lain, remaja adalah sosok agen perubahan yang tidak hanya berkewajiban menyelesaikan semua tugas perkembangan, tetapi sangat dituntut untuk tumbuh menjadi pribadi yang lebih baik dan bisa dijadikan model bagi masyarakat. Adapun tuntutan semacam itu biasanya berasal dari keinginan orangtua, atau ada pula yang didasarkan pada tekad dan kemauan keras si remaja sendiri. Namun fakta saat ini menunjukkan bahwa tidak sedikit remaja yang hanya mau bersenang-senang, menganggap bahwa masa remaja adalah masa yang paling indah, sehingga tidak membutuhkan apapun untuk mengembangkan diri dalam menemukan peluang sebanyak-banyaknya. Bahkan terkadang apa yang menjadi keinginan mereka tidak selalu sesuai dengan tuntutan keluarga ataupun masyarakat. Hal inilah yang kemudian dapat menjadi pemicu timbulnya permasalahan pelik dalam diri remaja.
 
Pada kenyataannya, sangat jarang sekali remaja di era milenium ini berpikir “terkonsep” mengenai segala sesuatu. Sebagian mereka hanya sibuk mencari teman sebanyak mungkin, membangun hubungan dengan lawan jenis dan melupakan norma-norma yang telah ditentukan, tanpa sama sekali berpikir membangun relasi pengonsep untuk mencapai puncak aktualisasi diri. Oleh karena itu, sangat penting bagi remaja untuk melakukan pengembangan terhadap dirinya dalam hal apapun sesuai dengan potensi yang dimiliki.
Ketika potensi itu disadari, maka seharusnya seorang remaja mulai melatih potensinya sekreatif mungkin untuk diasah dan dikembangkan sampai mencapai puncak kepuasan. Akan ada rasa kepuasan tersendiri setelah aktualisasi atau pengembangan diri telah berhasil dicapai dengan baik dan optimal. Tentu saja tidak sendiri, melainkan ada dukungan dari teman-teman, keluarga, dan lingkungan. Sehingga setelah aktualisasi diri muncul, remaja akan memperoleh penghargaan dari lingkungannya. Disinilah terjadi asas timbal-balik antara usaha keras untuk berkembang dan mendapat penghargaan dari orang lain.

Untuk itulah, remaja sebagai generasi yang sehat sangat dituntut agar mampu menciptakan solusi “terkonsep” dalam memecahkan setiap permasalahan yang muncul di sekitarnya, bukan justru ambil bagian dalam menciptakan masalah. Masalah bisa datang kapan saja. Tanpa disadari, bahkan bukan bersumber dari keinginan seseorang, suatu waktu masalah bisa datang terus-menerus. Namun dengan adanya masalah, kita bisa mendapat pelajaran berharga untuk menjadi lebih baik setelah melakukan introspeksi diri. Tanpa evaluasi, tentunya masalah akan semakin berkembang tanpa menemukan penyelesaian. Tetapi kita sering melupakan sumber penyebab masalah tersebut, justru lebih fokus pada masalah dan mencari jalan keluar. Padahal akan lebih baik ketika seseorang berhasil menemukan akar dari masalahnya sendiri. Sumber akar permasalahan inilah yang riskan mengakibatkan seseorang mengalami stress apabila tidak lekas ditangani dengan baik, sumber penyebab stress inilah yang disebut “stressor.”
 
Stressor atau penyebab stress merupakan sumber penyebab dari suatu keadaan stress yang dialami individu. Stress sendiri merupakan kondisi ketidakstabilan emosi seseorang karena disebabkan oleh stimulus tertentu. Stimulus stress inilah yang dimaksud dengan sumber masalah, sehingga muncul yang namanya stressor. Ketika masalah tidak dapat terselesaikan dengan baik dan sempurna sesuai yang diharapkan, seseorang cenderung mengalami periode stress. Oleh karena itu, ada baiknya mencari dan menemukan sumber masalah dan akan lebih  mudah mengatasi setiap permasalahan yang sedang dihadapi agar tidak berujung stress.
 
Remaja pada umumnya belum mampu mengendalikan keadaan emosinya yang cenderung labil. Emosi remaja bisa berubah kapan saja mengikuti suasana dan kondisi hatinya saat itu. Mereka sedang dalam proses mencari kebenaran jati diri, sehingga emosi yang ditampilkan cenderung tidak stabil dan bersifat dinamis. Mereka biasanya kebingungan ketika muncul ketidaksesuaian antara apa yang diinginkannya dengan harapan lingkungan, maka perlu penyesuaian antara keduanya.
 
Sekarang kembali pada diri remajanya. Lebih memilih menjadi diri idealnya, ataukah menjadi remaja yang berambisi penuh menuntaskan keinginan lingkungan padanya. Tetapi sangat disarankan agar menjadi seorang remaja yang tidak hanya mampu mengembangkan potensi yang dimiliki, melainkan juga berhasil mengaktualisasikan dirinya sesuai dengan harapan lingkungan. Tetaplah berada pada koridor emosi yang sehat. Karna apabila emosi remaja dapat dikendalikan dengan baik, maka pilihan apapun tidak akan membawanya pada permasalahan. Untuk itulah pentingnya menjaga kestabilan emosi pada masa remaja.
 
Emosi negatif dan permasalahan pada remaja menyerang setiap saat tanpa terjadwal. Emosi yang sehat akan menghasilkan sugesti diri yang positif. Sebaliknya, emosi yang tidak sehat akan mendatangkan masalah baru pada remaja. Pada intinya, masalah itu tidak mengenal status, usia, golongan, dan lain-lain. Masalah selalu menghampiri siapapun ketika awalnya diciptakan. Kondisi inilah yang seringkali membuat para remaja tidak mampu mengendalikan antara ego dan logika berpikir ketika masalah menimpa dirinya. Begitu masalah datang dalam intensitas cukup kecil, banyak remaja yang belum mampu menanganinya sendiri. Jaman yang serba praktis pada era ini telah mengajarkan pada remaja tentang ketidakberhasilan menjadi remaja yang sesungguhnya dalam konteks normatif.
 
Sayangnya, remaja di Indonesia cenderung mengikuti mode atau segala macam bentuk tren terbaru dalam semua hal. Tren-tren tersebut sebagian besar merupakan percampuran pengaruh budaya Barat yang pada umumnya sudah tidak mempertahankan nilai keTimuran. Inilah salah satu gaya perilaku remaja yang selanjutnya menjadi bumerang dalam perkembangannya. Banyak remaja dengan sekehendak hatinya bertindak bebas dengan menyingkirkan nilai normatif yang sebelumnya telah ditanamkan orangtua maupun guru di area pendidikannya.
 
Kaitannya dengan normatif dan tren jaman sekarang, remaja sangat memerlukan sistem perlindungan terhadap semua peluang dan resiko perkembangan dirinya. Ada yang salah dari penciptaan, pembentukan, pengaturan, dan segala sesuatu yang berjalan dalam lingkungan kita pastinya. Secara teoritis, satu kesalahan akan selalu berdampak pada kesalahan lainnya. Asalkan kesalahan pertama dapat diatasi, maka tidak akan muncul kesalahan-kesalahan lain yang merugikan. Sistem perlindungan yang paling baik adalah ketika remaja mengalami masalah, maka mereka harus fokus pada nilai normatif dan kendali dirinya. Pengendalian diri sangat diperlukan, ketika seorang remaja dipengaruhi oleh lingkungan atau orang-orang disekitarnya. Mengikuti tren atau mode tidak dilarang, asalkan selalu memiliki sistem perlindungan yang kuat berupa nilai normatif dan kendali diri agar tak mudah terjerumus dalam pergaulan bebas yang akan  merusak sistem di fase terindah itu.

Dengan demikian, remaja akan mampu menemukan jati diri yang sebenarnya serta mencapai tingkat puncak aktualisasi diri melalui asahan dari potensi-potensi yang dimiliki remaja tersebut. Melatihnya pun tidak memerlukan biaya, tenaga, ataupun usaha keras. Satu-satunya penentu sebuah potensi dapat dikembangkan secara lebih optimal adalah ketika remaja bisa menempatkan antara keinginan diri dengan keinginan lingkungan. Lingkungan memang terkadang bisa memberi peluang, namun terkadang juga menjebak. Bahkan lingkungan bisa memberikan peluang dan menguntungkan. Tetapi di sisi lain, lingkunganlah yang menyediakan resiko terbesar bagi remaja, namun akan memberi nilai positif setelah si remaja mampu melakukan evaluasi diri. Inilah karakter lingkungan yang kadang tidak disadari sepenuhnya. Remaja harus cerdas mencari dan mengolah peluang dalam lingkungannya. Yuk, cerdas mengenal lingkungan dan menglola peluang!

-Baiq Dwi Suci-
Psychologist, Terapis Anak Berkebutuhan Khusus

***
Keterangan foto:
Agenda "Gerakan Menutup Aurat" oleh Pelajar Islam Indonesia
Mataram, 14 Februari 2013

  • view 86