Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Catatan Harian 9 Agustus 2017   02:33 WIB
Anak-Anak Itu Senyumku

Mamak mengomel di ujung telepon, aku tak paham pasalnya. "Kenapa HP adek dipegang orang lain?"
Aku yang tak tahu menahu urusan ponsel, tersenyum saja berusaha menjelaskan. "Sepertinya tadi temen-temen yang bantu jawab panggilan masuk, kebetulan hapenya dimainin anak-anak.."

Anak-anak, maksudku bukan anak kecil yang asyik bermain di taman kanak-kanak, bukan dia.
Anak-anak yang kusebut itu adalah teman-temanku, rekan seperjuangan yang sedang berada di atap genteng yang sama. Hahaa..
Kami berlarian menuju lantai teratas, mencari plafon paling aman yang bisa dibuka, kemudian menaikinya dengan bantuan tangga, lalu sampailah di menara kebahagiaan. Begitulah kenakalan kami, seingatku memang sangat nakal sekali. Padahal anak-anak yang kumaksudkan ini tak lain adalah mahasiswa semester akhir, aku dan mereka sedang berkutat menyelesaikan tugas akhir kami di fakultas masing-masing. Namun setiap kali bertemu melepas penat, tak bisa dibendung keusilan dan keisengan yang kami lakukan setiap harinya. Ah, rasanya terlalu buruk untuk ditiru.

Kami adalah calon sarjana yang sedang diamanahkan menatar mahasiswa baru setiap angkatan, seharusnya sikap seorang trainer mampu menjadi tauladan bagi yang lain. Namun, inilah kami dengan keterbatasan yang kami punya. Kadang, orang dewasa juga butuh menjadi anak-anak kembali. Dan anak-anak itulah yang membuatku merasa selalu menjadi lebih kekanak-kanakan setiap pagi. Sebelum atau selesai berkegiatan, kami saling panggil dan meneriaki untuk berlomba memanjat plafon salah satu gedung milik kampus. Aih, nakalnya. Tapi, tapi, aku suka itu.

Anak-anak menantangku meruntuhkan ketakutan, aslinya aku jarang sekali sampai pada puncak genteng kecuali beberapa kali di rumah, itupun tetap dengan bantuan anak tangga. Kali itu, bersama anak-anak aku diajak mencoba sensasi baru, menuju genteng lewat plafon. Wah, pengalaman ini betul-betul menyenangkan. Benar-benar bikin cengar-cengir. Sampai diatasnya, anak-anak menarikku kesana kemari ke setiap sudut, memotret pemandangan dibawah sana dari berbagai sisi. Indah sekali, aku paling suka bagian ini. Menakjubkan, dan sekali lagi, aku menyukainya.

Kini, setelah melepas mereka satu per satu kembali ke tempat muasalnya, kenangan manis itu tertinggal ceritanya saja. Kadang aku ingin mengulangnya sehari saja, namun terkadang pula aku harus menghentikan harapan itu. Sekarang aku telah mengenal dan memahami fitrahku sebagai wanita, maka kesenangan yang kuanggap permainan pun sebaiknya rela kutanggalkan segera.

Wanita itu mesti menjaga dirinya, memeriksa pergaulannya, jangan sampai terlalu senang dan melupakan kemuliaan diri mereka. Wanita sepertiku, pun sedang menanggalkan kesenangan semu yang kuanggap area bermain, tulus kugantikan dengan bersenang-senang di jalan Allah. Bukankah memilih bahagia bersama DIA itu jauh lebih menenangkan bagimu?

Bagiku, tersenyum melihat mereka yang berhijrah karna lisanmu itu jauh lebih lezat. Untukku, tertawa bersama sahabat di jalan perubahan itu justru sangat menjanjikan. Sebab bersamanya, syurga terasa dekat sekali.

Maafkanlah ulah konyol kami dulu di ruang kampus, tolong lupakan saja jika tak patut ditiru.
Kini kami semua pun sedang berikhtiar lebih kuat menapaki jalan persahabatan menuju syurga yang sama, yang mengalir dibawahnya sungai-sungai, dan disediakan pasangan-pasangan suci bagi mereka yang beriman. Alhamdulillaah, ternyata kami telah memikirkannya bersama, dulu itu kami kebablasan, namun kini ini kami coba memperbaiki posisi ketaatan. Doakan, kelak kita bertemu dan bertetangga di istanaNya. Doakan saja, jangan malu. Aku suka kok.

Karya : Baiq Dwi Suci