Di tempat ini

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Agustus 2017
Di tempat ini

Di tempat ini mahasiswa berkumpul, dibina dan dikaderisasi selama sepekan dalam satu atap yang kami sebut Rusunawa, Rumah Susun Mahasiswa. Saat itu, saya tak menyangka diberi kesempatan menggembleng mereka dan dipercayakan sebuah amanah luarbiasa ada di pundakku. Beban moral kami alami sebagai pendamping sekaligus guru dan penasehat mereka, sebagai seorang yang lebih dihormati di tempat itu pastinya kami dijadikan panutan dalam bersikap. Seluruh mahasiswa baru menganggap kami adalah malaikatnya, yang selalu datang menebar cahaya keselamatan dan menunjukkan padanya jalur menuju selamat. Tak terkira besarnya beban di pundak yang harus saya dan teman-teman emban saat itu, terlalu tinggi harga pertanggungjawaban hingga tak jarang kami lalai dari tugas akademik kampus. Bersyukurnya kami tetap bisa membagi diri, memfokuskan nilai perkuliahan sembari mengajari adik-adik baru itu bertatakrama dengan dunianya yang baru.

Di tempat ini kami mengenyam banyak pelajaran, susah senang diselesaikan dalam satu ruang bersama. Mengekspresikan emosi dan pemikiran menjadi suatu hal yang selalu kami tunggu, disanalah periode kami bertutur mengutarakan unek-unek sepekan penuh. Menjadi pendidik yang mencontohkan segala kebaikan dijamin bukan pasal yang mudah, namun bagi kami ini inilah atap tempat kami belajar menjadi mentor yang diprioritaskan haknya dalam bersuara. Masing-masing orang meneruskan hasil berpikirnya kepada sebaya, sama rata. Posisi dan kedudukan kami tak ada bedanya, selama masih tinggal dibawah atap genteng yang sama. Jabatan dan kekuasaan kami tak ada pertentangannya, selama masih menyuap dan menegak makanan dan minuman yang sama. Dengan segala beda itulah kami ciptakan persatuan dibawah almamater kampus bernuansa islami.

Masyarakat sekitar menaruh bangga pada rusunawa ini, karenanya ia lahirkan generasi-generasi yang taat beribadah dan berkepribadian penuh budi pada tetangga kanan kirinya. Disinilah kami benturkan kesombongan manusia dalam sekali hentakan, kami ubah ia dan tundukkan kearoganan itu dalam sekejapan. Mereka dipandu bukan untuk ditatar berperilaku kurangajar, mereka dikomandoi belajar menjadi baik bukan untuk memamerkan perubahannya pada khalayak, melainkan disini kami menggurui mereka agar menyelamatkan diri dan keluarganya dari panasnya pesona dunia. Bangunlah, para mahasiswa! Dunia di hadapanmu sedang berkecamuk, akhirat di hadapanmu tengah sibuk mempersiapkan akhir cerita dunia, sedang kamu disini justru senang tertawa diatas perjuangan para pendobrak?! Bangunlah, Mahasiswa!
Hum, hal-hal semacam itulah yang kami tawarkan dan himbaukan pada mereka yang baru melepas jaket SMA-nya. Mereka harus berkepribadian tangguh agar tak goyah oleh kerasnya kehidupan universitas. Mereka mesti berkepemimpinan tegas agar tak goyang dihantam badai di tanah rantaunya. Merekalah harapan kami kala itu, kini pun masih saja sama. Mahasiswa, kami titipkan risalah juang agama dan negeri ini padamu.  Teruskanlah, Dik.

Di tempat ini keributan bisa terjadi, malam-malam kami kadang tak khusyu' dengan tahajjud dan majelis yang dimuliakan. Ada saja yang menggerutu karna kesal dibangunkan tengah malam, tak sedikit yang menghardik karna tak biasa melek di sepertiga malamnya. Kami tak kehabisan akal, apapun dilakukan agar semua mata dipastikan tersiram air wudhu. Kami tak kehilangan cara, agar semua kaki beranjak dari tempat tidurnya dan meninggalkan mimpi lelap mereka. Kami tak kekurangan ide, agar semua lisan tertutup rapat terkunci ketaatan demi menemui DIA yang dirindui. Namun mereka pun tak habis akalnya, satu beralasan sakit hingga sebagian kami tak terfokus pada yang lain. Beberapa tak kurang idenya, beralibi basa-basi hingga kami pun terpaksa menggeledah relung sukmanya. Dipecut dengan gertakan kasar bukan keinginan siapapun, namun mereka adalah mahasiswa yang harusnya kuat melek di tengah malam buta. Mahasiswa bukanlah anak kecil lagi yang selalu minta dielus rambutnya, dibelai keningnya, hanya untuk meminta tegapnya mereka berdiri di atas sajadah. Ah, semua kedukaan dan kesukaan itu kami lalui dalam suatu momen suka cita bersama.  Tak mungkin terlupa, Dik.

Di tempat ini biasa terdengar histeria, namun logikaku pun tak kurang-kurang menangkap basah kebohongan yang mereka tutupi rapat. Muaranya hanya satu, cukuplah Alah sebagai penolongmu. Ketika Allah tempatmu bersandar, siapapun akan mengikut ketika kau menariknya pada kebaikan. Berpura-pura histeris menjadi camilan ringan yang biasa kami dengarkan hampir setiap hari, namun tak habis kesabaran kami pula untuk menyadarkan mereka bahwa gemerlapnya dunia tak akan memberikan kesenangan apa-apa kecuali kematian. Kematian itulah yang pada ujungnya akan menentukan timbangan baik buruknya mahasiswa berkelakuan saat mereka dihadapkan pada jalan kefasikan dan ketakwaan. Bersegeralah atau tinggalkanlah, keduanya pilihan yang tak bisa terpilih kecuali mereka kami paksa untuk melaksanakan peraturan yang baik dari Allah. Jikalah manusia mengatur manusia untuk membangkitkan semangat taatnya pada Tuhan, butuh paksaan lebih keras bila berhadapan dengan mahasiswa yang hanya numpang nama pada Kartu Keluarga orangtuanya. Pada fase inilah kami meminta peserta untuk mandiri di rantauan, tak bergantung pada yang lain, tak perlu diingatkan baru bangkit, tak tunggu diperintah lalu berbuat, tak menanti diinstruksi kemudian hijrah, sebab mahasiswa tak perlukan dirinya didikte ini itu kecuali tergerak dalam dirinya semangat perubahan.

Di tempat ini, terlalu banyak kisah yang tak bisa terkisahkan sudut ke sudut. Hikmah dan ibrohnya saja sudah terlalu banyak yang kami kecap, itu jauh melampaui kisah yang hendak tercerita di tempat ini.
Dan di tempat ini, Mbak Suci mengenang kehangatan itu di tengah-tengah kalian, adik-adik kesayangan...

  • view 70