Perjanjian yang agung

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 07 Agustus 2017
Perjanjian yang agung

Menghindari pertemuan bukanlah jalannya, ini berlaku bagi mereka yang memang terlampau merindukan perjumpaan. Namun bagi mereka yang telah tertancap penjagaan dalam dirinya, bertemu menjadi monster paling menakutkan jika tak ada kepentingan. Akhirnya, keduanya akan memilih bersembunyi dibalik kerinduan yang disembunyikan. Persembunyian ini berlangsung sangat hati-hati, bahkan bisa berkarat dan usang dihabisi sang waktu. Satu dengan yang lain menyindir  ketika di ujung penantian tak mampu lagi sembunyikan gejolak rasa bersama. Ada yang mengendap dengan sengaja, tak menyapa sekalipun, cukup memantau dari kejauhan saja melebihi bahagia terhantar menebus keinginan bersua. Ada pula yang membeberkan tirai rindunya terang-terangan, namun tetap santun dalam gaya bahasa yang dirajut penuh kemuliaan diatasnya. Inilah jalin cinta para pejuang, bersama Allah keduanya memilih diam di antara kebisuan. Beriring doa yang terpanjat dan munajat yang harapnya segera terhajat, kedua hati itu menabur benih kasih sayang yang dititipkan pada Tuhannya Pemilik Jiwa.

Malam ketika gerhana menimpa pun, masing-masing masih setia diatas titiannya. Saling merasa meski tak berpandang, lirih gemetar terasa sebab risalah Allah telah sampai melalui penumbra di langit sana. Mereka merasa inilah penanda bagi kaum yang berakal, Allah tampakkan terhalangnya matahari ditutupi bulan adalah bentuk fatamorgana dunia. Bahwa dunia bisa saja menghalangi perjalananmu menuju akhirat, namun pilihan untuk berdiam diri adalah sebuah proses hebat saat kita menjadikan syurga akhir perlabuhan. Beginilah kala cinta menegur, tunduk sujudnya bulan dan matahari pada Sang Pencipta. Kedua simbol ini sedang menggambarkan pada mereka arti sebuah kesetiaan. Bahwa, genggaman 'Arsy jauh lebih kuat melebihi sentuhan dunia yang hanya sementara. Kita mengembaranya cuma sebentar, sebab balasan keabadian yang paling indah itu akan kita tempuh selamanya, maka tentu butuh kesabaran lebih tinggi untuk sampai pada akhirnya rindu dan jumpa melepas rasa.

Malu-malunya matahari disapa bulan, olehnya bumi menyaksikan perjumpaan keduanya di angkasa. Pada bumi yang diberkahi, Allah jadikan malam dan siang sebagai bukti berputarnya bumi mengitari matahari. Keajaiban mega ini mengajarkan pada manusia makna pembuktian. Allah tengah membuktikan DIA Satu-Satunya Yang Maha Agung mampu mendatangkan apapun yang tiada menjadi ada, DIA Yang Maha Berkehendak sanggup menghadirkan yang berada lalu memusnahkan hingga tiada. Bahkan, DIA melalui pembuktiannya mengajarkan pada kita bahwa akhir masa itu pasti tiba, ujung yang dinantikan itu akan datang. Itulah yang tengah kami tunggui datangnya, masa dimana Allah membuktikan qadarNya bahwa DIA memang mempersatukan yang terpisah dan mengikatkan yang tercerai. Di suatu fase, penyatuan dan pengikatan dalam ikrar suci itu mutlak bertabuh dalam ikrar dakwah atas nama risalah khitbah.

Keduanya saling bertukar keluh padaNya, menukar kesah padaNya, menitip pesan agar tak berlama-lama masa itu tertunda. Bukan berarti ingin memburu yang tergesa-gesa, melainkan mereka sadari betul bahwa waktu yang teramat panjang adalah bukti lalainya manusia pada risalah diin. Kegusaran demi kegelisahan pun makin menghampiri, tak ada yang dapat mengobatinya selain diberi jalan dan dibukakan pintu bertandang untuk mengikatkan persaudaraan dua buah rumah. Kedua bilik akan menjadi satu, berpayung dibawah teguhnya atap yang sederhana, disanalah kedua hamba nanti diikatkan mahligai perjanjian agung di dasar nuraninya. Perjanjian yang agung, mitsaqon gholizhan.

Di akhir penumbra, mereka saling meminta keridhoanMU. Kuatkanlah ikatannya, kencangkanlah tali ukhuwah-nya. Menuju pembuktian, lapangkan kesukaran daripadanya, mudahkanlah urusannya, ringankanlah ikhtiar yang terus tumbuh bersamanya, kekalkanlah lalu pertemukan dan persatukanlah di atas tujuan mengagungkan kalimat dakwah. Dengannya perjuangan akan terasa nikmat, bersama itu perjalanan berat akan tercicip manis dan lezat sampai mereka beristirahat di pengadilanMU. Disanalah nanti akhirnya akan mereka pertanggungjawabkan setiap perbuatan, akan Engkau hukumi atas setiap kealpaan dan dosa, semoga sebelum masanya teradili keduanya masih sempat Engkau satukan dalam ikrar penegakan kalimatMU di muka bumi. Karena cinta padaMU, karna rindukan NabiMU, sebab itulah keduanya merindu berpadu. Bukan untuk bermain atau bersenda gurau, hanya untuk menetapkan warisan generasi penerus penyambung risalah KekasihMU.

Di akhir penumbra, haturkanlah...

  • view 38