Lupa Diseriusi

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 13 Juli 2017
Lupa Diseriusi

Seperti berada diatas angin, hambusan nafas gadis itu meniupkan namamu. Bersama tarikan nafasnya, desah itu hanya menyemburkan bayangmu. Kau pun mengenalnya, mengetahui semburan aroma yang kerap dilontarkan dalam doa terpanjang beriring kecepatan angin. Diatas angin itulah ia tertidur dalam ruang penantian. Lorongnya selalu disiapkan, ditentukan masa dan mimbarnya, sampai sang gadis bangga membawamu tepat dibalik tiupan nafasnya yang tercepat. Sebab penantian menuju pertemuan bersahaja denganmu adalah satu bilik kosong yang sedang disimpannya di altar rindu.

Rasanya gelombang angin di sekelilingmu begitu tenang, hingga tatapan bola mata gadis itu tak ingin lari darimu. Ia menyaksikan majelis rindu yang sama, berpijak pada barisan yang serupa, namun ketika itu hatinya tak cukup berani menatapmu lebih dalam. Lalu kalian tak lagi nekat saling bertegur sapa, karna semua kegilaan itu telah lama berlalu tertiup goncangan angin yang begitu hangat dan meriah. Alasannya, sebab cinta adalah amanah Alloh. Musabab klasik kedengarannya, tapi teramat sederhana bagi kalian yang mengikat diri dengan kesucian. Entah jenis angin apa yang tengah menyapu lembut tempurung imannya, bahkan kehalusan budimu tlah membuatnya bertekuk lutut pada kemurnian cinta yang mesti dijaga. Akhirnya, ujung yang indah sampailah dihadapan Tuhan. Lantas kau memilih diam, pergi, hilang diatas kecepatan sang angin.
 
Sesekali gadis itu berkirim salam padaNya, menitipkan akal dan jiwamu agar suci terjaga. Tak lepas merindu sambil menantikan, terpesankan pula pada Sang Pemilik Angin, kelak DIA akan selesaikan tugasmu, lalu mengibaskan ruh penantiannya kedalam setiap nafas yang dihirup menuju singgasana rindu.
 
Gadis itu lalu mengumpulkan seluruh pengharapan, menggiringnya pada muara karya. Disanalah ia bisa menyaksikanmu lebih lamat, menatap ke dasar ambisimu jauh lebih panjang. Dan, ia terpuaskan bersama penghayatanmu yang bernilai baja. Ia senang mengagumimu dalam diam, bahagia telah menaikkan setingkat derajat cita juga cinta itu pada Sang Tunggal. KeEsaan Tuhan menyadarkannya, bahwa tak kan ada mahkota yang lebih terang di hati selain cinta yang terlanjur tertitipkan padamu yang satu. Bukan inginkan pengawal istana yang lebih kuat pertahanannya, tidak pula mengharap kedudukan raja-raja yang lebih masyhur kebaikannya. Sebab amanah kalbu sang gadis sungguh tlah bersepakat menunjukmu sebagai akhir perlabuhan.
 
Kaulah jalannya, penuntun kesetiaan akhirat mengabdi hanya pada Satu-Satunya tempat kembalinya hati manusia. Kaulah impiannya, prajurit kuat dengan kesantunan luhur akhlakmu, tiada pengganti di luaran sana kecuali terutus padamu. Diucapkan salam teristimewa pada engkau yang menyelamatkan hatinya dari kefanaan semunya dunia cinta sesaat pada manusia.
Dilihatnya siapa dirimu dengan kekuatan yang kerap kau tunjukkan. Indahnya, ia hanya mengamatimu dari perrtahanan yang sanggup kau lakukan untuk Ibumu saja. Gadis itu tak tertarik pada sisimu yang lain, kecuali bakti pada Ibu yang coba dipanggilnya "Ummii." Ia taati perkataanmu begitu patuh, disadari enggan membantah keajaiban yang kau peroleh dari wanita hebat yang syurgamu ada dibawah kakinya. Ajaibnya ia telah membesarkan dan mendidikmu dengan sangat berkepribadian, istimewanya fragmen ini bagi sang gadis yang diam-diam memujamu dalam malamnya.
 
Diantara dua waktu, ia masih menunggu kepastianmu. Datang hari berbuka, ia tau kepastian itu tak kunjung berkabar. Namun dipahami beberapa masa nanti, kepastian darimu akan segera memberi kabar,
Ia mengingat janjimu dengan keterbatasan, merangkulnya dalam ingatan, dipikirnya kau akan pergi meninggalkan semua yang pernah terjanjikan. Dan benar, kau palingkan hati itu pada yang lebih membahana daripada cinta, yakni perjuangan merajut ikatan. Ia mulai ragu padamu lagi, kini telah Alloh tunjukkan sekali lagi bahwa prosesmu terlalu lama, rupanya gadis itu sudah payah bertopang dagu. Cukup sudah ia mengenal tentang apa adanya dirimu, rupanya kau mudah sekali menggoyahkan urusan waktu. Ujungnya sang gadis tersebut tak mempercayaimu kedua kalinya, ia tau jika kembali teguh maka makin bodohlah dirinya mengecup kesendirian. Akhirnya diikrarkan pada hati dengan tegas, tak ada kebaikan bila bersama dengan yang senang mengundur keutamaan. Bukan berarti ia tak sudi, namun sikapmu telah gamblang menjelaskan padanya yang buta tentang warna. Maaf, dirimu bukan lagi yang dimau. Sebab sekali lagi, pengalaman mengajarkannya perkara itu.
 
Kalian terlalu asyik berjalan diatas angin, lalu terlena oleh waktu, hingga lupa apa yang harusnya diseriusi.

  • view 53