Terbius Cinta Mush'ab

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 07 Juli 2017
Terbius Cinta Mush'ab

Pemuda, di tangan kalianlah seharusnya kebaikan islam menyebar. Sebarannya akan meluas hingga ke tempat yang termarjinalkan, sama persis yang Mush’ab bin Umair perbuat untuk tersebarnya islam di Madinah. Ia bawa ekspedisi besar untuk membesarkan penguat Rosulullah, padahal sebenarnya Baginda selalu dijamin pertolongan olehNya. Mush’ab tetap memboyong kalimat islam dari Mekkah menuju Madinah, sebuah negeri yang lama tak tersentuh cahaya. Disanalah ia kabarkan kedatangan dirinya pada seluruh masyarakat Madinah, tak satu pun rumah tertutup kecuali mereka telah mendengar tibanya utusan Muhammad Salallaahu alaihi wassalam.

Mush’ab begitu mencintai orangtuanya melebihi apa yang melekat pada tubuhnya, mengurus mereka dengan cinta tiada tanya, semua ia persembahkan demi buktikan cinta pada Bunda yang membuatnya ada. Setelah puas ia hadiahkan cinta paling maksimal pada Ummii, dakwah islam menyapanya dengan kelembutan penuh bahasa, Mush’ab pun tersentuh cinta selain pada keluarga. Ia palingkan cintanya pada agama yang baru diyakini, ia hibahkan cinta itu pada Nabi Sang Kekasih Tuhan. Ia alihkan cinta yang terlampau besar di rumah sendiri, dihijrahkan cinta tertinggi itu di jalan perjuangan demi membesarkan pendukung islam.

Rosulullah menyanjung dan mengenangnya dalam sebuah sabda cinta, “Dahulu saya lihat Mush’ab ini tidak ada yang mengimbangi dalam memperoleh kesenangan dari orangtuanya, kemudian ditinggalkannya semua itu demi cintanya kepada Alloh dan RosulNya.” Mampukah duhai Anda para pemuda, mengulang kisah cinta Mush’ab pada Alloh dan RosulNya?
Ia diutus Rosulullah membawa kabar berita kepada penduduk Madinah, dilepaskan ikatan cinta pada keluarga dan tegap berjalan menuju negeri yang hendak ditemui. Tak setetes pun buliran tangis ia jatuhkan demi melepas keluarga yang dikasihi, sebab Mush’ab tau bahwa cinta pada Alloh dan Nabi haruslah jadi yang pertama dan utama. Mush’ab mengerti seiring bersama Nabi dan para sahabat, pengertian yang tak kan ia dapati dari pemimpin Quraisy. Pengertian itulah yang membuatnya memahami definisi cinta yang sebenarnya, bahwa cinta karna akidah mestilah lebih agung melebihi apapun.

Cinta yang mengajak orang pada kebenaran, cinta yang menggiring sesama pada kebaikan, cinta yang menggandeng tangan saudara pada kelurusan iman, cinta semacam itulah yang mendarah di ubun-ubunnya. Cinta murid pada gurunya, cinta guru pada anak didiknya, cinta seorang putra terhadap Ibu Bapaknya, dan cinta manusia pada ummat sedunia, cinta sejenis itulah yang Mush’ab lahirkan dalam dirinya setelah mengenal islam dan tertunjuk hidayah didepan matanya. Cinta yang mengakibatkan dua dunia tiba-tiba terputus, cinta yang menyebabkan bentroknya satu sama lain, cinta serupa itulah yang menambah kenikmatan dalam dada Mush’ab bin Umair. Cinta ini hanya dirasakan lezatnya oleh mereka yang telah serius menangguhkan hari-harinya di atas tanah perjuangan. Hingga kematian datang, berpulanglah cinta itu pada tumpuannya.

Begitulah engkau, duhai pemuda akhir zaman.
Ekspansikanlah nur islam ini di negeri yang masih jauh tertinggal, terbitkan terangnya hingga tak satu pun jendela tak menghirup udara dari sang fajar.
Tebarkanlah cita dan cinta ke setiap kaca agar islam tercerminkan baik dan indah rupanya.
Pantulkan kebenaran islam ke setiap pintu agar semua bilik menjalankan damai dan tenangnya saat berislam, sebab islam hanyalah jalan bagi mereka yang siap mengambilnya sebagai jalinan cinta.
Cinta ini akan bersemai, di syurgalah kan kita temukan istananya.
Mari mengulum cinta.

  • view 60