Talk Less, Write More

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Inspiratif
dipublikasikan 14 Juni 2017
Talk Less, Write More

Pada dasarnya, wanita itu suka sekali bercerita. Dalam sehari, ribuan kosakata diproduksi hanya untuk berkisah. Dari hal sepele, gak penting, semua dirasa perlu didongengkan.
Kalau wanita itu cerewet, itu kodratnya. Karna mereka memang doyan ngomong, kalau ia penulis mungkin buku, laptop dan HPnya sudah penuh dengan curhatan harian.
Tapi saat belajar Psikologi, saya belajar untuk lebih banyak mendengarkan daripada berbicara. Menjadi guru pun begitu, saya harus lebih banyak diam dan biarkan siswa bercas-cis-cus ria.
Bedanya, saat menulis saya gak bisa diem. Wajar kalau banyak pembaca mengomentari, "kepanjangan, kurang singkat."
Hemat saya, belajarlah menjadi pembaca yang budiman. Jangan terbiasa minta ditunjukkan solusi cepat, temukanlah dulu masalahnya dan ikutlah menganalisa, karna saya paling gak suka memanjakan pembaca dengan terburu-buru memberikan jalan keluar.

Bayangkan bagaimana Al Qur'an dikisahkan dengan 114 surah, masa' iya cuma baca Ummul kitab terus kabur?
Harusnya dibaca dulu sampai An Nas, jangan diloncat-loncat atau maunya cepat-cepat diakhiri, pasti akan ketinggalan beberapa kisah hebat yang terselip pada beberapa surah berbeda.
Jangan terfokus hanya pada 1 bab, tapi pahami semua topiknya.

Akhirnya, saya telah menyeleksi pembaca-pembaca yang rajin membaca tulisan saya sampai benar-benar di ending-nya. Mereka ini adalah orang-orang yang sama seperti saya, senang membaca dan menulis, senang berbagi dan menginspirasi, senang berguru dan berpikir terperinci. Tipikal pembaca tulisan saya biasanya para pengangguran, artinya mereka tidak menyibukkan diri dengan bersenda gurau. Mereka lebih memilih menantikan postingan tulisan seseorang yang jika beberapa hari orang itu tak muncul ke permukaan, mereka mulai merindukannya. Aha, saya mulai kepedean.
Tapi memang begitu adanya, pembaca tulisan-tulisan saya ini adalah orang-orang terdekat saja yang sengaja saya push untuk mengenal islam dengan lebih baik. Meskipun saya publikasi untuk publik, tetap saja penikmatnya hanya terbatas pada orang-orang di sekitar saya saja. Seperti: rekan sekampus, sahabat semajelis, teman sema'had, kawan seperjuangan, kolega sekantor, anggota keluarga, atau ujung-ujungnya partner berkomunitas di dunia kepenulisan.
Aha, tulisan saya belum pernah dikonsumsi para penulis hebat. Sepertinya, begitu.
Paling-paling yang baca Mas Fahd Pahdepie (mulai kepedean) ????, itupun karna saya kebetulan aktif sebagai inspirator di komunitas rintisan beliau. Pernah dibaca TGB sebagai wakil dari NTB, tapi ternyata kini tulisan itupun saya sesali terbitnya.
Lalu dibaca Mas Farid Tolomundu yang merupakan editor tulisan saya saat itu, bisa dikatakan beliau adalah penulis populer di NTB. Ada lagi Mas Apu Indagiry dan Mba Zulfa Alya yang sempat membaca tulisan-tulisan super cepat saya, tapi tidak juga membuat saya puas.

Ah, tulisan saya juga banyak diminati para remaja. Semisal antologi tulisan Pasukan Berani Putus, yang sampai sekarang pun saya sendiri belum melihat bentuk bukunya. Aneh, kan. Inilah kerja tulus saya sebagai penulis, siap berkisah dan harus rela tak kebagian naskah jadinya.

Saat itu, hampir setiap hari ada saja es-em-es atau chatting yang mendarat ke HP saya. Mereka beragam asalnya, ternyata semuanya adalah remaja-remaja yang sedang memintal hijrah melepaskan diri dari aktivitas pacaran. Nah, bersyukur ketika tulisan kita mampu menjadi jalan bagi pembaca untuk mengalihkannya dari kesia-siaan dunia. Saya banyak berterimakasih pada pena ini, sebab dari ujung tintanya banyak menorehkan inspirasi kebaikan bagi orang lain. Maka, cerewetnya seorang wanita saat menulis adalah modal utama yang wajib dimiliki setiap penulis perempuan.

Jujur, saya tak pernah puas saat menulis di instagram. Jumlah karakter yang disediakan teramat sedikit, padahal kecerewetan saya melebihi jumlah karakter postingan yang ditentukan.

Saat menulis di twitter apa lagi, maka tak jarang twitter hanya saya jadikan sebagai ajang berbagi link tulisan sendiri. Aha, langkah ini rasanya jauh lebih praktis untuk mewakili minat saya menularkan tulisan-tulisan yang panjang.
Saat menulis di Facebook, saya justru lebih puas, karna jiwa kecerewetan saya akhirnya menemukan wadahnya.

Namun, saya juga terbilang jarang memuat tulisan panjang di akun Facebook. Pasalnya, Facebook tak cukup aman menyimpan koleksi tulisan penulis. Maka sarana yang paling tepat adalah dengan menyimpannya dimana saja, termasuk di buku-buku harian. Bisa berupa binder, diary, buku agenda, asal jangan sekali-kali mengendapkannya di otak karna akan mudah sekali hilangnya.

Berkat kecerewetan saya dalam menulis, beberapa pembaca bosan dan memalingkan hatinya.
Ah, tujuan saya menulis bukan untuk menahan kalian agar betah berlama-lama di rumah saya. Tujuan saya menulis adalah untuk menyadarkan orang-orang didalam gubuk saya saja, supaya saya pun makin betah tinggal didalamnya. Ketika mereka semua terpahamkan dan mengikuti kebaikan dari tulisan saya, maka akan sangat bahagia rasanya ketika seisi gubuk itu berjalan seiringan, cita-cita besar itulah yang membuat saya terus menulis meskipun sudah banyak dari pembaca saya akhirnya berguguran di tengah jalan. Haha, berkelanalah dan berpetualanglah kemana saja kau suka. Temukan kesejatian dirimu, lalu ikutlah menulis bersama yang lain. Rugi kalau posisimu hanya sebagai pembaca yang doyannya nangkring sana sini, tapi gak punya rumah karya sendiri yang bisa dinikmati dunia dan isinya. Rugi.

Pembaca saya kebanyakan perempuan, karna saya memang banyak mengulas tentang kehidupan mereka. Sesekali saya menulis tentang lelaki, tapi toh yang nikmatin tetep aja para calon Ibu. Aha, semoga kecerewetan saya dalam menulis menjadi teman curhat terpanjang bagi para perempuan di akhir masa. Menulislah dengan kecerewetanmu.

Penulis itu harus cerewet, sekalipun karakter aslinya pendiam atau "talk less do more." Dalam menulis, seorang penulis harus mengemban konsep "talk less, write more." Banyak-banyaklah mendengarkan lalu dituliskan, perbanyaklah menyimak lalu tuliskan, salurkan kecerewetan itu saat di atas kertas. Ubahlah kecerewetanmu jadi manifesto karya yang bernilai dan menjadi jalan tertunjuknya kebaikan bagi para pencari inspirasi. Cerewet-cerewetlah dalam menulis, maka akan kau seleksi sendiri siapa saja pembaca yang betah menyimak ocehanmu. Haha, merekalah orang-orang beruntung yang selalu setia menampung setiap ocehanmu, mereka itulah pembaca-pembaca yang budiman.

  • view 53