Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Cerpen 9 Juni 2017   21:36 WIB
Dari Mereka, Aku Tahu

P2KK. Program Pembentukan Kepribadian dan Kepemimpinan. Konsep yang tergambar di pikiranku, kegiatan baru itu layaknya aktivitas di Pesantren. Tentu aku akan sangat senang mengikutinya, meski lebih dari satu minggu. Karna kepuasanku tidak sekedar pada aktivitasnya, namun justru pada proses dan perubahan diri yang nantinya akan didapat. Pengalaman serta pengetahuan baru pasti semakin menambah wawasan dan kreativitas cara pandangku untuk lebih dewasa ibarat para pembaharu diri. Mahasiswa adalah agen perubah, yang harus mampu merubah diri dan sekitarnya. Itu yang kuharap setelah agenda P2KK berakhir di hari Sabtu nanti.

Awal pertemuan di kelas, tidak ada kecanggungan sedikit pun. Pasalnya, hampir seisi kelas sudah kukenal. Peserta di kelas Muhammad Abduh Angkatan 19 itu kini akan jadi keluarga baruku. Bahkan sebagian besar mereka sudah jadi keluargaku di Fakultas, maka wajar saja kalau rasa canggung itu tak pernah datang pada hari pertama kami di Rusunawa. Bahkan pada kakak pendamping, aku menganggapnya sebagai mentor yang selama enam hari akan membimbing kami dalam banyak hal. Sehingga kuputuskan untuk tak perlu ragu sedikitpun, karna yang membedakan hanyalah posisi saja. Keempat pendamping di kelasku, rata-rata sedang menyusun skripsi. Yang terlintas di benakku kemudian, “kapan giliranku?”. Itulah kecanggungan pertama yang selanjutnya muncul perlahan, karna sudah barang tentu dari segi akademis mereka bisa dikatakan lebih unggul dariku yang saat itu berlabelkan Mahasiswa Baru. Kecanggungan kedua datang saat aku berpikir keras tentang kesibukan mereka di kampus, tetapi tetap setia mendampingi kami selama seminggu kedepan. Ya! Mulai saat itulah aku berjanji bahwa saat tiba waktunya, akan mengikuti jejak mereka semua. Merasakan seperti apa menjadi seorang kakak pendamping yang diamanahi tugas luar biasa berat menurutku. Mengorbankan jadwal bimbingan skripsinya, merelakan tidak mengikuti kuliah, semua hal yang tidak rasional pun dilakukan.

Sore itu, aku sedang berbincang dengan Mbak Nina didepan kelas. Yang kami bicarakan sebenarnya bukan soal materi akademik atau keislaman, tapi perkara Mall di daerah NTB. Kebetulan letak kampung halamanku dengan tempat tinggal Mbak Nina memang satu provinsi, namun berseberangan laut.

“Kalau Mbak pulang, biasanya mampir di Mataram dulu.. main-main ke Mataram Mall itu, dek…” kurang lebih seperti itu percakapan awal dimulai.

“Wah kenapa kok mampir di Mataram, Mbak? Hem.. apa karna di Bima itu nggak ada Mall ya?” jawabanku terkesan sedikit mencairkan suasana yang agak beku. Tapi memang faktanya, di daerah asal Mbak Nina itu tak ada Mall satu pun. Bahkan sampai saat aku menuliskan cerita ini.

(Hehe… Lebay banget ya! ^_^)

Dialog berlanjut sampai peserta yang lain datang dan ikut alur pembicaraan kami berdua.

Bukan perkara baru ketika bertemu teman satu provinsi, semua pun seolah terasa lekat dan dekat. Mulai saat itu, aku punya saudara baru. Mbak Nina, Mas Khozin, dan dua yang lainnya masih belum kutemukan namanya. Sudah sekian tahun peristiwa itu terlewati, hingga memoriku begitu sulit mengingat nama mereka berdua yang masih belum kuingat lagi. Tapi itulah kelemahan manusia, tempatnya segala khilaf dan lupa. Sampai saat tulisan ini kuterbitkan pun, nama kedua kakak pendamping itu belum juga mampir di memori jangka panjangku. Sumpah deh! (Berlebihan lagi nih! *.*)

P2KK berakhir, memang yang sangat sering kutemui adalah mereka berdua. Mbak Nina dan Mas Khozin. Itulah mungkin sebabnya aku lebih mudah menghafal nama mereka sampai detik ini. Subhanalloh. Mereka selalu rajin sholat berjamaah di Masjid AR. Fachruddin, hingga area pertemuan kami pun lebih sering hanya di daerah Masjid kampus saja.

Kembali kutarik ingatanku saat Mbak Nina menemani kami semua sholat berjamaah di kelas, kesan mendalam selalu muncul saat agenda P2KK itu muncul lagi di ingatanku sekarang. Tak pernah terhapus, karna itulah yang akan menjadi bayangan bagiku saat mendampingi adik-adik nantinya.

Proses seleksi pun kuikuti. Pikirku, hanya sekedar berujung pada tes Public Speaking. Ternyata setelah itu, kami masih harus digembleng dalam kegiatan Training yang bersifat indoor maupun outdoor. Rasanya seperti tak ada habisnya, karna setiap akhir pekan selalu bertemu kegiatan yang sama. Bosan atau penat, tak mungkin berani hadir. Karna itulah konsekuensi. Berani bergabung didalam kepanitiaan P2KK, maka berani pula ikuti alur yang sudah diatur. Sesekali sempat terbersit rasa ingin mengundurkan diri, jauh sebelum jadwal P2KK dimulai. Rasa lelah mulai datang, karna biasanya Praktikum Lapangan di Fakultasku dijadwalkan setiap akhir pekan pula. Mulailah aku bingung menentukan jalan, antara kondisi akademik atau pembekalan P2KK yang sudah kulewati separuhnya. Sempat terjadi konflik pula dengan teman-teman sekelompok Praktikum, namun semua itu bisa kutebas dengan keyakinan bahwa P2KK dapat merubah cara berpikirku, mengubah sikap serta perilakuku. Itulah yang lebih utama melebihi apapun, dan kondisi praktikum di lapangan pun nyatanya masih bisa tertangani dengan sangat baik. Selama mau berusaha, Alloh pasti beri jalan. Selama niat mulia menginginkan bergabung di P2KK untuk kebaikan diri, Alloh pun akan basmi semua tantangan.

Alhamdulillah. Aku termasuk salah satu yang masih bertahan sebagai Co. Trainer dalam agenda tahunan ini. P2KK adalah salah satu ajang pengasahan diri ketika awal memasuki dunia kampus. Universitas Muhammadiyah Malang menjadi kampus yang dijadikan contoh oleh kampus lain dalam banyak program unggulannya, diantaranya yaitu Aplinet, Studentday, dan P2KK. Inilah yang menjadikan kebanggaan tersendiri bagiku sampai menit ini, telah utuh menjadi civitas akademika yang bisa mendukung salah satu program unggulan tersebut.

“Menjadi malaikat bagi adik-adiknya…” sangat tersentuh saat mendengar kalimat salah satu Trainer yang mempresentasikan mengenai tugas Co. Trainer nantinya.

Wow! Malaikat yang akan dibebani amanah cukup berat, bukan suatu hal yang gampang bagiku dan teman-teman Co. Trainer lainnya. Maka di benakku muncul sebuah kepastian tentang betapa daruratnya membenahi diriku dulu sebelum membenahi adik-adik nanti.

Beban mental luar biasa mendera batinku. Pengalaman pertama jaga di Kelas Ibnu Sina Angkatan 5, bersama partnerku yang sebelumnya pernah satu kali jaga.

“Tenang aja, Mbak Suci… Nanti saya bantu sampeyan handle pesertanya pelan-pelan, awal saya jaga pertama juga begitu kok.. tapi lama-kelamaan bakal terbiasa,” itulah jawaban sekenanya dari Mas Ginanjar saat kukatakan bahwa itu pengalaman pertamaku, sehingga agak berpikir keras. Soal fisik, jangan ditanya. Sudah kusiapkan jauh-jauh hari, agar tak down saat pendampingan. Tapi soal bathin, rasanya memang harus dituntun pelan-pelan dulu.

Alhamdulillah. Detik-detik perkenalan terasa sangat biasa, sama sekali tak mengusik kondisi batinku. Inilah buah dari bekal yang diberikan pihak UPT P2KK selama berbulan-bulan, jadi aku mulai terbiasa mengelola dan mengkondisikan kelas dengan mengenyampingkan urusan mental. Semua terasa sangat optimal, sampai adik-adikku berhasil menjadi Juara Outbound. Kegiatan yang menurutku merupakan titik puncak P2KK, karna disitulah segalanya diuji. Mereka sudah mampu menata emosi, kekeluargaannya jelas terlihat selama outbound. Tim putra dan putri selalu santai, tetap guyon meski sedikit tegang saat bermain. Terkesan kurang serius memang, justru aku dan partnerku yang sangat tegang menyaksikan permainan mereka satu demi satu. Pasalnya kami berdua tak punya hak untuk menyemangati sedikit pun, itulah peraturannya. Hanya mengamati para leader dan anak buahnya, semua begitu kompak dan tersusun sangat rapi.

“Luar biasa Ibnu Sina, I Love You!!!” Rasanya air mataku ingin tumpah mendengar pernyataan Teh Yoan. Para Trainer seharian membicarakan kelasku. Tanggapan mereka semua sama. Ibnu Sina itu anak-anaknya santai, guyonan, tak ada satupun yang keliatan emosi, tapi semua permainan bisa dilalui. Leader-leadernya juga cerdas membaca peluang dan kondisi teman-temannya. Bangga bukan main diriku, karna itulah awal pertama jejakku mengukir semangat untuk adik-adik di P2KK. Rasa kesal dan marah memang menyiksa kondisi fisikku sebelum outbound itu, satu hari sebelumnya aku mendiamkan mereka satu kelas. Setiap selesai Kultum, sengaja kumarahi dan kutegaskan terus soal peraturan yang telah disepakati. Kelas itu sengaja kami design dengan berbagai peraturan tambahan, agar mereka belajar kebersihan, kerapian, dan hal-hal kecil perkara peletakan sandal, sampah, dan seterusnya. Subhanalloh, semua trainer kembali menanggapi positif. “Ibnu Sina itu kelas paling bersih, dilihat dari semua kelas kok cuman Ibnu Sina yang rapi rak sandalnya,” Memang dari luar sampai kedalam ruangan, sengaja ku design agar tampil mempesona bagi siapa saja yang melihatnya. Karna ketika kenyamanan mata di kelas terbentuk, maka akan terbentuk pula kenyamanan hati dan pikiran. Begitu konsep yang kutularkan pada pesertaku. Semua meninggalkan kesan yang mendalam bagi penghuninya, bahkan mereka mengajukan niat untuk mengikutkan aku dan Mas Ginanjar saat yel-yel.

“Ya gak bisalah, dek… Itu performance kalian, Mbak Suci sama Mas Ginanjar tugasnya hanya mengamati.. Kita nggak boleh memberikan support apapun, karna kalian sedang dinilai sama para Trainer,”

“Nggak, Mbak.. Nanti sebentar aja kok Mbak sama Mas tampil…” dengan sedikit membujuk, tapi tidak mempan rupanya.

“Ya tetep aja nggak boleh, hem.. nanti kita berdua ngasi senyum termanis deh buat kalian..”

Semua kegiatan selama enam hari penuh itu, beberapa masih terlintas di ingatanku. Namun sayangnya, tetap harus berakhir meski masih ingin bersama mereka semua.

Lanjut dengan Al Ghazali Angkatan 11, dengan Mas Agus sebagai Trainernya. Analisaku, adik-adik di Al Ghazali pintar berpuitis karna sesepuhnya adalah seorang puitis pula. Mas Agus hampir setiap hari memberikan pancingan agar mereka senang berimajinasi dan berkarya, hasilnya pun sebagian besar dari mereka jadi sangat suka menulis. Walau kebanyakan tulisannya bertema romantis, itulah masa pubernya remaja. Jiwa mereka pun jadi selembut sutra, karna tersentuh oleh gaya pendekatan Mas Agus. Wow! Mendadak semuanya menjadikan Mas Agus sebagai media curhatnya, bahkan aku pun terkadang ikut menyimak curahan hati mereka. Konsultan baru di Al Ghazali 11, hingga beberapa laki-laki diantara mereka berani menyatakan suka kepada peserta putri di kelas. Didepanku, didepan Mas Agus. Tanpa canggung, sungguh sebuah tontonan drama pernyataan rasa cinta secara tersirat sedang berlangsung didepanku saat itu. Forum diskusi berubah jadi sinetron tontonan layar tancap yang sedang diputar dihadapan seisi kelas. Bahkan aku pun jadi kelabakan perkara persiapan outbound dan yel-yel mereka yang belum juga rampung. Tapi aku tak mau ambil pusing, karna menurutku semua yang terjadi di P2KK, kalah atau menang, itu hanya sebuah simbol. Yang terpenting adalah proses singkatnya, buah-buahan yang sanggup mereka petik setelah keluar dari gerbang Rusunawa. Bahkan mulai dari forum kultum sampai pada forum materi akademik, hampir semuanya dikaitkan dengan hal-hal yang berbau romantisme. Tak apalah, agar mereka belajar untuk menjaga serta menghormati rasa indah itu sebaik mungkin dalam dirinya.

Berbeda dengan Ibnu Sina, kali ini aku seperti kurang fokus mendampingi kelas Al Ghozali. Cukup banyak protes para trainer dan co trainer yang mengusik pikiranku. Tapi semua kutanggapi dengan sikap tenang, karna saat itu kondisiku sedang tidak sehat. Bukan karna fisikku yang tidak sehat, namun suasana batin yang berlarian tak tau arah. Banyak hal yang membuat konsentrasiku terpecah selama enam hari bersama adik-adik di kelas Al Ghozali. Mulai dari masalah internal sampai eksternal sekalipun, semuanya datang pergi merusak moodku. “Kamu istirahat aja, tenangin pikiranmu dulu, Ci..” kurang lebih begitu saran partner Co. Trainer lainnya saat itu. Sudah kucoba memejamkan mata saat jam istirahat, tapi selalu saja berakhir kesal. Pikiran benar-benar sedang tak ada di tempatku berpijak. Selama enam hari itu aku hanya merenungi ketidakprofesionalan pendampinganku. Bahkan sampai hari terakhir pertemuan dengan adik-adik Al Ghozali, aku benar-benar berhasil dibuat kecewa oleh sikapku sendiri. Entah berhasil tidaknya aku mengubah mereka jadi sedikit saja lebih berkepribadian, tapi ternyata aku sadar sudah tak punya kesempatan sebanyak di tempat itu untuk menggembleng adik-adikku. Aku hanya berharap semoga lebih berlipat orang-orang hebat diluar sana yang mampu menggembleng mereka jadi lebih menghargai diri dan sekitarnya.

Setelah semua proses berakhir di angkatan 11, aku mulai menata diriku kembali. Kucoba selesaikan semua masalah yang buatku berkecamuk dan hilang konsentrasi. Tak ingin hal yang sama terulang pada pendampingan selanjutnya, kuyakinkan kembali tentang makna sebuah perngorbanan. Tiada peduli semua aktivitas lain, keculali menyumbangkan waktu, tenaga, dan apresiasi pikiranku untuk para mahasiswa baru yang siap kudampingi di angkatan selanjutnya. Seakan tak ada kehidupan lain selain di Rusunawa, tekadku hanya ingin tidak menghadirkan kembali rasa kekecewaan itu. Lewat goresan ini, kusampaikan maafku pada kalian yang saat itu terlupa. Aku bangga pada Al Ghozali, mereka mampu berdiri tegak meski aku sebenarnya telah cukup rapuh mendampinginya. Mereka benar-benar mengalahkan kecerdasanku sebagai senior, mereka cerdas hampir dalam semua hal. Mereka buatku menafsirkan bahwa ilmu manusia hanya sedikit jika tak terus diasah. Mereka kaum intelektual muda yang akan menjadi calon-calon penulis, pujangga, seniman, dan para pembelajar tercerdas yang pernah kutemui.

Kukumpulkan semangat baru pada kelas Al Farabi angkatan 13. Banyak hal unik dan menarik yang kutemukan di kelas ini. Beberapa Co. Trainer pun sepakat denganku. Jika di Al Ghozali angkatan 11 kutemukan orang-orang istimewa dengan dunia pujangganya, disini justru kutemukan mutiara-mutiara iman. Aku benar-benar takjub ketika sebagian dari mereka ternyata wawasan agamanya melebihi kapasitasku sendiri. Satu diantara mereka bahkan telah hafal tiga puluh juz Al Qur’an. Betapa aku sedang ditunjukkan pada kelalaian yang kuciptakan sendiri. Sudah sampai dimana hafalanku jadi tak penting saat itu. Mereka sangat terbuka menceritakan kisah masa lalunya masing-masing. Semua cerita tak berakhir bahagia, karna semua orang tentu punya pilihan hidup. Pilihan itulah yang kini menuntun mereka sampai dihadapanku, hingga memaksaku meninggalkan jam kuliah dan bimbingan skripsi.

“Kemarin nggak bimbingan, sekarang nggak kuliah, kenapa toh Mbak?” begitulah Mas Arif mengomentari pilihanku. Bukan bermaksud melarikan diri dari kegiatan kampus. Hanya saja, aku sedang mencoba kembali strategi yang pernah kulakukan saat di kelas Ibnu Sina dulu. Mengorbankan banyak hal, tetapi semua membuatku merasa lebih puas. Setidaknya, aku tak mengecewakan adik-adikku.

Kelas Al Farabi ini ternyata tak jauh beda dengan kelas Al Ghozali sebelumnya. Tipe dan karakter mereka sama persis. Ya Tuhan, aku sempat putus asa menghadapi mereka satu per satu. Berbeda budaya maka berbeda pula wataknya. Agak susah mengatur kelas ini, tapi kurasa mereka sudah cukup dewasa menentukan cara bersikap yang baik dan benar. Memang lagi-lagi inilah tugas dan kewajiban seorang Co. Trainer, mengurusi urusan mereka seperti seorang Ibu mengurusi bayi kecilnya. Penuh perhatian, tapi kurasa perhatianku justru dimentahkan. Ya Robbi, sudah habis akalku menghadapi mereka. Tak sampai disitu, aku selalu meminta solusi dari beberapa rekan Co. Trainer. Ternyata bukan hanya aku saja, mereka pun sibuk mengeluhkan hal yang sama. Kami semua berhasil dibuat pusing bukan main di angkatan 13. “Satu angkatan ini anak-anaknya rata-rata begitu semua, khas banget ya..” seperti itulah kami saling berkomentar menganalisa dan mengamati keunikan peserta P2KK angkatan 13. Mereka para generasi muda yang selalu bangkitkan semangatnya setiap detik. Adik-adikku, kalian lah para intelek perubah masa depan bangsa ini. Di tangan kalian lah akan lahir harapan dan solusi yang menuntaskan, bukan justru menjerumuskan. Aku bangga pada dedikasi kalian yang tak pernah berhenti mempersembahkan yang terbaik untuk Al Farabi.

Bagiku, setiap orang pasti lewati proses pembelajaran. Mereka selalu akan jadi pembelajar profesional jika ada orang-orang hebat dibelakangnya. Ternyata kutemukan Mas Edi adalah Trainer yang sangat berpengaruh di kelas itu. Sehari saja beliau tak ke kelas, semua anak menanyakan keberadaannya padaku. Setidaknya mereka lebih kritis dan bijak sebagai Mahasiswa Baru, karna hari itu Mas Edi telah menorehkan materi yang mampu membuat mereka peka terhadap sekitarnya. Sebuah materi yang akhirnya membuat mereka lebih mampu memikirkan keadaan orang-orang disekelilingnya, bahwa manusia tidak pernah hidup seorang diri di bumi ini. Ada jutaan rakyat yang tak bisa merasakan akses pendidikan, kesehatan, dan sebagainya. Saatnya bicara bangsa dan Negara dari sebuah kebijakan politik. Ternyata mereka cukup tersentuh dan cukup menunjukkan perubahan yang buatku sedikit bernafas lega. Memang tak selamanya seorang Co. Trainer mampu menjadi pendamping yang menginspirasi, justru dari para Trainer lah mereka mengambil keputusan termahal, “Berubah atau Stagnant”.

Ini saatnya terakhir kali karirku dinilai. Kelas Ibnu Kholdun angkatan 17. Tak tau apa yang akan kutuliskan di lembar-lembar kertas ini, sepertinya akan mengalir begitu saja jika bicarakan tentang mereka. Sebuah pertemuan luarbiasa yang membuatku merasa betapa beruntungnya mendampingi kelas itu. Anak-anak yang kocak dan sok ramah pada setiap orang itu buatku memahami betapa mahal sebuah kekeluargaan. Baru pertama kali kutemui mahasiswa baru yang tingkat kecerewetannya melebihi cerewetnya para wanita. Tak ada beda laki-laki dan wanita di kelas itu, semua selalu bersikap sok kenal dan sok akrab dengan semua orang. Entahlah, mungkin mereka terlahir dari satu spesies yang sama. Perkiraanku begitu. Mudah saja jika dianalisa lebih dalam. Pasalnya, Bang Eja yang menjadi partnerku saat itu memang senang sekali bertingkah seperti anak kecil. Sikap dan gaya bicaranya yang sangat ‘lebay’ membuat adik-adikku akhirnya tumbuh menjadi para calon pelawak. Tidak semua, mungkin hanya beberapa saja diantaranya. Tetapi tidak sampai disitu, semua saling menularkan profesi barunya. Sebagai seorang komedian akademis selama enam hari.

Mungkin karna saat itu momen terakhir pendampingan yang kulakukan, sehingga rasanya semua seperti lama berlalunya. Hingga saat hari terakhir, aku sibuk menyeka air mata mereka satu per satu. Pikirku, “Kenapa tak ditampung di ember saja semua tangisan mereka?” ‘sedikit melawak’, tak apa lah. Aku memang sengaja tak menuliskan hal-hal special pada edisi kelas ini, selain canda tawa mereka yang membahana itu. Biar saja mereka semua protes, aku hanya memang ingin mereka tersadarkan bahwa itulah yang membuat setiap orang di sekeliling mereka jadi sangat bahagia. Semua membuktikan, kelas ini kelas yang asik dan membuat setiap orang mampu tertawa selebar-lebarnya. Mereka adik-adik yang cerdas, sangat ilmiah dan benar-benar penuh ambisi. Itu yang kusuka!

Ibnu Sina, Al Ghozali, Al Farabi, Ibnu Kholdun. Semua punya cerita tersendiri yang masih jelas tersimpan di memori otakku, keculai telah aus termakan usia. Mereka buatku belajar banyak hal. Terlalu banyak yang kudapatkan dari kisah dan perjalanan bersama mereka. Tapi tidak semua mampu kucoretkan pada kertas-kertas ini, biarlah hanya aku dan mereka yang menyimpan keindahan-keindahan lainnya. Aku hanya membagikan secuil kepingan bersama mereka, tidak sepenuhnya. Kupikir, mereka terlalu istimewa dan membanggakan hingga tak mampu kuceritakan satu demi satu.

Dari Ibnu Sina, aku belajar arti sebuah kelelahan. Keletihan dan rasa sakit itu yang buatku menafsirkan bahwa kesuksesan dan senyuman indah itu akan datang setelah terjatuh dan bangkit ke sekian kalinya. Dari Al Ghozali, aku belajar mencintai dan mengasah kembali hobi menulisku. Dengan menulis, aku akan ada dan dikenang sampai kapanpun. Terima kasih, kalian ajarkan aku berempati dan bersimpati tinggi pada siapapun. Adik-adikku yang lembut hatinya, semoga kalian jadi jawara-jawara yang selalu mencinta dengan sejati dan ukirkan tulisan terbaik diatas kanvas kehidupan ini. Dari Al Farabi, aku belajar menjadi insan yang tak pernah lelah menggali ilmu agama. Mereka yang buatku semakin memecut diri ini untuk mengukir prestasi-prestasi berharga tanpa kenal putus asa. Terima kasih, semoga kalian berada di garda terdepan yang mampu membuat orang lain bangga dan tersenyum sinis karna kesuksesan itu. Dari Ibnu Kholdun, aku belajar agar lebih banyak mengenali trik komedi. Mereka buatku belajar banyak untuk menghibur orang lain dan menciptakan senyum pada wajah dunia. Semoga kalian mampu hadirkan senyum terindah, terus bangkitkan imajinasi-imajinasi kreatif itu. Inilah sekelompok orang-orang yang sangat luas daya imajinasinya!

Setiap warna akan selalu lukiskan apapun sekehendak si pelukis. Teruslah berkarya dan coreti kampusmu dengan warna-warna terang. Tak kan pernah indah kampus itu jika dicoreti dengan warna-warna gelap. Menjadi mahasiswa bukanlah pilihan, tapi inilah jalan baru yang akan memilih satu diantara ribuan. Kampus itu tak akan pernah bosan menanti lukisan terdahsyat kalian. Change Your Self, Keep Your Success!

“Selamat datang di kampus putih, wahai laskar merah!” (mengutip pidato Pak Din Syamsuddin saat Pesmaba era 2009).

Teruslah berproses membenahi diri. Selamat berjuang, para generasi elit masa depan!

- Mbak Suci -

Karya : Baiq Dwi Suci