Mahasiswa, Jangan Pragmatis

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 08 Juni 2017
Mahasiswa, Jangan Pragmatis

Jaman masih jadi anak kuliahan

Saya punya aktivitas rutin bersama seorang partner dakwah di tim fakultas. Kami susuri setiap area fakultas demi dapatkan beberapa mahasiswa yang bisa diajak berdiskusi seputar islam. Ya, beginilah pragmatisme dunia kampus. Saya pun dulu mengalami hal yang sama jika menyaksikan apa yang saat ini saya amati setiap hari. Semua sibuk membicarakan tugas, praktikum, dan presentasi. Mereka sudah terlena bersama sejumlah paper di tangan, laptop yang setia menemani, bahkan sampai terkadang tak sadar dirinya diperhatikan banyak orang.

Saya sudah tak heran melihat pemandangan seperti itu, di setiap fakultas selalu sama. Pragmatisme memang terlalu besar dampaknya pada pola kebiasaan mahasiswa, terutama saat menjelang Middle or Final Test. Semua sistem jalur tercepat dijadikan alternatif. Mulai dari Sistem Kebut Semalam, Copy Paste Materi Kuliah, dan sebagainya. Orang yang pragmatis bahkan hanya punya sedikit waktu untuk mengkaji ilmu agamanya, maka wajar saja jika banyak Mahasiswa yang tidak begitu paham tentang agamanya. Mungkin yang dipahami hanya sebatas ibadah ritual, padahal terlalu banyak hal yang dapat mereka peroleh seandainya mempelajari islam secara lebih mendalam.

Dan inilah yang terjadi dengan diri saya dulu, dimana saat itu saya pun tengah terbuai dengan semua kebijakan kampus. Seluruh aturan Fakultas terkait akademis saya ikuti, tak bisa mengelak lagi. Sampai akhirnya saya tersadarkan bahwa seorang intelektual muslim haruslah memiliki 3 aktivitas dalam hidupnya. Menuntut ilmu - Bekerja - Ibadah. Saat pertama kali memahami hakikat seorang intelek muslim, saya benar-benar sadar bahwa ketiga aktivitas tersebut tidak dapat saya laksanakan utuh dalam bingkai pragmatisme.

Akhirnya, saya segera putuskan untuk mencari pekerjaan sampingan sebagaimana Rosulullah Salallahu'alaihiwassalam contohkan beliau sudah bekerja sejak usia dini. Saya mulai mengkaji ilmu agama, khususnya islam dari akar sampai pucuknya. Saya juga tetap fokus dengan studi di universitas dengan sederet perintah dari para Dosen. Ketiga rutinitas itu tidak semudah dalam bayangan, ternyata cukup berat bagi saya yang awalnya lebih senang menghasilkan uang dengan mengikuti lomba-lomba. Tetapi dengan kompetisi-kompetisi saja saya merasa tidak cukup mewakili status pekerjaan yang dianggap rutinitas, sampai akhirnya saya putuskan untuk menjadi Co Trainer di Rusunawa kampus. Disanalah saya bisa dapatkan semuanya secara sempurna, menuntut ilmu - bekerja - juga sembari tingkatkan ibadah.  Tetapi hal itu pun masih terasa kurang, hati dan pikiran saya merasa belum menemukan ilmu agama yang sesuai dengan yang saya butuhkan.

Didalam majelis ilmu, saya gali semua hal yang membuat saya bertanya. Saya temukan semua hal yang membuat saya penasaran dan selalu mencari tahu kebenarannya, dan dari sinilah saya mulai diberikan amanah dakwah. Siapapun yang ada meninggali dunia ini tentu punya kewajiban untuk dakwah, namun awal pertama kali saya memang selalu punya sejuta alasan menolak tunaikan dakwah. Sampailah pada suatu titik dimana saya merasa butuh berinteraksi dengan ummat untuk mendakwahkan opini kebangkitan islam.

Akhirnya sejak saat itu saya pun mulai perlahan belajar teknik dakwah di kalangan Mahasiswa oleh partner-partner yang lebih senior. Nyali saya sempat ciut beberapa bulan lakukan rutinitas menyebarkan opini islam ke tengah-tengah Mahasiswa. Bagaimana tidak, sebagian besar dari mereka tak merespon dan memilih menghindar lalu pergi entah kemana. Sebagian lagi mendengarkan dengan terpaksa, bahkan saya seperti radio rusak yang sibuk bicara sendiri dan tidak ada tanggapan sama sekali dari lawan bicara. Saya sudah sering menangis, kesal, marah, bosan, dan semua perasaan tak enak mengganggu semangat dakwah saat itu. Saya malas diajak berdakwah lagi, khawatir diacuhkan atau dicurigai dengan berbagai ekspresi para Mahasiswa.

Saat itu saya benar-benar sudah enggan berdakwah, karna semua orang yang saya dakwahkan tak ada satupun yang memberikan respon baik. Semua membelakangi, semua kabur dan menjauh. Tapi bukanlah saya kalau energi dakwah macet dan berhenti sampai di pertengahan. Kemudian di tengah rasa sedih itu, saya masuki sebuah toko buku yang kebetulan tak jauh letaknya dari kampus. Saya tak tau buku model apa yang tengah saya butuhkan, yang penting mampu mengobati kegelisahan saja.


Maasyaa Alloh... di tengah kebingungan akan strategi dakwah, Alloh pertemukan saya dengan buku yang ditulis Ustadz Shofwan Al Banna '100% Dakwah Keren!'. Saya baca bagian-bagian intinya saja, karna tak sabar lekas diaplikasikan. Ternyata, saya temukan kelemahan-kelemahan dalam diri saya sendiri yang membuat tidak optimalnya dakwah lisan yang saya sampaikan. Mulai dari kurangnya penguasaan ilmu komunikasi, materi, dan seterusnya. Semua yang diperintahkan buku itu saya lakukan, dan saya sudah tak sabar mempraktekkannya langsung. Saya merasa tempat pengaplikasian pertama bukan di arena kampus, maka saya segera datangi kos salah seorang adik tingkat. Awalnya saya tanyakan kabarnya, kesibukan di kampus, dan sejumlah pertanyaan ringan lain untuk mengawali. Selanjutnya mulai saya tawarkan untuk ikuti sebuah acara, dan mencoba menjelaskan tujuan serta konsep diadakannya acara tersebut. Semua pembicaraan berkembang sampai pada ide syari'ah islam, penerapannya, dan seterusnya.

Walhasil, saya tidak mendapat kepastian. Adik tingkat saya dakwahkan itu memilih berada dalam posisi netral. Dibilang sepakat, tidak. Dikatakan sepakat, ya tidak. Maka sejak saat itu saya putuskan untuk tidak sedikitpun menengok isi buku Ustadz Shofwan. Saya kecewa, karna saya tak dapatkan sesuai harapan di lapangan. Tapi lagi-lagi, bukan saya kalau lekas mundur perkara penyebaran opini idealis. Akhirnya saya coba dakwahkan di kampus, respon setiap Mahasiswa tetap sama. Hampir semua sepakat dengan opini kebangkitan islam yang saya sampaikan, namun setelah itu mereka seperti ogah untuk digiring ke dalam agenda-agenda selanjutnya.

Kembali pada problem awal. PRAGMATISME MAHASISWA. Disini saya merasa bukan Akh Shofwan yang salah atau keliru, melainkan sistem pendidikan di Negera inilah yang telah berhasil menjadikan semua intelektualnya cerdas akademik, bodoh perkara agama. Siapa yang harus saya salahkan kalau sudah begini?

Apa jadinya mahasiswa era kekinian yang disibukkan dengan drama korea, sinetron roman picisan, dan sejuta musik sendu melenakan. Ah, ingin rasanya kembali ke kampus dan membisiki telinga mereka satu per satu. "Please, jangan jadi mahasiswa pragmatis. Hidupmu cuma sekali, sumbangkan kepedulianmu untuk dunia dan islam."
STOP PRAGMATISME MAHASISWA.

  • view 83