Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Kisah Inspiratif 1 Mei 2017   19:33 WIB
Romansa Zina Sang Imajiner (2)

(BAGIAN AKHIR : SETELAH BERSAMBUNG DI PART SEBELUMNYA)

Dialog (ROMANSA ZINA SANG IMAJINER)

“Memangnya kau mau hidup dimana nanti, di neraka?!” kesalnya aku. Kuucapkan pertanyaan itu dengan lebih lantang.

“Kutebus dosa-dosaku di neraka, setelah habis semuanya, kapanpun Alloh menarikku ke syurga aku siap. Tidak seperti kau, tak bertanggungjawab atas dosa-dosamu.. enak sekali langsung ke syurga, tak kau pertanggungjawabkan dulu dosa-dosamu di dunia? Termasuk menunda-nunda waktu sholat, lebih asyik bercengkerama dengan imajinasi sintingmu itu.. lanjutkan saja misimu, tapi maaf.. aku tak bisa mendampingimu terlalu cepat di syurga, karna akupun tak tahu berapa banyak dosaku...”

Biadab. GE-ER. Sinting. Gelar-gelar yang disematkan mendadak padaku. Lalu apakah salahnya kuberi ia gelar. Anggap saja hadiah. Berbuat baik dapat pahala, berbuat buruk dapat dosa, maka ketika akupun diberi gelar, rasanya wajar jika kusematkan gelar-gelar istimewa pula untuknya. MULIA. BIJAK. SUPER!

“Kau berhasil buatku menangisi diriku,” air-air mata tak punya malu. Bergantian air-air mataku jatuh, kuhapusi, jatuh lagi, kuhapusi, jatuh lagi. Begitu seterusnya.

Begitu hinanya aku memandang diriku. Memandang semua yang ada padaku. Meratapi keadaan iman yang telah terkalahkan oleh era modern. Era berimajinasi. Inilah kesekian kalinya tangis banjiri wajah, sampai basahi hatiku. Sepatutnya yang kulakukan hanya menundukkan wajah, bersimpuh diatas sajadah tanpa mengimajinasikan bahwa itu adalah Ka’bah yang sebenarnya. Inilah diriku yang kesekian kalinya merasa ditampar oleh keMahadahsyatanNya, tapi akan tetap saja kembali menjadi muslim modern. Muslim yang menjunjung tinggi nilai modernitas daripada nilai-nilai keislaman. Salah jika kusikapi renunganku dengan kembali pada kesalahan yang sama. Keliru bila kuulangi kesalahan-kesalahan sebelumnya. Benar jika kumulai dari niat yang tak sekedar niat, tapi lebih benar lagi jika kuawali dengan sebenar-benarnya niat yang akan mensucikan hati dan pikiran. Sungguh kehebatan kata-katanya sarat akan renungan. Tidak sekedar harus kurenungi, tapi kupraktekkan dengan tidak menunda-nunda waktu sholat. Dengan tidak berimajinasi mengajaknya ke syurga, tapi lewati dulu neraka itu. Tempat yang akan jadi penebus dosa yang tak terhitung banyaknya, setelah itu barulah bisa kutembus syurga yang dijanjikan Alloh kekal selamanya. Tak ada kehidupan abadi selain akhirat, tidak juga planet Mars, istana bawah laut, atau istana yang sering kubaca di dongeng-dongeng.

“Menangis saja, tak ada yang melarangmu. Aku hanya memberikanmu pencerahan, bahwa mencapai syurga itu tak segampang imajinasimu. Banyak bebatuan kerikil bahkan panasnya api neraka yang harus menggosongkan badanmu, barulah kau siap kembali jadi wanita suci yang kuidamkan selama ini, siapkah kau kutuntun menjadi wanita suci itu? Wanita yang akan jadi bidadariku di syurga nanti, entah kapan, tapi aku sangat ingin menuntunmu menjadi wanita penghuni syurga kelak, itu janjiku..”

Beban dipundakku lepas mendengar pernyataannya. Ajakan yang secara tak langsung menuntunku pada kebenaran. Ajakan yang terkesan berimajinasi, tapi itulah sebaik-baik imajinasi menurutku. Pemuda istimewa yang selalu perintahkanku untuk bangkit dari ujian. Mana pernah dia lelah ajarkanku pelajaran-pelajaran mulia. Bersikap bijak hadapi ujian. Itulah yang disarankan padaku yang lemah ini. Beban-beban di kepala dan batinku berterbangan menjauhi raga dan jiwa. Bebanku musnah dalam hitungan detik. Sangat pelan dan lembut ajakannya, menggugah relung hati tuk bersemayam didalam hatinya. Mencari tahu rahasia dibalik hati laki-laki muslim itu. Alangkah banyak rahasia dalam hatinya yang harus kuselidiki. Yang harusnya kupelajari, yang sebaiknya kuteladani, kujadikan sampel dan kupraktekkan pada diriku. Rahasia kata-katanya yang buatku melayang diatas layang-layang, jauh lebih tinggi, jauh diatas ketinggian helikopter tercanggih sekalipun. Memang harus kuselidiki, kutekuni ilmunya, kuambil saripatinya, kucontoh gaya hidupnya, bila perlu gaya bicaranya. “Itulah maksudku..”

“Maksud yang mana?” tanyanya mempertegas perkataanku.

“Aku kan yang awalnya tadi mengajakmu ke syurga, kau lupa?”

“Tidak, aku ingat betul imajinasi konyolmu itu..” ah! Lupakan sejenak kata ‘konyol’ yang disematkan padaku. Akan kutebas pernyataanya.

“Aku ingin kau menuntunku ke syurga, ajari aku juga bagaimana cara menuntunmu ke syurga. Kita sama-sama menuntun menuju syurga, itulah yang kumaksud, makanya kuajak kau ke syurga..” makin menjauhlah beban dari otakku. Tak kupikir lagi beban yang banyak itu. Inilah fokus utama sekarang. Bicara dari hati ke hati. Satu visi. Satu misi. Satu emosi, yaitu cinta. Cintaku pada islam, cintaku pada syurga, membuatku belajar mencintai Alloh, mencintai dia yang harus setia menuntunku meraih cinta Alloh.

“Tapi kau melupakan neraka itu, kau sempat lupa pertanggungjawaban atas dosamu, makanya kubenarkan kata-katamu sekarang. Kita masuki neraka itu, kita raih syurga itu sama-sama, kita masuk kedalamnya, hidup abadi disana, tapi jangan lupakan dunia yang akan jadi jembatan menuju kedua tempat itu. Kita lewati tantangan dunia ini, kita hindari dosa semampu mungkin, salah satu cara tercepat dan termudah menurutku hanya satu. Kau tahu cara yang kumaksud itu?” melebarlah kalimat-kalimatnya begitu kunyatakan niatku ingin bersamanya menuju syurga. Begitu menggebu-gebu kalimat itu disusunnya dengan rapi.

Memang banyak benar rahasia yang tak kutahu, yang tersembunyi dibalik hatinya.

Cara macam apa yang paling mudah dan paling cepat menjauhkan dari maksiat? Malas ku berpikir jauh-jauh jika dia saja sudah tahu caranya. Hanya mungkin saja dia ingin menguji seberapa kuat pemahamanku tentang iman dan islam. Kujamin ia akan mengejekku jika kukatakan tak tahu. Tapi apa boleh dikata. Memang itulah yang kutahu, ‘aku tidak tahu.’

“Aku nggak tau, emang gimana caranya?”

“Tuh kan, bener tebakanku.. kamu pasti nggak tau, ih dasar bodoh, dangkal sekali pemahaman agamamu,” menyindir, mengejek, membuatku lagi-lagi merenung.

Pemahaman agamaku memang terlalu dangkal. Dan seharusnya kupelajari lebih dalam, bukan sekedar berstatus muslim, pemahaman islamku harus kupertanggungjawabkan.

“Kuberi tahu kau bagaimana caranya, dengarkan saja..”

“Iya pasti kudengarkan,”

“Awas saja kalau kau berani berimajinasi lagi saat aku sedang menjelaskan,”

Hem. Mengingatkan lagi tentang imajinasi yang datangnya tak terduga.

Okelah. Aku harus benar-benar pasang telinga baik-baik. Menikmati setiap kata yang akan ditunjukkan. Tak boleh membiarkan otakku bermain bersama imajinasi. Harus kugembok dulu kelima panca indera, dengarkan dengan seksama. Tak boleh ada imajinasi yang mampir di kepala, kalaupun ada harus kutebas segera agar mati saja imajinasi yang lewat. Kujamin seluruh raga telah benar-benar siap mencermati. “Baiklah, aku janji tak akan membiarkan imajinasi itu datang, silahkan kau jelaskan maksudmu...” awas saja kalau ada satu atau dua bahkan lebih dari itu imajinasi datang merusak konsentrasiku. Siap-siap saja kupenggal satu demi satu.

“Ayo kita nikah..” wow! M-E-N-I-K-A-H. MENIKAH. Saraf benar ajakannya. Benar-benar saraf. Tak kuduga itulah caranya. Cara yang dianggapnya paling mudah dan cepat tuk berantas maksiat dan jauhkan diri dari dosa. Menikah. Ya. Begitulah caranya. “Nikah? Aku nggak salah denger? Atau.. aku sedang berimajinasi?”

“Ukhtii, aku serius. Aku mau kita nikah, kalau bisa secepatnya. Kalau bisa hari ini, malam ini.. tapi aku minta persetujuanmu dulu,” tanpa jeda dipilinnya kehendak hati itu. Cukup jelas. Alasan yang rasional. Logis. Masuk akal. Artinya aku sedang tidak berimajinasi. Tidak sedang bermimpi, karna aku memang sedang tidak tidur atau ketiduran. Aku sedang menikmati kata per kata yang dilontarkannya, begitu menantang.

“Tapi, aku belum siap..” itulah kalimat paling tepat agar tak mengecewakannya.

“Belum siap apa?! Katanya kau mau mengajakku ke syurga, giliran kuajak lewat jalan alternatif, kenapa kau lantas menolak, mementahkan tawaranku sama dengan mematahkan misimu ke syurga, pahami itu!”

Mematahkan misi macam apa lagi yang dimaksud. Misiku ingin mengajaknya ke syurga. Lantas, saat aku memang benar-benar belum siap melewati jalan pintas menuju misi itu, mengapa harus aku yang disalahkan? Masih banyak terbentang jalan menuju misiku, ada banyak jalan menuju syurga. Aku tak mau jalan pintas itu. Banyak jalan menuju syurga yang kudamba, tapi bukan dengan menikah caranya. Itu justru akan hancurkan misi. Itulah alasanku menolak tawaran dan ajakannya. Jalanku masih terlalu panjang. Bukan saatnya aku menikah. Menjadi istri, punya anak, mendidiknya menuju syurga, terlalu singkat. Mesti kuselesaikan dulu studiku, menjadi Sarjana, itu yang kumau. Bukan sekedar sarjana, tapi juga pengabdi dan pekerja, itu cita-citaku. Bukan tiba-tiba menikah, belum selesai kuliah sudah gendong anak, sudah bersuami, rasanya terlalu cepat. Beginilah permikiranku yang terlanjur tercampur dengan jutaan alibi.

“Aku ingin menuntunmu menuju syurga itu dengan mendidikmu jadi wanita muslimah dulu, wanita dambaan syurga, dan inilah caranya. Kutuntun kau bukan karna tergesa-gesa, tapi lebih pada niatku untuk mengajarkan kau cara efektif melewati neraka dalam waktu sangat cepat, mau tidak? Ini penawaranku yang terakhir, jika tidak maka lupakan saja misimu mengajakku ke syurga.. aku tak akan pernah menginginkannya lagi, catat baik-baik apa yang kukatakan ini...”

Tak ada gunung berapi disekitar kedua bola mataku. Tapi lelehan-lelehan larva yang sering kusaksikan di televisi seolah jatuh meluber disemua bagian wajahku. Itulah lelehan air mata. Air mata haru. Sekali lagi kuterangkan, ia adalah calon penghuni syurga. Meskipun neraka harus dilewati menurut konsep berpikirnya, tapi bagiku, ia pantas dapatkan kenikmatan syurga. Bidadari-bidadari syurga menantinya. Menantikan hati-hati mulia yang beriman, dialah pemuda yang dirindukan syurga. Tidak sepertiku yang punya sejuta alasan untuk menuju syurga. Menikah saja masih sangat aneh bagiku. Padahal memang itulah cara mulia menuju misiku. Sangat konyol kedengarannya di telinga-telinga muslim modern sepertiku, tapi sebenarnya itulah cara terhebat sepanjang masa. Alloh yang paling pertama akan merestuinya. Kujamin!

Alasan konyol macam apa yang kupersembahkan lagi untuk mengelak, rasanya tak ada.

“Penawaran terakhir?” kuulang kata-kata itu. Kuperjelas ancamannya. Sejujurnya, aku mulai merasakan ketakutan yang amat dalam. Aku cemas penolakanku akan berakibat fatal untukku sendiri. Aku khawatir dia akan membatalkan misinya untuk menuntunku menjadi wanita suci, wanita muslimah, wanita penghuni syurga.

“Aku harap-harap cemas menunggu jawabanmu, kau mau tidak?” hanya itu jawabnya. Bahkan tak menggubris pertanyaanku perihal penawaran terakhir yang dimaksudnya.

“Apakah tak pernah ada penawaran kedua, ketiga, keempat dan..” tak tahu dengan kalimat apa kulanjutkan kata-kata itu. 

“Dan seterusnya terserah kau saja lah,” cermat sekali ia menangkap kebingunganku.

“Sudah kukatakan, tidak ada lagi penawaran, kau mau kan kunikahi?”

Semakin jelas. Ia benar-benar menginginkanku. Menginginkan misiku terlaksana dengan paling simple dan sakral. Menikah bukan perkara sepele. Bukan sekedar menikah, punya anak, mengurus suami, dan sebagainya. Menikah itu sakaratul maut paling membahayakan bagiku. Menikah di usia dini. Perkara yang paling parah adalah menikah butuh kesiapan mental. Mentalku belum kuat tuk menikah. Itulah masalahnya.

“Kalau kau menolak, aku akan tetap menuntunmu menjadi wanita yang dijanjikan syurga, menuntunmu menuju cahaya Illahi, menuntunmu meraih cinta Alloh, cinta Tuhanmu. Tapi jika kau menerima tawaranku, aku akan menuntunmu jadi wanita penghuni syurga, wanita muslimah, wanita yang akan kudidik mencintai Tuhannya dan meraih cinta Tuhannya, yang pasti kau akan kulatih untuk meraih cintaku, cinta yang bukan sekedar obsesi dan nafsu, tapi cinta yang ikhlas, itulah cintaku padamu. Mengerti?!” Benar-benar mengerti. Amat sangat mengerti.

Cinta yang ikhlas. Cinta pada Sang Rabb yang akan membawaku mencintai laki-laki mulia itu dengan ikhlas menuju syurga. Meraih cintanya dalam sekejap. Hanya cukup menikah dengannya. Menjadi wanita hunian syurga, meraih cinta Alloh. Tak ada kekuatan menyambar lagi kata-kata itu. Aku mulai benar-benar mencintainya, meski belum dinikahi. Aku sudah terlebih dulu merasakan getar cintaku padanya, cintaku pada Sang Rabb yang semakin dahsyat saat kusaksikan semua pernyataan, penawaran dan ajakannya. Semua buatku benar-benar merasakan kenikmatan cinta yang ikhlas, cinta tanpa paksaan, cinta yang sesungguhnya pada Tuhan dan padanya. Cinta yang tidak saja tumbuh di hati, namun bercabang di kepala. Aku mencintainya tidak sekedar dengan hati dan iman yang mulai kurasa hadirnya, tapi cintaku berdasar logika. Logika pada perintah agamaku.

Ketika aku telah benar-benar mencintai Alloh, maka konsekuensinya adalah aku harus menjalankan perintahNya serta menjauhi laranganNya. Begitu luar biasa kenikmatan cintaku yang berawal dari kata-kata pujaan hatiku itu. Ia membuka dada dan kepalaku untuk mempertimbangkan kembali tawaran mulianya. Tapi rasanya tetap saja ada yang mengganjal. Menikah bukan perkara enteng bagiku. Tidak secepat itu aku putuskan untuk berkomitmen dan membangun ikatan yang sah. Sekalipun niat itu teramat sangat mulia, tapi kali ini kurasakan tawarannya masih terlalu cepat. Tidak segampang yang kau pikir! Menikah butuh kesiapan dan ketahanan mental. Tidak hanya siap. Tapi benar-benar siap. Begitulah seharusnya. Tapi pantaskah kutolak laki-laki mulia itu? Kurasa tidak.

“Tidak ada satupun alasan yang harus kujadikan tameng untuk menolakmu,” bertambah derasnya air mataku. Kusaksikan kata-kata yang serasa bimbang, namun kuucap ia dengan tegas agar tak terdengar bimbangnya.

“Kusarankan kau sholat istikharoh,”

Ya Tuhan. Sungguh ia paham akan bimbangku. Menyuruhku sholat istikharoh, itu lebih baik daripada harus memutuskan dalam keadaan bimbang. Indah permainan katanya, dengan kata-kata saja ia mampu buatku terdiam, membisu, tercengang, dan kini menangisi kata-kata itu. Sebuah kalimat yang ingin kurangkai dan kunyatakan padanya. ‘Aku mencintaimu.’

Jika menikah saja terlalu cepat bagiku, rasanya mengungkapkan kalimat itupun jauh lebih cepat. Jangan sekarang, belum saatnya kulontarkan pernyataan itu padanya. Nanti saja saat aku benar-benar merasa waktunya memang sudah tepat. Aku tak akan mengatakan ‘aku mencintaimu,’ tapi akan kubuat dia melayang-layang lebih tinggi. ‘Aku sangat mencintaimu.’

Bergumul dengan malam. Berharap sebuah bisikan hampiri kedua corong telingaku, bisikan kepastian. Menanti petunjuk ghaib yang tiada terlukis wujudnya. Entah iblis, setan, malaikat, atau mungkin sang dewa amora. Tentu ia beritakan bisikan halus nan romantis bagi setiap dewi fortuna. Selalu akan begitu alur kisah pangeran dan permaisuri. Happy ending. Mana pernah sang ratu menolak pinangan sang raja, tentu karna ketampanan dan kemasyhuran lelakinya. Pasalnya, kita tidak sedang di Negeri Antah Berantah yang tiada bertuan. Bumi ini milik Tuhan, tentu DIA yang Maha Memiliki tempatku berpijak. Maka, tak ingin putuskan tanpa pertimbangan. Tak ingin hidup layaknya Negeri Para Kurcaci, sekedar jadi pengikut setia majikan. Hiduplah dengan realita dan fakta, tidak terbuai dengan kisah-kisah fiktif. Kalaupun fiktif itu menggugah, boleh dijadikan referensi. Manusia era ini kan sedang senang hidup dalam buaian fiksi. Sinetron adegankan perceraian, eh pada ramai saling ceraikan dan dicerai. Wajar kalau aku enggan hidup dalam ajaran fiktif. Realistis saja lah.

Menikah bukan perkara enteng. Sekedar hafal kalimat ijab qobul saja gampang, tak sampai seabad. Menikah itu terlalu mudah kalau sudah ada mahar dan wali. Cukup mempesona bila lelakinya mampu penuhi mahar yang kau minta. Contoh saja aku, sepertinya mahar yang kubutuh tidak terlalu sulit terjangkau. Siapapun lelaki itu, dia harus jadikan dakwah sebagai hobinya. Simpel.

Dakwah bagian dari hidup seorang muslim. Bukan cuma petantang-petenteng pamer diri di bumi Alloh. Dakwah itu ibadah, tujuan hidupku tercipta olehNya juga untuk ibadah. Ibadah bukan sholat melulu, puasa terus, atau naik haji bagi yang mampu tunaikan. Kalau tak mampu, makanya dakwah. Toh, yang sudah laksanakan haji berkali-kali saja rajin dakwah. Hem, ada hubungannya sih! Konon cerita, ibuku dulu ditawarin mahar borongan haji. Si pria janjikan keluarga besar Ibu dibiayai haji, tapi mahar itu kandas sebelum terlunaskan. Mahar mahal bukan ukuran, tapi soal cinta. Kalau tak cinta tak perlu paksakan diri. Meski haji bagian dari rukun islam, Alloh akan lebih benci jika jalani rumah tangga yang tak ada cinta didalamnya.

Sudah. Aku tak ingin bicarakan perkara cinta lebih lanjut. Hanya sedang memainkan imajinasiku kembali. Kali ini mereka benar-benar berkecamuk didalam bongkahan otak. Tak tau apa rasanya kepalaku sudah mau pecah, tapi mereka semakin menggila. Syukur semua hanya abstrak, bukan fiktif. Mereka hanya tak terlihat mata, memang ada di kepala. Yang satu menjatuhkan, yang lain bangkitkan, sisanya sibuk beralibi.  Rombongan mereka mulai padat, tak terhitung jumlahnya. Bergelantungan seperti anak kera di tengah hutan belantara. Satu per satu berebutan mengeluarkan pendapatnya. Aku hanya jadi pendengar, mereka sudah seperti anak bebek kehilangan induk. Berargumen tanpa arah, tak jelas muaranya. Semakin bingung lah aku akibat ulah mereka yang tak santun dalam berdiskusi. Karna mereka memang bukan manusia, wajar kalau tak tahu-menahu adab diskusi yang benar. Dasar kutu khayalan! Beranak sudah mereka sampai ayam berkokok, sampai seruan adzan shubuh menderu-dera sadarku.

“Lho, sudah shubuh??” begini jadinya jika keasikan berimajinasi.

Pintar sekali. Mau tahajjud, mau istikharoh, semuanya tak kukerjakan. Maaf, Tuhan. Inilah derita hati kalau sudah berhadapan dengan pemuda yang siap menikahi. Pertarungan antara otak dan nurani. Susah benar mengambil keputusan tanpa basa-basi, tanpa dialog dan tempur dengan diriku ‘sang imajiner’. ‘Imajiner’ hanya sebutan bagi orang-orang yang suka berimajinasi tanpa batas. Saking tak terbatas, Akhiirnya bebas dan lupa batasan waktu. Termasuklah diriku didalamnya, kaum imajiner yang modern dengan keislamanku. Menjadi kaum imajiner dan muslim modern bukan pilihan, seperti ingin tapi tak ingin. Apapun namanya, aku terlalu lelah meninggalkanMU demi sebuah keputusan. Come on! Stand up, please… Go to the mosque.

Basuh sana, basuh sini. Pasang ini, pasang itu. Wudhu dan pasang mukenah, cabut! Melangkah menuju musholla terdekat. Temui para jamaah sholat shubuh, kerjakan dua rakaat. Sejenak menenangkan diriku dengan bacaan-bacaan sholat. Sampai pada penghujung rakaat, gemetar terasa jemariku. Seluruh badanku menggigil, tak kuat menahan aroma pagi yang masih terlalu dingin. Sepertinya efek karna tak tidur semalaman. Inilah yang terjadi jika terus bergelut dengan kebingungan. Bergegas tinggalkan musholla, kembali ke peraduan. Tubuhku mengadu, memaksa untuk ditidurkan. Daripada jatuh sakit, lebih baik aku beradu dengan bantal dan guling saja. Membaringkan diri diatas kasur yang tak terasa empuk sama sekali. Tak terasa empuknya saat sudah datang gejala penyakit. Semua terasa sakit. Mual, rasa ingin muntah, pusing, bercampur dibalik selimut. Sudahlah, aku mau tidur saja. Terserah apa kata imajinasi, tak mau ambil pusing. Aku butuh rehat, bukan mesin yang bisa mereka perbudak tanpa jeda. Tapi, inilah resiko menjadi sang imajiner yang terlalu bebas dengan imajinasinya. Dibudaki oleh imajinasi sendiri, tak mampu melawan.

“Yang jadi budak aku atau mereka ya???” muncul pertanyaan ambigu. Pelan kulantunkan tanya itu, tapi tak juga terjawab. Silahkan pikir sendiri, siapa tuan dan budaknya. Aku sedang malas berpikir, hanya ingin terlelap. Semoga peroleh petunjuk meski belum jalankan istikharoh. Petunjuk yang akan menuntun menuju sebuah masa depan. Menikah atau Tidur. Ini salah satu pilihan gila imajinasi si imajiner konyol!

“Tidur aja deh dulu,” say good bye bagi yang penasaran dengan ending cerita ini. Silahkan berimajinasi, semoga bisa membantuku. Berjuanglah para kaum imajiner!

Bergerak demi sebuah solusi. Ingat, jangan pernah libatkan fiksi. Tak kan berkembang imajinasimu kalau hanya mencontek fiksi, realistis lah dalam berimajinasi. Jangan lupakan kerasionalan, karna manusia punya akal. Logis dalam menentukan, punya alasan menguatkan. Itu yang kusuka.

Sampai bertemu saat ku terbangun. Doakan semoga mimpi indah temani perjalanan tidurku, meski sebenarnya tertidur setelah shubuh itu dilarang. Kali ini boleh, karna aku belum istirahat, kawan! –See you in the next imajination-

(BERSAMBUNG)

 

Karya : Baiq Dwi Suci