Romansa Zina Sang Imajiner (1)

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 01 Mei 2017
Romansa Zina Sang Imajiner (1)

Dibalik kegersangan iman, aku bermain bersama dawai nada otak. Bebas hanyut tak bertepi. Bicara bersama sekumpulan ciptaan Tuhan. Otak menafsirkan setiap kerja organ yang sudah tak becus. Mata tak lagi memandang kitab mulia itu. Hampir seluruh organ tubuhku kini melenakan dalam dosa yang berkepanjangan. Sebuah investasi iman tergadai sejak Tuhan merancang perkenalan itu terjadi.

Seorang makhluk yang tak kukenal sebelumnya, bahkan ia tak terkenal sekalipun. Pertemuan bebas tanpa sekat via handpone. Ini yang kukatakan paling bebas, justru paling menggoda. Saatnya pertahanan iman teruji, meski perantara telepon genggam. Media canggih semacam ini bisa jadi racun jika diawali. Bahkan aku tak berniat mengakhiri, wong sudah terlanjur dimulai. Saat itulah imanku seakan jadi barang murahan. Bebas tersentuh siapapun, zina mulai beranak pinak.

Marilah kuberitakan sebuah romantisme perzinahan dibalik layar hape, dimulai saat kedatangannya seolah jadi pahlawan di tengah badai iman. Baik buruk iman tampak saat deretan permasalahan menghadapi. Disitulah Alloh uji, siapa yang mampu kokohkan imannya. Ya! Aku termasuk ummat yang jatuh di kubangan iman para pezina. Menyesal, rasanya tidak. Bangga, mungkin. Bangga menjadi insan pendosa.

Ada dia disaat Tuhan sedang menegurku dengan ujianNya. Ada dia yang sadarkan bahwa Tuhan Penguji paling dahsyat. Ujian yang ditimpakan padaku tak ubahnya lautan luas. Gelombang air tak tahu akan bermuara ke selatan, utara, ataukah timur maupun barat. Bahkan mungkin ombaknya menuju ke tenggara karna hanya Tuhan yang paling Berkehendak atas hidupku. Termasuk hidupmu.

Perjalanan air di laut luas selalu buatku mengerti betapa hebat Sang Maha Kaya, Maha Pemilik Segala. Seluruh yang ada di bumi dan langit adalah kuasaNya. Termasuk jiwa dan ragaku. Milik Alloh Sang Pencipta segala. Bersyukur masih diberi ujian.

“Sholat, doa, mohon sama Alloh, semoga semua urusan diringankan,”

Ada dia yang beriku kekuatan dahsyat tuk kembali mengingat Sang Rabbi. Ada dia yang tak pernah bosan saat mulutku ingin didengar.

“Aku sudah nggak kuat,” begitulah tuturku.

Kekuatan sudah tak punya nyawa tuk bertahan lebih lama dalam batin. Kekuatan hanya topeng yang bermain dengan raga. Tetapi jiwa, tetap bertahan tanpa daya dan kekuatan yang tak punya arti lagi. Ia hanya seonggok jiwa yang sewaktu-waktu harus siap kulemahkan bersama tangis dan keluhan.

“Apakah dosaku terlalu banyak dan besar, sampai Alloh datangkan ujian-ujian ini diluar kemampuanku?” kembali kalimat senada terlontarkan padanya. Pada dia yang buatku terus bertahan selemah apapun.

“Alloh Maha Rohman, Maha Penyayang. DIA tidak akan timpakan ujian diluar batas kemampuan hamba,” inilah kalimat yang paling kubenci sepanjang masa.

“Apakah Alloh tidak mengetahui, bahwa aku sudah benar-benar tidak mampu. Aku sudah tidak punya kekuatan tuk bertahan lebih lama, merenung, mencari akar masalah, memikirkan solusi, menyelesaikan persoalan, bla blaa blaaa...”

Kelam di malam yang penuh air mata. Apalah artinya air wudhu jika tangisku menderu basahi wajah dan sesakkan dada. Tak ada lagi kesucian di wajah. Wudhuku batal dan terbatalkan lagi niat laksanakan sholat malam. Niat yang berakhir dengan keluhan dan tangis. Ada saja setan yang merusak niat itu. Niat yang kuikat sejak beberapa hari lalu. “Sholat lail, minta petunjuk sama Yang Di Atas, apalagi di sepertiga malam pertama, Alloh pasti kabulkan doamu,” dialah yang buatku bangun dari dudukku.

Kutemui kamar mandi yang didalamnya selalu kudapatkan daftar inspirasi dan imajinasi baru. Biasanya, di ruangan itulah ide-ide gila mulai bermunculan. Meminta dirinya diwujudkan. Imajinasi-imajinasi yang tak sanggup kuraih sampai saat ini. Tentang hidup yang tenang dan nyaman tanpa ujian. Tapi imajinasi itu bukanlah solusi. Mereka semua hanya pelengkap daya khayal.

Menyingkirkan beban sejenak. Berkhayal setinggi-tingginya bukan perkara yang harus dihindari. Karna khayalan itulah yang buatku lebih tenang, meski sebentar. Meski sedetik. Bermenit-menit mengkhayalkan semua imajinasi gila. Imajinasi mulia namun tak pasti, tentang syurga dan neraka. Perjalanan menuju indahnya syurga yang jelas-jelas tak kutahu pasti, Alloh akan menaruhku di syurga atau neraka. Dan inilah kedahsyatan khayalku, tak terbantah meski oleh logika.

Syurga memang perkara ghaib, tak mampu terjangkau siapapun kecuali kiamat mendahuluinya. Barulah aku akan diperhitungkan. Amalan di dunia, maksiat-maksiatku di bumi fana, itulah penentu rumahku kelak. Syurga, neraka, ataukah aku akan tertinggal didalam kubur? Saat itu Alloh telah bangkitkan semua ummat. Dikumpulkan, diinterogasi satu per satu, dan bersiaplah untuk sebuah penyesalan bagi yang melalaikan iman dan islam. Bahagialah bagi mereka yang diberikan hunian syurga. Namun rupanya, aku tak punya hunian saat itu. Aku masih terjaga diantara cacing, tanah, dan papan. Rupanya Alloh lupa membangunkanku. Lupa bangkitkan hambaNya yang sedang terkapar dalam kubur. Alloh tak memberitahuku perihal datangnya kiamat. Izrail Sang Peniup Sangkakala, rupanya juga tak melihatku. Ia mungkin kurang kencang meniupkan terompet sebagai tanda datangnya hari akhir, sampai-sampai aku sendiri tak mendengar. Bodohnya! Betapa banyak maksiat yang kulakukan di alam dunia, hingga Tuhan pun segan mengikutkanku dalam konferensi perhitungan amal. Kasihan sekali nasibku. Tak ada yang ingat keberadaanku. Tidak juga dia yang selalu buatku merasa sempurnanya jadi manusia. Betapa malu jika bertemu dengannya di neraka. Dan bila Alloh meletakkanku di syurga, kuingin dia ada disana. Tak boleh menyentuh bidadari yang disediakan di syurga nanti, kecuali aku. Akulah yang akan melayani segala macam kebutuhan lahir batinnya sampai kapanpun. Karna memang syurga itu kekal. Tidak akan ada kehidupan lain setelah pembagian hunian.

Sekaranglah kutentukan yang akan menemaniku di syurga kelak. Bukan orang lain yang akan menentukannya. Hanya aku yang berkehendak saat ini.

“Kau yang akan mendampingiku di syurga, itu harus..” kupintal kata-kata yang kiranya sesuai dan pas agar dia berhasil luluh hatinya tuk diajak ke syurga. Siap kututurkan.

Alhamdulillahilladzii ’adzhaba annil ’adzaa wa’afanii..” kulangkahkan kaki kiri diikuti kaki kanan dan bergegas menutup pintu kamar mandi. Puas berkhayal didalamnya dan segera kuakhiri dengan wudhu.

Tak jadi terpasang mukenahku. Rasanya belum tenang jika imajinasi gila belum tersampaikan. Menyapa handphone satu-satunya yang kupunya. Tak ada lagi handphone kedua, ketiga, dan seterusnya. Memang begitulah mauku. Kalau terlalu banyak, bingung lah. Kebingungan kali ini memang tepat dikarenakan kondisi kantongku hanya cukup memakai satu hape saja.

“Wa’alaikumsalam,” dijawabnya salamku dengan tegas dan lantang. Sudah seperti mau perang. Jiwanya memang begitu. Dia selalu semangat meski terkantuk sekalipun. Tak peduli jam menunjuk pada angka berapapun di tengah malam, asal segera tunaikan penyampaian imajinasi gila yang kudapat dikamar mandi.

“Ada apa? Sudah sholatnya?” Astaga! Rupanya pertanyaan macam itu yang pertama dijadikan pembuka. Sholat tahajjud kutinggalkan sejenak. Wudhuku batal lagi jika kebohongan baru memulai aksinya. Tapi, berkata jujur alangkah indah. Itulah salah satu kunci yang akan bawaku ke rumah syurga. Oke. Kubongkar saja kelalaianku pada dia, pada makhluk yang tak pernah bosan ingatkan tentang kewajiban sholat dan embel-embel yang akan menuntunku menuju kenikmatan syurga.

“Hehee, belum..” diam melanda. Tertutup mulutnya setelah menyimak jawabanku.

“Aku mau ngomentarin permintaanmu kemarin,” seperti itulah kalimat lanjutannya. Tapi ia tetap tak bergeming. Bisulah sejadi-jadinya. Tak ada suara, hening.

Inilah fatalnya jika menunda sholat. Bukan saja Alloh yang marah, manusia macam dia justru lebih marah. Tak bergeminglah aku setelah itu. Kumatikan telepon tanpa lupa ucapkan salam. Segera kuraih mukenah yang sudah sedari tadi menanti.

Kutegakkan niat seikhlas-ikhlasnya karna Alloh. Tak hiraukan dirinya yang sedang marah karna lalaiku. Biarkan saja ia menganggapku manusia paling buruk sedunia. Toh, manusia memang tak ada yang sempurna, tak luput dari salah. Intinya, akulah manusia buruk itu. Mau sholat saja banyak sekali acaranya. Mesti berimajinasi dulu, berkomunikasi via telepon dulu lah, dan segudang acara lain yang merupakan cara-cara setan mengganggu niat baik manusia.

Hamparan sajadah dihadapanku terlihat seperti visualisasi Ka’bah yang nyata. Dikelilingi para jamaah haji yang meneriakkan asma-asma Alloh. Mengagungkan kebesaran Tuhan mereka. Ada yang berlumur air mata, bahkan terlihat ibu-ibu tua yang penuh darah ditangannya.

“Kupersembahkan tetesan darah ini padamu, anakku. Bertobatlah kau sebelum ajalmu tiba,” tatapan matanya berbinar meski ia menggunakan kacamata minus. Melototiku tajam seakan hendak menerkam khusyu’ku. Bertaubat sebelum ajal?

“Astaghfirullaah...” kubatalkan sholat yang baru satu rakaat. Pada rakaat kedua, otakku kembali berteriak dan melihatkan imajinasi-imajinasi gila nan menggoda. Imajinasi pun mampu hantarkanku pada Ka’bah yang jelas-jelas hanya terdiri dari kumpulan kain dan benang pada sajadah itu. Lupakan niat untuk kembali dirikan sholat malam. Konsentrasi hilang sudah jika imajinasi berdatangan saat tak tepat waktunya.

Kuraih lagi handphone satu-satunya. Tak peduli pada sholat. Kuhubungi dia yang mungkin sudah tak marah lagi. Kalaupun masih marah, maka aku yang akan balik memarahinya.

“Assalamu’alaikum,” kali ini dia mendahului salamku.

“Wa’alaikumsalam..” itulah yang sepantasnya kuucapkan, bukan Halo, bukan Hei, bukan juga yang lain.

“Sudah sholat?” lagi-lagi itulah kalimat pembukanya. Dan aku harus siap memarahinya.

“Aku belum sholat, karna sholatku nggak bakal diterima kalau kamu masih belum maafin aku!” Wah! Tertawa rasanya hatiku mengAkhiiri kalimat sok gaya itu. Kalimat yang seharusnya tak dikatakan, tapi begitulah caranya agar dia bisa pahami maksudku.

“Siapa yang nggak maafin kamu?” kurasa dia marah, rupanya tidak sama sekali. “Aku nggak pernah nggak maafin kamu, karna memang begitulah islam mendidikku untuk selalu memaafkan orang lain,” shock kuhayati irama kata yang ditembakkan langsung ke hatiku. Mengingatkan bahwa islam adalah agama yang sangat suci, tidak memberatkan ummat, justru meringankan perkara ummat. Termasuk perkara sholat malam. Sholat malam dijadikan sunnah, hanya bagi yang mau menjalankan. Tidak diwajibkan, karna memang hanya sedikit saja yang mau menjalankan. Indahnya agamaku. Tapi aku justru tak mengindahkannya. Justru semakin kukotori agama ini. “Em.. aku tau memang begitulah seharusnya muslim yang baik,” komentarku singkat.

“Jadi, sekarang kamu masih berniat untuk sholat atau meninggalkannya?” dia yang buatku mengenal dan memahami lebih luas tentang agama yang penuh berkah ini. ISLAM. Ketika iman telah tertanam dalam dada, maka tak ada yang bisa menentang. Rasa malas atau alasan-alasan berimajinasi itu bukanlah alasan tinggalkan sholat.

“Akan kutegakkan sholatku, tapi nanti..”  tanpa bumbu, kalimat itu rupanya amat bijak tuk menunda sholatku sebentar. Terserah diterima atau tidak, tapi itulah jawabku. “Nanti kapan, nunggu mati?” spontan kubalas pertanyaan penegasannya, tak mau menunggu-nunggu waktu memikirkan kata-kata yang tepat.

“Kamu doain aku mati? Nggak suka kalau aku hidup? Bukankah islam mengajarkan agar mendoakan sesama dengan kalimat yang baik-baik?” bercampur yang kurasa dan kupikir. Ratusan bahkan ribuan renungan terekam di kepala. Begitulah islam mengajarkan untuk selalu merenungi hal sekecil apapun agar dapat dipetik sari hikmahnya. Seorang muslim yang selalu ingin tunjukkan padaku tentang singkatnya kehidupan. Kehidupan setelah mati yang tak bisa lagi ditangisi. Karna akan percuma jika di dunia hanya santai dan berdiam diri. Dialah yang memvonisku sebagai muslim modern, yang selalu menggembor-gemborkan keindahan dunia padahal status di KTP adalah islam. Muslim modern, muslim yang sebenarnya berpikir dan bersikap kuno. Mengabaikan Alloh, menghilangkan iman, dan menganggap segala yang buruk adalah baik karna inilah jaman yang membebaskan apapun. Sholat pun harus tertunda, itulah muslim modern. Tertunda seperangkat handphone.

Kini kujamin pandangannya tentangku semakin lengkap. Bukan sekedar muslim modern, tapi juga muslim yang berkiblat pada imajinasi. Imajinasi gila yang selalu meluluhlantakkan ibadahku. Hampir setiap waktu. Imajinasi-imajinasi itulah yang seringkali sulit kuhentikan alirannya. Ia mengalir kapanpun. Bahkan saat tangisku berjatuhan merenungi ayat-ayat Al Qur’an, imajinasi itupun datang tak tertahankan. Mereka menggedor seluruh pintu hati dan otakku untuk dibuka dan dilanjutkan. Sungguh biadabnya.

“Yang biadab itu kamu, kamu sendiri yang jelas-jelas mematikan imanmu pada imajinasi-imajinasi norak, sedangkan mereka hanya abstrak. Tak terlihat! Berarti itulah setan! Berwujud imajinasi aneh dan kolot yang ingin merusak sholatmu, itu saja..” kupahami setiap kata yang dituturkan begitu matang.

Setan berwujud imajinasi. Aku belum pernah mendengarnya. Setan berwujud imajinasi gila nan konyol. Kalau begitu, benarlah bahwa para setan terlalu cerdik saat bekerja.

“Bagaimana dengan imajinasi gila nan dahsyat? Apakah itu wujud setan?” sekedar ingin menguji saja jawaban seorang pemuda yang biasanya menusuk tulang-tulangku.
“Itu namanya ide brillian, ide cemerlang, tak sembarang orang punya ide semacam itu, apalagi kau...” nyaris patah uratku mendengar penjelasan manusia satu ini.

Ide cemerlang. Bukan untukku. Bukan untuk orang seburuk aku yang berhak mendapatkannya. Manis sekali celupan-celupan kalimat yang ditujukan padaku. Sangat manis. Saking manisnya sampai-sampai enek dibuatnya. Dirasanya ide cemerlang hanya datang pada manusia sepertinya, manusia yang merasa sok suci dengan segala ketaatan pada Illahi Robbi. Padahal aku juga berhak menerima ide-ide brillian. Bukan cuma Ibnu Sina Sang Sastrawan islam, bukan saja Albert Einstein si pencetus teori-teori energi, tapi juga aku. Alloh Maha Penyayang, semua berhak dapatkan ide-ide brillian.
“Kau salah menilaiku, Akhi. Tarik kembali kata-katamu sebelum kuhancurkan teori konyolmu itu,” teori yang sama sekali tak penting. Tak berharga dan tak terhingga jeleknya. Teori macam mana yang menganaktirikan manusia perkara ide. Apalagi ide brillian. Pastinya semua orang pernah berpikir hebat. Termasuk aku. Tentunya!

“Hancurkan saja kalau berani,” tantangannya sangat jelas. ‘Kalau berani.’ Terlalu meremehkan sekali gayanya. Dipikir aku tak punya keberanian membunuh teorinya. Maka ini wujud beraniku. Menyampaikan ide brillian yang kudapat di kamar mandi.

“Aku berpikir mengajakmu ke syurga, kau mau atau tidak itu terserah kau saja, tapi yang pasti ini seratus persen ideku, bukan ide orang lain, bukan kupungut dari ide-idenya Neil Armstrong, apalagi idemu..” tak mau banyak bicara. Itu sajalah. Semoga ia berpikir lebih dalam dan langsung menyatakan bahwa ideku memang tak ada duanya. Tak bisa diduakan oleh ide ilmuwan manapun dibelahan dunia ini.

Mari kusimak pernyataannya.

“Kau pikir aku tertarik dengan ajakanmu?” apa lagi yang dipikirkan. Niatku begitu tulus mengajaknya ke syurga, justru ditanggapi dengan pertanyaan singkat padat jelas dan tak bermakna. Pertanyaan tak bermutu.

“Kau pikir aku mau berada di syurga bersamamu?! GE-ER!” astaga! Beginilah menghadapi anak muda macam dia. Diajak pada kebaikan dianggap salah. Diajak pada kebenaran dikatakan tak mutu, tak kualitas. Dasar otak kepiting. Banyak cabangnya. Banyak sekali pertimbangannya. Bilang saja “mau”, susah sekali berhadapan dengan sosok muslim seperti dia. Tak bisa menghargai sedikit saja niat baik temannya, justru menganggapku  terlalu percaya diri mengajaknya ke syurga. Kalau tak mau, ya sudah. Itu haknya. Bukan hakku. Tak kan kupaksa.

(BERSAMBUNG).

  • view 329