Monolog Cinta

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 Mei 2017
Monolog Cinta

Bicara kenikmatan cinta seperti sedang merasakan desirnya bersemi didalam dada. Cinta yang sangat lembut, bahkan begitu halus sentuhannya meraba uluh hati. Apalah lagi yang mampu mendatangkan keindahan cinta itu selain Pemiliknya Yang Maha Agung, Penguasa Arsy yang akan menggenggam setiap inci perjalanan cinta. Pengatur langit dan bumi bernama Tuhan, Satu-Satunya Dzat yang paling berhak mencintai dan dicintai makhlukNya. Termasuk diri kita sebagai insan yang tanpaNya bukanlah apa-apa, tiada kecintaan melainkan terhatur padaNya, tak ada kerinduan kecuali tersimpan untukNya, dan tidak ada juga kasih sayang selain tertanamkan keinginan berjumpa denganNya Yang Tunggal. Begitulah cara cinta menyapa.

Ya! Begitulah cinta, hatimu selalu sibuk memikirkan dan menguras asmara demi menghabiskan momen bersama yang dicinta. Ketika langit menurunkan rahmatnya, pertanda cinta itu sungguh kian menyeruak ke bumi. Sayangnya, penghuni dunia ini terlalu arogan membalas dan menelurkan bukti cinta itu kepada penghuni langit. Padahal, kekasihmu hanya meminta sedikit saja masa yang kau punya untuk bercumbu bersamaNya. DIA hanya memohon balasan rindumu dengan pembuktiaan atas dasar ketaatan saja, bukan selainnya. Sebab taat adalah sebaik-baik bukti sayangmu padaNya, sehingga kelak seluruh pembuktian itu akan menjadi sebenar-benar saksi atas keputusan ragamu di hadapan pengadilanNya. Pengadilan cinta namanya.

Saat hati menyambut kedatangan Sang Pencinta, maka sambutlah dengan pengawalan berlapis di awalnya, di tengahnya, hatta sampai ke akhirnya. Berseriuslah menghijrahkan cinta, dari cinta kepada manusia menuju cinta hanya karena Alloh, bermula cinta kepada makhluk menuju satu-satunya cinta kepada Sang Pemilik makhluk. Hijrahkan cinta kita, naikkan terus levelnya hingga Alloh kelak percaya dan yakin untuk mengamanahkan cinta lelaki pada wanita yang terpilih, sampai Alloh benar-benar menitipkan amanah cinta terbaik itu pada mereka yang selalu memilih berproses di jalanNya. Berbanggalah sebab dalam dirimu telah dipatrikan anugerah cinta yang begitu halus dan lembutnya, begitu anggun dan sopannya, sehingga Alloh mempercayakan lapis-lapis jalan cinta para perindu syurga. Meraih cinta berbekal ridho Alloh, jaminannya syurga tanpa hisab. Sebab keutuhan cintaNya padamu pasti akan bermakna sama dengan restu langit tercurah utuh padamu. Tinggal kau putuskan akan siap mencintaNya utuh atau separuh, biarkan hatimu yang menentukan layarnya.

Saat layar kesetiaanmu mampu teruji ketika cinta itu menyeruak di antara kekosongan, maka dengannya imanmu terangkat lalu melesat ke atas puncak kenikmatan bernama istiqomah. Ya, istiqomah itulah setia yang tak terbeli harganya oleh materi. Istiqomah itulah kesetiaan tanpa batasan yang tak pernah membentangkan sekat antara dirimu dengan wajahNya, karena pertemuan kalian hanya dilandasi kerinduan untuk saling bersua. DIA merindukan tangismu lalu kau pun memeluk erat asmaNya di keheningan, saat fajar menyingsing kau rutinkan bukti setia itu, kau lantunkan kalimat cinta yang DIA titipkan sebanyak seratus empat belas surat, didalamnya lah frasa-frasa kerinduan dan pembuktian cinta itu bersemayam. Seistimewa itulah cara menghadirkan cinta pada setiap hasta langkahmu, selayaknya Umar bin Khattab yang kemudian merogoh buku cintaNya lalu ia bersyahadat tersebab surat cinta itu. Istimewa sekali, mushaf terindah dari Sang Penyair Yang Maha Indah ternyata sanggup meruntuhkan benteng-benteng kearoganan dalam bilik jiwa manusia.

Layaknya Hitler mengubah wajah dunia dengan kitab cinta yang terkadang tak ia mengerti ‘mengapa harus mentafsirnya.’ Namun ibrah yang dipetiknya kemudian berbuah ranum hingga masanya kini, ketika para pembenci itu Alloh kisahkan begitu lantang di antara ayat per ayat cintaNya, disisipkanlah segolongan kaum yang sangat bengis dengan watak pembencinya yang akan menghancurkan semesta beserta isinya. Hitler pun bergerak diatas sepasang kakinya, ia singkirkan segolongan itu tanpa ampun hingga mereka lari tunggang langgang dari negerinya, meskipun segolongan itu diceritakan kembali akan tetap merobohkan dunia dari keimanan pecintaNya. Segolongan kaum terangkuh yang Tuhan ulangi berkali-kali dalam mushaf cinta milikNya, diriwayatkan begitu lantang agar kau tak punya kekuatan untuk meniti jalan bersama mereka kecuali membencinya saja. Begitulah cara Sang Pecinta mengkultuskan bukti cintanya padamu, DIA maktubkan kebencian dibalik cinta yang terwujud, DIA bahasakan kebencian dibalik cinta yang mempesona. Seharusnya hatimu pun belajar dari caraNya menyampaikan cinta. Membenci keburukan dengan  kecintaan luarbiasa, membenci kemaksiatan dengan kecintaan tanpa bandingan, membenci kesombongan golongan dengan alasan kecintaan padaNya Yang Meyakinkan pun Maha Menjanjikan. Jaminan syurga nerakamu, hanya di tanganNya.

Ah, biarkan saja Hittler dengan visi misi dunianya. Yang Tuhan ingin sampaikan pada para perinduNya hanyalah soal pembuktian, sebab seorang pecinta tentu lebih berani mengalahkan nyali Hittler yang memberantas segolongan pembenci dengan kekerasan. Oh, tidak begitu. Ingatlah, kita akan membangun sebuah menara cinta yang sangat halus dan lembut lagi anggun dan sopan. Maka kita akan melakukan pembuktian cinta hanya diatas jalan yang penuh hikmah, membaginya dengan suka cita, merayakannya dengan pengawalan di awal, tengah hingga ujungnya. Bersiaplah, duhai para pecinta… Kita akan mengemudikan sebuah nahkoda besar yang disebut mushaf itu sebagai jalan ketakwaan. Jalannya para perindu langit inilah yang disebutkan dalam surat cintaNya, merindukan sebuah masa berjumpa dengannya yang paling dicinta. Kerinduan itu tak bersudut, sebab jalannya panjang dan akan diberhentikan nanti ketika dengan lembutnya ia berucap pada wakil yang terutus, “Ini saatnya pulang!”

MONOLOG CINTA “SANG PERINDU” (Duhai ENGKAU Yang Maha Membolak-balikkan hati, tetapkanlah cinta ini diatas cahayaMU)

  • view 134