The Novel, BICARA CINTA

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Buku
dipublikasikan 01 April 2017
The Novel, BICARA CINTA

Pertama kali ditawarin untuk editing naskah ini, saya agak shock sih!
Gebrakan anti mainstream yang dimaksud penulisnya adalah Film yang akhirnya dinovelkan, super beda banget dari kebiasaan. Biasanya mah, yang saya tau selama ini, begitu selesai cetak novel baru di film-kan. Tapi ternyata berdasarkan penuturan penulisnya, inilah yang disebut 'anti-mainstream.' It's ok.

Setelah dipikir-pikir, awalnya memang sempat saya pertimbangkan agak lama, tapi setelah nonton Drama Web Series "Bicara Cinta" di youtube,  saya refleks tertarik dan mengiyakan amanah menjadi editor naskah beliau. Jujur! Sebagai penonton film, saya justru penasaran dengan kisah lanjutan Episode 5 yang merupakan episode terakhirnya, yah ujung-ujungnya terpaksa harus baca Novel "Bicara Cinta" supaya tau ending-nya. Cerdik banget ya tim "Bicara Cinta" ini, mereka gak cuma memproduksi sinema, tapi juga BUKU. Keren dah pokoknya. Anti Mainstream.

Dan ini penggalan kisahnya, saya kutipkan beberapa latar dan alur.
-----------------------------------------------------------------------------
“Tau gak? Kuda-kuda yang dibawa saat perang, meskipun ikut terluka, berdarah-darah bahkan nyaris mati, mereka tidak pernah mundur, tidak pernah lari ke belakang untuk menyelamatkan diri. Tidak pernah! Dia selalu membawa tuan yang menungganginya untuk maju melawan musuh. Kuda selalu patuh kepada perintah tuannya, sekalipun ia harus terluka karena perintah tersebut,” kisahnya bersemangat.

“Semua itu adalah cara kuda berterima kasih atas cinta tuannya yang tulus, saat merawatnya, memberinya makan, memandikannya. Akhirnya ia rela terluka demi menyenangkan tuannya yang telah berlelah-lelah menjaga dan merawatnya.” Sungguh pembalasan budi yang apik, terbaik sepanjang sejarah, terekam dalam cerita keindahan akhlak hewan pada manusia. Begitulah seharusnya makhluk mencatat setiap amal yang diterima dari orang lain, kemudian membalasnya dengan sebaik-baik amalan.

Rayhan mengajarkan Nurul arti keluhuran budi, menggemblengnya dalam setiap frasa kejadian, berharap adik termanisnya itu tumbuh menjadi muslimah yang dibanggakan dan mampu diandalkan.

Matahari semakin dekat dengan garis horizon yang membentang lurus. Warna jingga mulai bertumpahan di antara lingkaran matahari. Burung-burung beterbangan, kembali pulang ke sarang setelah kenyang mengisi perut kesana kemari. Lampu sepanjang pantai dinyalakan, arang-arang dibakar untuk menyajikan menu makan malam bagi para pemesan, jagung bakar siap dihidangkan bagi pengunjung yang ingin membayarnya tunai.

“Padahal kuda tidak punya akal, tapi ia tau bagaimana harus membalas cinta. Maka, kita sebagai manusia yang punya akal, harus bisa berpikir. Mestinya kita lebih cerdas berterimakasih kepada Allah yang telah menciptakan rasa cinta di hati. Kita menjaga rasa cinta itu dari hal-hal yang Ia benci, menjaga sesuai aturanNya.” Nurul menangkap maksud masnya. Ia mengerti analogi kuda tersebut memang sengaja menyinggung soal dirinya dan Bayu.

Buih-buih di kakinya terasa lebih dingin. Hatinya mulai bercabang. Makin bimbang. Nurul tertunduk meratapi kakinya, sedari tadi selalu di hampiri oleh buih lautan, yang silih berganti, datang dan pergi.

Menarik nafas panjang, menghembuskannya, “Ayah Ibu atau Bayu, pilihan yang sulit," sahutnya penuh kebimbangan. Baginya pilihan itu bukan terletak pada status mereka. Ia sama-sama mencintai dua pihak tersebut, dengan peran yang berbeda dalam hidupnya. Sebagai anak, ia ingin berbakti seutuhnya kepada orangtua. Namun sebagai manusia biasa, ia memiliki rasa yang tak bisa tersalurkan hanya kepada orangtua. Jatuh cinta kepada lawan jenis, begitulah maksudnya.
“Tidak, tak perlu memilih satu di antara mereka. Allah, itu yang harus Nurul pilih. Pilihlah Allah, mencintailah karena Allah.” Rayhan diam sesaat, matanya menatap lekat-lakat ke arah ufuk barat.

Setelah jeda sebentar, ia berkata, “Cinta itu qadar dari Yang Kuasa. Bertemu dengan orang yang membuatmu jatuh cinta itu qadar dari Yang Esa. Tapi, bagaimana menyikapi cinta itu adalah mukhoyyar, pilihan sendiri, yang kelak pasti dipertanggungjawabkan saat bertemu Illahi.”

Walaupun Nurul belum mengerti beberapa kata asing yang baru ia dengar, tetapi rangkaian kalimat itu sangat menohok hatinya. Terngiang-ngiang dalam pikirannya.

Sempurna. Setengah lingkaran matahari terbenam, menyeburkan warna jingga yang menghias langit di ufuk barat. Dari kejahuan permukaan laut terlihat tenang dengan kilauan cahaya yang menyala. Suasana pantai menyepi, nyanyian angin dan ombak mengiringi fenomena terbenamnya matahari. Banyak yang mengambil kesempatan tersebut untuk mengabadikannya dalam sebuah gambar. Senja telah tiba, membuka pintu malam. Nurul memandangi kepulangan matahari yang begitu indah. Pesona yang tak selesai untuk dideskripsikan dengan ratusan kata. Ia mulai mengenali sepercik cinta sejati. Fitrahnya sebagai manusia biasa tak dapat dipungkiri, ia ingin kembali padaNya, merengkuh cinta dengan cara yang indah, seindah matahari yang membuat manusia terpana karenanya.

Apa jadinya jika Allah tidak menciptakan cinta? Pasti manusia akan musnah, karena tanpa cinta barangkali kedua orangtuanya membiarkan hidupnya terlantar. Tanpa cinta, bisa jadi keduanya tak mau bersusah payah merawat putri mereka hingga tumbuh menjadi gadis cantik. Tanpa adanya cinta, tak mungkin dapat menikmati indahnya sunset. Semua itu karena Allah menghadirkan cinta pada setiap mahlukNya. Maka, pantaskah bersuka ria menyikapi cinta?

----------------------------------------------------------------------------------------------

Sudah nonton web drama “Bicara Cinta”?
Itu loh Web Drama yang meraih Penghargaan Web Series Positif YouTube 2016.
Tonton Sekarang >> https://goo.gl/YdSvMn

Nah! Silahkan langsung pesan dan angkut novel "Bicara Cinta"
Tunggu apa lagi, pesan sekarang!
Tim Asy Syifa' Press, 0856 0199 7518

  • view 699