Skema Ilustrasi: Mutualis di Negeri Danbo

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Inspiratif
dipublikasikan 01 April 2017
Skema Ilustrasi: Mutualis di Negeri Danbo

Berawal saat danbo mulai hijrah ke negeri ini . . .

Menggemaskan setiap kulihat wajah mereka. Danbo si boneka Jepang berhasil menghipnotis laman internet. Hampir semua pengguna jejaring sosial menempel danbo jadi background Facebook mereka. Bahkan danbo memukau mataku di setiap foto profil para remaja. Danbo memang lebih diminati kawula muda ketimbang kawula tua. Pikirku, danbo tak cocok dengan selera para sesepuh. Yang kumaksud sesepuh adalah mereka yang sudah berusia tiga puluh tahun keatas. Kalau ada diantara mereka yang memasang danbo di akun sosmednya, maka kupastikan masa kanak-kanaknya kurang bahagia. Bukan karna tak ada boneka pada jaman mereka dulu. Tapi karna danbo belum muncul saat itu. Danbo boneka yang sedang jadi trending topic di kawasan Asia.

Kreasi anak-anak muda Jepang membuatku terperangah. Mereka ubah kardus-kardus bekas jadi sebuah makhluk tak bernyawa, tapi terkesan hidup. Danbo namanya. Mulailah pemuda-pemuda negeri ini mencoba mendesain danbo lebih menarik. Ada danbo yang dibungkus dengan kerudung, ada pula danbo yang pakai peci. Aku berharap semoga muncul danbo-danbo replika wajah para elit konglomerat. Sudah elit, konglomerat pula. Terlalu eksklusif orang-orang yang bertengger diatas tahta itu. Maka barangkali danbo bisa mewakilkan keelitan mereka. Lengkap dengan seragam jabatannya mungkin.

Danbo yang asalnya dari Negeri Matahari itu kini sangat mudah kutemui di pasar loak. Aku tak tahu bagaimana danbo diperjualbelikan di negeri asalnya. Tapi di negeriku ini, danbo bisa kutemukan di tempat pembuangan sampah. Murah sekali harga diri danbo di negeri yang katanya ‘doyan mengimpor ide tetangga.’ Tetangga sebelah mana yang tak mereka impor kekayaan idenya, hampir semua dibabat habis. Bahkan ide rusak si negeri tanpa wajah saja tetap dicuri. Negeri tanpa wajah itulah USA, United Setan Alas. Mereka memang hidup tanpa wajah, mana pernah punya rasa malu. Sama persis dengan para setan, tak pernah malu meski melawan perintah Tuhan. Jadilah para setan itu penggoda ulung, teman setia si USA. Sudah tau rusak, tetapi tetap saja ide kapitalis diterapkan di negeri ini. Ide-ide demokrasi yang tidak berlandaskan ideologi islam justru beranak-pinak sampai merusak dirinya sendiri. Ah, andai dunia tanpa barat!

 

Berlanjut pada ide-ide rusak yang didaur ulang oleh negeri ini

Ide-ide negeri Barat tak ubahnya lautan sampah yang didaur ulang oleh para elit politik bangsa ini, bahkan ide-ide tersebut dijadikan dasar pembuatan Undang-Undang. Maka tak ada bedanya antara penguasa negeri ini dengan penguasa negeri Barat, semua dikendalikan oleh kepentingan sesaat. Muncul Undang-Undang yang membolehkan pernikahan beda agama berasal dari tak adanya kontrol iman para penguasa. Bukan berarti iman para penguasa tidak baik, akan tetapi mereka sedang menikmati ego tanpa mempedulikan larangan agama. Muncul Undang-Undang liberalisasi migas, isu gender yang kemudian membuat seluruh wanita negeri ini bebas mengumbar aurat karna menganggap itulah bagian dari HAM. Hak Asasi Manusia. Ah, seandainya saja negeri ini sadar dengan Hak Asasi Pencipta. Hak Alloh adalah mengatur urusan dan kehidupan manusia, karna memang hanya DIA Pencipta manusia. Hak Alloh adalah agar manusia menerapkan hokum-hukumNya, tanpa menduakan dengan hukum-hukum yang lain.

Hem. Bersabarlah, danbo! Meski kau bukan produk anak bangsa ini, tapi aku selalu kagum dengan para anak muda tempat kau diciptakan. Negeri sakura ‘Jepang’ yang kini jadi sahabat setia muda-mudi negeri ini. Segala model pakaian ala Boyband asal negeri itu diikuti, segala jenis musik K-Pop digemari. Inilah bentuk HAM yang membolehkan memakai model pakaian sekehendak hati, lalu melupakan bagaimana islam mengatur pakaian muslim dan muslimah. Inilah bentuk HAM yang membolehkan muda-mudi islam meninggalkan majelis ilmu dan tergantikan denting music K-Pop.

Duhai danbo, kau dibuat dari berlembar-lembar kardus bekas. Danbo, kau muncul ke dunia membawa perubahan baru. Anak-anak negeriku jadi lebih kreatif dan mendayagunakan imajinasinya. Meski kau tercipta dari benda yang hina, namun kau justru mempesona wajah dunia. Danbo si boneka kardus tampil mengukir senyum generasi-generasi cilik. Jika ide-ide liberal (red: kebebasan) menghilangkan ruh iman mereka, tapi kau malah kembalikan tawa anak-anak Asia. Ah, jika hanya boneka-boneka sejenis danbo yang diimpor negeri ini, mungkin rakyatnya tak kan sengsara. Tetapi, justru ide-ide selain islam yang digunakan negeri mayoritas muslim ini.

 

Inilah episode wajah negeri danbo Asia

Indonesia bukan negeri para danbo, tapi kini ia sudah terlanjur jadi anak negeri danbo. Anak cucu danbo sudah mulai tersebar di negeri seribu wajah. Negeri seribu wajah itulah negeri seorang pelaut. Maritim luas, pertambangan emas nan menggiurkan, hutan belantara yang menyejukkan, gemah ripah loh jinawi. Negeri ini negeri seribu wajah, terlalu bingung aku menafsirkan ekspresinya. Wajah pertama menyimpan dusta dibalik senyum sinis. Wajah kedua menampilkan kegerahan akibat keganasan angka rupiah. Wajah ketiga justru menunjukkan wujud aslinya. Wajah para pengkhianat agama, itulah wajah para pemegang kuasa. Dan seterusnya membuatku gerah hingga wajah ke seribu sekalipun.

Tuhan, aku sampaikan saja kepada para danbo! Biarlah mereka yang mengusik ribuan wajah negeri ini. Dengan kardus para danbo, semoga para elit politik sadar bahwa dirinya hanya tercipta dari tanah yang hina dina. Danbo tercipta dari tebalnya kardus, sedang mereka hanya dari kumpulan tanah. Danbo memang boneka kardus yang tak bisa bicara, tapi visualisasi mereka kuyakin mampu menjangkiti tulang para penguasa. Bahwa, mereka tak ada bedanya dengan si danbo. Sama-sama hidup di negeri boneka, sama-sama menumpang hidup di negeri makmur. Inilah para parasit di negeri boneka, mereka tumpangkan segala nafsu diatas Undang-Undang dan Rangkuman GBHN. Mereka ciptakan aturan-aturan daerah, padahal aturan Tuhan saja tak mampu mereka terapkan. Inilah para parasit di bumi Tuhan. Semoga wajah ke- 1001 tidak begitu adanya, tak seperti seribu wajah yang menghinakan Indonesia dengan nafsunya.

Jumlah spesies danbo awalnya tak banyak. Karna ia berkembang di negeriku, jadilah jumlah rasnya melebihi jumlah Ipin Upin. Dari dulu Ipin dan Upin hanya satu, pakaiannya saja yang digonta-ganti. Berbeda dengan si danbo, ia bisa menyerupai seribu wajah negeri ini. Angka 1000 yang kumaksud tak lain adalah wajah-wajah makhluk yang sudah gila akan kekuasaan. Maka kupastikan, danbo bisa dengan mudah menjelma jadi 1000 wajah tokoh penguasa elit negeri ini.

Aku bukan sedang berorasi, kawan! Tuhan ciptakan akal manusia dan darinya mereka ciptakan danbo. Dari danbo kutuntun semua manusia berpikir bahwa mereka semua hanya parasit di bumi fana. Akan jadi mutualis apabila mampu berkaca pada para danbo, lalu manfaat pada seisi jagad semesta. Begitulah seharusnya manusia bertutur dan bertindak sesuai ajaran islamnya, bukan membebek selain daripadanya.

Duhai generasi muda islam Asia, jadikanlah wajah kita yang paling baik dihadapan Sang Pencipta. Jangan pernah mendustai antara pikir, hati dan ucap. Berdiri tegaklah dengan iman, bukan demi raih kepentingan.

 

Ketika lelah dengan semua alur kisah ini, maka aku berdakwah di Bumi Alloh

Berbagai pernyataan yang kuperoleh saat dakwah terlaksana, padahal isi nasehat yang tersampai hanya mengajak kembali pada islam yang sempurna. Tiada satu pendakwah pun yang menyesatkan atau menjerumuskan, melainkan hanya menggiring pada penerapan islam dalam tatanan kehidupan.

“Sepertinya kau terlalu fanatik dengan konsepmu sendiri,” inilah sebuah tutur kata yang bagiku tak ada sarat maknanya, justru hanya melemahkan cara berpikir saja.

“Kalau konsep yang kubawa adalah konsep USA, maka jelas aku takluk dan fanatik buta pada mereka, tapi yang kusampaikan ini adalah konsep Tuhanku, maka tidak sewajarnya kau katakan aku fanatik dengan wahyu Tuhanku..” dengan gamblang kuhajar komentar nakal itu agar seluruh manusia bumi terbuka sudut pandangnya.

Inilah desain wajah danbo yang sedang kugambarkan dalam otakku. Wajah-wajah moderat, mengingkari risalah Nabi dibalik ketampanannya. Tampan tak ada guna bagiku, jika konsep islam saja mampu dimentahkan.

“Hahaa… kamu ini sok suci sekali ya, semua orang dikata-katain munafik lah, kafir lah.. memangnya kamu Tuhan sampai memvonis orang segala?” berikutnya, wajah kedua inilah yang membuatku selalu membenarkan bahwa islam sudah jauh dari kehidupan manusia. Manusia sudah tidak peduli konsep munafik dan kafir, selama dunia mampu memuaskan kehidupannya.

“Bukan aku yang memvonis, tapi Tuhanmu! Coba kau baca perkataan Tuhanmu di Surah Al Ma’idah ayat 45, 46, 47..” Inilah wajah yang tak pernah kenal Tuhannya. Jangankan sekedar kenal, membaca perintah Tuhannya saja ia abaikan.

“Sudahlah, kau lakukan saja apa yang kau mau… aku cukup sepakat dengan ide islam yang kau tawarkan, tapi aku tak mau ikut-ikutan,” oh, logika. Pemimpin negeri ini saja sepakat dengan konsep kapitalis, lalu mereka ikuti. Sedangkan orang-orang yang sepakat konsep islam, mereka hanya jadi penonton. Dasar generasi boneka! Tapi danbo, kau jauh lebih beruntung dari generasi boneka yang hanya bisa bisu itu. Setidaknya danbo-danbo lebih patuh pada perintah tuannya.

“Sudahlah, kita tak sepaham.. untuk apa kau memaksaku? Bukankah islam mengajarkan kita menghargai orang lain? Dan kau perlu menghargai pendapatku..” lalu inilah wajah ketiga yang tidak berpikir dengan akal, tetapi hanya mampu menjatuhkan dakwah yang lain dengan kesalahan logika mereka.

Wahai, danbo! Aku lelah dengan omong-kosong mereka. Mereka terlalu berharga jika jatuh pada ide selain islam, maka inilah caraku mengistimewakannya. Tak perlu berpanjang lebar, mari cari mangsa lain. Beginilah rutinitas dakwahku di negeri para boneka parasit. Satu mangsa menolak, belum tentu mangsa lain akan menolak. Akan ada satu mutiara ummat ditengah para generasi bisu di negeri boneka ini. Merekalah parasit di negeri danbo, tapi sesungguhnya akan jadi cikal bakal mutualisme jika mampu berlogika cemerlang.

Negeri terkecil tempatku rutin berdakwah adalah di lingkungan kampus sendiri. Maka merangkaplah profesi harianku sejak mengenal politik islam. Beberapa saat menjadi mahasiswa, lalu mengasistensi adik-adik tingkat karna diamanahkan sebagai Asisten Laboratorium, lalu selebihnya berkoar dan menjelajahi seisi universitas. Modalku hanya sebuah buletin Al Islam dan keterampilan berbicara saja, meskipun sebenarnya tidak seterampil para da’i dengan khotbahnya. Yang kudakwahkan pun sederhana, tetapi tidak sedikit kaum intelektual yang meremehkan perkara materi yang kusampaikan. Sebagian menghindar dan kabur, sisanya mendengarkan dengan terpaksa.

Lebih baik aku berdakwah dihadapan para danbo, yang jika aku bicara mereka tak bergeming, dan jika aku bertanya mereka pun tetap tak bergeming. Ah! Betapa berat rintangan di jalan dakwah jika yang dihadapi adalah para intelek yang tak mau diajak berpikir. Jangankan memikirkan perubahan dunia, perubahan dirinya sendiri saja sudah enggan mereka pikirkan. Inilah dampak para penguasa yang senang mengimpor budaya Barat tanpa ada filterisasi. Semua tertampung meski bertentangan dengan perintah agama, semua terpakai meski berlawanan dengan hukum agama.

Kini aku begitu lelah mendakwahi dari sudut ke sudut, tapi tak banyak mutiara ummat yang sepakat dan turut ambil bagian mengubah dunia. Semua membelakangi saat tahu dirinya akan dijadikan objek dakwah. Beginilah jika petir tak diminta datang, tapi ia menakutkan semua penghuni bumi. Apakah separah itu wajah para pendakwah?

Kukatakan, kami bukan menghantam ummat dengan petir. Kami hanya ingin mengajak semua manusia kembali pada aturan islam, bukan aturan penguasa. Dan aku ingin semua ummat islam rasakan nikmatnya iman dan islam yang sampai saat ini telah berhasil kugenggam agar bersama kita menuju syurgaNya.

 

Tak ingin kunikmati seorang diri, maka lekas kubagikan visi misi ummat islam dunia. Mari refleksikan diri dalam alur menggetarkan ini!

Lelahnya para pendakwah bukan alasan untuk tak istiqomah jalankan misi dakwah. Aku kemudian terus berpikir agar para mahasiswa menjadi mutualisme di negeri para danbo ini. Biarkanlah para danbo elit politik bertengger di kursi empuknya, asalkan generasi muda terus mencari cara menyadarkan mereka dengan semua kebobrokan bangsa. Hanya di tangan generasi muda elit masa depanlah kesejahteraan rakyat terjamin. Marilah berbondong cerdaskan otak dengan wawasan islam, karna sampai saat ini aku belum temukan satu pun peradaban yang menyejahterakan selain peradaban kekuasaan islam. Tidak juga peradaban Romawi, Yahudi, Nasrani, namun hanya peradaban yang Islami di tangan para generasi kahfi.

Jika pemuda Al Kahfi saja rela berlari dari negeri kafir demi selamatkan iman diri, maka seharusnya pemuda saat ini rela menerbangkan diri jauh melesat menguasai bumi dengan islam. Banggalah jika terlahir dan mengalir darah islam dalam diri, karna tiada warisan yang paling membuat iri kaum Barat kecuali warisan Rosulullah pada seluruh ummatnya. Warisan beliau itulah yang ribuan abad telah mampu menjadikan islam sebagai mercusuar duniawi. Tiada peninggalan Rosulullah yang menggemparkan Barat akan kembalinya warisan itu ke tangan ummat islam, selain sistem pemerintahan islam yang murni dan sejati. Diakui hingga Konstantinopel takluk atas misi suci Sultan Muhammad Al Fatih, bahkan disanjung dan dirindukan kembali oleh sebagian besar ummat muslim maupun non muslim.

Duhai generasi penerus pemuda Kahfi, jika Barat saja benci dan dengki akan warisan Rosul ini, maka mari bergegaslah membakar kebencian mereka agar hanya islam yang disegani. Agar hanya islam yang menaungi dan tak ada lagi kisah romantisme seribu wajah yang terlena dengan kekuasaan berbalut tirani. Sesungguhnya ummat islam di Timur Tengah telah menanti, maka sambutlah dengan perjuanganmu menyelamatkan persoalan dari titik ekonomi hingga puncak politik yang tak lagi bersih.

Sudah saatnya menjadi generasi menguntungkan, mutualis di bumi Alloh Azza Wa Jalla. Menguntungkan bagi manusia lain sekaligus banyak manfaatnya bagi kemenangan islam yang utuh. Karna sesungguhnya Alloh ciptakan seluruh manusia sebagai khalifah di muka bumi, maka tentu tak boleh berparasit ria dibawah langitNya ini. Tak ada dalam sejarah para sahabat Rosulullah menjadi parasit alias merugikan perkembangan dakwah islam, justru mereka berlomba menjadi pasukan yang paling beruntung menjadi pejuang dan penolong agama Alloh.

Para danbo saja berlomba terciptakan dengan kreativitas anak-anak bangsa ini, maka generasi muda islami haruslah turut berkompetisi jadi khalifah yang mutualis di negeri ini. Jika seluruh khalifah pada masa islam berjaya, bertahan dengan warisan Rosulullah yang agung, maka saat pemerintahan islam itu runtuh, bukan saatnya lagi generasi islam terkungkung dan meratapi keruntuhannya. Janganlah pernah ingin jadi parasit di negeri boneka. Ubahlah seluruh negeri islam menjadi sebenar-benarnya negeri yang nyata, bukan negeri yang tunduk patuh pada tuannya.

Ibarat dedaunan dan pohon. Apabila ada dua pohon besar tumbuh bersebelahan, maka dedaunannya yang lebat pasti akan menumpang hidup pada pohon lainnya. Karna jarak kedua pohon yang berdekatan, maka tak heran jika daun-daunnya pun saling menghempaskan satu sama lain. Beginilah visualisasi kaum Barat sejak dahulu sampai mereka berhasil memecah belah ummat islam sampai detik ini. Mereka tak pernah punya ikatan persaudaraan sesama pemeluk agama yang satu seerat ukhuwah islamiyah yang Rosulullah wariskan kepada kita lewat sikap, ucapan, dan diamnya beliau. Mereka hanya punya ikatan nasionalisme yang menelurkan kecintaan terhadap tanah air, bukan terhadap saudara sekeyakinan. Tetapi ummat islam memiliki ikatan berdasar aqidah yang membuat mereka mencintai seluruh saudara muslimnya dimana saja, mencintai negeri-negeri muslim. Cinta mereka berdasar kecintaan terhadap Alloh dan Rosulnya, bukan pada tanah air yang suatu saat akan binasa saat Alloh berkehendak atasnya.

Cukuplah ummat islam ibarat sebuah pohon saja, jika akarnya telah rusak, maka saling berbahulah menyuburkan dengan pupuknya. Berislamlah dari akar hingga ke pucuk daun, mulai dari membangun pondasi keimanan sampai pada membangun serta menegakkan kembali warisan Rosulullah SAW yang tiada bandingnya. Tiada pernah Rosulullah beri kabar gembira selain ia pasti terjadi. Tiada mustahil Alloh SWT berjanji selain ia pasti terbukti. Janji Alloh dan bisyaroh Rosulullah tiada akan ingkar, karna tentu shohih dan keimanan ummat islamlah yang akan menjemputnya.

Belajarlah dari para danbo, mereka hanya menerima diperlakukan seperti apapun. Diwarnai, dilipat, digulung-gulung, bahkan sampai dihiasi dengan berbagai pernik, mereka hanya patuh terhadap ukiran tangan tuannya. Maka ketika manusia sadar betul bahwa ia diciptakan Tuhannya, sudah tentu ia pun akan rela diatur dengan aturan Tuhan yang menciptakannya. Jadilah generasi penerus Al Kahfi yang mutualis di bumi Alloh, bukan sebagai danbo yang parasit di negeri boneka.

Jika para danbo boleh memilih, mereka tentu akan memutuskan untuk menjadi khalifah penolong agama Alloh. Dan generasi muda islam tentu akan memutuskan untuk menjadi ummat terbaik penegak warisan Rosulullah, penjemput janji Alloh yang tentu akan terealisasi dengan dakwah di negeri elit ini. Jika seribu wajah di negeri danbo bertengger pada kekuasaan politiknya, maka generasi islam harus gunakan potensi ukhuwah islamiyah untuk taklukkan politik negeri ini dengan pemerintahan islam yang telah Rosul warisi.

Mulai saat ini ikrarkan dalam diri untuk tak mencari celah dibalik terang yang pasti terangnya. Generasi islam tak akan membodohkan diri dengan mengobrak-abrik politik demi puaskan ego semata. Tak ia pedulikan hilangnya harta atau tahta, karna tentu ia selalu siap berjuang bersama mengurusi urusan ummat. Itulah makna politik sebenarnya dalam islam. Assiyasah, sebuah kata yang kini terlalu biasa kita dengar. Politik islam bukan politik sampah, ia lahir dari wahyu Alloh dan sunnah Rosulullah. Maka politik islam bukanlah politik ghaib, tapi ia begitu nyata sejak dulu hingga kini. Politik islam bukanlah momok penghancur ummat, melainkan pupuk penyejahtera ummat. Siapapun yang berpolitik dengan islam, maka tiada akan rusak aqidahnya. Iman tiada akan tergadaikan meski dengan politik sekalipun. Berbeda dengan politik yang nampak di parlemen. Semua itu hanyalah politik adu domba, politik uang, politik pro pemerintah – bukan pro rakyat. Politik yang dikemas dalam bingkisan semenarik mungkin, tapi tiada berisi sama sekali.

Berpolitiklah dengan islam, maka warisan Rosulullah akan mudah tergenggam. Berpolitik dengan memperjuangkan kembalinya pemerintahan islam yang akan mempersatukan seluruh negeri kaum muslim, mempertontonkan gemilangnya keemasan ummat islam dibawah institusi Daulah Khilafah. Tentulah hanya dengan menerapkan syariah islam yang kaaffah (red: keseluruhan), islam dari akar hingga sampai ke daunnya. Wallahu’alambisshowab…

Marilah tuliskan skema ilustrasiku dan tancapkan ia di otak agar senantiasa rasional dalam menangkap semua fakta yang ada agar selalu islam jadi solusi nyata. Agar senantiasa islam jadi panduan dari setiap tanya dan keputusan. Sudah saatnya bergerak memahamkan ummat dengan kekuatanmu di masa muda. Biarlah hanya Alloh dan para malaikatNya yang menyaksikan alur pemikiran kita agar putuskan menjadi bermutu di bumiNya. Insya Alloh.

  • view 108