Imam yang Terbuang

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 22 Maret 2017
Imam yang Terbuang

Pernahku terjaga dalam nyala bintang dengan semburan api yang baranya seperti siang membakar nyawa. Seringku tergoda pada jeruji shubuh yang ingin menjelma pagi. Hanya seorang, bersama khayal. Siapa diantaraku yang mampu bertamu menuju pinggiran hatinya, tanpa sesekali melukisnya menjadi tauladan yang bukan lagi baik, melainkan jempolan sejati. ‘Astaga! Aku salah menafsirkannya dalam kata.’

Dia sebentar berlari bagai kijang emas dihadapanku. Seolah sempurnalah dirinya di mataku. Tetapi sebentar kemudian, dia berlari bagai malaikat tak berparuh menyiksa hati. Dia hanya mampu menghisap darah-darah segar, lalu dibiarkan begitu saja menjadi tak segar lagi. Dan yang tertinggal adalah segunung tangis.

Sejenak lagi aku pernah terendam khusyu’nya gemerlap dunia malam, tapi hanya perantara layar kaca! Dan pada layar kaca, serasa ditariknya aku menikmati syurga dunia tanpa seraya mengingat Tuhan. Tak kubiarkan diriku terpojok lama diantara tayangan televisi itu. Tak dapat kubedakan semua pelosok yang beramai-ramai mengindahkan gaya tidur siangnya menjadi malam. Tengah malam bahkan!

Gelap disana-sini bukan untuk dipermainkan. Di tengah malam raya berjalan menyusuri aktivitas malam pula, sambil terlihat beberapa mencari rezeki dan mencoba gugah hatiku tuk menangisi profesi malaikat tak berparuh yang dijuluki bunga malam. Ah! Terlalu basi julukan itu. Bagaimana kalau yang lebih tepat, ‘binatang jalang’ saja. Persis, puisi ‘Aku’ milik Chairil Anwar yang katanya ‘dari kumpulannya yang terbuang.’  Apakah dia dari kumpulannya yang terbuang? Berisikan minuman keras, junkfood, dan wanita-wanita jalang tuk sekedar puaskan syahwatnya.

Aduh… lelah kubayangkan aktivitas rutinnya setiap malam dan gelap berdatangan menyambut bumi tempat berpijak. Jangankan obat-obatan terlarang, setetes air putih pun kadang harus kupikirkan lagi, kemudian meneguknya dengan cukup sekali teguk. Bagaimana dengan dia yang meneguk sampai ribuan tegukan minuman haram itu? Tak perlu juga aku sakit hati merajang sampai usianya berakhir. Biarkan para malaikat dan Alloh yang langsung mencatat setiap tegukannya.

Usianya memanglah belum berakhir. Tubuhnya, masih sesigap Bung Nasution dulu. Bicaranya pula, tak ada yang menyendak-nyendak ataupun menyekatnya. Padahal, lelaki berparuh baya dengan lima kepala itu kini telah tertutup tubuhnya yang belum terhapus noda-noda dunia gemerlap malam.

Aku dan kedua saudaraku harus bersama seorang Ibu meronta-ronta mengemis padanya. Pada keringat yang membau badan. Pada pukulan kaki-tangan yang menyapa dengan sungguh kasar.

“Laporin aja ke Polisi!”

“Aku tak percaya akan begini jadinya, Ya Alloh…”

“Astaghfirullah.. apa jadinya dia sekarang?”

Tidak, sobat. Ucapan-ucapan itu bukan terlontar dariku, apalagi dia. Namun ucapan-ucapan itu justru keluar dari wajah pucat pasi dan mulut tak bisu kedua saudaraku dan perempuan ternama miliknya. Kemudian aku, cukuplah terdiam membungkam dimusuhi setitik isak pada pelipis hatiku.

Dia yang kukenal, tak disangka membuatku wajib berselang oksigen tanpa hadirnya. Juga di ujung kambuhnya sakitku, dia pergi menyisakan bayang ketidakadilan padaku sebagai anak. Arkh! Dia di saat ini bergaul dengan syurga dunia, yang bila kau sebut semuanya, maka benarlah semuanya.

Hancur. Berantakan. Aku benar-benar terasa diiris dalam manja yang hilang kendali. Maksudku, aku menjadi seorang anak yang benar-benar memanjakan pikiranku. Aku tak mau ikut campur. Aku seolah membiarkannya dalam keadaan begitu saja. Mana mau aku peduli. Toh, kami sekeluarga pun belum tentu dipedulikan olehnya.

Siapa menyangka? Pahlawan keluarga yang kubelai sedari kecil, sampai ku harus bertahan saat tragedi 2001 silam. Alias kerusuhan. Aku tak salah pikir. Semua mata mencari-cari tempat ungsian yang jauh penat serta sepi suara dari arah provokator dan pengikutnya. Suasana rusuh, saat dia berlari berantas provokator ulung. Aku hanya ditemani puluhan orang bersenjata, juga barang-barang berharga titipan manusia yang harap cemas rumahnya ikut dijarah massa. Tragedi dua ribu satu silam meinggalkan sepercik trauma yang belum menjadi abu seluruhnya. Justru aku dalam ribut, ingin lebih merasa bingar saja berteman teriakan-teriakan tak bermutu itu.

Semua mata sibuk memenuhi tempat ungsian masing-masing. Tertinggal aku, ingin menyaksikannya pada tragedi dua ribu satu silam. Walau harus mengubah diriku layaknya Irma Nasution yang menemui ajal akibat salah sasaran tembak, aku ingin seperti itu. Andai saja saat itu kutemui mautku saat ia masih terlihat seperti pahlawan sejati dihadapan semua orang, mungkin tak perlu kusaksikan pahlawan bertopeng itu kini. Hanya menambah derita bathin yang berkepanjangan.

Dia memang tercipta dari kumpulannya yang terbuang. Sedang aku, ataupun diriku.. cukuplah berada dalam kasih sayangnya yang datang pergi seenak hatinya. Oh, Robbi. Beraninya dia menerobos masuk ke pintu syurga dunia kini. Itu semua buat ketenanganku terhalau-balau. Tapi, sudahlah. Dia tak akan pernah mengerti dan paham tentang apa yang berselisih dibalik pusat saraf dan otakku. Biarlah ternilai pada dedaunan tempat daftar kesalahan manusia terpatri dalam album buta seperti peta buta, hingga tak ada satu pun yang dapat membaca kisahnya secara jelas. Kecuali aku dan orang disekitarku yang datang dan tercipta bak korban hura-huranya.

Lelah pintu hatiku meraba pintu taubatnya. Cukuplah. Bumbu-bumbu ujian merangsang emosiku di pesisir sepi yang ribut akan dia. Sudah! Biarkan dia temukan jati dirinya sendiri, walau harus menerjang menembus dan menusuk uluh nadiku. Biarkan dia jadi inspirasi terbesarku tuk lebih berhati-hati menyelami hidup. Menjadi sarana bayang-bayangku dalam bergaul sewajarnya.

Aku harus bisa menindih semua kesal pada secarik hati yang beterbangan bersama mimpi, meskipun harus tertatih dalam uapnya emosiku. Emosiku meluap-luap melihat kelakuannya yang menafikkan dosa itu. Haruskah terkadang meluluhkannya? Atau kuasakah aku menggeretnya menuju taubatannasuha, sedang ia pun sudah tak pedulikan perkataan siapapun.

Tolong! Hati-hati yang berkeliaran diantara bergunung kepastian pada malam gulita… akan siap siagakah aku melepuhnya menuju rumah hingga tak berkeliaran lagi?

Jangan buat diri jadi binatang jalang yang menggelitik dan tak bisa diam, tanpa tongkat yang terlebih dahulu memerintah. Karna dirinya, bukanlah binatang atau kanak-kanak kembali. Hanya waktu yang dapat putuskan kunci jawaban terakhirnya. Dan ingin sekali rasanya kusingkirkan kisah ini jauh-jauh dari memori hatiku. Jangan kembali! Aku juga lelah harus menanggung malu dikelilingi cemo’oh dan tiupan amarah yang siap memangsaku kapan saja.

Kupejam mataku. Selimut menutupi sekujur tubuhku, dan lalu… “Jangan rasakan pedih dan kesal itu lagi!” gertakku sendiri dalam hati.

  • view 88