DEBAT KUSIR !

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 2 bulan lalu
DEBAT KUSIR !

“Kami putra dan putri Indonesia!” Sudah tak boleh mengganti bahasa Sumpah Pemuda. Bila mengganti, haram hukumnya. Bukan aku yang mengharamkan, tapi sumpah itu sendirilah yang mengharamkan dirinya disentuh bahasa lain. Apalagi bahasa Inggris sebagai bahasa dunia. “We are man and woman of Indonesian!” Tak enak sekali didengarnya. Bagai bumbu tanpa garam, bagai cinta tanpa perbedaan, benar-benar hambar. Itulah yang terjadi kalau dalam cinta tak ada bumbunya. Terutama cintaku pada Negara yang nenek moyangnya seorang pelaut. Tambah tak enak lah kalau lautan itu tak ada garamnya. Benar-benar Negara ini kaya akan rempah. Kalimat Sumpah Pemuda pun banyak dibumbui, agar terkesan fantastis ketika didengungkan oleh siapapun. “Menjunjung tinggi bahasa persatuan, Bahasa Indonesia!” Tak ada bahasa tertinggi yang harus kujunjung, selain bahasa Indonesia. Aduhai istimewa sekali Sumpah Pemuda itu, sampai-sampai persoalan bahasapun tak ada bandingannya.

Elya si pemekik Sumpah Pemuda itu. Memang begitulah kelakuannya hampir setiap hari. Satu-satunya mahasiswa di kampusku yang berkelakuan macam dia.

“Kami putra dan putri islam!” Rasanya kalau kalimat yang satu itu tidak termasuk dalam deretan Sumpah Pemuda. Berani benar ditambah-tambahi begitu.  Sudah kutahu si pemilik sumpah beragama islam, berkerudung pula. Inilah uniknya Indonesia. kerudung adalah simbol ummat islam. Sedang Sumpah Pemuda adalah simbol bahwa Elya putri asli Indonesia.

Bahkan aku tahu dulunya dia ummat kristiani, tapi yang ingin kutahu lebih dalam, apa alasannya menjadi mu’alaf. Maka kudekati saja ia dengan basa-basiku.

“Kau baru masuk islam, kan?” Elya Margaretha nama gadis yang sedang kupelototi. Dari namanya saja, sebagian besar manusia awam akan mengiranya anak-cucu Yesus, bukan dari keturunan Muhammad Salallahu ‘alaihi wasallam.

“Aku mu’alaf, tapi sudah lama sekali,” begitu penjelasan yang kudapat.

“Kalau sudah terlalu lama berislam, apa perlumu bersumpah-sumpah seperti itu?” kuharap ia mengerti maksudnya.

“Itu bukan sumpah, itu hanya pernyataan,” lucu sekali jawaban gadis itu.

“Sudah kutahu agamamu islam, dan kau seorang muslim. Itu yang kau sebut dengan pernyataan?” pura-pura saja kukritisi, sekedar ingin tahu alasannya memeluk islam. Kudengar dari cerita teman-temanku, ia hanya seorang mu’alaf. Tak lebih dari itu.

“Iya, itu sekedar pernyataan. Aku islam, aku seorang muslimah, dan apa menurutmu itu sumpah?” Ya. Kuanggukkan saja pertanyaannya. Menurutku tak ada bedanya pernyataan dengan sumpah. Toh, Sumpah Pemuda saja tak memakai embel-embel kata ‘sumpah’, tapi tetap saja disebut Sumpah Pemuda.

“Logikanya begini, kau orang Indonesia asli, tapi sejak lahir kau tak pernah meingkrarkan sumpah secara langsung tentang kewargaNegaraanmu. Dan seandainya sekarang kutanya, apakah kau berani bersumpah bahwa kau memang orang Indonesia?”

Gadis itu menggigit bibirnya. Sepertinya ia sedang berpikir keras. “Tapi ketika aku masuk islam, aku disuruh bersyahadat, dan apakah itu bukan bagian dari sumpah?” Bodohnya. “Itulah agama. Jika masuk kristen kan juga harus di baptis, itu wujud sumpah. Jadi jangan kau samakan agama dengan yang lainnya,”

Dia mulai mengangguk-angguk. Tanda mengerti atau tidak, yang penting aku sudah berusaha menjelaskannya.

“Berarti kalau kukatakan aku laki-laki, kau percaya? Karna setiap pernyataan itu kan menurutmu sumpah, hanya saja tidak berwujud, kecuali agama...”

Pertanyaannya sungguh membuatku ingin berteriak dan menertawakan keluguannya dalam menangkap apa yang kukatakan. “Itu artinya kau telah membohongi aku, membohongi dirimu sendiri, membohongi Negara, juga membohongi agamamu... Paham?!” Tak paham. Itulah yang kubaca dari ekspresi wajahnya. Bingung. “Kalau membohongi agama, aku paham, karna itu artinya aku membohongi Tuhanku..”

“Nah, pintar! Terus apa yang kau bingungkan?” kukejar kebingungannya agar segera terjawab.

“Membohongi Negara, maksudmu apa?” Tak cerdas-cerdas dia.

“Di KTP-mu sudah jelas, jenis kelaminmu perempuan, kalau kenyataannya kau laki-laki, itu artinya kau tidak saja membohongi petugas pembuat KTP, tapi Negara ini...”

“Hmm...” hanya itu yang keluar dari mulutnya. “Berarti secara tidak langsung, setiap perkataan dan setiap pernyataan itu adalah sumpah, yang artinya harus dipertanggungjawabkan? Begitu??”

Kuarahkan jari telunjukku padanya. “CERDAS!!!” rupanya dia tidak begitu sulit memahami apa yang hendak kusampaikan.

“Kembali pada pernyataanmu tadi. Kau bilang kau seorang mu’alaf, benarkah itu?” inilah yang membuatku tergesa-gesa memahamkannya perihal sumpah. Tidak lain agar akupun dapat segera menemukan jawaban atas kemu’alafannya.

“Islamku karna sesuatu, dan sumpahku tadi karna sesuatu,”

Kalau sudah begitu jawabannya, maka satu kata yang harus kukomentari dengan kata ‘sesuatu’ itu. “Sesuatu banget ya..” mengikuti bicara tren anak muda jaman sekarang.

Senyum simpul kuarahkan padanya. Kupandang mata elok itu. CANTIK. Tapi aku tak tertarik. Aku hanya tertarik dengan keislamannya.

Rupanya ia pun  terburu-buru membalas senyumku. Senyum nakal ala pemuda genit. Tak ada tandingannya.

“Jauhi matamu, membuatku ingin muntah saja melihatnya,” Eh! Berani sekali gadis mu’alaf ini menyentilku dengan sajaknya. Belum tahu saja dia, wajahku membuat siapapun yang melihat dijamin segera menundukkan pandangan. Entahlah, manis atau pahit, yang jelas semua wanita sekejap akan menundukkan pandangan. Apalagi wanita macam Elya, berbusana muslimah lengkap dengan gamis dan kerudung yang terulur sampai menutup dadanya. Subhanalloh, rupanya imannya tak kuat melihat ketampananku. Ihirrr... Apapun dalilnya, pemuda yang beretika harus menjaga jarak dengan wanita macam Elya. Dengan gesit kupalingkan wajahku dari mata-mata cantik itu. Kuambil  jarak secukupnya. Apalah jadinya kalau jaraknya sepuluh kilometer, mana mungkin bisa bercakap-cakap.

“Baiklah, maafkan aku. Lupakan saja..” kubidik segera kalimat itu untuk lebih mencairkan suasana yang sempat tegang akibat ulah nakalku.

“Apa yang kau maksud dengan sesuatu-sesuatu itu?” lanjutku makin penasaran.

Kulihat matanya yang semula berbinar berubah sayu. Yang jelas bukan aku penyebabnya. Tak ada maksudku mengubah mata itu jadi sayu. Kuperjelas, bukan aku penyebabnya. Tapi tak ada yang harus disalahkan. Hanya aku dan dia yang tersisa di pelataran masjid. Akankah menyalahkan wajahku yang terlalu manis sampai membuatnya terharu?

“Kenapa kau?” Kupandangi lebih jelas wajahnya. Nampak sayu sekali. “Adakah sesuatu yang membuat raut mukamu itu..” Alah. Elya tampak mengerti yang hendak kukatakan.

“Akan kujelaskan padamu, tapi kau harus bersumpah dulu padaku,”

Kembali pada sumpah. Aku saja masih penasaran dengan sumpahnya yang meneriakkan bahwa dirinya adalah putra dan putri islam yang akupun sudah tahu. Mengapa harus aku yang bersumpah, pertanyaanku tentang ‘sesuatu’ saja belum terjawab. Sumpah macam apa yang akan kuteriakkan di telinganya. ‘Sumpah, kau sangat cantik.’ Ataukah ‘Sumpah, aku mulai menyukaimu.’ Alah, mak!

“Sumpah macam mana yang kau maksud,” lanjutku kemudian.  

“Kau harus bersumpah, kau tidak akan pernah menceritakan apa yang akan kuceritakan ini pada orang lain,” Sumpah itu maut. Tidak sembarang orang berani bersumpah atas hal sekecil dan sebesar apapun.

Sumpah dilanggar, berbuah malapetaka. Sumpah dipatuhi, berbuah yang manis-manis.

“Aku bersumpah, aku tak akan menceritakannya pada siapapun, percayalah..” bujukku layaknya bintang-bintang iklan di tivi yang menawarkan produk agar laris terjual. Tapi memang penting. Ini soal kepercayaan, kawan!

Lama juga kunantikan cerita yang akan diceritakannya. Hampir sepuluh menit, tak juga mulutnya berkomat-kamit menjelaskan perihal ‘sesuatu’ itu. Namun tak ada rencanaku untuk memaksanya mempercepat waktu, biarlah ia menenangkan dirinya dulu. Agak susah menceritakan ‘sesuatu’ yang kurasa sangat rahasia sampai akupun harus bersumpah pada ‘sesuatu’ yang tak jelas apa artinya.

“Tahun dua ribu satu, saat itu kerusuhan besar-besaran, orang islam ngamuk...” Elya mulai mengawali ceritanya. Terkejut kulihat wajahnya yang mulai bersimbah tangis. Aku memang ingat betul tahun 2001, tahun perserikatan ummat islam, itulah semboyan yang kuberikan pada tahun itu. Benar-benar miris jika kutarik lagi ingatanku pada peristiwa 2001. Hampir semua daerah di Indonesia kacau-balau akibat peristiwa SARA. Suku, Agama, Ras, dan Adat. Suatu kesatuan yang tak bisa dipisahkan dari pangkal Pancasila. Burung Rajawali itu telah mengajarkan padaku agar menjunjung tinggi ‘Bhinneka Tunggal Ika.’ Bersatu kita teguh, Bercerai kita runtuh. Semboyan yang tak sepaham dengan konsep berpikirku sampai saat ini. Maka ketika terjadi pertikaian, segeralah orang Indonesia bercerai, lalu runtuh. Karna semboyannya saja sudah salah.

Bersatu kita teguh, Bercerai kita teguhkan lagi. Itulah semboyan paling mantap menurutku. Kudapatkan semboyan itu tepat saat tragedi 2001 itu dimulai, ia datang laksana wangsit. Sejak kudapatkan wangsit itu, aku mulai bersumpah bahwa suatu saat aku sendiri yang akan mengubah bahasa semboyan bangsa ini. Bahkan akulah yang termasuk di deretan sasaran amukan massa ummat islam didaerahku sendiri. Massa yang datang dari seluruh daerah di Pulau Lombok itu rusuh di komplek perumahanku. Mereka sibuk mencari-cari rumah para warga yang beragama Kristen.

Kuingat betul saat itu aku langsung berteriak, “Aku Muslim!!” Alasannya sederhana. Agar terbebas dari ancaman amuk massa yang ratusan banyaknya. Mereka rusuh di beberapa daerah di pulauku. Bahkan ada beberapa diantara mereka yang tak percaya, maka segera Ibuku berteriak lebih kencang, “Allohu’akbar! Demi Alloh kami islam!” barulah mereka mulai percaya dan menghindari pekarangan rumahku. Tragis memang.

“Saat itu kau masih kristen?” tanyaku lebih mempersingkat ceritanya.

“Iya, dan aku sekeluarga terpaksa harus masuk islam. Tahun yang paling tragis selama hidupku.. saat seharusnya aku bertahan dalam Yesus Kristus, tapi justru saat itulah aku dihadapkan pada kewajiban untuk mengucapkan dua kalimat syahadat.. untuk mengesahkan keislamanku..”

Subhanalloh. Radikal sekali agama yang kuanut sejak lahir sampai menjadikanku akademisi yang menjunjung tinggi Alloh dan RosulNya. Agama yang sangat keras. Menganaktirikan ummat agama lain yang tak jelas-jelas bersalah. Aku mulai mengerti titik permasalahannya. Aku mulai memahami apa yang dimaksud Elya dengan kata ‘sesuatu’ itu. Astaghfirullah... Ya Tuhanku, saksikanlah seorang gadis mu’alaf disebelahku ini. Ia membutuhkan kepastian akan jati dirinya. Ia butuh saudara-saudara muslim yang akan lebih menguatkan keimanannya sebagai muslimah. Ia harus meyakini, bahwa islam bukan agama yang memaksa, tapi pure. Siapapun yang mendapatkan hidayah, tak dipaksa untuk berislam. Sedangkan Elya, dia sama sekali tidak memperoleh hidayah untuk berislam.

“Dulu aku sekolah di SDK Antonius, Sekolah Dasar Kristen. Saat itu aku terpaksa dipindahkan ke Sekolah Negeri yang mayoritas muridnya beragama islam, semua karna paksaan. Keadaan yang justru membuatku makin bingung di usia yang masih sedini itu, kenapa harus pindah-pindah agama? Bukankah agama itu harusnya dibawa sampai mati?!” Inilah protes dan kesaksian mantan Kristiani. Cahaya matanya sungguh meneduhkan.  Mungkin hatinya begitu tegar, sampai sebegitu tegang aku melihatnya.

Harus kugubris atau tidak, tapi sepertinya memang kewajibanku untuk meluruskan pemahamannya mengenai agama dan keyakinan. “Itulah esensi dari sebuah keyakinan, jika kau yakini agama itu benar, maka jaga ia sampai mati. Jika kau ragukan agamamu saat ini, segera kembali ke jalan yang benar menurutmu...”

“Islam adalah agama yang kuyakini kebenarannya, hanya orang-orang islam itu saja yang merusak kebenaran agamanya...” Benar apa yang dikatakan Elya. Untuk hal ini, aku tak ingin berkomentar panjang lebar. Karna yang  harus kukomentari bukan Elya, melainkan orang-orang yang selalu main kekerasan.

“Ambon rusuh, orang kristen dan orang islam disana saling bertikai. Menyaksikan saudaranya dalam keadaan seperti itu, ummat islam marah. Aku ingat betul saat itu, orang-orang kristen diungsikan, orang-orang islam justru seenaknya, mereka merusak gereja-gereja, menjarah rumah-rumah ummat kristiani. Sebelum rumahku diserang, kami sekeluarga langsung memutuskan masuk islam agar tak jadi sasaran.. itulah cara kami bertahan, menggadaikan agama..” Diam tanpa bahasa. Tak ada yang harus kukomentari dari ceritanya. Pasalnya, bagiku wajar saja ummat islam marah besar jika melihat saudara seimannya terdzholimi, begitupun halnya ketika terjadi pada penindasan pada ummat agama lain. Ada apa dengan dunia ini, ada apa dengan Elya yang berislam karna keadaan yang mendesak?

“Kau masuk islam karna terpaksa, dan apakah sekarang kau masih merasa dipaksa?” hanya itu yang kurasa harus ditanyakan.

“Tidak..” Jawaban paling singkat. “Dulu memang terpaksa, tapi setelah kupelajari dalam-dalam, aku tidak lagi merasa dipaksa, dan inilah pilihanku... hanya saja, aku bukan muslim yang radikal, tapi akulah muslim pembelajar itu..” begitu mantap setiap kalimat yang dituturkan. Kini kutegaskan pada siapapun, bahwa menjadi muslim pembelajar itu penting. Lebih luar biasa jika menjadi muslim pembelajar. Tak selalu merasa benar karna dirinya hanya pembelajar. Tak selamanya merasa salah karna ia pun sedang belajar, maka tentu harus tetap belajar agar benar jalannya.

“Selamat!” Luar biasanya anak muda itu.

“Kami putra dan putri Indonesia, mengaku berbangsa yang satu.. bangsa Indonesia!” Lantang dan tegas. Inilah putri Indonesia yang berbeda. Baru kali ini kutemukan gadis mu’alaf seperti Elya. Keterpaksaan beragama membuat jiwa pembelajarnya bangkit. Ia seperti ingin meneriakkan padaku, bahwa bukan hanya agama yang harus bersaudara. Negara pun harus punya rasa persaudaraan. Walaupun aku islam, Elya mu’alaf, atau aku kristen, dan Elya Hindu atau Budha, kami adalah saudara. Saudara serumpun, Indonesia. Maka satu lagi yang harus kutambahkan dari ikrar Sumpah Pemuda. “Kami putra dan putri Indonesia, menjunjung tinggi persaudaraan, sebagai muslim pembelajar!” Elya spontan terkikik mendengar ikrarku. Padahal menurutku ikrar itu sangat penting. Tak ada yang aneh, tak ada yang mestinya ditertawakan.

“Indonesia harusnya beruntung, karna Negara ini butuh orang-orang sepertiku..” dengan percaya diri kulantangkan kalimat itu didepannya.

“Orang-orang macam kau hanya akan membuat pusing pemerintah,” makin kencang tertawanya. Oh malunya aku.

“Orang-orang macam kau lah yang tak tahu berterima kasih, justru ideku kau jadikan bahan tertawaan...”

“Lebih tepatnya, orang-orang seperti aku dan kau inilah yang kadang dilupakan pemerintah,” malangnya nasibku dan Elya. Rajawali saja tak mendengarkan semboyan yang kubuatkan untuknya, apalagi pemerintah.

“Kau tau? Aku punya ide untuk mengubah semboyan Bhinneka Tunggal Ika kita..”

Nantikan saja tanggal mainnya.

“Mau kau ubah jadi apa? Bersatu kita teguh, bercerai kita kawin lagi?” Ah. Sudah terlalu basi lelucon macam yang disebutkan Elya.

“Bersatu kita teguh, bercerai kita teguhkan lagi...” kumantapkan kata-kataku, buktinya Elya diam. Gadis itu seolah terpesona oleh sihir yang kubidik melalui mulutku. Matanya memancarkan takjub. Mulutnya setengah mengatup. Wow!

Tak mau ditutupnya mulut itu. “Gila...” Oh, Tuhan! Kupikir dia akan mengatakan bahwa akulah pemuda harapan bangsa, pemuda yang dinanti-nantikan, pemuda pujaanya, yang akan membawa perubahan untuk bangsa. Tega benar dia berucap seperti itu. GILA.

Kukernyitkan keningku. Gadis itu balik mengernyitkan keningnya. Kurapat-rapatkan mulutku, gadis itupun ikut merapatkan mulutnya. “Sinting,” pikirku.

Kututup kedua mataku serapat-rapatnya, entahlah apa yang dilakukan gadis gila itu. 

“Kutantang kau! Kau harus temukan bahasa-bahasa yang salah dalam UUD,” Nyaris pingsan kudengar kalimat itu. Keras kuberpikir, ‘mengubah bahasa Undang-Undang Dasar’. Mengubah semboyan dan Sumpah Pemuda saja masih di angan-angan, bagaimana dengan mengubah UUD yang jelas-jelas banyak sekali kesalahannya.

Maka kubuka perlahan mataku. Otomatis aku masih terkejut mendengar tantangannya. Kuterka apa yang sedang dipikirkan Elya. Tapi ia justru tak ada disampingku. Kucari-cari, tak juga kutemukan. Kemana perginya, tak taulah.

Jiwa pembelajarku dan Elya rasanya tak bisa tergadaikan. Meski Raja Kelantan Malaysia memintaku jadi warga Negaranya, dengan lantang akan kutolak mentah-mentah permintaan itu. Kukatakan padanya, “Kami putra dan putri Indonesia, meski satu rumpun dengan Malaysia, tetaplah bangsa Indonesia!”

“Hahahaa... sudah berkhayal sampai mana kau, sampai-sampai bawa Malaysia segala..” aku jamin itu suara Elya. Aku tak perlu melanjutkan mencarinya.  “Darimana saja?” bisa kuterka ia sudah menyiapkan tantangan berikutnya untukku.

“Dari kamar mandi,” Oh. Pantas saja wajahnya terlihat lebih segar. “Aku lumayan pusing memikirkan ide-ide gilamu tadi..” Hei, untuk apa dipikirkan. Aku tak menyuruhnya memikirkan hal itu. Aku saja si pembuat ide tak memikirkannya sama sekali. Aku hanya berangan-angan dengan kegilaanku yang tak tahu kapan akan tersampaikan.

“Aku punya solusi,” berkaca-kaca matanya. “Kau harus bergabung di salah satu perkumpulan, terserah pilih yang mana,”

Selama ini aku memang tidak begitu tertarik pada perkumpulan-perkumpulan. Aku lebih tertarik nyelip-nyelip dalam satu atau dua perkumpulan, mengikuti satu atau dua kegiatannya, kecuali demonstrasi. “Hei! Perkumpulan macam apa yang harus kupilih, mereka sibuk demo, sedangkan aku tak suka itu..”

“Demo itu penting, sama pentingnya dengan ide-ide gilamu itu..” kutangkap sudah solusi yang ditawarkan.

“Teriakkan ide-ide gilamu itu saat berdemo,” Inilah yang keliru. Bukan maksud meremehkan solusinya, tetapi aku memang tak tertarik untuk berdemo.

“Aku tahu ada DPR dan MPR sebagai penampung aspirasi rakyat, tapi kalau tidak disampaikan, mana mungkin mereka dengar?!” disambungnya kalimat yang menyerukanku untuk masuk sebuah perkumpulan, aktif didalamnya, lalu teriakkan apa yang kumau. DEMO.

“Kau samakan aku dengan mereka yang suka demo?!” mulai kesal kulihat wajah penuh semangat itu. “Aku memang suka mengkritisi, tapi bukan dengan itu caranya..” kutambah-tambahi agar dia tak lagi menyuruhku menuruti keanehannya.

“Pandanganmu salah, kawan!”

Bukannya dia yang berpandangan salah?! Justru melemparkan kesalahannya padaku. Elya yang sinting. Elya yang aneh. Lengkaplah kau.

“Demo tidak selamanya dengan kekerasan, itu yang harus kau catat..” Baiklah, akan kucatat.

Kukeluarkan bolpen dan selembar kertas berukuran kecil dari ransel. Segera kucatat pernyataan gadis sinting itu.

 

Demo tidak selamanya dengan kekerasan.

“Sang Pembelajar ‘Tukang Demo’.”

 

Memperhatikan tulisan itu, Elya tertawa lagi. Ia melanjutkan pernyataannya yang sempat terputus. “Menurutku demonstrasi yang baik dan benar itu adalah meneriakkan apa yang kau pikirkan, apa aspirasimu untuk Negara ini, bukan merusak gedung-gedung, saling baku-hantam, tidak seperti itu caranya..” kutulis lagi kalimat itu. Persis. Tidak ada yang terlewat. Elya tetap memperhatikan jari-jariku bergerak diatas kertas. Lalu dilanjutkannya lagi. “Jadilah kau pendemo yang baik, yang menjunjung jiwa pembelajar..” kali ini tak kucatat.

“Kenapa tak kau tulis?” tak kupedulikan komentarnya. “Jangan jadi pendemo yang buruk, yang bisanya bertindak anarkis, itu namanya melupakan proses belajar...”

Pernyataan inilah yang kucatat.

“Kenapa tak dicatat pendemo yang baiknya?” protes Elya karna aku tak menuliskan pernyataan yang satunya.

Itu karna yang kutau sejauh ini, tidak ada pendemo yang baik. Bukan berarti aku mengecap bahwa semua pendemo itu buruk, hanya saja mereka perlu belajar bagaimana menjadi pendemo yang baik.

“Aku tidak pernah ingin jadi pendemo..” ucapku bangga.

“Kalau kau tak pernah jadi pendemo, kapan ide-idemu itu akan didengar..”

“Kau pikir hanya demo caranya?”

“Apakah DPR menyediakan kotak saran untuk masyarakat? Apakah Presiden menemui kita, dan menanyakan langsung apa aspirasimu, lalu apa caranya kalau tidak demo...” Sungguh bodohnya Elya.

“Kau lihat sekarang, banyak sekali media yang siap menampung aspirasimu, tidak sekedar ditampung, tapi juga didengar, dikomentari, dan disampaikan pada Presiden bila perlu...” kuperlihatkan wajah paling sinis dihadapannya. SKAK MAT. Apa lagi yang mau dikeluarkan. Aku siap menanggapi semua bentuk tanggapannya.

“Terlalu lama.. masyarakat itu butuh yang cepat, butuh kepastian! Kau berdiri didepan kantor DPR, kau teriakkan aspirasimu, walaupun banyak yang menghadang, mereka pasti tetap mendengarkan.. apalagi kalau kau pakai speaker, tambah keras kedengarannya...” Huh. Sungguh jiwa pembelajarnya telah berapi, seakan hendak mengajarkan pada semua orang bahwa dirinya yang paling benar.

“Asal kau tau saja, banyak sekarang mahasiswa diajak diskusi sama pemerintah. Lewat media, maupun face to face.. kau saja yang ketinggalan berita,” sekedar ingin tahu alasannya berislam saja malah melebar pada demo-demo.

“Itu bagi mereka yang beruntung saja ketemu dengan pemerintah, nah kau??” Segera kubasmi dan siap kumatikan pernyataan sekaligus pertanyaan itu.

“Kalau kau orang yang beruntung itu, akan kuamanahkan kau untuk menyampaikan aspirasiku. Kalau aku yang beruntung, kusampaikan semua aspirasimu. Tapi kalau kita sama-sama tidak beruntung, kita sampaikan pada media atau kita coba face to face dengan pemerintah, kalaupun tidak bisa, barulah kau tembus dengan demo.. tapi tetaplah jadi pendemo yang baik seperti yang kau katakan padaku...”

“Banyak benar tahapannya, terlalu lama kau ini..” begitulah kalimat balasannya.

Kalau ingin jadi pemuda dan pemudi yang berjiwa pembelajar memang haruslah seperti itu. Banyak tahapannya, banyak pula rimbanya. Banyak permasalahan yang belum terselesaikan di Negara ini, bukan berarti aku harus menambah-nambahkannya. Bukan pula menerima dengan legowo, tapi lebih pada pengaplikasiannya. Menghargai Elya yang seorang mu’alaf, menghormati siapapun tanpa pandang apapun, menjalankan kewajibanku sebagai warga Negara yang baik, dan menikmati hak-hakku.

Tapi memang perkara hak yang belum bisa dituntaskan. Elya punya hak untuk memilih agama yang akan dianut. Aku juga punya hak untuk menyampaikan ide-ide gilaku. Intinya, setiap WNI punya hak dan kewajiban yang sama. Hak mendapatkan pendidikan, dan seterusnya.

“Banyak jejaring sosial, Facebook, Twitter, semuanya jadi lebih mudah. Bahkan orang-orang di DPR sana juga punya akun facebook, jadi kalau kau mau, sampaikan lewat jejaring itu. Digubris atau tidak, yang paling penting kau sudah menyampaikan aspirasimu. Direspon, ya syukur.. gak di respon, ya sabar. Kalau aspirasimu diangkat ke rapat dewan, nanti juga akan dipertimbangkan baik-buruknya. Kalau tak diangkat-angkat juga, barulah kau beraksi. Demo itulah cara terakhir!”

“Kalau aspirasiku didengar, dirapatkan, dipertimbangkan, tapi solusi yang mereka putuskan sangat buruk menurutku dan menurut sebagian besar masyarakat Indonesia, apa yang harus kulakukan?!”

“Kalau seperti itu, artinya pertimbangan dan solusi yang mereka buat keliru,”

“Kenapa tak kau katakan saja mereka bodoh?” Elya yang bodoh. Menurutku.

“Mereka hanya keliru, dan masih bisa diperbaiki. Kalau toh diperbaiki berkali-kali dan solusi itu tetap tak memberikan solusi, baru kukatakan mereka bodoh...”

Kutangkas terus-menerus kalimatnya, sampai ia akan bosan dengan sendirinya.

“Kenapa kau bela mereka?”

“Karna mereka yang ngurus Negara ini, kalau kau bayangkan sedang sakit, kau diikutkan dalam rapat, rasa sakitmu pasti berpengaruh terhadap pertimbanganmu..”

“Ah, dasar mereka mau untungnya saja..”

“Tidak semua pemerintah mau untungnya, tidak semua pemerintah berjiwa koruptor,” bukan main kesalnya menghadapi Elya.

“Kenapa tidak semua?”

Oke. Kuberi pelajaran gadis sok tau ini. “Contohnya simple.. Kumisalkan kau bodoh, aku jenius. Aku dan kau satu universitas, apakah orang akan mengatakan bahwa semua mahasiswa  kampus ini bodoh? Tidak! Karna orang-orang hanya melihatmu saja, mereka tak melihatku, tak melihat mahasiswa lain yang lebih jenius..”

“Tapi beda dengan pemerintah, mereka sama saja!” protesnya tak mau kalah.

 “Kau salah,” kuprotes terus-menerus.

“Memangnya kenapa?”

“Ada yang tidak..” Pastinya bukan aku.

“Siapa? Kau?!” gelenganku jawabannya. “Lantas siapa?”

Kugeret Elya pada satu nama. “Bapakku salah satu anggota DPR itu..”

 

Malang, 24 April 2013

Bersatulah seluruh ummat sedunia, aku lelah dengan  penindasan dan peperangan.

Dilihat 67