ADAB MEMBAGI ILMU

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Motivasi
dipublikasikan 3 bulan lalu
ADAB MEMBAGI ILMU

Ilmu, kukerat engkau selalu karena Alloh yang perintahkan aku menuntut dan menjagamu. Ilmu, tsaqofahku yang paling kubanggakan. Karena bekal ilmu, aku dikenal dan dikagumi sekian manusia. Berkat ilmu, aku dinanti dan dipuja meski jiwa tak mau di sanjung puji. Ilmuku, bertahanlah seperti langit yang menggantung diatas sana. Langit itu tengah menanti datangnya hari perhitungan, saat sangkakala dibunyikan dan manusia dicabut ajalnya tanpa sisa. Begitu pula ilmu ini, hanya menunggu masa saat pertemuan dengan RosulMU lah saat aku harus mempertanggungjawabkan semua ilmu yang kupunya. Telah kutunaikan kewajiban diri, menuntut ilmu sampai hilang rasa haus. Ah, dahaga itu terkadang masih saja lapar dari ilmuMU yang amat sangat luas dan besar melebihi jagat raya beserta isinya.

Maasyaa Alloh… saat DIA sedang menggugurkan dosa-dosa dari tubuhku, tiap inci ilmu yang sebelumnya kuperoleh setelah melangkah sekian meter itu jadi terpakai. Habbatussauda’, jinten hitam yang Rosulullah anjurkan bagi kesembuhan ummatnya kusadari kini mulai disalahgunakan pemanfaatannya. Habbats tak perlu dikemas dalam bentuk pil, meski ‘katanya’ pil itu terbukti instan bin praktis dan sekali teguk langsung masuk ke pencernaan. Yang Rosul ajarkan bukan cara pencernaan mengolah setiap benda yang masuk, melainkan khasiat terbaik habbats terletak ketika ia ditumbuk hingga lembut dan ditambahkan sedikit air sehingga memudahkan kita meminumnya. Efek jinten hitam saat tercampur kemasan pil pasti berkurang dibandingkan meramu habbats dengan metode super alami. Apa salahnya sih, menumbuk jinten barang dua atau tiga menit.

Thibbunnabawi, pengobatan ala Nabi. Tapi ini bukan ilmu ala-ala yang akhirnya membuat orang bertambah sakit, seperti vitamin yang dibungkus dalam zat adiksi. Kita tarik lagi ingatan pada kisah olengnya kepala sang pilot pesawat, dikira yang diminum itu vitamin penyegar, ternyata yang dikonsumsi tesebut tidak lain dan tidak bukan adalah turunan narkoba. Ya, gorilla nama vitaminnya. Maka siapapun yang menelan vitamin ala-ala itu, harus siap menanggung resiko berupa mabuk berkepanjangan. Saking hilang kendali, akhirnya sang pilot terpaksa diturunkan setelah puas bercuap-cuap tanpa control diatas baling-baling. Spontan, kepala yang waras pun sadar ada yang tidak beres. Refleks, kepala yang sadar pun dilarang menerbangkan orang-orang yang dijamin penuh kesadarannya. Lantas, apakah ini hanya soal jenis vitamin yang menyebabkan orang jadi waras dan beres, ataukah hanya sebatas persoalan kurangnya adab dalam meracik kewarasan?

Mari saya bantu menemukan racikan siapa yang tepat guna, tidak hanya cocok dikonsumsi tubuh, melainkan juga bermanfaat meningkatkan efek sadar seseorang.

 

PEMILIK KEBENARAN ILMU

Sebagai penulis yang doyan mengoleksi referensi, kita harus memiliki sumber pembanding sebagai bahan tulisan yang akan dihidangkan untuk pembaca yang bisa jadi ilmunya jauh lebih melangit daripada tukang nulis yang pengetahuannya masih membumi. Saya percaya, pembaca selalu lebih cerdas daripada penulis, oleh karena itu siapapun yang akan menulis harus punya cita-cita untuk selalu mengais ilmu meski harus dicuri sekalipun. Bagaimana adab mencurinya yang elegan bin gak ketahuan? Hum, manusia yang terbatas akalnya sebagai pencari ilmu harus menciptakan racikan kewarasan agar ilmu yang hendak dicuri pun lebih berkualitas. Tidak sebatas mengumpulkan jumlah konsumen, ah itu hanya soal kualitas yang bisa diperbaiki cukup dengan adab ilmuwannya.

Salah satu adab seorang ilmuwan, menyampaikan dengan benar. Penyampai belajar dulu tentang kebenaran yang sifatnya bisa dibenarkan, bisa juga disalahkan oleh penikmat ilmu. Tentang objek kebenaran, The Only of Rights is The God. Sepakat aja ya, satu-satunya pemilik kebenaran hanya Tuhan. Semua jenis ilmu apapun bidangnya, hanya satu sumber valid yang terpercaya secara kurat, Pemilik Langit. Semua ilmu terkumpul di angkasa Sang Penguasa, tugas manusia hanya menguasainya dengan adab dan ilmu.

 

ADAB DAHULUKAN, ILMU KEMUDIAN, BERADAB SEDEMIKIAN

Qur’an Surah Az Zumar: 18 “Yang mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya, mereka itulah orang-orang yang telah diberi Allah petunjuk dan mereka itulah orang-orang yang mempunyai akal”.

Al Qur’an adalah pokoknya ilmu dan adab, sumber referensi ilmu apapun yang ingin dikuasi orang-orang yang mempunyai akal bisa ditemukan didalam kitabNya yang paling mulia. Tidak ada pertanyaan yang tak memiliki jawaban, tidak ada kehausan selain disediakan penawar dahaga, tidak ada rasa lapar selain telah dihidangkan vitamin pengenyang pencernaan. Begitulah mushaf Al Qur’an menjadi vitamin terbaik sepanjang masa, meskipun zaman telah berubah tapi ilmu Alloh tak pernah melenceng dari kebenarannya.

Adab dalam mencuri ilmu adalah membaca kitab dengan baik, “mendengarkan perkataan lalu mengikuti apa yang paling baik diantaranya.” Mendengarkan kita taat, mengikuti kita taat. Sami’naa wa atho’naa, kami dengar kami taat. Begitulah Langit mengajarkan, beradab dulu kemudian berilmu dengan adab ketaatan.

 

KETAATAN MUSAFIR ILMU

Alloh perintahkan kita bertebaran ke penjuru bumi untuk mengumpulkan ilmu yang terserak. Mengoleksi ilmu yang berceceran kemudian membungkusnya menjadi karya yang menggugah penghuni bumi dan langit. Menjadikan ilmu layak dikonsumsi menjadi teman hijrah terhebat, para penuntut ilmu harus menjadikan ilmu sebagai teman dalam melakukan perubahan ke arah yang lebih baik. Begitulah seharusnya para pencari ilmu menggunakan ilmunya agar menjadi ladang amal, disampaikan dan diamalkan tidak sekedar disimpan sendirian, didakwahkan dan diteruskan bukan sekedar ditabung seorang diri. Berbagilah, beramallah dengan ilmumu. Insyaa Alloh!