Siapa Suruh Datang Jakarta?!

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 28 Januari 2017
Siapa Suruh Datang Jakarta?!

Bumi maritim telah menjadi saksi sejarah sebuah perhelatan akbar yang digelar di 31 kota se-Indonesia sejak 5 Mei dan berakhir 2 Juni di Gelora Bung Karno, Jakarta. Agenda besar mengguncang dunia itu bernama MUKTAMAR KHILAFAH 2013 dengan tema Perubahan Besar Dunia Menuju Khilafah. Jauh sebelum perhelatan akbar itu memulai genderangnya, aku sudah pastikan akan bersama 60 ribu ummat hadir di Gelora 10 Nopember, Surabaya pada tanggal 26 Mei 2013. Sayang beribu sayang, selalu Alloh tempat kembalinya segala keputusan. Semua kepastian telah berubah jadi penyesalan sampai saat 26 Mei berlalu dan ragaku tak semenit pun berada di Gelora seperti yang pernah terpastikan sebelumnya.

“Beginilah kalau sudah terikat pekerjaan, mau nggak profesional salah… tapi kalau profesional pun bisa merusak amanah dakwah…” kalimat itulah yang terus terngiang sepanjang siang sampai tergantikan siang lagi. Nasi telah menjadi bubur, keputusan telah diambil maka tak ada jalan untuk merealisasikan segala rencana yang telah tersusun rapi di awal.

Amanah kerja sebagai Asisten laboratorium memerintahkanku untuk mendampingi setiap kelompok praktikum mata kuliah tertentu tepat 26 Mei lalu. Semua partner kerja tak ada yang bisa dilobi untuk menggantikan tugasku hari itu. Terpaksa kutinggalkan Muktamar Khilafah di Surabaya, meninggalkannya pun bukan karna inginku.

“Anti gak coba lobi temen-temen yang lain, Dek?” berbagai macam kalimat terlontarkan dari musyrifah¹ku malam sebelum fajar Ahad membuka gerbang MK² di Surabaya.

“Sudah, Mbak.. tapi ya begitulah, mau gimana lagi?” nada kepasrahan tergurat saat kulontarkan jawaban singkat nan padat itu padanya.

“Emh… ya kemungkinan terburuk anti gak bisa ikut MK,” sambil menyandarkan badannya diantara sofa-sofa empuk itu. Semua upaya telah dikerahkan, pragmatisme langsung kunobatkan sebagai biang keroknya.

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

 

(¹) Musyrifah   : Pembimbing dalam suatu organisasi islam yang menjadi pembina pada kegiatan mengaji kitab, mutaba’ah, dan lain sebagainya.

(²) MK              : Muktamar Khilafah

-------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------------

26 Mei berlalu. Dahaga dan rasa lapar menghantam tubuhku dibalik panasnya matahari menyengat siang itu. Lagi-lagi aku sedang mendampingi adik-adik tingkat melaksanakan praktikumnya pada siswa Sekolah Dasar di sebuah desa nun jauh ke pedalaman. Sedari pagi organ pencernaanku belum terisikan makanan maupun seteguk air, maka makin tak bersemangatlah kuikuti kegiatan itu. Segera kucari tempat yang sedikit agak rindang demi dapatkan sedikit hempasan angin segar.

“Ah, tiga hari lagi MK Jakarta..” spontan wajahku tertunduk lemas mengingat jadwal MK Jakarta yang makin dekat di pelupuk mata. Tapi apa yang bisa kulakukan? Bahkan aku hanya sanggup membayangkannya, berkutat dalam imajinasi semu saja.

Sedang asyik berkhayal sampai ke Gelora Bung Karno, sebuah pesan masuk menghampiri hapeku. Tepat H 4 pasca MK Surabaya, seorang teman menghubungiku via sms.

Antum kok sama sekali gak ikut MK tahun ini? Memangnya dari Malang ke Jakarta berapa sih ongkosnya, ukh? Apa anti gak pengen ketemu Ust Ismail Yusanto, Hafidz Abdurrahman, dll?

“Darimana orang ini tau aku gak ikut MK?” membaca es-em-es itu buatku heran dan penasaran.

Tanpa banyak tanya, langsung kubalasi pesan seorang saudari di seberang sana.

Ust Ismail beberapa hari lalu abis dari kampus ana, Ust Hafidz juga sudah pernah ke Malang. Ana masih sedih sampai sekarang karna gak bisa ikut MK, ukh.. Tapi ana juga gak mungkin bisa ke Jakarta, afwan…

Inilah balasan sms-nya yang refleks membuatku menangis seketika:

Yang dari jauh aja rela ke GBK, kenapa antum yang deket malah nggak bisa?

Kalimat itu seolah menyindirku dengan sangat halus. Tanpa pikir panjang, lekas kuhubungi musyrifahku. Sekedar memastikan tersisanya tiket MK ke Stadion GBK, berharap semoga masih ada. Kepastian sudah di tangan, tiket masih disediakan dan aku masih berangan-angan tak menentu. Apakah cukup uangku untuk ke Jakarta? Bagaimana jika nanti setelah dari Jakarta keuanganku makin menipis? Semua pertanyaan itu membelenggu otakku, memeras sistem saraf yang tak jelas arah muaranya. Tapi terlanjur, aqod sudah dibuat dan tak bisa dilanggar. Tiket yang sudah terpesan tak mungkin hangus hanya karna persoalan uang.

“Baiklah, aku berangkat…” kumantapkan niat sambil terus mengharap besar pertolongan Alloh.

***

Tas ransel dan seplastik makanan minuman sudah dalam genggaman. Kukejar angkutan umum yang akan membawaku ke stasiun kereta. Sedikit terlambat memang, karna aku harus menunggu kedatangan seorang teman yang kabarnya hendak membekaliku sedikit makanan selama di perjalanan. Alhamdulillah. Setidaknya, menghemat biaya makan selama di kereta.

“Ini jalan ke arah stasiun katanya macet total, Mbak… Ada pawai drumband..” sontak pemberitahuan sopir angkot itu menambah was-was semua penumpang. Termasuk aku dan beberapa orang teman yang sama-sama akan mengikuti MK di Jakarta.

“Terus gimana, Pak?” hanya itulah yang kami tanyakan padanya. Berharap solusi pasti darinya.

“Nanti ya turun di perempatan lampu merah, terus jalan kaki sampai stasiun..”

“Heh?! Waduh… jauh banget!” komentar penumpang lain yang terlihat makin panik.

“Wah lumayan itu kalau jalan kaki, juauh rek…” penumpang lain pun menimpali satu per satu.

“Tapi ya mau gimana lagi, kalau nggak ya kita bakal ketinggalan kereta..” hampir tak ada penumpang yang tak mengomentari, semuanya sibuk ber-statement ria. Aku pun terdiam, bermunajat semoga Alloh berikan pertolongan agar jadwal keberangkatan kereta api tertunda beberapa menit kedepan.

Alhasil, kami harus berjalan kaki mengejar kereta. Barang bawaan yang terlalu berat tak mematahkan tekad sampai di stasiun yang jaraknya sekitar satu kilometer. Tak peduli peluh keringat dan rasa haus yang menyerang tenggorokan, stamina tubuh mulai melemah pun tak kuhiraukan. Semua terus berlari menuju tujuan, tanpa berpikir ratusan kali kami terus berlarian di jalanan. Semua mata tertuju pada kami yang terlihat panik membelah jalanan. Motor patroli polisi pun kami abaikan, terus saja menyeberang dan memotong jalan para pengguna motor. “Ayo cepat, lima belas menit lagi keretanya berangkat!” teriak seorang Polisi berseragam lengkap mengingatkanku bahwa jam sudah menunjukkan pukul empat sore lebih. Sedangkan jadwal keberangkatan kereta tepat pukul empat sore itu.

“Tapi kenapa Pak Polisi itu bilang lima belas menit lagi? Bukannya kami sudah ketinggalan kereta??” pertanyaan itu terus menggelayut di pikiranku.

Aku tau mungkin kereta sudah berangkat, tapi kami terus berlari berharap kereta menunda keberangkatan beberapa menit. Persis seperti ucapan Pak Polisi itu.

“Dirasanya jalanan ini punyanya sendiri apa?!” kalimat kesal itu kulayangkan ketika sampai di tengah-tengah peserta drumband yang sedang melakukan aksi pawainya. Kerumunan mereka pun kami lewati, tak peduli disorot ratusan mata memandang ke arah kami.

Sebuah pancaran mulai mengobati lelah setelah berlarian sekian meter. Pancaran wajah para petugas kereta yang menunggu di pintu masuk keberangkatan. Semua melihat ke arah kami, meminta agar mempercepat langkah.

“Ayo cepat.. cepat masuk…” tiba di gerbong kereta, kelelahan itu terbayarkan dengan setetes air mata meleleh di pipiku. Betapa lega jiwa raga telah terduduk diantara kursi dalam kereta.

“Alhamdulillaah…” kini kereta telah melaju, semoga terus melabuh sampai Jakarta.

Stasiun Pasar Senen menyambut kedatangan kami esok siangnya. Begitu panasnya hawa Jakarta, orang-orang bertumpah ruah di sekitar stasiun. Keramaian dan hingar-bingarnya membuatku pusing, memang begitulah suasana di stasiun kereta manapun. Termasuk stasiun terakhir yang menjadi tempat pemberhentian kami. Selamat datang di Jakarta!

Metro mini telah berhasil kami masuki, rombongan sebanyak 17 orang telah duduk manis di kursinya masing-masing. Kunikmati suasana Jakarta dari jendela metro mini yang sedikit pengap, tapi ternyata suasana diluar metro mini jauh lebih pengap. Seperti itulah wajah buruk Kota Metropolitan, Jakarta. Gedung-gedung pencakar langit yang tinggi dan megah-megah membuatku semakin gerah. Tak ada keadilan merata di negeri ini. Dibalik gedung-gedung tinggi, kolong-kolong jembatan masih tampak dan rakyat yang pakaiannya compang-camping masih banyak kutemui. Rumah-rumah tak layak huni jadi incaran mataku. Mata-mata berhasil menangkap setiap ruas jalan sampai seorang pengamen mengejutkan kegerahanku.

“Bang beli bawang, beli bawang gak pake kulit. Bang jadi orang, jadi orang jangan pelit-pelit. Mbak beli batik, beli batik warnanya merah. Mbak mbak cantik..” tak kuingat jelas lirik lagu yang dia nyanyikan. Lirik lagunya seolah menyindir tajam para penumpang agar berbelas kasihan untuk menyedekahkan sedikit rezekinya. Dengarlah para kapitalis, mereka hanya meminta sedikit haknya. Tidak banyak dan tidak lebih, jangan berpelit-pelit pada kaum marginal. Mereka meminta bagian rezekinya yang telah kau rampas dari dulu hingga saat ini.

Seorang anak kecil yang usianya sekitar 12 tahun itu membuat rombongan kami terenyuh, bahkan ada yang sampai menangis haru mendengarkan lagu yang ia nyanyikan. Wajahnya menyimpan guratan takdir, penuh derita yang tak sanggup ia sampaikan pada siapapun. Wajah lugu itu seolah telah keras membanting tulangnya, begitu legam. Wajah manisnya buatku tak sanggup berlama-lama melihatnya. Ingin kupalingkan muka, tapi serasa ingin tangan-tangan ini memeluk erat tubuhnya. Ingin kucakar wajah kapitalis negeri ini. Aarkh! “Inilah dampak dari kapitalisme…” salah seorang rombongan menyadarkan lamunanku.

Duhai para kapitalis, tegakah kalian lihat wajah anak-anak kecil yang menanggung deritanya seorang diri? Dimana kalian para kapitalis??? Aku telah sampai di Jakarta, ingin kusaksikan wajah-wajah kalian yang putih berseri dibaluti terangnya uang rakyat yang telah kalian monopoli sendiri. Apakah di gedung-gedung bertingkat itu kalian sedang bertengger??

Kulihat ke bagian paling belakang tempat kernet berdiri. Penampilannya bak preman pasar lengkap dengan accessories ala anak punk gadungan. Spontan rasa takut membayang melihat gaya si kernet yang seperti pelaku kriminal itu. Aku tetap waspada sambil terus mengamati wajah Jakarta dari balik jendela Metro Mini yang kami tumpangi. Ternyata Jakarta tidaklah seindah di tivi-tivi. Wajah Jakarta jauh lebih buruk dalam dunia nyatanya, ia hanya indah dalam dunia maya saja. Tak kusangka itulah wajah Jakarta yang sesungguhnya. Layakkah ia dijadikan pusat pemerintahan, sedangkan rakyat disana justru terpinggirkan? Fyuh…

Oh, Jakarta! Rasanya aku tak ingin kembali lagi jika sudah tau keadaanmu yang sebenarnya. Tapi sudahlah, niat ke Jakarta semata untuk ikut MK bukan yang lain. Abaikan sejenak kebencian akan Jakarta yang fiktif akan keindahannya, abaikan sebentar.

“Lho kok bau banget ya… mana panas lagi.. aduuuhh…” bagaimana tidak, setiap gang yang kami susuri penuh dengan sampah berserakan di setiap sudutnya. Kalaupun bersih dari sampah, toh tetap bau selokan itu menyengat mengganggu pernapasanku. Tak berani berkomentar lantang, aku hanya sibuk berargumen dalam hati. Benar-benar pusing dengan bau yang tak sedap itu.

“Setiap hari memang begini, kami sudah biasa.. soalnya banyak limbah pabrik juga disekitar sini…” begitulah jawaban yang kutunggu dari teman-teman yang kami tumpangi kontrakannya.

Ya. Inilah kapitalisme di negeri para penikmat demokrasi. Semua gedung bertingkat itu mereka bangun tanpa memikirkan hak hidup dan keamanan serta kenyamanan rakyatnya. Mereka bangun gedung berlantai-lantai dimana-mana, sekalipun berdekatan rumah-rumah penduduk. Padahal daerah tempat kami menginap aksesnya sangat dekat dengan salah satu kampus yang cukup populer di Jakarta. Seharusnya, para kapitalis tidak seenaknya membangun kepentingan busuk di area tempat tinggal sekaligus tempat studi kaum intelektual. Apakah lahan di Jakarta sudah tidak ada yang kosong sehingga para kapitalis sewenang-wenang bercokol disana-sini? Aduhai kapitalis, merekalah para pemilik modal yang teruntungkan dengan asset-aset menggiurkan, tapi mereka rugikan ummat sejagad raya bertahun-tahun.

“Panasnya ini bukan panas karna matahari, toh kita mau mandi berkali-kali juga bakal tetep aja panas… soalnya panasnya ini gak bagus buat kulit,”

“He’em.. ini panas karna limbah pabrik, gak bagus buat kesehatan..”

Masing-masing orang menganalisa hawa panas yang kami rasakan siang, sore, malam bahkan sampai fajar shubuh menyingsing panas itu masih terasa.

“Apakah panas di Rawamangun ini kita temui juga di Istana Negara?” aku berbisik lirih dalam hati. Kelurahan Rawamangun yang kami tinggali sementara memang tercatat sebagai lokasi langganan banjir, bagaimana dengan gedung-gedung tinggi itu? Sangat jauh perbedaan Jakarta dengan Malang yang lumayan masih segar udaranya dan masih dapat kami nikmati udara dinginnya. Aku merindukan Kota Malang yang udaranya masih cukup asri dan menyejukkan.

“Ya pengen sih ke Malang, katanya disana dingin ya.. tapi kan jantung dakwah itu ada di Jakarta… pusatnya ada disini, Mbak..” benar memang, jantung dakwah penegakan syariah khilafah itu berada di Jakarta. Lebih bagus menggerakkan 1 orang di kota daripada di desa. Karna nanti 1 orang dari kota itulah yang akan menggerakkan seisi desa. Analogi yang brillian terlontar dari semangat dakwah rekan-rekan di Jakarta. Mendengar pernyataan itu, rasanya kebencianku pada wajah Jakarta mencair. Aku justru ingin menjadi bagian dari pejuang islam di Kota Metropolis itu, negerinya para kapitalis bertahta. Iri dengan semangat dakwah mereka meski setiap waktu harus berhadapan dengan bau selokan, panasnya suhu udara dan karakter warga Jakarta yang masih terlena akan pesona dunianya.

Ah, kecemburuan mengalir deras ke seluruh rongga nafasku. Di jantung dakwah, semangat juang itu makin terasa nikmat. Kesehatan tubuh atau keindahan kulit bukanlah ukuran perjuangan, melainkan gelora dakwah yang akan mampu menggetarkan seisi jantung kota adalah dambaan setiap insan pendakwah. Aku cemburu pada para bidadari cantik itu, mereka terus menggeliat meski raga sudah tak terpenuhi haknya. Mereka songsong perubahan besar dakwah di pusat dakwah, agar kapitalis liberal dan antek-anteknya terusir dari situ.

Aku bangga pada para pejuang di jantung dakwah bumi maritim ini. Disanalah perubahan besar dunia menuju khilafah akan makin menggaung ke seantero penghuninya. Bersiaplah para kapitalis, para pejuang syariah khilafah akan menggoncangkan keangkuhan dan kesombongan kalian. Gedung-gedung pemakan hak rakyat itu akan dipenuhi dengan opini perjuangan syariah khilafah, agar hati-hati kalian bertekuk lutut pada hak rakyat yang telah kalian tindas semena-mena.

Rasanya 2001 silam Jakarta tetap sama saja sampai 2013 tiba. Pertama kali ke Jakarta tahun 2001 itu pun rasanya aku sudah mulai menyaksikan wajah Jakarta yang busuk, bahkan kini pun wajah itu makin busuk. Bundaran Hotel Indonesia itu menghadirkan guratan senyum di wajahku. Suatu saat ia akan tergantikan dengan deretan liwa royah. Suatu hari nanti di pucuk Monas akan berkibar liwa royah ummat islam. Liwa royah adalah bendera tauhid ummat islam. “Hahaa… ini tusuk gigi apa pucuknya Monas ya?” semua sibuk mengambil foto Monas dari kejauhan, walhasil kamera fokus pada pucuk Monas yang tampak terlihat seperti sebatang tusuk gigi. Berbeda nanti jika liwa royah yang berkibar di seluruh pekarangan sekitar Monas, tentu pemandangan yang luar biasa. Tapi kenikmatan semu itu berhasil kami nikmati di sepanjang jalan menuju GBK. Deretan liwa royah menentramkan hati-hati yang sempat gersang akan keburukan Jakarta, spanduk dan baliho-baliho Muktamar Khilafah menghilangkan kepenatan kami akan kebusukan Jakarta. Subhanalloh… indahnya liwa royah itu menyambut kedatangan kami sampai di Gelora terbesar se-Jakarta. Selamat datang di GBK!

“Eh.. dari tadi nggak denger apa?!” teriak seorang Polisi dengan tubuhnya yang tegap bin keker meneriaki sopir angkot yang kami tumpangi. Sampai didalam halaman GBK yang begitu luas, kami sudah dijamu dengan teriakan Pak Polisi yang sangat tidak ramah. Kendaraan yang hendak parkir memang padat, masing-masing butuh waktu memarkir kendaraannya. Rupanya sopir angkot yang kami tumpangi angkutan umumnya dimarahi Polisi tadi karna tidak mendengarkan perintah untuk parkir ke arah timur GBK.

“Emh.. Ya Alloh, Jakarta.. Jakarta…” kami semua mengurut dada melihat keangkuhan Polisi itu. Andai saja ia bisa lebih bersabar. Ya begitulah jika para angkatan militer tidak ada ruh keimanan dalam hatinya, maka siapapun dihentak sesuka hati. Berbeda dengan para angkatan bersenjata dalam Negara Khilafah Islam yang senantiasa melekat ruh keimanan dalam dada-dada mereka.

Telah sampai di tempat parkir, Pak sopir hendak menurunkan kami didepan pintu samping GBK. Belum sempurna mobil terparkir, kami kembali terkena semprotan kedua kalinya.

“Eh! Sana parkir disana! Disini tempat saya!!” lahan parkir doang pakai jadi rebutan segala, sungguh kasihan. Seorang Bapak tua yang usianya sekitar 60 tahun menghalangi jalan kami. Akhirnya kami pun bergegas berlomba turun dari angkot dan berlari menuju gerbang GBK. Belum jauh kami melangkah, terlihat sebuah mobil avanza kinclong terparkir leluasa di tempat tadi kami diturunkan angkot. Begitu ramahnya Pak Tua itu pada pengemudi avanza, tapi mengapa ia sangat ketus pada pengemudi dan awak angkot? Masya Alloh... sungguh ironi wajah Jakartaku. Pak Tua dan Pak Polisi itu tak lagi segan pada kami. Sangat berbeda dengan petugas kereta dan Polisi di jalanan Kota Malang yang justru menyemangati kami saat berlarian menuju stasiun Kota Baru, Malang.

Pemandangan aneh belum selesai sampai disitu. Begitu kami masuk melalui gerbang samping GBK, puluhan warga Jakarta dengan busana-busana senamnya telah menyambut mata-mata kami yang berjilbab dan berkerudung sesuai yang islam perintahkan. Kami yang berjalan dengan membawa atribut bendera liwa royah menjadi pemandangan langka bagi mereka. Mataku gerah menyaksikan didalam halaman GBK orang-orang dengan celana senam, baju-baju ketat, dan pinggul pinggang yang digoyangkan ke kanan kiri. Semua peserta senam patuh pada instruksi si instruktur senam, bahkan tak jarang kami temui wanita-wanita berkerudung yang ikut hanyut dalam gerakan-gerakan senam itu. Ironis sekali suasana pagi itu.

Hatiku menangis melihat suasana diluar GBK. Didalam stadion akan berlangsung sebuah perhelatan akbar Muktamar Khilafah, tetapi diluar stadion justru pemandangan tubuh-tubuh sexy itulah yang dipertontonkan pada kami. Alangkah lucunya negeri ini! Begitulah peradaban Barat telah mempengaruhi peradaban ummat islam di seluruh penjuru dunia. Negeri Barat telah sukses menjadikan ummat islam di Indonesia terjajah dengan gaya hidup dan pakaian modern yang menampakkan lekuk tubuh aurat mereka. Aurat itu dipertontonkan di tengah-tengah kami yang berjilbab dan berkerudung lebar. Begitulah wajibnya muslimah membungkus auratnya, bukan menghias dan mendesain sedemikian rupa.

Sesampai di depan stadion GBK, kami bertemu rombongan nisa’ Universitas Indonesia. Bertemu para pejuang syariah khilafah yang begitu khidmat memekikkan takbir. Pejuang khilafah dari Jabodetabek, Jawa, Sulawesi, Sumatra, Kalimantan, Batam, bahkan sampai Malaysia pun riuh memekikkan takbir. Belum masuk kedalam GBK saja suasana perjuangan itu sudah jelas terasa.

“Wah bener-bener rugi kalau kemarin kita nggak jadi kesini… sedangkan yang dari Malaysia aja juga ikut..” ungkap seorang rombongan menghantam bathinku. Ya. Andai saja aku tak disini, mungkin penyesalan bertubi-tubi lah yang membersamai kemudian. Alhamdulillah wasyukurillah… Alloh berikan kesempatan emas berkumpul bersama mereka.

Sudah tak sabar menanti jam menunjukkan pukul 7.30 agar kami segera diperbolehkan masuk kedalam GBK. Panitia sungguh bersemangat menyambut kedatangan setiap peserta yang datang. Semua disambutnya dengan ramah tamah dan pekikan takbir, kami pun tak kuasa untuk tidak bertakbir atas perjuangan emas itu. Sambutlah raga kami, GBK!

Kaki-kaki kami mulai melangkah kedalam stadion. Terbelalak mata-mata kami menyaksikan stadion yang begitu besar menampung 120 ribu ummat. Kelelahan di perjalanan terobati dengan suguhan yang sangat menakjubkan begitu MK hendak dimulai. Kobaran api merah saga membuka opening ceremony MK di pagi yang cerah itu. Semua peserta di setiap tribun penuh sesak memadati stadion Gelora Bung Karno, Jakarta. Aku tak mampu berkata-kata menyaksikan ratusan ribu ummat telah siap mengikuti acara sampai akhir.

Makin tak kuasa menahan tangis ketika satu per satu para tokoh ulama’ dari beberapa Negara memberikan testimonial dan pidato politiknya. Sampailah pada Ustadz Abdul Mo’men dari Yaman, aku begitu terpukau. Begitu ia berdiri didepan mimbar, refleks komentar-komentar bernada genit muncul menghantui otakku.

“Maasyaa Alloh… ganteng banget ustadz ini, masih muda banget. Yaa Alloh.. pasti luar biasa banget muslimah yang bisa jadi ma’mumnya, pasti juga gak kalah cantik tuh istri beliau,” komentar nakal bermunculan di arena bathinku. Tentram rasanya menyaksikan beliau berorasi. “Antum turid Democratic?!” terkaget aku begitu ia lontarkan pertanyaan itu. Spontan aku tersadarkan dari lamunanku, tapi rasanya ratusan ribu ummat di GBK saat itu juga tengah tak sadar dengan pertanyaan yang beliau lontarkan. Terbukti semua terdiam, tak satu pun menjawab. Entah karna tak paham bahasa Arab ataukah sedang melamunkan dan memikirkan wajah Ustadz Abdul Mo’men juga?

Melihat kekhusyu’an peserta MK yang tidak bergeming, beliau pun kemudian tersenyum simpul melanjutkan pertanyaannya kembali. “Antum turid Khilafah??” (baca: Kamu ingin Khilafah?)

Aku dan teman-teman yang mulai tersadar segera menimpali, “Na’am!”  alias ‘IYA’.

Ia sambung lagi, “Antum turid Daulah Kufur?” (baca: Kamu sekalian ingin Negara kufur?)

“Laa’!” penuh gairah kami lontarkan jawaban itu. Kami tak butuh Daulah Kufur penjajah. NO!

“Antum turid Daulah Madanii?!” (baca: Kamu sekalian ingin Negara Madani?)

Aku pun samar-samar mendengarnya, pasalnya telingaku bukan telinga Timur Tengah yang terbiasa mendengarkan dialog berbasahasa Arab. Yang jelas kami serempak menjawab ‘Tidak.’

“Laa’!!” Kami memang tak sama sekali inginkan Negara Kufur, Negara Islam Madani atau apapun yang dibaluti islam. Kami hanya inginkan Khilafah yang kaaffah, tidak dibungkus apapun agar terlihat cantik. Kami butuh institusi yang jujur membawa perubahannya, yang konsisten melajukan arah geraknya, bukan iming-iming Negara Madani yang indah di awal namun bobrok ujungnya. Bukan itu yang kami idamkan. Apalagi jika ditawari demokrasi islam, akan kami tolak mentah-mentah. Kurang lebih kemudian beliau tanyakan ‘Apa yang kami dan ummat inginkan?’

“Khilafah… Khilafah... Khilafah…” itulah jawaban ummat yang memenuhi stadion GBK, menggemparkan telinga-telinga para penguasa agar mereka bangun melihat perjuangan ummat islam. Saksikanlah, Yaa Alloh! Kami tegak diatas syariatMU, kami kokoh diatas pilar islam. Kami agungkan syariatMU yang mulia, kami tak butuh ditawari institusi yang lain selain syariah khilafah yang sempurna dalam naungan Khilafah Islamiyah.

Dan sang jagoan selalu tampil terakhir dari yang lain. Ustadz Hisham Al Babha, tokoh pejuang syariah khilafah dari bumi Syam. Ia melintasi jalur Suriah hingga sampai ke Indonesia, kini tepat didepan mata-mata kami. Ia telah berdiri diatas panggung GBK, mengingatkan kami akan perjuangan ummat islam di Suriah yang enggan ditawari demokrasi islam atau Negara islam madani sekalipun. Mereka hanya inginkan satu sistem. Khilafah Islamiyah.

Duhai, Jakarta! Seluruh ummat sedunia telah berkumpul di Geloramu, maka restuilah perjuangan kami. Selamat datang, para pejuang khilafah di bumi para kapitalis! Ahlan wa sahlan, ya hamiluddakwah! Welcome to Jakarta, selamatkan Indonesia dengan Syariah Khilafah.

Dilihat 81