Merespon Dengan Pena

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Politik
dipublikasikan 28 Januari 2017
Merespon Dengan Pena

Tulisan ini untuk menanggapi pertanyaan yang diluncurkan pada saya : Sejak kapan konflik di Palestina terjadi, kemudian apa solusi untuk menghentikannya?

Sebenarnya saya agak malas menjawab pertanyaan ini. Kalau bisa, saya ingin langsung saja menyarankan membeli buku Syaikh Abdul Qadim Zhallum ‘Malapetaka Runtuhnya Khilafah’. Kalau boleh jujur, saya hanya bertahan membaca buku tersebut sampai pada bab ke-2 saja. Padahal didalam buku nan spektakuler itu ada sekitar 20 bab yang berisikan tentang sejarah awal mula runtuhnya khilafah. Yang membuat saya tak ingin melanjutkan bacaan adalah kemirisan fakta yang dituturkan Syaikh Abdul Qadim Zhallum secara gamblang dan detail. Rasanya saya tak ingin berlama-lama membaca sejarah keruntuhan ummul fara’idh, induk segala kewajiban ummat islam. Apa yang saya maksud dengan ummul fara’idh?

Induk terjadinya semua persoalan saat ini adalah ketiadaan khilafah islamiyah, yaitu  sebuah konstitusi pemerintahan islam yang menjalankan seluruh kewajiban ummat islam dan memastikan terlaksananya atas individu, masyarakat maupun dalam pemerintahan. Maka dipastikan tak ada ummat yang santai tinggalkan sholat, lalai menutup auratnya, atau berlepas dari kewajiban lakukan qishosh atas kasus pembunuhan. Dan ketika khilafah telah runtuh, tentu kewajiban-kewajiban apapun mulai tertinggalkan. Bisa dilihat saat ini, berapa persen ummat islam yang sholat lima waktu? Berapa persen wanita islam yang berhijab secara sempurna sesuai syari’at islam? Berapa persen kaum muslim yang laksanakan hukum islam secara menyeluruh? *Silahkan anda jawab sendiri*

Induknya ummat islam saat ini telah tiada, sehingga tidak ada yang menjamin keamanan dan kemuliaan ummat. Tak ada lagi seorang khalifah sebagai pemimpin ummat yang sanggup melindungi kehormatan serta memberikan kesejahteraan ummat. Induknya itu telah tergantikan oleh Nation State. Negara bangsa telah mengkotak-kotakkan negeri muslim yang sebelumnya telah tertaklukkan para mujahid. Konsep Negara bangsa ini kemudian menjadikan ummat terbagi dalam bagian-bagian teritorialnya masing-masing, sehingga muncul berpuluh-puluh  bahkan  ratusan Negara bagian di dunia saat ini. Akhirnya wajar saja jika Indonesia pun terpecah menjadi 2 Negara, NKRI dan Timor Leste. Kita patut heran, ‘katanya’ pada berjiwa Nasionalis. Tapi saat Timor-Timor meminta melepaskan diri, hanya segelintir saja yang berusaha membujuk mereka dan pemerintah untuk tetap bertahan. Kemana jiwa nasionalisme itu? Hem.. gerakan-gerakan islam lah yang paling getol mempertahankannya, karna memang Indonesia ini adalah bagian dari negeri islam, maka sejengkal tanah pun tak boleh diberikan pada selainnya.

Ya, begitulah konsep Negara bangsa ini telah meluluhlantakkan ukhuwah islamiyah yang telah terekat selama ribuan tahun. Bahkan konon cerita, wali songo yang selama ini kita kenal ternyata merupakan wali yang dikirim Khalifah untuk menyebarluaskan islam di tanah jawa. Dari merekalah ummat mengenal islam, sampai sempat menerapkan syariat islam di bumi pertiwi. Termasuk Pangeran Diponegoro, Kesultanan Aceh, Antasari, dan seterusnya. Mereka semualah yang pernah melaksanakan syariat islam di bumi maritim ini, sebelum akhirnya Indonesia bertekuk lutut pada kolonial. Saat itu slogan para pahlawan adalah “Merdeka atau Mati”. Merdeka dari penghambaan kepada manusia menuju penghambaan hanya kepada Sang Khalik, atau Mati demi tegakkan kalimatullaah. Begitulah cara mereka berjihad, jadi jangan pernah salah menafsirkan arti perjuangan para pahlawan di bumi ini. Mereka berjuang bukan untuk membentuk Indonesia yang nasionalis, melainkan ingin menciptakan Indonesia sebagai bagian dari negeri muslim penerap syari’ah. Namun terlalu kuat serangan kolonial, sehingga seluruh upaya ulama’ negeri ini tetap tak mampu jadikan Indonesia sebagai Daarul Islam. Akan tetapi, upaya mereka tersebut bisa terlihat dari beberapa hasil perundang-undangan saja. Seperti sila pertama Pancasila, Ketuhanan Yang Maha Esa. Ini sudah jelas membuktikan bahwa Tuhan Yang Esa hanya Tuhan orang islam, maka sudah seharusnya asas negeri ini adalah islam. Selain itu, ada beberapa qonun atau undang-undang islam yang dimasukkan dalam UUD ’45. Namun seiring berjalannya waktu qonun-qonun islam tersebut mulai hilang, diubah dan direvisi sekehendak hati para wakil rakyat di parlemen. Inilah yang membuat demokrasi rusak, karna ia tak sesuai dengan fitrah manusia. Sampai kapanpun demokrasi tak akan pernah sesuai dengan syari’at islam. Maka jika ada yang menginginkan demokrasi islam, sungguh akalnya telah jauh dari nalar. Akal bukan hanya digunakan untuk berpikir, melainkan juga untuk menalar setiap peristiwa. Akal manusia terbatas, maka imanlah yang menghantarkannya pada segala kebaikan.

Sebagai ummat islam, mengimani seluruh nash Al Qur’an dan As Sunnah tentu lebih utama dibandingkan mendewakan akal dan nafsu untuk melegalisasi hukum. Parlemen bukanlah ajang untuk membuat hukum, karna menciptakan hukum hanya merupakan hak Alloh. Manusia hanya wajib menjalankan, maksimal dan optimal atas penerapan hukum Alloh saja. Manusia tidak punya hak sama sekali untuk merevisi hukum Alloh atau menciptakan rancangan undang-undang baru lainnya selain qonun islam.

Kita harus cerdas! Ketahuilah, ketika pertama kali demokrasi kapitalis memberikan hak kepada manusia untuk menentukan hukum, maka saat itulah negeri-negeri muslim terdzholimi. Palestina, Bosnia, Pakistan, Irak, dan seterusnya. Negeri-negeri muslim menjadi santapan para penjajah kolonialis yang tak akan pernah rela islam memimpin mereka di muka bumi. Tak ada lagi khalifah yang melindungi keamanan negeri kaum muslim seperti Palestina, sehingga negeri para syuhada’ itu mulai diperangi kaum kafir sesuka hati mereka.

Israel yang orang-orangnya merupakan keturunan Yahudi tidak pernah punya tempat tinggal di muka bumi ini. Bahkan dalam Al Qur’an, Alloh telah ceritakan kesombongan, keangkuhan, dan segala sifat buruk mereka yang diwariskan turun-temurun. Israel memang tidak pernah memiliki wilayah resmi tempat mereka berpijak. Di negerinya ummat islam mereka diusir, lalu mereka pindah ke negeri lain. Begitu juga di negeri-negeri Barat mereka berbuat kerusakan, lalu mereka kembali diusir. Sehingga tak ada habisnya sampai mereka hanya inginkan Palestina sebagai negeri yang siap mereka curi. Saat itulah Palestina di bombardir dari segala arah, Israel kuatkan kekuatannya melalui PBB. Mereka masukkan orang-orangnya didalam PBB demi mewujudkan setiap tujuan anak-cucunya. Sungguh telah tergambar kisah kaum ini dalam berbagai sejarah, sehingga mereka tidak layak untuk memimpin negeri ini. Akan tetapi, taukah antunna semua? Amerika yang saat ini dipimpin Obama, beliau adalah keturunan Yahudi yang melanjutkan visi misi rekan sebelumnya, yaitu George W. Bush untuk menciptakan tatanan dunia baru dalam Dunia Pesanan Asing ‘World  of Order’. Inilah dunia pesanan para kaum kafir, maka kemudian terbentuklah sebuah gerakan rahasia yang bernamakan ILLUMINATI. Jika antunna sering membaca seputar gerakan ini, sebenarnya tujuan mereka adalah untuk mewujudkan visi misi Dajjal Si Mata Satu. Saya yakin semua pasti pernah mendengar kisah tentang akan datangnya seseorang yang sudah ditunggu kaum ILLUMINATI, yaitu Dajjal. Kepada Dajjal lah kelak akan mereka persembahkan dunia yang telah rusak, maka inilah sesungguhnya dunia pesanan asing. Indonesia yang katanya mayoritas muslim telah sukses dikafirkan oleh asing, budaya barat telah menjadi gaya hidup pemudanya. Makanan non halal, pakaian, hiburan, semuanya adalah pesanan dunia asing.

Mari saya ceritakan tentang seorang munafik, pengkhianat ummat islam. Namanya Mustafa Kemal Atthaturk, beliau adalah seorang muslim yang menjadi kaki tangan khalifah terakhir sebelum kekhilafahan turki utsmani runtuh. Khalifah Abdul Hamid II diusir dari negerinya, lalu Mustafa Kemal Atthaturk dan antek-anteknyalah yang berkuasa. Segala macam strategi mereka lakukan demi muluskan kehancuran khilafah islam. Mulai dari menyusupkan undang-udang barat, mengambil hati ummat islam, dan saat itu tak sadar ummat sudah masuk perangkap harimau. Apakah ini sepenuhnya merupakan kesalahan seorang khalifah? TIDAK. Sebab dalam sejarah kegemilangannya, islam memimpin dua per tiga dunia selama 1300 tahun, khalifah hampir tak pernah lakukan pelanggaran terhadap syari’at kecuali berasal dari kesalahan individu khalifahnya. Maka khilafah tak pernah salah, karna khilafah adalah institusi syari’ah yang disusun Nabi-Nabi atas petunjuk Alloh. Jika khilafah tak pernah salah, maka kemungkinan yang salah adalah individu yang berada dalam kekhilafahan. Itu mungkin saja, karna manusia tak luput dari salah dan khilaf. Namun kekhilafan yang khalifah lakukan tidak sampai melanggar hukum islam didalam kekhilafahan, melainkan hanya pada tataran individunya saja. Sehingga tidak ada dalih untuk menyalahkan atau menolak tegaknya khilafah, karna ia sesuatu yang pasti datangnya. Sesuatu yang pasti itu selalu dekat, seperti kematian. Rosulullah telah kabarkan berita gembira akan kembalinya khilafah ‘alaminhajjinnubuwwah (khilafah diatas manhaj keNabian) dan Alloh telah janjikan bahwa islam akan kembali memimpin (QS. An Nur:55). Bisyaroh Rosulullah dan Janji Alloh itu pasti, maka kedatangannya pun sungguh sangat dekat. Sehingga saat aroma khilafah akan runtuh, Syaikh Taqiyuddin An Nabhani mulai persiapkan sebuah partai politik yang akan memperjuangkan kembalinya. Terbukti pada tahun 1924 Masehi khilafah runtuh berkat kerjasama Mustafa Kemal dengan sekutu-sekutu asingnya, maka pada tahun 1953 sebuah gerakan pembebas dideklarasikan. Sejak saat itu sampai saat ini ia tersebar ke seluruh dunia, berada di garda terdepan mempersiapkan ummat untuk menuntut kembalinya khilafah yang suci. Sejak khilafah runtuh di Turki Utsmani, banyak bermunculan gerakan islam yang memiliki tujuan serupa. Tarbiyah misalnya, namun kemudian setiap haraqoh dakwah menempuh jalan berbeda. Jika Hizbut Tahrir menolak berada di parlemen dengan alasan-alasan tertentu, maka Tarbiyah memilih masuk ke parlemen. Intinya, semua kendaraan dakwah islam hanya ingin menerapkan kembali islam dalam bingkai syari’ah kaaffah. Maka marilah bekerja bersama ummat. Ada yang bertugas mendirikan pintunya, ada pula yang menyusun bangunannya, atau ada yang menguatkan. Kita tak boleh tinggal diam, mari ambil bagian bersama yang lain tuk satu suara demi kebangkitan islam yang mulia.

Solusi satu-satunya agar konflik di Palestina tidak berkelanjutan adalah dengan penerapan syari’ah kaaffah dalam naungan Daulah Khilafah Islamiyah. Dalam khilafah islam, khalifah memiliki tugas untuk melakukan jihad defensif dan opensif. Jihad opensif adalah jihad terang-terangan melalui peperangan fisik untuk membuat barisan musuh kocar-kacir (tidak bisa dilakukan karna saat ini tidak ada Daulah Khilafah Islamiyah), karna jihad opensif ini hanya kewajiban khalifah saat ada Daulah Khilafah. Jihad opensif ini dilakukan apabila ada negeri kafir yang tidak mau diajak menerapkan syariat islam, maka ia wajib diperangi. Sehingga Khilafah harus memastikan tidak ada satu pun negeri yang berhukum pada selain hukum islam, meskipun mayoritas rakyatnya non muslim. Namun sepanjang sejarah kegemilangan khilafah, seluruh non muslim berduyun-duyun masuk islam dan selalu berharap Negara mereka tertaklukkan oleh pejuang-pejuang islam. Mereka tak pernah ingin diatur dengan hukum selain islam, karna terbukti hukum yang dilakukan pemimpin Negara mereka tidak mampu menjamin kemuliaan, kehormatan, kesejahteraan, dan keamanan. Maka sampai saat ini ummat non muslim di negeri yang dulu pernah tertaklukkan oleh islam, mereka pun masih enggan diatur dengan sistem buatan manusia. Mereka malah lebih gentar menginginkan kembalinya Daulah Khilafah Islam, karna hanya institusi inilah yang mampu memenuhi segala hak mereka sebagai manusia. Karna itu, jihad opensif dalam khilafah bukanlah sesuatu yang keras, melainkan ia dilakukan agar pemimpin negeri kafir tidak berlama-lama menindas rakyatnya sendiri, agar mereka semua terlindungi dengan islam saja. So, jangan pernah beranggapan bahwa islam adalah agama yang mengajarkan kekerasan. Justru jihad dalam islam dilakukan untuk menghilangkan kekerasan, namun peperangan yang dilakukan kaum kafir adalah untuk memuaskan nafsu perang mereka. Mereka adalah orang-orang yang haus akan perang, sehingga wajar jika Israel pun menjarah Palestina melalui senjata. Akan tetapi Israel tidak pernah pergi dari bumi Palestina, karena mereka belum melihat perlawanan dari ummat islam atas penjajahan yang dilakukannya. Mereka sadar ummat islam tak mampu membela saudaranya di Palestina, maka mereka semakin menikmati nafsu binatangnya. Sungguh sebenarnya mereka sedang menanti perlawanan ummat islam saja, namun kita tak bisa bergerak berperang karna jihad opensif tidak boleh dilakukan tanpa adanya khilafah.

Nah, apa yang bisa dilakukan kemudian? Selanjutnya, jihad defensif adalah jihad yang dilakukan untuk mempertahankan diri, dilakukan pengiriman utusan atau tim ekspedisi untuk membela negeri islam yang terjajah semisal Palestina. Jihad defensif saat ini bisa dilakukan meski belum ada Daulah Khilafah, akan tetapi ormas islam sudah terlalu sering meminta pemimpin negeri ini untuk mengirimkan tentara muslim Indonesia berjihad membela ummat islam di Rohingya, Myanmar, dan lain-lain. Tanggapan pemimpin-pemimpin negeri ini datar-datar saja, karna ia telah mendapatkan gelar Ksatria Salib Agung dari kerajaan Inggris. Seorang Ksatria Salib Agung tentu hanya akan membela ummat Nasrani, bukan ummat islam. Maka wajar saja jika negeri ini hanya diam menyaksikan kaum muslimin terdzholimi di berbagai belahan dunia.

Beberapa ummat islam di Negara Eropa berbondong memasuki negeri-negeri islam yang tengah terdzholimi, bahkan ada beberapa ummat islam di Indonesia juga yang terpanggil untuk melakukan jihad bersama para mujahid lain di Timur Tengah. Namun apakah ini termasuk jihad defensif? Memang bisa dikatakan jihad menolong agama Alloh, membela saudara muslim yang didzholimi disana. Akan tetapi bukan termasuk jihad defensif, karna tidak dikirim oleh pemimpin negeri ini, melainkan atas dasar panggilan nurani. Jika berbicara panggilan nurani, saya juga ingin berjihad kesana. Namun, syari’at islam telah sedemikian rupa mengatur sampai perkara jihad. Logika sederhana, jika saya atau antunna berjihad ke Palestina – siapakah yang menjamin keselamatan, kemanan, kehormatan saya disana? Tidak ada, karna seorang pemimpin negeri ini tidak pernah mengutus saya berjihad, sehingga tidak ada jaminan darinya untuk melindungi keadaan saya di bumi jihad. Namun jika ummat islam berduyun-duyun membawa sandang pangan ke bumi jihad untuk didonasikan kepada saudara muslim disana, aktivitas ini disebut misi kemanusiaan. Pernah membaca sebuah buku yang berjudul Mavi Marmara, kapal yang membawa relawan dan barang-barang yang akan diberikan kepada rakyat Palestina? Sungguh berat usaha mereka untuk sampai di Palestina, berbagai serangan udara – laut – darat, mereka temui untuk sampai di lokasi. Ini dikarenakan tidak adanya jaminan utuh dari pemimpin negeri para relawan berasal, pemerintahnya tidak sama sekali mengutus mereka. Pemimpin-pemimpin negeri islam hanya diam tak berkutik dibawah ketiak PBB, manut ‘apa kata suara mayoritas’. Inilah buruknya demokrasi kapitalisme, keputusan ditentukan suara terbanyak, bukan berdasar kemaslahatan. Bobrok amat ya demokrasi, lebih biadab dari biadabnya binatang.

So, solusi pasti untuk Palestina adalah dengan penerapan syari’at islam dengan tegaknya Daulah Khilafah Islamiyah. Barulah akan bisa dilakukan jihad defensif maupun opensif. Lalu jika jihad defensif belum bisa dilakukan, apa yang harus diperbuat saat ini?

Ada tahapan tertentu yang ditabani oleh Hizbut Tahrir, mencontoh dari metode pendirian Daarul Islam pertama di Madinah. Rosulullah tidak masuk dalam parlemen Quraisy, melainkan melakukan pembinaan atau pengkaderan terhadap ummat (tatsqif). Dan salah satu tahapan tersebut adalah tholabunnushroh, meminta pertolongan kepada pemilik kekuatan dan kekuasaan. Mereka adalah para tentara, polisi militer, mujahid, dan pemilik tampuk kekuasaan yang akan menggulingkan rezim demokrasi. Tetapi, saat ini tholabunnushroh itu hanya baru tampak dari mereka yang memiliki kekuatan senjata dan fisik saja. Kemana pemegang-pemegang tampuk kekuasaan di parlemen demokrasi? Oh, sepertinya mereka sudah terlena dengan buaian demokrasi yang membuatnya makin kaya dan tak perlu mengganti dengan sistem khilafah. Padahal, demokrasi justru membuat mereka makin bangkrut dan tidak kembali modal setelah mengeluarkan biaya bermilyaran untuk meraih kursi. Wajar jika mereka belum mau keluar dari demokrasi, karna mereka masih ingin modalnya kembali. Akhirnya segala cara dilakukan agar modal itu cepat kembali pulang, by corruption or revisi undang-undang. Satu rancangan undang-undang ternyata membuat mereka makin kaya, karna membuat undang-undang di parlemen pun juga dibayar. Oh, lucunya negeriku ini! Sementara undang-undang yang mereka hasilkan adalah pesanan asing, sehingga jika makin jauh dari islam makin tinggi pula bayarannya. Tidak sadarkah mereka telah menggadaikan hukum Alloh? Maka barang siapa yang menukar hukum Alloh, memutuskan perkara dengan selain hukum islam, sesunggunya mereka telah fasik, dzholim, dan kafir. (Cek segera QS. Al-Ma’idah : 44, 46, 47).

Masih percaya demokrasi? Masih ingin menerapkan islam dengan masuk parlemen demokrasi? Padahal orang-orang muslim didalam parlemen demokrasi itu tidak mampu berbuat apa-apa, mereka layaknya budak yang tunduk patuh pada perintah atasan. Selamanya demokrasi tidak akan mampu menyelamatkan Palestina dan ngeri-negeri muslim yang tengah terdzholimi, justru akan semakin memperlancar kesewenangan kaum kafir mendzholimi ummat islam di seluruh dunia. Akhir-akhir ini saya jadi berpikir, dunia asing sepertinya sedang melakukan roadshow perang atas muslim. Mulai Suriah, Mali, Rohingya, Myanmar, lalu muslim daerah mana lagi yang akan mereka bantai? Apakah Indonesia selanjutnya?
-Inilah sistem buruk pemangsa rakyat, tinggalkan saja! Change with Khilafah!-

Note: Jika muncul pertanyaan lebih lanjut setelah membaca tulisan diatas, silahkan isi respon di kolom komentar.

  • view 82