Hijab For You

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Renungan
dipublikasikan 26 Januari 2017
Hijab For You

Hijab adalah kewajiban bagi seluruh ummat islam. Baik ikhwan maupun akhwat, muda atau tua, remaja atau dewasa, semua wajib berhijab. Nah, lho! Hijab artinya pembatas, hijab is space. So, hijab itu wajib membentengi para rijal maupun nisa’ dalam kehidupan sehari-hari. Ini menunjukkan bahwa hijab tidak hanya berkutat pada persoalan pakaian penutup aurat. Tetapi, hijab itu meliputi seluruh aktivitas tubuh dari ujung kepala sampai dengan ujung kaki. Hihii jangan kayak lagunya Peterpan ya, “kaki di kepala.. kepala di kaki”. Bayangin tuh gimana jadinya kalau misalkan kerudung dijadiin penutup kaki, sedangkan kaos kaki dijadiin penutup kepala??? Hem.. hijab seorang muslim tak pernah terbalik dalam pemaknaannya. Sehingga, saya merasa perlu menyampaikan definisi hijab yang sebenarnya dalam islam.

Kita mulai dari hijab yang berkaitan dengan pakaian mu’minat sekalian. Nah, silahkan  cek kitab Al Qur’an didalam surah An Nur: 31 dan Al Ahzab: 59. Dalam surah An Nur ayat 31 terdapat perintah bagi muslimah untuk mengenakan khimar. Cari deh di kamus-kamus bahasa Arab, atau langsung tanya aja sama orang Arabnya. Khimar itu artinya kerudung, penutup kepala sampai batas dada. Jadi, akhwat-akhwat yang pakai model kain paris, pashmina, dan seterusnya, itu namanya kerudung alias khimar. Remember, khimarnya kudu menutupi sampai batas dada lho.. kalau nggak, nanti bisa-bisa menyerupai kaum biarawati di gereja-gereja. Pernah liat gimana model kerudung biarawati, kan? Nah, kayak gitu tuh yang gak nutupin sampai batas dada. Dan Rosulullah Salallahu Alaihiwassalam melarang ummat islam menyerupai suatu kaum, apalagi dalam hal berpakaian. Hindari ya!

Sedangkan yang dimaksud jilbab dalam surah Al Ahzab ayat 59 adalah yang dihulurkan ke seluruh tubuh. Nggak percaya? Pantaskah kita meragukan isi kitab tersebut? Ehm… salah satu perintah Alloh Azza Wa Jalla didalam QS. Al Ahzab: 59  “Hai Nabi, katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu, dan istri-istri orang mukmin agar mereka mengulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka.” Terdapat kata “jilbab” yang kalau temen-temen cari di berbagai versi kamus bahasa Arab, artinya adalah yang menghulur sampai seluruh tubuh. Bahasa gaulnya tuh gamis, kalau bahasa resminya ya jubah. Eits! Gamis yang dimaksud disini bukan dasternya emak-emak atau gamisnya Tante Syahrini lho ya… Gamis yang syar’i alias jilbab itu haruslah longgar, tidak ketat dan transparan, tidak membentuk lekuk tubuh, dan yang pasti nggak tabarruj. Tabarruj itu berlebihan dalam berpenampilan, noh liat gamis-gamis yang renda en pernak-perniknya aja sampai sekilo beratnya.

Nah, kalau pakaian potongan itu nggak termasuk kategori jilbab. Potongan yang dimaksud disini semisal celana atau rok panjang dan baju berlengan panjang pula, karna pemakaiannya jelas terpisah dan tidak terhubung satu sama lain. Masih inget kan, jilbab itu konsepnya dihulurkan sampai ke seluruh tubuh. Para ulama’ berpendapat bahwa jilbab itu ibaratnya sebuah lorong yang tidak terputus. Nah kalau celana atau rok kemudian ditambahkan dengan baju atasan, itu tidak bisa dikatakan jilbab. So, jilbab itu harus tersambung ya…

Ukhtii, Alloh memerintahkan kita untuk berjilbab dan berkerudung sesuai syari’at islam agar terlindungi dan tidak diganggu oleh ulah-ulah jahil para lelaki. Apalagi kalau kita sedang lewat didepan gerombolan pria yang kurang menghormati muslimah, maka saya pastikan ukhti fillah bakal digangguin. Minimal disiulin, eh emangnya burung beo apa?! Atau paling banter ditegur dengan sapaan “Assalamu’alaikum”. Nah, kalau salamnya buat meremehkan sih itu namanya nggak menghargai pakaian yang kita pakai. Makanya, hijab seorang muslimah bukan sekedar terletak pada pakaiannya doang. Alloh perintahkan kita untuk menundukkan pandangan, agar terjaga selalu kemuliaan diri sebagai muslimah sholehah. Sehingga islam pun sangat menjaga interaksi antara pria dan wanita dalam semua hal, baik saat di lingkungan pendidikan, perniagaan di pasar, dan sebagainya.

Tapi, fakta dan realita menunjukkan bahwa pria dan wanita bebas tanpa batas berinteraksi ‘semau gue’ dalam semua lini. Coba deh tengok di angkutan umum semacam mikrolet atau bemo, laki-laki dan wanita bisa duduk bersebelahan berdampingan berjejer dan tersentuh kulitnya. Apa guna berjilbab jika masih saling bersentuhan dengan bukan mahrom? Nah, ternyata di lingkup publik saja hal-hal seperti ini masih sulit dilakukan. Sebabnya, saat ini ummat tidak lagi diatur dengan aturan islam. Coba tilik jauh ke masa lampau, saat seluruh syari’at islam diterapkan selama ribuan tahun dibawah kepemimpinan seorang Khalifah dalam naungan Negara Khilafah Islam. Semua jenis interaksi dijaga betul. Masya Alloh…

Well, islam mengatur hijab laki-laki dan perempuan dalam semua kancah kehidupan. Termasuk perkara campur-baur atau berkholwat. Sekarang ini kalau cewek-cewek lagi ngumpul, saya sering nemuin satu atau dua cowok ikutan nimbrung. Atau sebaliknya, diantara kumpulan pria terkadang kita temukan satu atau dua ceweknya ikutan ngumpul. Pantes aja sekarang banyak pria menyerupai wanita, bahkan wanita menyerupai pria. Pokoknya, yang menyerupai-menyerupai kaum lain itu dilarang dalam islam.

Nah, pria dan wanita hanya boleh bertemu dan berbicara pada situasi tertentu aja. Dalam keadaan yang memang syar’i dan bisa dipertanggungjawabkan. Contohnya, lagi ikutan pelatihan atau seminar, etc. Itupun harus tetap ada hijabnya lho, tetap ada orang ketiga yang mendampingi, dan jangan sampai melupakan hijab. Hijab itu pembatas yang membatasi, bukan berarti bebas tanpa batas. Budaya kaum kufur itu memang menganut kebebasan tanpa batasan, kan mereka tidak paham konsep keislaman. Lah, kalau kita yang sudah islam, jelas harus lebih paham dong dari mereka. Manifestasinya adalah dengan senantiasa menjaga hijab dalam berpakaian, bergaul, dan berinteraksi dengan non mahrom.

Bagi para akhwat, mulai disisihkan jatah sakunya untuk menjawab seruan Alloh dan sempurnakan hijab yuk! Menegakkan aturan Alloh yang selalu kita damba setiap waktu. Saya yakin sobat semua Insya Alloh benar-benar ingin berjilbab dengan total, karna itulah bentuk konsekuensi keimanan kita kepadaNya. Saksikanlah Ya Alloh, betapa kami semua ingin sangat dekat denganMU! Nah saya teringat nih kalimat Mbak Oki Setiana Dewi, “Jika kita berjalan ke arah Alloh, maka Alloh akan berlari ke arah kita.” Dan saya yakin, sobat akwat yang sudah bertekad ingin berlari cepat tuk menghijabi diri dengan jilbab dan khimar syar’i. Maka saya juga sangat yakin Alloh akan selalu dekat dengan kita semua.

Ukhtii sholihah, kita semua punya beberapa identitas yang harus setia dijaga. Sebagai seorang anak, saudara bagi saudara lainnya, istri sekaligus ibu bagi anak-anak kelak. Para ikhwan akan dimintai pertanggungjawabannya atas tugas mereka menjaga kita dari adzab neraka. Nah, gimana dong kalau kita belum juga berjilbab dan berkerudung sampai saat ajal menjemput? Kalau kita tidak juga mampu menjaga hijab diri, maka para laki-laki lah yang akan diadili karna tak mengarahkan wanitanya menuju jalan islam. Kalau ukhtii fillah cinta mereka, tentu ukhtii fillah nggak pengen dong memberatkan pengadilan mereka kelak di akhirat. Makanya, yuk segerakan berhijab sempurna sesuai syari’at islam saja. Jangan persulit para ikhwan dengan hijabmu yang tak kunjung sempurna. Bertanggungjawablah terhadap diri sendiri, agar tak menyalahkan orang lain saat kau diadili kelak di akhirat. Ikhwan itu pemimpin bagi kalian, jadi jangan beratkan timbangan dosa mereka untuk menebusmu di neraka ya!

Duhai para muslimah kesayangan Alloh, saudari-saudariku… sambutlah seruan Alloh ini. Ketika DIA pertama kali perintahkan berjilbab, maka pada saat itu seluruh wanita muslim tergesa-gesa dan mengupayakan apapun demi menutupi aurat mereka. Pada waktu Rosulullah diutus sebagai pembawa risalah, dan tak satu pun wanita islam yang ingkar dari seruanNya. Kain kelambu, dan bahkan selimut mereka tarik dan bentangkan ke seluruh tubuh sampai tak terlihat auratnya. Subhanalloh… merekalah generasi islam pertama yang mencemerlangkan wanita dengan pakaian syar’i agar tak diganggu dan mudah dikenali. Tapi, jaman sekarang banyak tuh muslimah jilbaber yang masih diganggu lawan jenisnya. Nah, kalau si pria mampu menahan pandangan, berarti ia adalah seorang muslim yang benar-benar menjalani perintah Alloh. Sedangkan pria yang mengganggu wanita berjilbab sebaiknya tidak perlu digubris, karna sebenarnya itu hanya gangguan setan yang berwujud manusia. Ih ngeri!

Artinya, niat dan tujuan memakai jilbab harus semata-mata karna Alloh saja. Bukan agar mempercantik diri, supaya terlihat baik, atau alasan duniawi lainnya. Dasarkanlah setiap perbuatan untuk meraih ridho Alloh. Karna kebahagiaan ummat islam sesungguhnya didasarkan pada mardhotillah. Bagi antunna yang sudah berjilbab syar’i, namun niat awalnya masih keliru atau kurang tepat, silahkan diperbaiki dan dirombak dulu niatnya. Agar Alloh senantiasa melindungi antunna dengan hijab. Sekali lagi, hijab adalah pembatas. Dalam ajaran islam, pembatas diwajibkan bagi wanita maupun laki-laki. Kalau wanita, aurat yang boleh tampak hanya telapak tangan dan muka. Hijab adalah tameng penjaga bagi muslim dan muslimah. Hijab itu pelindung yang amat kokoh untuk menjaga diri dari fitnah dunia. Hijab adalah pakaian takwa yang membedakan ummat islam dengan diluar daripadanya. Berhijablah sesuai syari’at islam, syari’at Alloh Yang Maha Mulia. Syari’at Alloh tak akan pernah menjerumuskan, karna ia justru menyelamatkan serta mengindahkan perjalanan hidup hambaNya. Sebuah syari’at yang mewajibkan untuk berhijab sebagaimana firman Alloh dalam QS. An Nur:31 “Dan katakanlah kepada wanita-wanita yang beriman, hendaklah mereka menahan pandangannya dan memelihara kemaluannya dan janganlah mereka menampakkan perhiasannya kecuali yang biasa nampak daripadanya. Dan hendaklah mereka menutupkan khimar (kerudung) ke dadanya.”

Saat Alloh katakan bahwa khimar (kain kerudung) ditutupkan sampai batas dada, masihkah kita ingin memperlihatkan kemolekan leher dan dada? Astaghfirullahal’adziim…

Bukan tanpa alasan muslimah berpakaian lebar dan longgar, tidak ketat dan tidak transparan, karna memang itu adalah perintah Alloh. Kalau sholat fardhu lima waktu dan puasa di bulan Romadhon yang diwajibkan saja kita jalankan, lantas mengapa kewajiban berjilbab dan berkerudung tidak kita penuhi juga??? -Semoga menjadi bahan renungan untuk kita semua. Aamiin yarobbal’alaamiin.- Wallahu’alambisshowwab…

  • view 95