Kado dari Langit

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 26 Januari 2017
Kado dari Langit

KADO YANG LAMA KUCARI

Aku punya banyak kisah yang sebenarnya ingin kuceritakan pada dunia, agar semua dapat rasakan nikmatnya. Tapi kisah paling mengharukan adalah tentang perjuangan wanita sholehah yang tak pernah bosan mendakwahi. Dari pagi ke siang, beranjak senja sampai pada malam yang kelam datang, ia tetap menyebarkan kebenaran islam padaku. Beliau seorang muslimah sejati yang selalu relakan tubuhnya letih demi menggendong putri mungil itu. Kiloan meter jalan dibabat hanya untuk pastikan, ‘apakah aku sudah berhijab dengan sempurna?’

“Saya masih ngerasa lebih nyaman seperti ini aja, Mbak..” sangat polos kutimpali pertanyaan mendesaknya yang terus saja menyuruhku untuk berjilbab. Tak ada kalimat lain, kecuali kalimat itu yang memang sudah kususun jauh-jauh hari.

“Kenyamanan itu membentuk pemahaman seseorang, Dek.. masih inget kan materi kita di bab awal?” Subhanalloh. Aku bahkan sudah agak lupa dengan penjelasan beliau tentang materi pondasi iman itu. Ingin sekali memaki diriku sendiri yang terkadang mengabaikan ajakan baik beliau. Padahal itu adalah hadiah dari Alloh yang sengaja dititipkan melalui Mbak Yeni. Ustadzah sekaligus musyrifahku. Musyrifah adalah sebutan bagi orang-orang seperti Mbak Yeni yang sudah mampu mengajarkan banyak hal tentang agama dan memang harus disampaikan kepada siapapun, termasuk aku sebagai pemulanya.

“Kalau Dek Suci merasa lebih nyaman pakai potongan, berarti pemahamannya masih belum sempurna..” Oh. Ternyata beliau sangat cerdik melebihi kercedikan kalimatku. Ia bahkan sudah hafal jawaban yang diberikan padaku.

“Artinya.. aku masih belum paham,” Oke. Menurut beliau, pemahamanku masih dangkal. Tapi menurutku, pemahamanku soal hijab sudah lumayan bagus. Hanya saja, aku ini salah satu manusia yang ingkar akan nikmat Alloh. Ketika ada perintah untuk berhijab dengan sempurna, aku justru menghijabkan diri dengan setengah sempurna. Karna jilbab yang dikatakan beliau adalah ibarat lorong yang gelap dan tidak ada pemutus diantaranya. Kalau bahasa instannya, ya jubah. Bahasa lebih gampangnya untuk era tren pakaian saat ini adalah gamis. Tapi sungguh, Tuhan. Aku hanya baru siap dengan pakaian potongan saja. Mengenakan rok panjang, baju lengan panjang, kerudung menutupi dada, dan kaos kaki. Porsi kenyamananku memang baru sampai disitu, tetapi bukan berarti porsi pemahamanku masih seumur jagung. Aku sudah lama paham teori jilbab yang dipersepsikan Mbak Yeni itu jauh sebelum beliau mengenalkannya padaku. Hanya saja, sekali lagi kukatakan bahwa aku adalah manusia yang benar-benar ingkar dari nikmatNya. Untuk apa aku berbohong pada dunia, lalu memakai jubah, jika aku belum merasa nyaman memakainya.

Tuhan.. KAU titipkan hidayah untukku dari segala arah. Tapi aku belum juga sanggup menggenggam erat hidayah itu, dan bahkan semakin jauh darimu. Pemahaman apa lagi yang kutunggu ketika iman di dada sudah merengek untuk segera berjilbab. Tapi aku masih takut akan keterasingan. Jiwaku masih memblokade jalan menuju keterasingan. Padahal aku sudah terlalu sering merasa asing dengan diriku sendiri, tetapi betapa sulitnya asing dihadapan manusia. Inilah sebuah ujian ketika hatiku benar-benar mantap untuk berhijab secara total. Kusadari betul sungguh mahal harga sebuah hijab ketika keyakinan untuk menjaga kehormatan masih seujung kuku. Aku miris melihat para lelaki yang menertawakan soal aurat perempuan yang tak terbalut sempurna. Dan kejadian itu nyata dihadapan para muslimah yang sudah total dengan hijab mereka masing-masing. Kuakui, betapa rendah derajat wanita jika tanpa jilbabnya. Rendah dihadapan manusia, juga dihadapan Tuhannya. Maka untuk apa lagi merendahkan harga diri didepan manusia. Karna bukan hanya di dunia, akhirat pun menunggu siksaan untuk wanita yang meninggalkan kewajibannya sebagai muslimah yang disayangi Alloh. Untuk apa mau ditertawakan, jangan biarkan diri dan tubuh murahan di mata manusia, hina dimataNya!

Mulai kupikirkan pernyataan Mbak Yeni. Pemahaman membentuk kenyamanan. Ya, kalimat itu secara terang-terangan menyindirku yang saat itu masih ogah-ogahan untuk mengenakan jubah alias jilbab. ‘Toh selama nggak membentuk lekuk tubuh ya fine-fine aja, asal longgar dan gak transparan kan nggak apa-apa, ngapain ribet-ribet sih pakai jubah segala?’ Berbagai macam alibi menjadi dalih setiap kutemukan referensi mengenai konsep jilbab persis seperti yang dijelaskan Mbak Yeni. Aku mulai penasaran dan coba membangkitkan keingintahuanku dengan membongkar kitab Al Qur’an yang memang lumayan lama tak tersentuh lagi. Kumulai dari lembar mushaf paling awal, diawali dengan Ummul kitab. Surah Al Fatihah itu kubaca dengan seksama tafsirnya, kuresapi makna yang terkandung dalam setiap ayatNya. Kusiapkan berlembar-lembar kertas putih kosong hanya untuk mencatat seruan Tuhanku yang mungkin belum pernah kuketahui. Sampailah pada Surah An Nur ayat 31 yang kubandingkan dengan Surah Al Ahzab ayat 59, kedua ayat ini yang sering kutemui di sosial media menjadi dalil pembanding antara konsep kerudung dengan jilbab yang sebenarnya dalam islam.

Tanpa banyak pikir panjang, kututup kitab mulia ummat islam itu. Lekas kubuka lemari pakaian, kutemukan sepotong jubah yang dulu pernah diberikan salah seorang syabah. Tanpa penuh pertimbangan, kumasukkan kedalam plastik dan bergegas membawanya ke tukang jahit untuk minta dikecilkan ukurannya.

“Kira-kira kapan bisa saya ambil, Bu?”

“Satu minggu ya, Mbak.. soalnya ini orderan lagi banyak,” jawaban itu kini sudah merusak niat muliaku. Cepat kuambil langkah seribu menuju mesin ATM, berharap masih ada tabungan tersisa yang kiranya cukup untuk dibelikan satu jilbab saja.

“Ya Alloh…” tak ada upaya lain yang bisa kupikirkan saat itu ketika mesin ATMku tak menghasilkan apapun. Padahal hari itu juga aku sudah bertekad kenakan jilbab, tapi masih tak ada juga yang bisa kupakai satu pun. Masya Alloh…

Ku gontai kembali langkah kaki menuju kos dan air wudhu sudah membasahi sebagian tubuhku. Satu-satunya tempat bergantung dan memasrahkan diri hanya pada Dzat Yang Maha Menunjukkan hidayah padaku, Illahirobbii. Puas ku munajatkan segala harap dan pinta hanya pada DIA Yang Maha Mengetahui rahasia dibalik lubuk hati manusia. Hanya pada DIA kumohonkan satu buah jubah tepat hari itu juga harus menutupi seluruh bagian tubuhku.

Selesai tunaikan sholat dan mencurahkan pinta pada Sang Pemberi Rezeki, tiba-tiba melintas di pikiranku tawaran seorang sahabat dekat selama di Kota Malang. Ayu namanya. “Aku lho punya gamis yang gak kepake, kalo Suci mau ambil aja.. tapi harus dipakai lho ya,” Alhamdulillah, bersyukur masih ada yang begitu menginginkan perubahan sempurna pada diriku hingga tawaran itu sudah datang lebih dulu sebelum sadarku akan wajibnya muslimah berjilbab dan berkerudung.

“Tapi…” tak ada keberanian menghubunginya saat itu juga. Rasanya masih tak pantas mengemis sesuatu jika kadar ikhtiarku belumlah maksimal. Akhirnya kuputuskan menunggu hasil jahitan jilbab selesai, selama itu pun tetap kukenakan rok panjang dan baju yang lebih panjang plus lebar menjuntai hingga hampir menyentuh batas mata kaki. Subhanalloh… ternyata tak juga pakaian itu membuatku nyaman, tidak sama sekali. Tak ada ketentraman yang terasa meski sudah sepanjang dan selebar itu pakaian yang melapisi dan membalut diriku. Maka benarlah pernyataan Mbak Yeni, pemahaman memang akan selalu membentuk kenyamanan seseorang. Ketika kupahami betul seruan Alloh pada Surah An Nur ayat 31 tentang perintah mengenakan khimar (kerudung) menutupi kepala sampai dengan batas dada, ia sudah kukenakan. Tapi ketika seruanNya pada Surah Al Ahzab ayat 59 memerintahkan kepada wanita mu’min atau wanita-wanita orang islam untuk menghulurkan jilbab ke seluruh tubuh mereka, maka perintah itu belum juga mampu kupatuhi karna keterbatasan daya. Kerudung dan jilbab memang beda maknanya, bahkan Alloh tak katakan ‘hulurkanlah jilbab ke sebagian tubuh,’ melainkan ‘ke seluruh tubuh.’ Diriku memanglah bukan ahli tafsir, ahli bahasa, atau ahli-ahli agama. Namun, firman Alloh itu telah benar-benar sampai kepadaku tanpa perantara apapun. Alloh berbicara padaku dengan tegas, ‘hulurkanlah jilbab ke seluruh tubuh.’ Kepalaku merunduk bak pepohonan yang selalu menunduk menaungi Rosulullah, begitulah sikap tundukku patuh pada firman Tuhanku. Sungguh aku belumlah sanggup menjawab langsung seruanNya, namun kujawab dengan terbata-bata.

“Maafkan, Ya Robb… baru sekedar pakaian ini yang bisa kukenakan, tunggulah akan kuikhtiarkan dengan sungguh-sungguh tuk patuhi seruanMU..” rasanya sangat tak pantas kuminta Alloh untuk menunggu, untuk menanti, untuk bersabar sebentar.

Inilah proses. Semakin jauh aku melangkah, semakin ingin ku berlari kedalam bara api itu. Memang panas dan perih rasanya. Tapi aku lebih berani menelan baranya, daripada bara itu akan membakar tubuhku sendiri. Inilah hidayah Tuhan. Hidayah yang lama kucari sampai tinggal lelah yang kurasa kini. Namun kelelahanku terbayar pada sebuah titik, dimana aku merasa harus cepat dan sigap merengkuhnya. Merengkuh hidayah yang kudapatkan dengan usaha keras. Tak akan pernah ku melepasnya, barang sejengkal pun. Semakin kunikmati lelahku, semakin tumpah tangisku mengingat usaha yang kulakukan. Inilah perjalanan. Aku tak sendiri mengarungi jalanan demi seonggok hidayah. Melainkan ada puluhan pengajian yang kudatangi hanya sekedar untuk menambah iman. Bahkan aku tak pernah sendiri menikmati lezatnya hidayah yang Alloh berikan, melainkan terus kubagikan pada orang-orang disekelilingku. Aku tak akan pernah tersenyum sampai aku mampu mengajak orang lain untuk menemukan hidayah yang sama. Inilah esensi perjuangan yang tak akan pernah dikalahkan oleh waktu, meski dunianya telah rusak dan mati.

Ya. Aku masih ingat betul raut muka Mbak Yeni ketika lelah mengajariku tentang kewajiban wanita dihadapan PenciptaNya. Sebuah memori yang masih tersimpan jelas di bagian otakku. Terutama ketika beliau berkoar seputar hijab, jilbab, mahrom, syari’at, dakwah, dan sejenisnya. Yang paling membuatku gemetar adalah ketika diriku diberikan kepercayaan untuk mempresentasikan sebuah materi tentang pentingnya dakwah dihadapan beberapa teman. ‘Keteladanan dalam dakwah.’ Materi ini belum pernah kupresentasikan saat perkuliahan di kelas, bahkan tak sekalipun ku temukan dalam materi yang dijelaskan para Dosen. Bingung, khawatir salah menyampaikan, ragu sampai pada kecemasan. Jelas itu semua sedang kurasakan saat berada di zona kebingungan.

Sekali lagi, ini adalah amanah. Belajar penuhi amanah yang telah diberikan. Secara tidak langsung, ini amanah Alloh. Sampaikan yang hak dan panaskan semangat yang lain untuk tunaikan dakwah. Amanah khusus dari Alloh. Berbekal dua buah edisi tabloid islam Al Wa’ie yang dipinjamkan Mbak Yeni saat itu. Senyum-senyum sendiri kurancang desain powerpoint di laptop kesayangan. Senyum itu begitu tulus terukir setelah kusadari bahwa semangat dakwah mulai menggerogoti bathinku. Berharap setelah sampaikan, aku pun contohkan pada semua. Dakwah itu asik, nikmat bila dinikmati. Itulah resolusiku sebelum akhirnya mempresentasikan materi tersebut.

  • view 92