Catatan Muhasabah

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Motivasi
dipublikasikan 25 Januari 2017
Catatan Muhasabah

Tetaplah diam, meski kata-kata mereka sangat sakit terdengar di hatimu. Suatu hari nanti, saat hari perhitungan tiba… hanya kejujuran yang bersaksi diatas segalanya. Ketahuilah, orang yang lebih banyak diam akan menghabiskan waktunya untuk berdzikir, tafakkur dan khusyu’ meresapi asmaNya. Dikau diam bukan karena tak mampu bicara, karena Rosulullah pun telah memerintah seorang sahabat yang telah mengakui maksiatnya di hadapan Sang Utusan untuk tak bercakap pada manusia selama empat puluh hari. Manusia itu tak layak dijadikan pemimpin hati, karna Pemilik Hati tertinggi hanyalah Robb semesta alam. Bumi beserta isinya ini akan jatuh ke tangan Dajjal jika mulutmu terlalu banyak bercuap, bahkan tanpa sadar semua perkataan itu menyakiti saudara muslimmu. Ingatlah hari saat dimana lidah tak sanggup bergerak, ia kelu bagai disiram air panas dan meleleh sampai tak jelas waktu yang ditentukan. Kelak di syurga, Rosul kan memberi syafaat pada bibir-bibir yang rajin berkirim salam padanya saja.

Hatimu memang selalu lebih nyaman berada pada tiga tempat, rumah TuhanMu, lalu kau temui orang-orang sholeh sholehah yang setia mengajak menuju jalan TuhanMu, dan jalan-jalan kerongkongan yang istiqomah melafadzkan firmanNya termulia. Jika tak ada manusia yang berdiri bersebelahan tegakkan tiang agama menemanimu, maka diamlah. Sungguh, Alloh sedang menyiapkan rencana indah untuk menaikkan derajat keimananmu. Mungkin bukan disini tempatnya, karna aku tak pernah belajar apapun dari tempat ini. Sungguh, Alloh dan Rosul meminta hambanya berhijrah dari tanah ke tanah. Hijrahlah wahai kaki dan hatiku yang tegar, di tempat itulah kau temui Alloh. Di sanalah kau mampu sendiri mengembangkan suksesmu, akan selalu jadi manusia yang dinanti dan terhormat dihadapan manusia lainnya. Kembalilah duhai kaki, sungguh di tempat ini kau tak bisa belajar apapun darinya. Karna di tempat ini tak pernah sama dengan pijakan di medan lain, disini bukan sebaik tempat untuk kau menjadi pejuang addinullah. Tuhanku, bahkan resiko perjuangan itu begitu berat hingga aku terpaksa mengayun langkah dan tinggalkan jalan dakwahMU. Maafkan raga yang tak sampai hati membuat para malaikatMU kecewa, tapi sungguh tempat ini tak cukup tangguh menebalkan iman dan tsaqofah islamku. Bahkan makin kacau, justru makin menipis kerinduan bertemu para shalafusshalih di syurga. Tuhanku, terimakasih ENGKAU telah berikan aku kesempatan emas untuk berada di garda terdepan menjadi jundullah, ghozi diantara para prajurit perangmu. Terimakasih ENGKAU telah berikan aku sinar kebaikan yang sangat terang hingga aku selalu bahagia menatap masa depan, namun di tempat ini rupanya aku selalu kalah dengan semua realita. Disini aku tak lagi temui cahaya wajah yang taat bersujud diatas mihrob cintaMU, tak kusaksikan lagi perjalanan heroik para pemuda islam yang senantiasa menebar senyum demi menebar kebaikan meski tertolak ratusan kali oleh ummat yang bebal. Tuhanku, kini KAU berikan aku kesempatan sekali lagi meski disini tempatnya. KAU datangkan orang-orang baik yang tak banyak bicara harta, tahta, wanita. Mereka bersatu kuatkan hati ini, memanggil kembali jiwa yang rapuh dari nurul islam. Tuhan, jika mereka sebaik manusia yang kau kirim untuk menjawab doa-doaku, maka kumohon jangan pernah lepaskan buhul kasih sayang di antara kami. Rindu ini telah lama menyeruak masuk menelusup di antara ruh, sungguh nafasku teramat membutuhkan pelukan mereka. Pelukan saudara seaqidah yang pada masanya nanti kami akan berkumpul menjelaskan pengorbanan di bumi demi tegakkan kalimatullah. Langkah juang itu begitu amat kurindu datangnya, langkah yang tak pernah lelah walau semua orang mencaci makinya. Langkah gontai yang membuat semua orang iri, dengki dan menghasut gerak kami layaknya serigala menerkam mangsanya. Tuhan, mungkin aku tak terbiasa dengan tempat yang menyediakan ketidakkonsistenan. Mungkin aku tak terbiasa dengan tempat yang membuat nafas islamku futur sefutur-futurnya, bahkan aku tak terbiasa dengan tempat yang merusak pundi-pundi semangat dakwahku. Aku harus bicara pada ruh, agar ia terbiasa melihat maksiat demi maksiat di sekitarnya. Aku harus pahami ruh, bahwa tak selamanya raga bertemu orang alim yang akan menenangkan jiwanya. Namun ruh tak pernah sabar, ia selalu meronta mengamuk bak singa yang sedang kelaparan lalu tak jua disodori daging oleh tuannya. Tuhan, jadikan aku singa di tengah tanah yang kering dari air wudhu. Jadikan aku panji muslimah yang pandai menjaga bendera tauhidmu, disini aku berdiri tanpa suara dan tiada kepastian hati.

Jika semua manusia mengungkit tentang jasa, pemberian, dan materi, maka aku tau ENGKAU masih mendekap erat imanku. Sekali lagi, aku hanya terdiam meski jutaan huruf itu telah menyerang jiwaku. Kini hati ini sedang sakit, karna di tempat itu aku telah terbiasa berbagi tanpa harus meributkan banyak hal. Disana aku belajar bersama, belajar memberi meski kantong kami tak berisi, demi perjuangan menegakkan islammu diatas bumi ini, semua yang kami mampu telah rela kami korbankan lenyap bersama ketiadaan. Tak ada ingin untuk mengucap, semua tersampai dari hati yang terpanggil untuk mensukseskan misi dakwah kami. Bahkan kami lebih senang berpuasa, hidup sederhana tanpa banyak mengeluh, berjalan kaki meski jarak yang kami tempuh ribuan kilometer jauhnya ‘demi puaskan akal sehat dan nurani’ bahwa kemenangan islam ada di tangan generasi kami. Islamku, diamku ini karna aku sangat mencintaimu melebihi rasa lapar dan dahagaku sendiri. Aku masih mampu menahan haus dan kantuk hanya untuk memikirkan masalah ummat, masalah yang membelenggu keridhoan Alloh hadir di muka dunia. Islamku, disini aku telah banyak mencampakkan syariatmu. Aku telah lalai, lupa dan menistakan syariah Tuhanmu yang Maha Adil. Maafkan diri ini yang tak cerdas berdamai dengan tempat ini, karna sungguh aku tak pernah nyaman berada disini. Tempat yang menyurutkan segala tekad menggapai ridhoMU, tempat yang membuang waktuku percuma tanpa tau harus berbuat apa. Semua yang kulakukan seolah tak pernah benar, serba salah dan membingungkan. Aku terlalu takut mengenakan aksesoris nikmat pemberian Tuhan yang bukan milikku, aku terlalu khawatir kelak sampai di padang mahsyar semua itu masih tertagih. Sehebat apapun perjuanganku membela agama Alloh ini, namun jikalau semua yang kuteguk dan kumakan tak pernah diikhlaskan masuk kedalam perncernaanku, maka tiada ketenangan yang lebih mahal melainkan diam menahan diri dari kekenyangan perut dan pikiran. Tuhan, diluar sana aku masih istiqomah menjalankan dakwah islammu. Aku masih setia menunaikan kewajiban muslimku dalam berdakwah, aku masih senang mengeja masalah ummat yang satu per satu coba ku selesaikan. Teguhkan hatiku di atas agama ini, tetapkan aku berlari kencang bersama pasukan dakwahMU agar ruh selalu kenyang memandang raga menyirami imannya. Cita-cita tertinggi seorang muslim hanya satu, isykariiman aumutsyahiidan, hidup mulia atau mati syahid di jalan Alloh. Jika aku tak bisa hidup mulia, maka lebih baik KAU matikan aku dalam dakwah meski kini dakwahku tak lagi bisa kusebut perjalanan istimewa. Matikan aku dalam khusnul khotimah daripada aku tak lagi bisa hidup mulia di tempat yang merongrong semangatku ini.

Aku berjanji, bernadzar padamu di waktu matahari naik membakar gelora… aku akan jadi ummat terbaikMU yang bisa kau andalkan, ummat terbaik yang akan kau banggakan di hadapan para malaikatMU, aku akan jadi ummat paling baik yang tak akan menumpang hidup di ketiak orang lain agar bebanku padaMU di hari akhir tak memberatkan timbangan amalku. Aku akan menopang hidupku sendiri, berjalan sendiri layaknya hidupku di luar sana, aku sukses menjadi sebaik tauladan yang mampu mereka contoh seantero dunia. Kini, nadzarku padaMU Tuhanku… aku akan menghidupi diriku sendiri dari tenagaku yang bisa kusekolahkan seorang diri. Aku tak mengharap belas kasihan orang lain yang akan menjadi tanggunganku di akhirat, maka sudah sebaiknya aku memilih terdiam dan bekerja semampu yang ku bisa. Tunjukkan jalanMU, bukan untuk kukejar dunia atau menjadi orang yang mencintai dunia melebihi akhiratMU. Bukan. Melainkan aku ingin kembali jadi diriku sendiri di luar sana, meski disini tempatnya, meski tempat ini tak dekat dengan pencahayaanMU. Biarkan ruhku kering kerontang, akan terus kupompa ia dari awal lagi. Tuhan, aku yakin aku bisa menjadi diriku sendiri yang layak kau sebut khoiru ummah, akan kubuktikan berkah pertolonganMU. Bantu aku, Robbi. Istaghfirlii.. tak ada yang lebih hebat pengampunanNya melainkan ENGKAU sebaik pengampun dan pemberi cinta. Tuhan, lindungi aku dari dosa berkepanjangan. Jauhkan aku dari maksiat yang tak berkesudahan, akhiri semua hari ini dengan cintaMU. Aku pasti bisa berdiri gagah layaknya Ustadz Felix, yang darinya kuilhami banyak hikmah dan ibroh. Ia selami perjalanan hijrahnya dari tempat satu ke tempat-ke tempat yang berbeda, bertebaran di muka bumi sampai ia temukan teman seperjuangan untuk mempertahankan harga diri islam di mata dunia. Kini, ia telah sampai pada puncak kenikmatan dan kelezatan iman, tak pernah ingin lari dari tujuan dan syariatMU yang baik. Tuhan, aku ingin seperti beliau yang tanpa apa-apa ia kemudian menjadi sebaik diplomat bagi perjuangan muslim. Tanpa apa-apa, ia buahkan semua karya manifestasi iman dan KAU sambut lagi dengan nikmat deras dari langit. Suatu saat, aku akan menjadi penerusnya, itu pasti dan tiada keniscayaan melainkan berkah ikhtiar terhebat dari ummat yang hebat. Insya Alloh…