Siapa (?)

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 24 Januari 2017
Siapa (?)

Seperti biasa, kedua telapak kakiku terasa gatal terlalu lama tak berpijak di rumah-rumah Alloh. Aktivitas duniawi telah meracuni pikiranku hingga membuatnya gila mencari kebahagiaan semu, meski selalu kusadari kembali bahwa semua jalan yang sedang tertempuh itu hanyalah partikel ketidakpastian. Dengan segala penat yang berhasil terkumpul, akhirnya malam itu kuputuskan mengejar adzan maghrib di jalanan. Jarak rumah dengan masjid raya yang menjadi tujuanku cukup jauh, butuh sekitar lima belas menit untuk sampai disana dengan keramaian jalanan saat malam hari. Penuh perasaan kesal, satu per satu kendaraan tersalip olehku. Hingga tanpa sadar, setetes demi setetes air mataku tumpah tak tertahankan di atas laju sepeda motor yang sedang kukendarai. Tak peduli apa yang terjadi pada setiap ruas jalan yang kulalui, karna mata batin hanya mengajak cepat berpijak di halaman masjid. Rumah Alloh. Ya! Rumah Allohku.

Suara mu’adzin mulai bersahut-sahutan dari sembarang mushola hingga masjid yang kulewati, tapi tak juga membuatku ingin masuk menuju altar salah satu di antaranya. Gema-gema adzan itu makin membuatku panik, kendaraan semakin kularikan kencang meski pandangan mata kadang terganggu dengan sinar lampu sepeda motor yang datang dari arah berlawanan. Bukan perkara megah masjidnya, tapi aku merasa jauh lebih nyaman berjama’ah di dalam masjid yang penuh jama’ah sholatnya. Sementara, hanya masjid yang sedang kutuju inilah yang cukup membuatku nyaman berjama’ah disana. Selain karna bacaan imamnya yang ahsan, pun akan ada banyak majelis ilmu yang pasti kudapati didalamnya. Yang pasti, sejenak kemudian aku telah rapih memarkir si merah di tempat yang telah tersediakan. Setelah memastikan keberadaannya aman dari apapun, aku pun segera berlari-lari kecil menghampiri tempat wudhu di samping halaman masjid. Mengucap salam sebentar pada mereka yang tengah membenarkan posisi kerudungnya, sejurus kemudian aku pun segera selesai menyucikan diri dengan air wudhu’. Dengan segenap kekuatan, kembali kususuri kerikil-kerikil sekitar halaman masjid dan berlari sekencang mungkin untuk bergegas memasuki shaf wanita. Rupanya aku telah tertinggal dua raka’at maghrib, namun kucoba meluruskan niat dan shaf agar satu raka’at jama’ah yang kuiikuti tetap  Alloh terima hingga menuntaskannya dengan sempurna.

Alhamdulillaah, Segala puja-puji teruntuk Alloh Yang Telah Menciptakan ketenangan hatiku sehabis sholat fardhu. “Alloh.. tetapkanlah hidayah dalam diri ini yang telah Engkau percayakan padaku. Bantu aku untuk terus menjaga petunjuk yang telah KAU hujamkan dalam imanku, bantu aku untuk selalu mendekapnya hingga ia enggan berlari dari dada ini..”

Selesai semua permohonan yang ku munajatkan padaNYA, seorang muslimah cantik menghampiriku yang tengah mencoba menghirup angin kesegaran.

“Assalamu’alaikum..” sapanya santun penuh kelembutan terdengar dari suaranya. “Wa’alaikumsalam..” hatiku berdesis lirih, “Kapan aku bisa sepertinya, istiqomah dengan niqob (cadar) yang menutupi seluruh bagian muka itu?” Ah, mungkin jika suatu saat suamiku memintanya sendiri, pikirku nakal.

Sambil menunjuk ke arah kain yang menempel di kepalanya, beliau meminta tolong diperhatikan posisi niqobnya. “Um.. ini sudah bener?” tanyanya lebih halus.

“Insya Alloh.. sudah, Mbak…” Aku yang ditanyakan hal seperti itu spontan tidak bisa tenang lagi, pasalnya muslimah berniqob bertanya pada muslimah yang sama sekali tidak menggunakan niqob. Bukan hal yang lumrah bagiku melihat wanita bercadar menanyakan kerapian niqobnya, memakainya pun aku tak paham seperti apa caranya terpasang hingga menjuntai melewati wajah sampai menyentuh kehormatan imannya. Maasyaa Alloh.. aku merasa tak pantas didatangi dengan keadaan iman yang masih futur malam itu.

Tanpa cas-cis-cus, akhwat itu langsung berpamitan padaku karna iaharus segera sampai di rumah. Aku yang masih merasa ingin berlama di dalam masjid pun membuka mushaf yang telah kupastikan berada didalam tas. Hanya tertinggal aku bersama beberapa wanita yang juga khusyu’ mentadabburi kitab mulia Al Qur’an, kitabullaah. Suara tak berani kulantangkan, membacanya setengah berbisik pelan. Didalam masjid penuh jama’ah laki-laki berjubah putih, khawatir nantinya mereka akan terganggu menyimak isi kajian yang sedang berjalan ba’da maghrib itu. Aku tak sempat khusyu’ mendengar kajian sebab suara pembicara tak sampai ke telingaku, maka dzikir dan tilawah dibalik kain-kain putih yang memagari shaf sholat wanita jauh membuatku belajar lebih khusyu’ saat beribadah. Namun tak berlama-lama kuselesaikan tilawah, karna aku pun harus segera pulang ke rumah sebelum isya’. Terlebih jalanan menuju rumah agak rawan untuk dilewati saat malam, terutama aku yang tanpa ditemani siapapun saat itu. Akhirnya dengan sedikit berat, kurapikan semua perlengkapan sholat dan memasukkannya ke dalam tas. Satu per satu jama’ah wanita yang sedang mengobrol ku pamiti, lalu bergegas keluar dari shaf berukuran sekitar 3x4 meter saja. Ya, disini shaf muslimah tidak disediakan begitu banyak, karena kebaikan ibadah seorang muslimah adalah beribadah di rumahnya sendiri. Itulah yang terbaik memang, namun tidak bagiku malam itu. Maka memilih bergegas pulang dari rumah Allohku adalah sebuah keterpaksaan yang rasanya harus dan wajib di segerakan.

Sebelum genap langkah kaki tinggalkan masjid, sembari berlalu coba ku perhatikan satu per satu sudut masjid itu dengan seksama. Di samping shaf jama’ah wanita, sekitar satu meter dari kain putih itu terpasang ternyata ada sekumpulan pria berjubah putih sedang terlihat bersantai sambil sesekali melisankan sesuatu yang tak kedengaran oleh indera pendengarku. Adapula anak-anak kecil yang sedang berlalu-lalang di sudut lainnya, bahkan ada juga yang keluar masuk sepertiku yang tengah berjalan keluar menuju halaman masjid. Namun ada satu pemandangan yang membuat pandanganku terhenti padanya, tapi tak juga menghentikan langkah kakiku.

Pandanganku terhenti cukup lama pada seorang jama’ah laki-laki, sepertinya ia seorang akademisi. Mungkin, mahasiswa atau bisa juga seorang researcher atau bahkan pegawai kantoran yang membawa paper dan diktat penelitiannya untuk dilanjutkan di area masjid. Ingatanku tertarik pada saat perkuliahan dulu, bahkan semua tugas kampus bisa terselesaikan di shaf-shaf masjid saking tak ingin mengacaukan waktu sholat hanya karna persoalan studi. Terkadang kita bisa lupa waktu dzuhur atau ashar jika sudah sibuk berkutat dengan tugas-tugas perkuliahan, ah masa-masa yang melelahkan ‘pikirku’.

“Siapa, ya?” Tak asing rasanya dengan wajah itu, begitu familiar di ingatanku. Namun aku pun sama sepertinya, mungkin. Tak ingin mencuri kemuliaan islam hanya dengan rasa penasaran dan keingintahuan sepintas yang membuat maruah diin ini terlihat hina. Bukankah mata itu Alloh wajibkan untuk ditundukkan? Astaghfirullaah… pandanganku mulai kabur, semua yang indah mulai geli kuperhatikan. Termasuk melihatnya sekali lagi sebelum akhirnya genap mengalaskan kakiku dengan sandal penopang pijakan. “Ah, apa-apaan sih ini?” Sepanjang jalan aku mulai kesal kembali pada ketidakmampuanku melindungi pandanganku sendiri dari yang tak halal. Penuh sesal, terus ku lafadzkan kalimat istighfar berharap Alloh membentengi imanku sekali lagi, lagi dan lagi.

            Sesampai di rumah, aku mulai tak bisa menutup mata. Memikirkan pria misterius yang kelihatannya biasa-biasa saja, sederhana tanpa polesan apa-apa. Apa yang menarik darinya? Semua terlihat sama saja, tiada beda. Tetap memikirkan, apa yang membuat hatiku begitu resah setelah pertemuan itu? Selalu terpikirkan, tak juga kutemukan jawaban atas kegelisahan itu. Karena ia berada di rumah Alloh saat laki-laki lain lebih memilih menghabiskan waktu di luaran? Atau, karena ia menari-narikan pena di atas kertas sepertiku yang tak bisa diam menulis apapun? Mungkin, karena aku berharap ia bagian dari para pejuang Alloh yang setia memakmurkan masjid? Bisa jadi, karena ia bagian dari masa lalu atau masa depan yang Alloh rahasiakan dariku? Boleh jadi, selama ini ia satu-satunya orang yang kusebut dalam setiap doa? Artinya, Alloh mengirimkan dia tepat di hadapan mataku hanya untuk menguji seberapa tangguhnya pertahanan imanku?

Oh.. belum selesai hari-hariku melacak identitasnya yang hanya kutebak berdasar penampilan sekilas, tiba-tiba ingatanku berputar pada satu nama. “Antum?” Ya, namanya tak pernah ku absen saat bercuap dengan Robbku, Alloh Pemilik sekaligus Penjaga hati terbaik. Apakah Alloh sedang benar-benar menjawab doaku?

“Ya Alloh.. jika memang dia yang KAU pilihkan untuk mengikat kesucianku, maka tolong dekatkanlah kami selekat-lekatnya, mantapkan hatinya untuk segera datang menemui waliku. Biarkan pertemuan di antara kami menjadi awal mula halalnya ikatan ini, bahkan aku ingin ENGKAU jadikan ia sebagai pemimpin pasukan dakwah. Pertemukan dia bersama orang-orang sholeh lagi sholehah yang datang menebar kebaikan, jadikan ia bagian dari para da’i yang gemar memperhatikan keadaan ummatMU. Hamba memohon dengan segenap kepasrahan, hajatkan satu per satu munajatnya, sampaikan ia pada negeri yang dicita-citakan, karna aku percaya disanalah ia akan temukan kecermelangan islamMU yang nyata. Lapangkan pikirannya, tenangkan kalbunya dan jadikan ia sebaik-baik penghafal kitabMU yang mulia. Namun jika memang bukan dia yang kau tentukan untuk menjadi imam dunia akhiratku, maka pertemukanlah ia dengan muslimah sholihah yang jauh lebih baik tahfidznya dariku, jauhkan kami sejauh-jauhnya agar tiada sekat untuk aku mengharap kehadirannya, hapuskan semua anugerah indah yang pernah KAU titipkan dalam hati ini, buang semua ingatan dan rasa banggaku atasnya, Ya Alloh…” Demikian narasi permohonanku pada Tuhan setiap kali meminta penuh ketawadhu’an padaNYA Sang Pembuat Keputusan Terhebat.

  • view 103