(Masih) Tentang Sahabat Taat

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 23 Januari 2017
(Masih) Tentang Sahabat Taat

Berat, kawan! Berat. Gelar kesarjanaan bukan lantas buatku mendewasa karna bangga pakai toga dan lega bisa pegang ijazah S1 setelah empat tahun penantian itu kunanti. Bukan hari sakral itu yang kucari dan kuharap datangnya. Karna kutau, setelah hari itu akan berderai buliran air mata menyambangiku. Berat, kawan! Sungguh berat kulalui hari-hari setelah prosesi itu pergi tanpa pamit pada siapapun. Berani sekali hari itu datang mengusik jiwaku, kemudian lenyap bak Cinderella yang tinggalkan Pangerannya tanpa santun kata ‘permisi.’ Ah, Duhai para Cinderella duniaku... Terlalu berat melewati detik berganti detik usai hari na’as itu. Hari yang tiada pernah kupinta, bahkan tak ingin aku memanggilnya sampai ia tiba tanpa diminta. Sungguh, rasanya aku perlu mengajari hari itu. Agar ia tau adab, agar tak seenaknya ia mengantarkan dirinya pada kalian.

Ya! Hari itu memang bersejarah bagi kalian. Mungkin. Tapi, bagiku… Ah, benar-benar berat! Andai hari itu adalah saat ijab disahkan, tentu aku lah yang pertama kali merestuinya. Kuyakin, Alloh lebih dulu meridhoi kedatangan hari itu. Tapi, sayangnya yang berhadapan denganku kemarin bukan hari saat ijab disahkan. Melainkan hari saat ijazah belum juga dibagikan. Hari itu luarbiasa beratnya, kawan! Hari saat ijazah belum diserahkan, hari yang menggemaskan. Kutegaskan padamu, kawan! Hari itu teramat berat. Ijazah belum diberikan, sedangkan gelar kesarjanaan sudah pasti didapatkan. Apa-apaan ini? Berat kan, kawan?! Duh, seberapa berat lembar-lembar ijazah itu sampai ia tak bisa langsung diserahkan padamu??

Kawan, coba kau rasakan apa yang sampai hari ini masih berat kulupakan. Kembalikan ingatan kalian pada hari itu. Hari saat pembagian ijazah tak kunjung melegakan. Hari itu aku lebih banyak terdiam, kawan! Aku lebih suka memandang mereka yang eksis bin narsis mendokumentasikan eksyen-eksyen dalam berbagai gaya dan gerakan. Mari berpose, klik! Cukup dengan wajah sumringah, para wisudawan tampil dengan bermacam pose ala lokal sampai yang kelihatan model beneran. Semua disulap bak arena balapan. Jepret, jepret, jepret! Kawan, tetap saja hari itu berat. Buktinya, aku lebih banyak berdiam tanpa suara dan mempersembahkan genangan air mata saja. Emh.. berat! Hari itu aku tak sanggup menapakkan kaki lebih kokoh. Aku yakin, separuh kenangan mulai sirna. Setengah masa telah berani menghabisi memori kita, kawan! Beneran berat, deh!

Aku belum yakin meninggalkanmu, kawan! Aku belum terlalu berani menghijrahkan diri dari hadapanmu. Aku masih rindukan gelak tawa dan curahan nyanyian yang kita lukiskan bersama. Alloh, tolong ringankan bebanku. Biarkan mereka melintas dengan segala impian dan asanya, KAU jaga saja dimanapun kaki mereka bertumpu. Entah menginjak rumput, setapak tanah, gundukan pasir, pokoknya ringankan saja bebannya. Biarkan masa itu pergi karna waktu memang harus terus berubah haluan. Asal cintaku padaMU tak berkurang sedikitpun, aku yakin KAU pasti bersedia mengijabahkan apapun inginku.

Ya Alloh, biarkan saja mereka temui segala bentuk jenis dan rupa manusia yang lebih elok dan rupawan. Aku yakin, ukhuwah itu tak akan pernah terpudarkan meski jaman dan dunia berubah sesuka hatinya. Ah, memang berat! Bahkan untuk meniti jalan baru itu aku masih belum siap. Aku masih tak mampu lepaskanmu, kawan! Berat. Dan bukan berarti aku keberatan dengan jalan-jalan yang sudah kalian persiapkan masing-masing. Bagi yang hendak berjalan ke pelaminan, silahkan. Bagi yang masih mau memantapkan iman, silahkan juga. Apapun jalannya, aku tak akan keberatan dengan keputusanmu kawan! Aku hanya keberatan jika tiap hari harus mengisi hatiku dengan rindu ini. Belum berpisah saja, rasanya sudah betul-betul berat kawan!

Kau keberatan tidak kalau perpisahan itu ditakdirkan tidak selambat yang kita kira. Aku mulai mencium-cium aroma waktu yang sebentar lagi akan memisahkan. Rasanya aku ingin membeli waktu, menukarkannya dengan segepok emas. Tapi, beruntunglah waktu itu diciptakan. Karna dengan waktu aku bisa menikmati indahnya perjumpaan. Waktu, aku berterimakasih dan berhutang budi padamu. Aku tak bisa membayar hutangku padamu. Tapi, Alloh pasti akan menebusmu dengan waktu yang paling abadi di kampung akhiratNya. Kampung kita bersama, kawan! Tinggal kau pilih saja tempat terkekal yang didalamnya kita akan bertetangga, bersua setiap hari tanpa bosan-bosannya. Ya. Apalagi kalau bukan Syurga! Belilah syurga itu, kawan! Agar nanti disana kita puas saling bertutur kisah sepanjang waktu.

Berat sebenarnya, kawan! Menembus syurga tak semudah menjangkau jalan manapun dengan angkot atau berjalan kaki. Alloh membeli setiap diri dengan syurga, asal diri rela menginjak kerikil dan bebatuan kehidupan. Alloh membayar diri dengan syurga, asal diri rela berteman dengan kejamnya dunia. Ah, berat! Memikirkan perpisahan seperti menyayat diri dengan pedang. Bagian raga yang terlepas dari tubuh terlalu berat disambung meski dengan lem berkarat sekalipun. Begitulah sakitnya perpisahan, kawan! Berat!

Sudah lelah kupikirkan, sudah bosan kurenungkan. Ternyata diri ini belum dewasa menghadapi geliat perpisahan denganmu, kawan! Semoga Alloh menjadikan kita bersaudara di syurga nanti. Hanya disana tempat yang paling aman, nyaman, bahkan aku tak keberatan jika bertetangga denganmu kawan! Aku yakin, kalian juga tak akan keberatan jika bertetangga denganku disana. Ah.. tapi tetap saja terasa berat, kawan! Buktinya, hari ini pun kita sudah mulai berpencar.

Ingat lagi, kawan! Berat sama dipikul, ringan sama dijinjing. Maka mari bantu aku memikul beban yang berat ini kawan! Kita ringankan dengan sekali jinjing, kawan! Kau tahu, kawan?! Sungguh perpisahan itu tak pernah diciptakan, yang tercipta hanyalah pertemuan yang tertunda! Jadi, jangan sekali-kali beratkan diri untuk sekedar bertandang kepada yang lain. Meski jauh meski dekat di pelupuk mata, ringankan saja beban yang berat itu kawan! Ringankan… ringankan.. ringankan!

 

  • view 124