Sahabat Taatku

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 22 Januari 2017
Sahabat Taatku

Pagi itu kutemukan kembali teman kecil, sahabat yang kurasa kelak akan menolongku lagi menuntut pahala dari tangan Allohku. Sedikit ceria, ku yakin hari itu akan menjadi awal perjalananku bersamanya. Mungkin, ini bagian akhir dari pencarianku atasnya. Mengais setiap ladang, menggali seluruh tempat dimana aku mampu temukan lagi seorang muslimah sholihah yang akan selalu menjadi penyejuk sekaligus penentram bathinku yang gersang. Tuhan, jika dia layaknya yang disana… ku mohon jangan pernah jauhkan dan pisahkan kami disini, meski apapun menghalang didepan mata. Kini harapanku terselip padanya, pada kegigihannya mengenal islam dan rela mengajariku mengenal kembali Robbku.

Mungkin, dialah yang dikirimkan Sang Penguasa Jiwa bagai setetes air di antara rerumputan. Lelah ku mencari, kini pencarian itu akan segera ku hentikan hingga tiba waktunya diriku akan berkorban apapun demi dirinya. Ah, lalu mengapa Engkau biarkan ia menderita kemudian letih karna tubuhnya. Baru sebentar kurasakan manis dan lezatnya ukhuwah itu, kini aku harus memendam kesakitan karna masa lalu itu. Ah, bukan karna senang ku tutupi masa kelam itu, namun biarlah ia menjadi pesakitan karna ku tak pernah ingin mengulang kesalahan yang sama. MemilihMU sempat membuatku terasing, di asingkan, bahkan dilupakan. Apakah itu yang kau minta dariku, Yaa Robb???

Tuhan… tolonglah aku, agar tak ku sia-siakan kembali sahabatku, agar tak ku bentangkan jarak di antara kami setelah semuanya begitu lekat terjalin sempurna. Yaa Rohman.. tumbuhkan kasih sayang teramat dalam pada dada-dada kami hingga kelak tak akan ada sekat apapun yang mampu mengacaukan ikatanku dengannya. Sekali lagi kutegaskan padaMU, Tuhan… ku tak pernah mau melakukan dosa yang berulang, melepaskan dan meninggalkan sahabatku dengan ‘percuma.’ Alloh… jika dakwah dan kewajibanMU harus kutinggalkan demi mereka, maka izinkanlah aku menggugurkan kewajiban itu. Aku tak pernah ingin kembali menangis, mengadu pada dunia lalu menghancurkan diriku sendiri hanya karna risalah RosulMU Yang Mulia. Jika bersendiri membuatku lebih jauh dariMU, maka biarkanlah itu menjadi hutang pengampunanku padaMU yang akan KAU tagih kelak di yaumil akhir. Ini bukan kali pertama aku harus ditinggalkan, kehilangan, lalu menyepi karna perintahMU. Aku ingin membahagiakan mereka, menghabiskan sisa hidup bersama para abdiMU yang juga KAU cintai mereka karna takwanya.

Maka biarkanlah kali ini, semuanya akan terasa biasa meski tak patut kau jadikan luar biasa di antara ummatMU yang lain. Aku ingin meleburkan, memusnahkan semua rindu di medan dakwah, lalu kembali menyatukan rasa pada hati-hati mereka yang kini tak akan lagi kulepas. Pahamilah, Yaa Rohiim… aku tak pernah segan meninggalkanMU walau sedetik. Percayalah, ku lakukan ini pun karna KAU selalu memintaku “mencintai sahabatku melebihi cintaku pada diriku sendiri.”

Kini KAU buat aku gusar kembali, terlalu perih kusimpan tabir kebohongan ini. Sudah terlampau pedih kurapatkan statusku di masa kemarin. Siramkan aku cahaya kasihMU agar aku tak akan pernah berpaling dariMU, tak jua mengumumkan jarak dunia akhirat dengannya. Aku mulai mencintainya, menjaga dan melindunginya semampu yang dapat kulakukan pada diriku sendiri. Aku menyayanginya, memilihnya tepat menjadi bagian kehidupanku. Maka, apalah yang mampu mengobati luka ini setiap kali kudengar ia menghina bagian dari masa laluku yang sama sekali tak pernah diketahuinya. Memanglah, berlaku jujur terlalu pahit bagiku meski ia adalah kebaikan dan kebenaran yang nyata. MemilihMU, Alloh… Memilihnya, aku ingin mencintai kalian dengan tiada pertentangan dalam nurani, agar tiada lagi pertengkaran yang ku munculkan karna status itu. Tuhan… kukerat dan kudekap ia, lalu ku serahkan segalanya padaMU Sang Pemilik Raga. Atas ridhoMU ataupun tidak, aku telah mengikhtiarkan kebahagiaan dan senyum untukku terlebih dulu. Tak berarti ku abaikan Engkau, karna ini pun kulakukan demi meninggikanMU setinggi-tingginya hingga aku tak sanggup lagi jauh dariMU, Tuhanku.

Ku cintai ia, ku sayangi mereka, ku rindui para syabah… ku hormati mereka melebihi ibuku, namun relakah kebingungan ini KAU endapkan terus-menerus dalam otakku, Yaa Malik??

Apalah artinya statusku dulu bersama mereka, KAU pilih aku karna KAU yakin aku mampu mengembannya, “begitulah yang mereka sampaikan.” KAU pilih aku karna KAU tahu betul aku pun sangat sanggup “mengemban amanahMU.” Tapi tahukah KAU, Tuhan… pengabdianku padaMU telah berhasil membuatku amat sangat jauh dari mereka yang telah lama mengisi indah hari-hariku, jauh sebelum aku mengenal dakwahMU yang bahkan teramat indah itu. Relakan aku pergi sebentar, sebentar saja… hingga KAU sendiri yang tentukan, haruskah aku kembali atau lari terus dan tak akan pernah kembali lagi pada amanah itu. Aku lelah, aku ingin sejenak saja melupakannya, menyia-nyiakan wajibMU, dan pastilah banyak ummatMU yang akan setia membakar dada-dada para mu’min mu’minah. Jangan lagi KAU tempatkan aku sebagai pilihanMU, jangan lagi kau percayakan aku sebagai suruhanMU, jangan lagi KAU buatku menangis darah karena kesedihanku. Aku ingin bebas, aku ingin pasrah, dan aku ingin beramai-ramai meski ku tahu KAU pasti akan menghukumku nanti. Biarlah, akan ku tanggung setiap inci dari hukumanMU, asal ku mampu ikat kembali mereka dalam pelukanku, maka tak sekalipun aku mau memberikan kebahagiaan dan senyum mereka berubah jadi kebencian dan kekesalan lagi.

  • view 101