PEMILU, Mission Impossible

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Politik
dipublikasikan 21 Januari 2017
PEMILU, Mission Impossible

PEMILU itu kan pemilihan langsung umum, wajar dong kalau kampanye yang dilakukan para peserta serba blak-blakan, dituntut untuk terus terang banget dan butuh nyali gede. Sederhana aja sih, cuman langsung bilang “Pilihlah aku jadi wakilmu” yang pasti setia mengakali dengan segala rayuan maut. Simpel, cukup langsung aja sodorin sekardus sembilan bahan pokok alias sembako. Pada momen itu, yang namanya hadiah jelas dong nggak boleh ditolak. Lah wong aji mumpung, ya mesti digunakan sebaik-baiknya. Mumpung dapet sekardus mie instant gratis, kapan lagi? Mumpung ada yang bagi-bagi amplop berduit, sambet aja deh. Kalau bukan musim pemilu, terus kapan lagi kebagian saweran nomplok?

Sobat yang cerdas akalnya.. Pemilu merupakan ajang barter kepentingan, sob! Yang mengajukan nama buat mimpin Negara punya target buat mimpin kamu, sedangkan kamu sama rakyat lainnya justru mengambil kesempatan dibalik kesempitan. Karna kepepet butuh suara banyak, rakyat yang jarang makan enak pun kepepet butuh duit banyak untuk tambahan biaya sekolah anak, sempurna deh berlangsung proses tukar-menukar tampuk kepentingan antara rakyat versus calon wakil rakyat. Ada benernya juga, sih. Suara hati rakyat betul-betul udah terwakilkan, kok. Rakyat pengen punya mobil, eh anaknya ngancem ortu buat dibeliin mobil-mobilan. Kalem deh, mulai dari mobil-mobilan sampe mobil beneran, mulai dari rumah kayu sampe rumah gedongan, apapun itu udah dinikmatin sama para peserta pemilu yang lolos ke parlemen. Begitu lolos pemilu, mereka dapet bonus dengan fasilitas gratis yang disediakan berupa doorprize selir-selir cantik, dari hulu hingga ke hilir. Yang lebih mewah lagi, semua simpatisan pemenang pemilu juga kecipratan durian runtuh. Lezat sih, tapi rela sakit-sakitan dijeblosin ke dalem lapas sama kawan sendiri? (baca: kawan itu musuh terselubung, lawan itu guru terbaik). Liatin deh, kadang kawan lama masih dibutuhkan meski udah ketauan busuknya. Kawan baru disimpen dijadikan pasangan kandidat baru, terus ditikam dari belakang supaya harga diri tetep terjaga. Tapi kalau kita punya lawan, justru dari dia kita banyak belajar strategi memenangkan nurani KPU langsung. Dalem pemilu, lawan itu akan jadi sahabat terhebat yang akan melindungi kita saat kepepet dilibas masalah korupsi. “Kalau elo bongkar di meja hijau, siep-siep aja entar gue juga bakal suap tuh hakim buat ngademin elo di sel tahanan.” Ups.!

Sobat yang pandai daya analisnya… Perkara masa pra pemilu, sederet nomer urut dituntut buat punya visi misi yang diobral selama jadwal kampanye yang udah disepakati. Tetep pede aja noh walau orasinya gak bagus amat dan janji busuknya gak kian dilunasin. Yang penting berani bersuara ketimbang dianggep nggak punya target dan tujuan buat ikut-ikutan nyaleg. Lebih parah lagi, semua asal ngomong tanpa mikirin yang diomongin itu mutu atau malah terjadi missed dengan lawan komunikasinya. Udah lumrah terjadi dimanapun, selalu timbul asas praduga tak bersalah antara komunikator dengan komunikan. Salah si penyampai pesan sih, masa’ iya pedekatenya pas ada maunya doang, jelas aja si penerima pesan kalang kabut pasang jurus kabur sejauh-jauhnya. Alangkah baiknya kita berlari sekencang mungkin sampai gak terkejar oleh para perayu gombal supaya hidup gak berabe gara-gara pusing ditagih satu coblosan doang. Aslinya nih, satu kali coblos bukan menunjukkan suara si tukang coblos. Padahal kebanyakan yang nyoblos itu karna terpaksa, gak ada kerjaan, atau sebagian kecilnya lagi karna ngotot. “Terpaksa sih, abisan yang nyaleg itu Engkong gue..” Nah kalau nggak ada yang mencalonkan diri, seratus persen deh dijamin kamu gak mampu untuk terpaksa buat nyoblos lagi. Beda sama yang kagak ada kerjaan, “Yah, daripada pas pemilu libur, terus gue manyun aja di rumah… mending ke TPU,” Padahal datengin Tempet Pemilihan Umum juga cuman numpang narsis bin eksis biar keliatan batang idungnya doang. Hihii… lain pula sama mereka yang milihnya karna ngotot. “Gue kan tim sukses si doi, entar kalau gak nyoblos bisa-bisa gue dikira penghianat dong..” Nah, ini namanya ngotot beud.

Sobat, kita perlu memahami Pemilu dengan bijak dan pintar.

Nih, ada rekomendasi film keren lho yang bisa sobat pantengin! ‘Mission Impossible’ produksi Hollywood itu menceritakan peran IMF dalam mengubrak-abrik rahasia agen-agen yang kerjaannya cuman pengen ngancurin Negara-Negara besar. Intinya, sekelompok geng IMF ini selalu menuntaskan misi-misi terselubung tanpa suruhan pimpinan. Alhasil, misi-misi mulia itu selalu sukses diluar dugaan dan sangat membantu pemerintah memberantas kriminalisasi preman berdasi. Targetnya hanya untuk menyebarluaskan kemenangan Demokrasi di Negara-negara berkembang, hanya itu sebab musabab para preman berjas rapi itu memainkan aksi jahatnya. Nah, si IMF inilah yang tugasnya nyerang seluruh misi jahat para preman berkelas buat nyelamatin Negara.

Eh, bangun yuk sob! Mereka aja saling serang buat menyebarluaskan demokrasi, dibela mati-matian sampe titik darah terakhir. Alangkah indah ya kalau semua ummat islam sedunia memperjuangkan kemenangan islam mati-matian juga, minimal sampe tetes air mata terakhir deh. Keren kan tuh, sob!

 

Mission Impossible meninggalkan banyak pesan tersirat maupun tersurat yang hendak disampaikan penulis naskahnya buat penonton sekalian. Mission alias misi yang mungkin terlaksana itu di film-kan karna kacamata orang banyak mengatakan “it’s not impossible.” Gak mungkin misi itu terealisasi sesuai rencana kalau pimpinannya juga gak pernah mengarahkan dengan jelas secara rinci, itulah yang digambarkan dalam tubuh IMF. Beberapa orang didalamnya bergerak tanpa komando, itulah keberhasilan semu yang tidak terkoordinir. Ini saya katakan keberhasilan semu karna gak jelas misi terbesarnya apa, pokoknya asal gerak aja, yang penting move on buat membongkar kriminalisasi dalem tubuh pemerintahan. Hedeh, asal bongkar aja mah gampang. Bongkar aja noh pemilu, gak bo’ong ya kalau disana pasti selalu ada kecurangan, jumlah perhitungan suara dibikin jadi buanyak dan berbanding kebalik dari realita total pemilih di lapangan. Aneh tapi ajaib, neh. Makanya, main bongkar-bongkar itu mah urusan gampang. Yang lebih istimewa adalah saat kerusakan itu terbongkar dan kita berusaha untuk memperbaikinya, bukan asal bongkar-bongkar aja.

Ingat, ingat.. ting!!! PEMILU adalah bagian dari mission impossible, ada misi yang kemungkinan kecilnya membawa perubahan di tengah masyarakat. Tapi berkali-kali pemilu dilakukan sampai sekarang, belum ada noh yang sanggup melakukan perubahan yang bikin masyarakat seneng gitu yah! Berkah pemilu justru kita makin rugi, makin sakit, makin gila. Gonta-ganti pemimpin tentu berubah pula otak yang mengemban misi, setiap kepala punya niatan dan hajatan berbeda yang nggak mungkin terwujud hanya dengan PEMILU sehari dua hari doang. Gak mungkin deh dapet pemimpin yang nyekolahin gratis lewat sekali coblosan, gak mungkin deh ada pemimpin yang mewarisi karakter kepemimpinan para khalifah islam. It’s not impossible! Pemilu dalem sistem pemerintahan yang serba bebas sekarang ini adalah sebuah misi yang memungkinkan datengnya bencana lebih besar selain banjir dan gempa bumi. Gak mungkin yah mengulang misi yang ending-nya ‘mungkin nanti begini, mungkin ujungnya begitu’. Jangan kebanyakan ngayal ada Pemilu bersih kalau bukan islam caranya, jangan bayangkan ada kemungkinan pemilu kali ini sukses ngademin hati kamu selama bukan islam yang terterapkan sebagai dasar Negara. Gak mungkin lah mencapai misi asal-asalan dengan Pemilu yang memungkinkan banyak tipuan dalam setiap alur Demokrasi. PEMILU 2017, Mission Impossible.!

FB : Baiq Dwi Suci Anggraini | Twitter : @baiq_dwisuci

  • view 86