Terpaksa Berdosa

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 21 Januari 2017
Terpaksa Berdosa

Mari sejenak mengenang memori masa remajaku sekitar enam tahun yang lalu. Tepat kelas dua Madrasah Aliyah, sekitar delapan belas tahun usiaku saat itu. Penuh dengan gejolak labilnya emosi. Maklum, kata orang kan ABG alias Anak Baru Gede. Kan bukan sudah ABK lagi, Anak Bau Kencur maksudnya. Jadi wajar saja iman tak terkendali saat itu. Dan masa itu menggiringku menyentuh zona pacaran. Padahal Kak Bayu sudah ajarkan agar patuh pada perintah islam, menggembar-gemborkan tentang haramnya pacaran, dan deretan efek buruk orang yang nekat melanggengkan hubungan tidak sah. Ketidakhadiran Kak Bayu justru membuatku semakin diuji. Alloh langsung turunkan ujian itu justru lewat teman-teman dekatku sendiri, ujian itu ditimpakan. Ujian iman.

“Kamu sendiri lho yang gak pacaran, Ci..” peraturan aneh dalam geng SQUID membuatku sempat ingin mengundurkan diri. Namanya saja murid SMA, semua budaya tren bin gaul mesti diikuti. Terbentuklah sebuah geng yang beranggotakan lima orang, akhwat semua. Peraturan satu-satunya dan tak boleh dilanggar adalah setiap anggota harus memiliki pacar. Jika satu orang putus dari pacarnya, maka semua anggota wajib memutuskan pacarnya. Gila!

Ya! Itulah peraturan buatan ketua geng. Tak ada yang mampu membantah, semua takluk dengan kesepakatan yang telah mereka buat. Termasuk aku tentunya. Meski sudah menolak berulang kali untuk pacaran, tapi toh tetap saja dipaksa dan menjalaninya pun benar-benar dengan terpaksa. Sekalipun kukatakan ingin fokus dengan Ujian Sekolah, toh mereka tetap tak menghiraukan berbagai macam alasan yang kusampaikan.

            Adit nama laki-laki yang disandingkan teman-teman untukku. Mereka berhasil menjadi biro jodoh pertama bagiku. Ah! Melihat wajahnya saja seperti enggan tapi tak segan jika diabaikan. Bagaimana tidak, aku sama sekali tak tertarik dengan pria yang mereka pilihkan. Namun tidak berlama-lama, Adit memintaku jadi pacarnya. Pacar pertama lebih tepatnya, rupanya aku adalah pacar perdananya. Saat itulah imanku sedang diujikan.

“Sudahlah, Ci.. emang kamu gak kasian ya sama Kak Adit? Dia lho pengen banget pacaran,” tak ada korelasinya antara Adit yang baru awal mengenal wanita dengan aku yang tak sudi jadi kekasihnya. Bahkan tak pernah sekalipun kugubris es-em-es ataupun telepon darinya. Peduli amat, pikirku. Memangnya tak ada laki-laki yang lebih alim dan sholeh? Kenapa harus Adit yang sukanya menggombal, tapi semua gombalannya justru buatku makin tak menghargainya. Bukan senang aku ketika dirayu-rayu, tapi malah semakin tak mau. Ia saja masih gagap merangkai kalimat demi taklukkan hatiku, bagaimana mau merajut hubungan ‘pacaran’. Betul-betul meragukan. Alloh yang pertama tidak akan merestuinya, kujamin.

“Sudahlah, jangan paksa aku.. pokoknya aku nggak mau sama dia…” setegas apapun aku menolak, nyatanya anggota-anggota geng itu tetap saja makin tak jelas kelakuannya. Bosan rasanya setiap ke sekolah selalu ditodong hal-hal yang berhubungan dengan Adit. Katanya sih, supaya kompak. Oke, aku memang tak kompak kali ini. Tak sepakat dengan aturan sinting yang membuatku kehabisan akal untuk menolak permintaan mereka. Sudah habis daya membuat jutaan alasan, hingga wajar kuterima Adit hanya bermodal keterpaksaan.

            Entah siapa yang sedang jadi korban saat itu, bisa jadi aku. Adit mulai berlebihan memamerkan status baru kami yang resmi berpacaran. Baru hari pertama saja rasanya sudah tak sanggup kuteruskan, penat. Dia makin berulah. Berani-beraninya ikut-ikutan datang ke rumah, padahal yang kuundang hanya teman-teman satu geng saja. Itu pertama kalinya seisi rumah tahu aku sudah punya pacar, tapi bukan yang mereka harapkan.

“Yang itu pacarmu, Dek?” salah seorang sepupu pun penasaran sambil mengarahkan telunjuknya ke arah Adit. Anggukanku spontan membuatnya terkejut, keningnya mengernyit, matanya menyipit.

“Biasa aja..” respon sepupuku yang sok tampan itu.

Sudah kuduga seisi rumah pasti beranggapan senada. Memang tak ada yang istimewa dari Adit, sedangkan yang mereka tahu tipeku bukan seperti itu. Adit memang laki-laki sederhana, mungkin karna ia terbiasa hidup merana. Ah, bukan. Lebih tepatnya, menderita karna cinta yang tak kunjung menyapanya. Sekali dijodohkan denganku, malang benar nasibnya. Sayangnya, dia terlalu polos membaca keadaan yang sedang menimpa dirinya. Bahkan setelah satu minggu kami pacaran, ia mana pernah tau bahwa aku masih sangat membencinya. Pura-pura saja bersikap ramah sewajarnya, harapku ia tak kecewa jika suatu saat tau realita yang ada. Aku memang sedang menunggu waktu yang tepat untuk segera memutuskan hubungan dengannya. Setelah itu, jangan harap ia bisa temuiku lagi.

            Ini pertemuan terakhir yang sudah kurancang sebelum memutuskannya. Dari pagi sampai sore kami mencari hiburan sebelum Ujian Nasional tiba. Setiap orang diboncengi pacarnya masing-masing, mau tidak mau aku juga. Ah! Maafkan aku, Tuhan. Jika saja mampu menentang, mungkin Adit sudah kutendang jauh-jauh. Tapi sayangnya aku selalu tak mampu berkutik setiap kali yang meminta adalah teman-temanku sendiri. Khawatir dianggap tak setia kawan nanti. Fyuh.. yang lain sibuk memeluk erat pasangan masing-masing, aku justru duduk di sisi paling tepi jok motor milik Adit. Tak peduli jatuh sekalipun dari sepeda motor itu, toh aku malas benar beradegan mesra macam orang sudah menikah saja. Inilah yang kutakutkan sejak awal mengenal Adit. Kelakuannya sama saja dengan laki-laki lain, tak ada beda. Benar kata Kak Bayu, pacaran hanya menjerumuskan pada maksiat.

“Dek, coba liat temen-temen yang lain.. semuanya pada meluk cowoknya tuh,” sudah bising suara motor di jalanan, makin cerewet saja makhluk itu. “Maaf, tapi saya nggak berani dan nggak mau, sudahlah jalan aja..” malas sekali rasanya membalas komentarnya, tapi setidaknya agar dia tak terus-terusan meminta hal yang sama. Kusekat jarak dudukku dengannya, tapi terlalu sulit rupanya. Setiap ada jalanan rusak dan ia tiba-tiba ngerem mendadak, semua sekat yang telah kubuat jadi rusak. Alah, aku tau ini hanya strategi para lelaki buaya saja. Semakin banyak aksinya, semakin keras usahaku membuat jarak.

            Sampai di rumah, Kak Bayu meneleponku. Seorang ikhwan yang dulu sempat kukenal jauh sebelum berkenalan dengan Adit. “Andai aja Kakak ada disini, emh..” itulah kalimat pembuka yang kuucapkan padanya. Aku benar-benar lelah dengan kondisiku saat itu, kuceritakan lengkap padanya. Meski kutahu, mungkin nantinya ia pasti akan sedikit sakit hati mendengarkannya. Pasalnya, Kak Bayu sudah melarangku untuk tidak berpacaran, bahkan haram bersentuhan dengan lawan jenis. Jujur, aku merindukannya. Sebelum dia berangkat ke Jogja untuk melanjutkan studi, kami habiskan waktu selalu dengan berdiskusi. Banyak hal yang kami bincangkan dan tak sadar rasa itu hadir. Tapi semua berhasil kupendam dan tak satu kalipun mengungkapkannya. Biarlah hanya Tuhan saja yang paling tahu, aku tak ingin mengotori hubungan persaudaraan itu hanya dengan kalimat cinta. Setelah kepergiannya, tak ada lagi yang mengontrol aktivitasku. Sudah tak ada yang biasanya memberikanku wejangan. Sejak saat itu aku sudah tak lagi konsisten gunakan pakaian muslimah yang syar’i. Mulai kukenakan celana, meski toh kepala juga ditutupi dengan selembar kerudung. Tak jelas arah sikapku semenjak Kak Bayu mulai sibuk dengan kuliahnya. Tak ada lagi sosok yang biasanya kujadikan acuan.

Aku tahu Kak Bayu tak punya banyak waktu seperti dulu, jadi cepat saja kuselesaikan ceritaku padanya. Kutahu ia pasti marah besar, tapi ternyata tidak. Rupanya Kak Bayu langsung menenangkanku, mengembalikan semua keputusan padaku. Itu sudah pasti, aku hanya menunggu timing yang pas untuk memutuskan Adit. Aku tahu betul, itu perintah agama. Aku tak mau kalau-kalau Kak Bayu menghubungi kembali, sementara aku masih belum meninggalkan Adit. Itu yang kutakutkan sebenarnya.

Dua minggu hubungan pacaran tanpa rasa itu terlaksana. Kujelaskan sebaik-baiknya kronologis kejadian, tanpa mengurangi atau menambahkan. Kukatakan pada Adit bahwa sebenarnya aku tak sedikitpun memiliki perasaan khusus terhadapnya. Tidak setitik pun. Kukatakan juga alasan menerimanya sebagai pacar tentu karna rasa tak enak pada teman-teman. Duh, Adit menangis sejadi-jadinya. Cengeng betul manusia itu. Tapi aku benar-benar tak sanggup berkata apa-apa setelah menyimak kejujurannya. Ia katakan, ia benar-benar menyayangiku tulus dan dalam, sampai mengorbankan segalanya. Padahal, apa yang sudah dikorbankan untukku? (Idih ngaku-ngaku aja, mana ada pengorbanannya). Paling cuma jadi tukang ojek atau relawan yang mengisi pulsa hapeku saja. Selebihnya, tak ada. Omong kosong. Justru hanya mempermainkan prinsip dan imanku saja.

“Kasih Kakak kesempatan satu kali lagi, Dek..” kesempatan macam apa yang dimintanya, sudah jelas keputusanku malah minta kesempatan kedua. Cinta tak bisa dipaksakan, kawan!

Tak kusangka, esok harinya satu geng tak menegurku. Sekalinya menegur, justru sibuk menceramahi. Semua simpati pada Adit, mana peduli mereka padaku yang terpaksa pacaran dan gadaikan iman. Beberapa hari itu aku diinterogasi, dihakimi, disudutkan ibarat tersangka narapidana. Maafkan aku kali ini, kawan! Aku tak lagi menggadaikan prinsipku pada kehendak kalian. Tak ingin dibenci Tuhanku hanya karna mengacuhkan perintahNya. Sederhana saja, aku tak mau laki-laki macam Adit. Sederhana saja, aku sudah paham betul susahnya menjaga diri saat pacaran. Meski sudah keras kucoba menjaga batas dan jarak, tetap saja tak bisa karna sudah terlanjur terikat dengan status hina.

            Oh, siapa menyangka.. saat aku sedang down setelah dibuat terpojok oleh teman-temanku sendiri, Kak Bayu justru datang sebagai juru penyelamat. Kucurahkan semua kesal dan sedih padanya, bahkan tak ingin membagikannya pada siapapun kecuali hanya Tuhan dan Kak Bayu yang tahu. Aku menangis sesenggukan, tak kuasa menahan semua perlakuan teman-teman padaku. Semua menjauhi, mengganggapku tak punya hati karna telah memilih tinggalkan Adit. Aku memang tak punya hati, bahkan imanku saja sudah kuobral demi kepentingan sesaat mereka. Tak peduli dikeluarkan atau di-PHK dari geng itu, aku sudah tak ambil pusing. Aku lebih pentingkan tangan dan badan yang sempat beberapa kali tak sengaja tersentuh Kak Adit. Mungkin ia tak bermaksud, tapi tak enak saja jika tak jabatan tangan didepan teman-teman. Sudahlah, malas kuingat-ingat lagi sentuhan-sentuhan itu. Rasa tak enak membuatku jauh dari Tuhanku. Ini yang sudah tak kusuka lagi. Toh, masuk syurga juka bukan karna bertahan dalam geng, tapi karna pintarnya hamba membentengi imannya. Itu saja, cukup!

“Iya sudah, jangan diteruskan nangisnya..” terus saja Kak Bayu berusaha tenangkanku. Meluapkan semua rasa bersalahku yang telah mengecewakannya. Aku sudah gagal jadi seorang saudara yang dia harapkan selama ini. Bahkan aku sudah jarang sholat tahajjud dan puasa senin-kamis, karna Adit pasti sering menelepon sampai tengah malam. Wajar kalau akhirnya aku selalu mengantuk, tak tidur semalaman, meninggalkan sholat lail, tak rajin lagi puasa sunnah, dan semua ibadah yang Kak Bayu biasakan padaku jadi sudah tak terbiasa lagi. Semua hilang dan aku seperti benar-benar lupa dengan ibadahku. Total.

“Iya, Kakak minta maaf.. mungkin juga salah Kakak yang selama ini terlalu sibuk disini sampai nggak tau apa yang terjadi sama Adek..” begitulah sapaan yang kami ciptakan sendiri, Kakak dan Adek. Kami sudah saling mengangggap masing-masing diri layaknya saudara kandung, meski sebenarnya berawal dari pertemanan biasa.

Sejujurnya aku paham betul tak boleh ada interaksi tanpa alasan dengan non mahrom meski tak berstatus pacaran, macam aku dan Kak Bayu. Tapi saat itu, aku memang sama sekali tak punya seseorang yang pantas kujadikan teladan. Semua orang telah terlena dalam buaian kapitalis, bebas tanpa batas.

Selesai sudah percakapan via telepon itu, tiba-tiba dari arah seberang Adit menghubungiku. “Kakak mau ke rumah Adek sekarang, tunggu didepan ya..” tut.. hape dimatikan dari arah seberang. Kak Adit rupanya, “Mau apa lagi sih tu orang?” gerutuku sembari menuju halaman depan rumah. Tak berapa menit kemudian suara bel sepeda motornya memaksaku keluar menghampiri lelaki itu dalam hujan. “Hujan deras begini ngapain sih kesini?” kulihat ia sudah basah kuyup dan menyodorkan sekantong plastik rambutan segar. Matanya bengkak, sepertinya sudah membuang air mata buayanya sampai berjam-jam. “Habis nangis ya?” tanyaku memastikan. Bukan dapatkan kepastian, ia justru sudah bersiap menyalakan kembali sepeda motornya itu.

“Cuma mau nganter itu, semoga cepet sembuh ya.. Assalamu’alaikum…” berlalu dan meninggalkanku dalam kebingungan.

“Bela-belain terobos hujan cuma mau nganter ini?” belum selesai kalimatku, ia sudah berbalik dan pergi.

Tak peduli, segera kuserahkan sekantong rambutan itu pada seisi rumah.

“Bodoh!” timpalku lantang.

Bukan saja Adit yang dungu, aku dan Kak Bayu juga terbodohkan oleh dunia yang menawarkan keindahan semu. Kami semua larut dalam keterpaksaan dosa. Beginilah jika tiada dirajut dalam bingkai syari’at. Fatal !

  • view 89