Hey, Man!

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Kisah Inspiratif
dipublikasikan 19 Januari 2017
Hey, Man!

Menerima kedatangan lelaki sholih itu adalah kewajiban, sekalian menjawab tantangan kekinian bahwa nikah muda itu keren dan mengagumkan. Mengiyakan perkataan lelaki tampan itu adalah pilihan, tetapi bagiku adalah keharusan agar niatan untuk duduk di pelaminan kemudian dilancarkan tanpa halangan.

Sudah dipastikan bahwa dakwahnya selalu terdepan, kreatifitasnya tanpa batasan, tidak pernah mengimpikan pernikahan sebagai khayalan atau angan-angan, tetapi ia tuntaskan dan mengawalkannya melalui sebuah proses sederhana yang disebut banyak orang 'kolotan'.

Bagi kami yang sedang menantikan pertemuan, ta'arufan merupakan satu-satunya jalan untuk bisa saling bertatapan di masa depan. Dengan perkenalan seadanya, dia janjikan sebuah angka di suatu bulan yang akan menghantarkan pandangan sampai pada obrolan seriusan. Percakapan pun semakin berpanjangan, seakan tengah dihadapkan pada pengadilan yang mengharuskan setiap orang menyampaikan kejujuran bukan kebohongan. Pembicaraan yang dilakukan pun terbalaskan, satu demi satu pintu terketuk untuk menawarkan siapa kiranya yang bersedia memberikan bantuan gratisan. Sebagai calon pengantin yang sama-sama baru pertama kali hendak berta'aruf, sebenarnya ada kebingungan akan memandatkan ustadz ustadzah yang mana sebagai mediator sungguhan. Karna proses sakral ini bukanlah seperti tayangan drama yang dimainkan para amatiran, akhirnya diceritakan awal perkenalan dengan lelaki mapan itu pada salah seorang, dua orang, ah rasanya lebih dari tiga orang telah menyimpan kisah itu pada memori kepala mereka masing-masing. Akhirnya tercurhatkan semuanya agar dapat segera menemukan solusi atas kebingungan mencari mediator sungguhan itu. Alhasil, setiap kepala hanya menyuruh menemui malam dan melakukan istikharoh saja didahulukan. Padahal tanpa suruhan pun, memang hal itulah yang seharusnya pertama kali dilaksanakan agar Tuhan memberikan restunya. Namun tak sebiji kepala pun mengatasi permasalahan, justru menambah datangnya kerumitan pikiran. Mediator tak ditemukan, sedangkan dia telah lebih dulu putus asa pada usaha yang belum termaksimalkan. Lalu dikatakan padanya, "Putuskan saja keputusanmu, silahkan putuskan akan kau lanjutkan atau menghentikan proses yang bahkan belum dimulai.." begitu ringannya ia pun menyampaikan keputusannya dengan singkat. "Tidak ada yang perlu dilanjutkan," benar-benar tanpa beban dan tak sedikitpun teruntaikan  penyampaian maaf dari lisan lelaki yang dianggap telah siap itu.

Apa-apaan, ini? Aku telah menunjukkan cara untuk memproses jalan yang Alloh inginkan, dia hanya cukup membantu mencarikan mediator saja, pun tak sanggup dilakukannya. Mediator yang mengenal diri berdua satu sama lain, menengahkan apapun proses yang akan dilangsungkan kedepan, pun tak pernah ia lakukan, tidak sama sekali.
Sebagai lelaki yang telah berani mengajak membangun keindahan syurga, harusnya kau telah mengonsep tahapan-tahapannya. Terbukti modalmu cuma nekat-nekatan, menyebutkan sebuah tanggal pun mungkin asal-asalan, sayangnya wanita ini terjebak dalam aksi kekanak-kanakanmu itu. Semoga Alloh menggantikan keistiqomahan dan komitmen yang lebih menawan dalam dirimu di lain waktu, agar wanita yang kau datangi berikutnya nanti tidak lantas kecewa dan mendapatkan penghargaan sebagai makmum pertama dan terakhir.

Duhai dirimu yang sempat menjanjikan lalu pergi tak berpamitan, teruslah memantapkan hati padaNya agar saat kau memintalkan niatan pada perempuan, mereka mendapatkan kegembiraan di atas awan sebab bumi dan langit telah meridhoi keduanya. Memantaumu dari kejauhan, semoga banyak lelaki yang tumbuh sepertimu. Dibina dalam dakwah islam, senantiasa menjadikan kalian sebagai panji-panji kebangaan Tuhan.
Mari menganggap semuanya tersempurnakan saat kau memilihkan sebuah nama jadi tujuan perlabuhan, bahkan rupanya telah sangat lama kau mengumpulkan mimpi-mimpi itu dan mencoba mencurinya dengan perjanjian yang terlanjur disepakati. Desember, mencintai akhirmu sebagai bulan terakhir dari duabelas bulan yang sempat ia ingkarkan. Kita tak usah membenci siapapun, saat terpaksa ditinggalkan ataupun harus meninggalkan.

Sebagai lelaki, datangilah wanita yang kau sebutkan dalam doa itu sebagai tujuan perlabuhan. Sebelum berlayar, nahkoda harus memastikan seluruh persiapan telah dimatangkan. Jangan nekat menjalankan setir kalau tak punya keahlian. Yakinkanlah dulu mesinnya, kemudian pinang ombaknya, baru kau nikahi perempuannya. Lakukan. Sekarang!

  • view 65