Pilihan Tuhan (?)

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 22 Oktober 2016
Pilihan Tuhan (?)

Seperti berada di atas angin, hembusan nafasku ini meniupkan namamu. Bersama tarikan nafas, desahnya itu hanya menyemburkan  bayang wajahmu. Kau pun mengenalnya, mengetahui semburan nafas yang kerap kulontarkan dalam doa terpanjang bersama kecepatan angin. Di atas angin inilah aku tertidur dalam ruang penantian. Ruang-ruang itu selalu kusiapkan, ku tentukan masa dan mimbarnya sampai aku bangga membawamu tepat diatas tiupan nafas tercepatku. Maka menantikan sekali lagi pertemuan bersahaja denganmu adalah satu bilik kosong yang sedang tersimpan pada altar rindu. Rasanya gelombang angin di sekelilingmu begitu tenang.. hingga pandangan bola mataku pun tak ingin lari darimu. Kita menyaksikan majelis berkah yang sama, berpijak pada shaf yang serupa, namun ketika itu hatiku tak cukup berani menatapmu lebih dalam. Kita tak lagi nekat untuk saling bertegur sapa begitu hangat dan meriahnya, karena semua kegiatan itu telah lama berlalu tertiup goncangan angin. Alasannya, karena "cinta adalah amanah Alloh !" Sebab yang klasik kedengarannya, tetapi terlebih sederhana bagiku. Entah jenis angin apa yang tengah menyapu lembut tempurung imanmu, bahkan kehalusan budimu telah membuatku bertekuk lutut pada namamu saja. Akhirnya, ujung yang indah sampailah di hadapan Tuhanmu. Lantas kau memilih diam, pergi, hilang diatas kecepatan sang angin. Sesekali aku berkirim salam padaNya, menitipkan akal dan jiwamu agar selalu suci terjaga. Tak lepas merindu sambil menantikan, kupesankan pula pada Sang Pemilik Angin. Kelak DIA akan menyelesaikan tugasnya, lalu mengibaskan ruh penantianku ini kedalam setiap nafas yang kau hirup masuk menuju singgasana rindumu.

Menyimpan khayal, mengumpulkan seluruh pengharapan, menggiringnya pada muara karya. Disanalah aku bisa menyaksikanmu lebih lama, menatap ke dasar ambisimu jauh lebih panjang. Dan, aku terpuaskan bersama penghayatanmu yang bernilai baja. Bangga mencintamu dalam diam. Bahagia telah menaikkan setingkat derajat cita juga cintamu pada Sang Tunggal. KeEsaan Tuhan menyadarkanku, bahwa tak akan ada mahkota yang lebih terang di hatiku selain cinta yang terlanjur kutitipkan ia padamu yang satu. Bukan inginkan pengawal istana yang lebih kuat pertahanannya, tidak pula mengharapkan kedudukan raja-raja yang lebih masyhur kebaikannya. Karena amanah kalbu ini sungguh telah bersepakat menunjukmu sebagai akhir perlabuhanku. Kamulah jalanku, penuntun kesetiaan akhirat mengabdi hanya pada satu-satunya tempat kembali hati kita. Kamulah impianku, prajurit kuat dengan kesantunan luhur akhlaknya, tiada pengganti di luaran sana kecuali terutus padamu. Kuucapkan salam teristimewa pada engkau  yang menyelamatkan hatiku dari kealpaan semunya dunia cinta sesaat pada manusia.

Ya! Sebenarnya aku sedang mencintaimu dalam diamku. Kulihat siapa dirimu dengan kekuatan yang selalu kau tunjukkan itu. Sayangnya, aku hanya mengamatimu dari pertahanan yang mampu kau lakukan untuk ibumu saja. Aku tak pernah tertarik pada sisimu yang lain, kecuali bakti pada ummi yang coba kupangggil ia dengan lembut. "Ummii..." Aku menaati perkataanmu begitu patuh, karna kusadari enggan membantah keajaiban yang kau peroleh dari wanita hebat itu. Ajaibnya, ia telah membesarkan dan mendidik lelaki sepertimu dengan sangat istimewa di hadapanku. Mengenalmu tanpa pernah membuatku gusar, menjadikanmu pemuda terbaik pejuang panji yang pernah kutahu. Meski belum ingin menganggap keberadaanmu sebagai mega cahaya, tetapi malam saat kau datang dengan azzam mulia itu.. hatiku langsung mempertanyakan imanku yang lama berkarat setelah tinggalkan dakwah. Dengan santainya, kau katakan "dakwah wajib bagi setiap muslim, tak peduli dimana kau bergerak." Wahai, Alloh.. Keraguanku terbayarkan. Imanku yang berkarat sebelumnya, kurasa makin menguning keemasan karna lugas jawabmu.

Skenario indah itu, akulah penciptanya. Alloh, Tuhanku adalah penolongku. Dimulai dari pertemuan maya yang kuciptakan sendiri, lalu ia mulai hadir ke tengah kesendirian. Kemudian kami mulai terlibat dalam semangat juang yang sama, ISLAM. Membicarakan cemerlangnya, mendiskusikan kecerdasannya, sampai tibalah masanya saat aku mulai memutuskan untuk mengenalnya secara berlebihan. Tidak biasanya aku begitu berani bicara masa depan dengan seorang lelaki, bukan kebiasaan ketika aku mulai lantang menyebut namanya pada setiap sujud dan doa terpanjangku. Bahkan jika sehari tak meminta ia pada Sang Pemilik Hati, lisan ini akan mengutuk kealpaannya. Astaga! Rupanya aku terlanjur memohon lebih pada DIA, agar dia satu-satunya yang terakhir menuntun dan menuntutku sampai syurgaNya. Ya, karna cinta itu amanah Alloh.

  • view 200