Syurganya Maaf

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 10 Agustus 2016
Syurganya Maaf

Senin sendu, kala syurga itu begitu kurindukan. Ceria anak-anak di sekolah, membuatku makin mengutuki alpa diri sebagai manusia sempurna. Anak-anak istimewa yang dengan kegetirannya terus melangkahkan kaki memasuki kelas, tak sedikitpun terpancar wajah sendu pada mukanya. Dhuha ini, air mataku mulai berjatuhan. Sayangnya, aku tak berani mengalirkannya lebih deras. Aku hanya menyimpannya dalam dada ini, merasakan sakitnya memendam khilaf. Aku mohon ampunan, sedang lisan mereka terus saja berucap maaf. Aku sangat mengutuk lisanku yang kaku, sehina inikah diriku dihadapan anak-anak tanpa dosa. Aku mencoba memijakkan kaki didepannya, mengeja setiap ekspresi yang ditunjukkan agar aku mengerti dan mau mendekat meski sejengkal. Aku tak tau rasanya jauh dari kalian, adik-adik tersayang. Aku telah terlanjur menorehkan cinta di dada, hingga hanya kalian saja yang menjadi mahkota dalam hati ini. Tetapi, aku nyatanya tak ada beda dengan mereka yang masa bodoh atau tak peduli pada kebisuan itu. Aku terus menyingkir, menjauh, rasanya setiap hari makin panjang jarak di antara kita. Setiap pagi harus kuhadapi cerah mentari dengan kecut, karena aku tak lagi percaya bahwa menyapa kalian adalah bahagia. Aku tak ingin yakin kembali, bahwa menegur kalian itu kebahagiaan yang hilang. Maafkan, ampunkan, aku tak lagi sama seperti dulu. Aku tak lagi malaikat yang selalu kalian ambil sayapnya, lalu dijadikan tempat untuk tersenyum. Aku bukan lagi pahlawan, yang keberaniannya mampu menghilangkan bayangan ketakutan di pikiran kalian. Adik-adik kesayangan, please forgive me... Promise, i wish all of you give me much forgiveness. Love you all for the missing moments, missing you everyday guys.!!!

Pagi ini mulai terbuka spasi di antara kita, syurganya maaf itu kembali terhadirkan. Aku menunduk pada keagungan bahasa yang kalian sebut itu "bahasa hati." Tanpa perlu menuturkan, kalian telah lebih dulu paham kapan harus merangkulku. Terimakasih untuk sebuah awal yang baru, permulaan yang selalu terulang setiap pagi, ketika kita berpapasan untuk sebuah kerjasama yang lebih indah. Kulukiskan kembali senyum di wajah itu, semoga kalian terus menuntunku menuju telaga pengertian.

Aku ingin terus menyalami dengan makna yang terbatas, pada maksud yang mungkin tak selalu sempat terbaca. Namun, semuanya itu telah terpotret terang oleh banyak mata. Meski kini permulaan itu harus diulang lagi rajutannya, namun kalian tetap mengingat masa termanis bersamaku. Tetaplah berlari, jangan pernah menoleh atau memeriksa kelupaanku. Aku hanya memperlihatkan sedikit saja dari kebingungan yang kalian pun telah memahaminya, karna ini hanyalah permainan antara bahasa dan kalbu kita. Maka permainan itu tak kan ada lagi, sebab kita bersepakat untuk merajai hati diatas semua yang tak enak. Aku ingin kalian membersamai cita diatas cinta yang selalu kita genderangkan. Semoga jalannya tetap terbentang, dan kelak akan kusaksikan kaki itu telah menapak di menara kehebatan. Tetaplah indah dalam keterbatasan, karna bagiku itu semua adalah kesempatan. Ambillah peluang, mari kita ciptakan puncaknya di bawah semesta Tuhan Yang Maha Pemilik Keagungan.

  • view 133