Sebuah Ilustrasi : Merunduk Sampai Mendongak

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Buku
dipublikasikan 07 Agustus 2016
Sebuah Ilustrasi :  Merunduk Sampai Mendongak

 

Lazuardi. Kosakata paling pertama yang membuat saya mengerti tentang diksi. Diksi adalah pilihan kata yang tepat, selalu menarik dan istimewa bagi setiap penulis senior. Bagi penulis junior seperti saya, harus merangkak menemukan kosakata unik dalam berbagai tulisan. Prinsipnya, tiada penulis besar yang lahir dari penulis kecil. Sebelum Asma Nadia jadi penulis best seller, saya yakin betul, beliau juga sama seperti saya dulu.  Tiada berbeda prosesnya.

Lazuardi. Saya benar-benar penasaran interpretasi dari satu kata itu saja. Membuka Kamus Besar Bahasa Indonesia sekalipun percuma, tak ada hasil untuk penemuan kata terunik itu. Bagi saya, sangat unik saat saya masih pertama kali mempelajari diksi. Pilihan kata!

Semua tulisan yang lahir awalnya bukan berkembang dari kursus menulis atau bergabung dengan organisasi kepenulisan manapun. Saya hanya mengumpulkan setiap hal yang membuat saya penasaran, lalu membuat list khusus untuk DIKSI TERUNIK. Mulai dari yang paling sering kita dengar di Sekolah Dasar. Sang raja siang, sapaan bagi sang mentari. Sampai pada diksi-diksi yang saya ciptakan sendiri. Rasanya ingin berubah haluan. Bukan belajar menjadi seorang penulis besar, melainkan pengumpul diksi di abad ini. Tapi itu hanya sebuah angan yang sampai saat ini tak terealisasi. Sekedar tersimpan dalam memori tanpa pernah berpikir menggapainya. Satu hal yang membuat angan itu tak tercapai. Diksi yang unik tercipta untuk dituliskan, lalu dirangkai membentuk kalimat terunik. Membentuk paragraf demi paragraf, sampai pesan dalam tulisan tersampaikan dengan mudah. Kesimpulan saya, tiada guna jika sekedar menjadi pengumpul diksi – tulisan lengkap adalah penyedapnya. Toh, banyak orang yang tak tahu makna dari beberapa kosakata unik yang sering saya temui.

Kembali pada Lazuardi. Saya saja baru tahu definisi pasti kosakata itu dari Ibu, beliau yang wariskan kecanduan menulisnya pada saya. Sebuah peninggalan yang sewaktu-waktu bisa menghasilkan karya, dibaca semua orang, tentu menghasilkan uang. Menggiurkan memang menjadi seorang penulis, ditambah kalau sudah terkenal dan tak asing lagi dimanapun. Bagi penerbit, tentu sulit menolak, jika si penulis memang sudah terdaftar sebagai penulis profesional.

Langit biru. Itu makna yang paling tepat dari kata Lazuardi. Ibu menceritakan beberapa pengalamannya semasa remaja. Aktif menulis di koran, mengikuti perlombaan menulis, dan sederet aktivitas kepenulisan yang lambat-laun membesarkan namanya. Memang, buah tidak jatuh jauh dari pohonnya. Saya mulai suka menulis sejak kelas 3 SD. Jangan heran! Sekarang justru anak usia Taman Kanak-kanak saja sudah banyak yang gemar menulis. Karna sudah ramai klub-klub penulis yang menaungi anak usia dini. Mereka dikenalkan dengan dunia tulis-menulis, agar muncul bibit-bibit baru dari anak-anak kecil itu. Berbeda dengan masa saya dulu, anak SD sekedar diajar menulis, membaca, menghitung angka, menghafal perkalian, dan tetek bengeknya. Jujur, saya sudah bisa membaca sebelum masuk SD. Jadi ketika harus belajar membaca lagi, rasanya terlalu lama. Maka saya putuskan membaca tulisan-tulisan unik di Buku Bahasa Indonesia Kelas 3 Sekolah Dasar. Saya masih ingat betul cover buku yang pertama kali membuat saya tertarik untuk menulis. Warnanya biru. Biru dongker lebih tepatnya. Lengkap dengan gambar murid-murid berseragam merah-putih sebagai latarbelakang cover buku pelajaran itu. Sekarang saya jadi berpikir, “Kenapa seragam anak SD merah-putih ya? Kain bendera kok dibawa kemana-mana, bukan justru tegak di tiangnya.” Tapi tak penting membicarakan hubungan kain bendera dengan seragam saya dulu. Hanya intermezzo! Begitulah gaya saya dalam menulis. Kalau ada orang yang menulis dengan alur maju-mundur atau mundur-maju, saya justru lebih suka menulis tanpa konsep yang baku. Bahkan buku EYD saja tidak pernah saya jadikan pedoman dalam menulis. Saya tidak suka dibatasi, karna imajinasi itu bukan sesuatu yang ilusi. Imajinasi itu adalah karya nyata, jika dituangkan. Kalau tidak tertuangkan hanya akan menjadi imajinasi basi. Saya menulis sekehendak hati, mengikuti kemana arah arus inspirasi. Pertama kali yang saya tulis adalah sebuah puisi. Puisi yang temanya masih seputar dunia anak, karna memang saat itu saya masih ingusan. Apa jadinya kalau saya yang masih bau kencur, tiba-tiba menuliskan puisi bertema romantisme. Tapi jangan salah, anak-anak sekarang sudah lebih paham tentang roman ketimbang jaman saya dulu. Pengaruh tayangan televisi yang tidak mendidik salah satunya. Bicara televisi, saya rasanya ingin tertawa saja.

Saat kelas 3 SMP, saya mulai berani menulis sebuah essay. Biasanya menulis puisi dan cerita pendek, kali itu saya terpaksa harus menuliskan sebuah essay. Awalnya, permintaan salah seorang teman yang merekomendasikan nama saya kepada seorang Guru. Saat itu ada event penulisan essay untuk pelajar SMP se-Indonesia. Katanya, akan dikirim ke Dinas Pendidikan di Jakarta. Saya dan dua orang teman mulai menulis essay sesuai tema yang sudah ditentukan. Tentang pengaruh media terhadap remaja, khususnya anak. Lebih tertarik mengkerucutkan isi essay saya saat itu terhadap efek televisi bagi anak. Menulis essay merupakan pengalaman baru bagi saya, benar-benar tak paham peraturan mainnya. Terpaksa harus sedikit membuka pelajaran Bahasa Indonesia tentang Essay. Padahal, saya tidak pernah berharap menjadi penulis fakta. Saya hanya ingin menjadi penulis fiksi, begitulah seorang Guru di Sekolah Dasar membentuk target dan tujuan saya. Namanya Bu Puji, wah sampai sekarang saya masih hafal ciri fisik beliau. Rambutnya sedikit beruban, pakai kacamata tebal, dan dia satu-satunya guru favorit saya. Mungkin karna saya lebih sering berbicara dengan beliau, sehingga guru-guru yang lain tidak masuk dalam daftar orang-orang yang saya kagumi.

Sudah ya, tidak perlu membahas beliau. Tapi satu sisi yang membuat kedekatan kami semakin lekat. Saat saya mulai ingin belajar menulis, beliau lah yang pertama kali menyadarkan saya betapa pentingnya menjadi seorang penulis. Bahkan wajib! Pasalnya, seluruh siswa selalu diminta membacakan puisi-puisi yang ada dalam buku-buku pelajaran. Saya muak dengan keadaan itu. Rasa muak inilah yang membuat saya akhirnya protes. Sampai kapan saya dan teman-teman membaca puisi orang-orang tua itu, semacam Khairil Anwar dan Kahlil Gibran. Sekali-kali, saya ingin nama saya ada didalam buku-buku pelajaran. Dibaca oleh setiap orang, diingat meski telah lenyap dari muka bumi. Sebuah rasa muak yang akhirnya mengharuskan Bu Puji meminta kami menulis buku harian. Tidak akan diperiksa ataupun dijadikan tugas rumah, hanya sekedar anjuran menurut saya. Bagi yang berminat, silahkan laksanakan. Bagi yang enggan, saya tidak peduli pada yang tidak berminat.

Saya termasuk yang sangat berminat. Bagi saya, sama saja diary dengan buku agenda atau buku tulis lainnya. Tak penting menulis dimana, yang penting adalah apa yang saya tuliskan didalamnya. Saya mulai asik menulis, dimana saja, pada setiap kertas yang ada sedikit lahan kosong. Melihat potensi dalam diri saya, seluruh penghuni di rumah mempersilahkan saya menggunakan komputer, hampir setiap waktu, kapanpun saya mau. Saudara-saudara yang biasanya main game di komputer tua itu,  satu bulan lamanya terheran dengan kecanduan saya. Entahlah. Saat itu saya benar-benar mengalami addict! Saya kecanduan menulis, bahkan sampai lupa bahwa diri saya juga seorang muslim. Ada kewajiban sholat yang harus saya kerjakan. Ada kebiasaan mengaji Qur’an yang perlahan saya tinggalkan. Dan setelah novel pertama saya selesai, saya benar-benar kembali muak. Saya temui lagi Tuhan dalam sholat, beberapa saat mencoba memanajemen waktu dengan sebaik mungkin. Secandu apapun saat sedang menulis, saya terkadang sadar, saya merindukanNya. Setiap rindu selalu terobati dengan pertemuan, maka jelas saya memilih tinggalkan aktivitas menulis sejenak. Saya mulai sibuk mendekatkan diri denganNya, menebus seluruh waktu yang sempat hilang hanya karna sebuah ambisi yang tak jelas balasannya. Kalau menjadi penulis, bersiap dapatkan penghargaan dan ketenaran, ditambah materi tentunya. Tapi itu bukan tujuan, saya menulis karna saya iri dengan orang-orang yang telah mengeluarkan banyak karya. Saya betul-betul iri saat mengikuti acara launching novel perdana seorang mahasiswa di siaran radio lokal. Lalu, kapan giliran saya?

Itu yang membuat saya berpacu dengan waktu. Saya mulai menggarap sebuah novel bernuansa romansa, percintaan ala remaja. Biasa saja, seperti alur yang sudah dapat saya tebak di sinetron atau FTV. Ternyata, berimajinasi menggarap sebuah novel tidak semudah saat saya berimajinasi menggarap beberapa puisi atau short story.

Kebingungan pertama! Setiap novel tentu punya bab, sebut saja babak. Semisal novel ada 10 judul didalamnya, maka setiap judul harus berbicara lebih spesifik. Dan ini terlalu membuat saya bingung, bagaimana hendak memulai dan mengakhirinya. Berbeda dengan cerpen, hanya ditulis dengan 1 judul saja, cerita selesai. Sedangkan novel, dari judul satu ke judul lainnya harus punya korelasi. Untuk saya yang belum pernah mengikuti training kepenulisan, rasanya masih terlalu sulit saat itu. Tapi karna terlalu berambisi menjadi seorang penulis novel, saya pun mencoba otodidak. Memaksakan judul-judul tersebut saling terkait. Sungguh disinilah kapasitas saya sebagai seorang penulis pemula sedang dipertaruhkan. Saya malu jika harus bertanya pada Ibu, sebabnya beliau juga belum pernah menulis Novel. Setau saya begitu.

Saya coba pelajari novel-novel yang cukup laris. Tanggung kalau saya belajar dari novel-novel yang kurang laris. Bukan bermaksud memojokkan, hanya terkadang kelarisan sebuah novel berasal dari novel-novel mereka yang dulunya tidak laris di pasaran. Jadi, sudah barang tentu mereka telah banyak melakukan percobaan. Cukup kuat saya jadikan media untuk mengatasi kebingungan yang pertama.

Kebingungan kedua! Novel sudah selesai tergarap, lantas saya mulai sadar bahwa ia butuh di publikasi. Sebenarnya saya tidak terlalu suka berurusan dengan hal-hal administratif. Tinggallah novel itu hanya jadi tumpukan kertas tak bernilai. Dibaca dari orang ke orang, tanpa pernah diterbitkan. Beberapa teman, sanak saudara pernah membacanya, bergilir dari satu tangan ke tangan yang lain. Hanya berupa kumpulan kertas yang sudah di print, lalu dijilid dengan sampul mika putih. Hanya sampai disitu karya saya dapat dinikmati. Mungkin terlalu elit, sehingga hanya segelintir orang saja yang beruntung membacanya. Oh, bukan begitu. Saya hanya belum beruntung bertemu seorang penerbit yang ingin mem-publish novel picisan itu. Pasalnya, saya tak mengusahakannya. Saya tidak menyodorkan pada penerbit manapun, cukuplah ia hanya kembali ke tangan pemiliknya. Kini sekedar jadi pajangan di kamar. Sekali lirik membuat saya mengingat kerja keras saat menyelesaikannya. Pagi, siang, malam bagi saya sama saja selama mengerjakan novel itu. Satu bulan bukanlah waktu yang singkat.

Tanpa diduga, ibu saya satu-satunya orang yang paling mengapresiasi kecanduan yang saya alami. Saya lupa nama sahabat beliau yang berkunjung ke rumah saat itu. Sebut saja Bapak Percetakan, karna beliau memang bekerja di sebuah percetakan buku di daerah Jakarta. Alih-alih silaturrahmi, ibu saya mempromosikan novel yang tadinya hanya sekedar jadi produk dan koleksi pribadi. Respon si Bapak sangat antusias, beliau memberikan sedikit wejangan kepada saya untuk tetap memotivasi diri dalam menulis. Itulah training pertama yang saya dapatkan, langsung dari orang yang sudah terbiasa bergelut dengan dunia kepenulisan. Saya sedikit lega, soft copy tulisan-tulisan saya sudah di tangan beliau. Katanya, akan dikabari beberapa waktu kedepan. Tapi, sampai saat saya menuliskan cerita ini, saya tak kunjung dikabari. Tak ada berita sama sekali, tak ada kejelasan. Itulah yang membuat saya terkadang semakin ragu untuk menulis lagi. Tidak adanya kabar membuat saya benar-benar kecewa. Apakah tulisan saya memang tidak layak di pasaran? Semangat saya untuk menulis mulai redup setelah peristiwa itu. Saya hanya sekedar menuliskan rumus-rumus aritmetik, sisanya menulis untuk diri saya sendiri.

Setelah lulus SMP, saya tak peduli lagi dengan ambisi menjadi seorang penulis. Saya merubah haluan, dari penulis menjadi bukan penulis. Wah! Apa yang saya hindari ternyata tidak benar-benar sanggup saya hindari. Pesantren tempat saya meneruskan studi setamat SMP, justru memiliki sebuah Tim Jurnalis yang hebat. Hebat menurut saya, daripada saya yang sama sekali belum pernah terlibat dalam satu pun komunitas kepenulisan. Yang membuat saya heran, penggagas terbentuknya tim itu adalah Ibu saya sendiri. Tak habis pikir berapa banyak kosakata yang Ibu saya opinikan pada dewan guru di pesantren itu. Selidik punya selidik, diam-diam beliau mempromosikan diri saya kepada orang-orang di pesantren. Jadi sebenarnya, tim jurnalis di pesantren itu sebelumnya tidak ada. Karna saya masuk kedalamnya, maka mereka lalu menjadi ada. Tapi, saya putuskan untuk tidak terlibat atau melibatkan diri didalam tim tersebut. Saya tak peduli usaha Ibu, karna saya sudah tak mau tahu dengan semua hal yang berhubungan dengan kegiatan menulis.

Sebuah candu akan menjadi rancu jika tak dipacu dengan waktu. Mungkin itu yang Ibu takutkan. Dari yang awalnya kecanduan menulis, menjadi sudah tak mau tahu, bahkan enggan memacu waktu. Sepertinya banyak yang cemas kalau sewaktu-waktu saya menjadi rancu ketika menulis tidak dibiasakan lagi. Baiklah. Saya ikuti aturan main orang-orang disekeliling saya. Setiap kali Tim Tabloid Pesantren meminta tulisan saya, tanpa banyak tanya langsung saja saya berikan. Walaupun sebenarnya, tulisan-tulisan itu sudah terlalu lama saya tuliskan. Hampir belum ada tulisan terbaru, karna saya masih stag dengan novel yang dulu tak juga terbit. Saya sadar bahwa saya sedang digembleng menjadi calon penulis profesional, tidak sekedar ikuti mood. Buktinya, selalu saya yang terpilih menjadi Sekretaris kepanitiaan acara-acara pesantren. Herannya, posisi itu membuat saya terlena. Perlahan saya mulai rindu untuk menulis lagi, mulai dari menulis proposal pengajuan dana. Ternyata, apa yang tertulis dalam proposal tidak semudah saat dikomunikasikan langsung dengan mulut. Saya mengalaminya saat itu. Berkomunikasi dengan tulisan jauh lebih mudah daripada membicarakan isi tulisan kepada orang lain. Pengalaman! Saya merangkap tugas kepanitiaan, membawa proposal pengajuan dana ke beberapa lembaga. Mau tidak mau saya harus menjelaskan apa yang telah saya tulis sendiri kepada para pimpinan. Mulai dari Bos Koperasi Unit Desa sampai pada Satpam Kantor sekalipun. Saya membutuhkan pena untuk menulis inti pembicaraan yang akan saya sampaikan di secarik kertas. Mulai dari kepanitiaan, target dana, dan semua yang saya tulis didalam proposal tersebut. Saya rasa kali itu saya sudah menjelma sebagai sales! Tidak sedikit yang langsung mengucurkan dana, tidak sedikit pula yang beralibi. Saya belajar tentang arti keuangan. Mengajukan proposal acara saat akhir bulan atau akhir tahun, sangat tidak efektif.

Tertolak di beberapa tempat membuat saya gerah. Saya mulai menuliskan kekesalan pada sebuah buku yang belum tecoreti sedikitpun. Tak sadar, buku kosong itu telah penuh oleh tulisan, bahkan saya harus membeli buku baru. Mulai saat itu, saya kembali yakin bahwa Tuhan memang telah menakdirkan saya untuk terus menulis. Puncaknya, saya diikutkan sebuah perlombaan tingkat pesantren. Menulis karya ilmiah. Dari sinilah saya tak lagi meragukan kapasitas diri. Saya berhasil meraih Juara Pertama, mengalahkan seluruh peserta di pesantren itu. Entah berapa banyak pesertanya, saya tidak peduli. Setidaknya, saya mulai berani mengikuti kompetisi. Sampai akhirnya, saya ketagihan. Saya ikuti berbagai perlombaan menulis yang diadakan sekolah. Event-event itu selalu membuat saya berhasil menorehkan nama di tingkat sekolah. Paling banter juara 2, yang lainnya mesti tulisan saya jawaranya. Saya semakin bergairah untuk menulis. Gairah saya ternyata tidak sekedar pada tulisan-tulisan berbau roman, justru tentang kehidupan. Fenomena, sosial, fakta! Sebuah puisi dalam rangka memperingati Hari Guru. Saat itu, semua siswa satu sekolah diwajibkan menuliskan satu puisi yang bertema Pendidikan. Sangat berbeda ketika saya yang membaca puisi itu dengan nada kritis, dibandingkan ketika seorang Guru Sastra membacakan puisi saya dihadapan teman-teman dan para guru. Dengan nada orasi, beliau bacakan puisi saya itu secara lantang. Wow! Saya benar-benar terkesima ketika seorang ahli sastra yang mendeklamasikan puisi saya. Pesan saya dalam puisi itu telah sampai pada semua penonton. Saya hanya tersenyum bangga, sedikit haru. Menyadari bahwa ternyata saya cukup capable menuliskan puisi rusuh semacam itu. Penuh marah pesan-pesan yang saya sampaikan didalamnya. Biaya pendidikan yang makin mahal, kapasitas guru yang makin murahan, para siswa yang makin tak tau adab.

Tiba-tiba saya berpikir mengikuti jejak Soe Hok Gie, seorang jurnalis jaman orde baru. Dia menulis untuk rakyat, bukan untuk dirinya. Sampai jadi buronan, bahkan ia tak peduli. Ia tetap menulis, mengkritisi pemerintah. Saya pun mulai senang menuliskan gagasan-gagasan yang ideologis. Inilah sebuah peralihan. Peristiwa demi peristiwa menuntun nyali saya untuk mencoba satu demi satu jenis tulisan, mulai dari puisi, cerpen, novel, essay, artikel, sampai terkadang iseng membuat pantun-pantun jenaka. Saya mulai merasakan menjadi seorang penulis yang dielukan banyak orang, meski baru lingkup satu sekolah, satu pesantren dan satu keluarga yang memuji prestasi saya. Mulai saat itu, saya bertekad, saya akan ciptakan rekor yang lebih dari itu.

Sebuah momen istimewa. Event penulisan surat untuk Sang Gubernur memecut semangat saya untuk mengukur kemampuan dalam menulis. Dalam beberapa jam saja, surat itu terselesaikan. Beberapa minggu setelahnya, tak menyangka saya telah pecahkan rekor tingkat Provinsi. Saya mengira hanya akan masuk nominasi, tetapi justru saya lah jawaranya. Saat itu saya benar-benar merasakan kegemilangan. Sebuah prestasi emas yang tak bisa terbeli oleh apapun. Saya mulai diundang stasiun TV lokal, bertemu beberapa seniman dan sastrawan sampai penulis buku. Sebuah peristiwa yang benar-benar tak pernah saya pikirkan. Selama ini saya hanya menikmati tulisan demi tulisan yang saya garap, tak terpikir ambisi demi ambisi itu mulai menampakkan dirinya. Mereka mulai membuat saya mengagumi diri saya sendiri. Saya bahkan bertemu orang-orang hebat selama beberapa waktu, orang-orang yang semakin menginspirasi saya untuk terus menulis. Tidak sampai disitu, saya pun rajin mengikuti berbagai macam event tentang dunia kepenulisan. Saat itu saya bukan lagi seorang yang bingung bagaimana cara menulis, menyusun kata, atau yang biasanya ditanyakan dalam training kepenulisan.

Dulu saya hanya merunduk melihat para penulis dengan karyanya, kini saya sedang mendongak. Kapan saya pecahkan rekor nasional???

 

  • view 251