Penulis, Diksimu Jalan Syurga

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Proses Kreatif
dipublikasikan 03 Agustus 2016
Penulis, Diksimu Jalan Syurga

Lazuardi. Kosakata paling pertama yang membuat saya mengerti tentang diksi. Diksi adalah pilihan kata yang tepat, selalu menarik dan istimewa bagi setiap penulis senior. Bagi penulis junior seperti saya, harus merangkak menemukan kosakata unik dalam berbagai tulisan. Prinsipnya, tiada penulis besar yang lahir dari penulis kecil. Sebelum Asma Nadia jadi penulis best seller, saya yakin betul, beliau juga sama seperti saya dulu.  Tiada berbeda prosesnya. (Kutipan tulisan Ukhti Suci, “Merunduk Sampai Mendongak” dalam Antologi 1st Writing).

DIKSI. Istilah ini pertama kali saya temukan saat masih duduk di kelas 3 Sekolah Dasar. Saat itu, saya mulai serius mempelajarinya ketika setiap hari Ibu di rumah mengompor-ngompori putrinya untuk menjadi seorang penulis hebat suatu saat nanti. Bukan perkara enteng mengkaji pilihan kata, lalu memilahnya hingga kemudian sempurna tertuang dalam gagasan tulisanmu. Bagi saya, saat itu sampai saat ini diksi menjadi satu-satunya pilihan jawaban setiap muncul pertanyaan senada dari siapapun kepada saya. Bahkan saya masih ingat jelas dalam sebuah forum organisasi karya ilmiah di sekolah, salah seorang teman menanyakan mengenai trik jitu agar menghasilkan tulisan manis dan menggugah pembaca untuk menghabiskan isi tulisan kita. Hanya satu respon yang saya lontarkan dimanapun dan kapanpun, diksi lah penyelamat ulung yang membuat saya merasa menjadi orang terpandai dalam menulis. Anehnya, mulai saat itu teman saya yang bertanya tadi kegirangan membaca novel-novel sastra tingkat dewa yang gaya bahasanya sungguh sangat sulit dicerna oleh remaja kebanyakan. Kalau mau coba, silahkan nikmati satu saja novel Pramoedya Ananta. Dijamin, bagi mereka yang tidak terbiasa berhadapan dengan pilihan-pilihan kata si penulis maka akan kebingungan sendiri dengan maksud pesan yang hendak tersampaikan didalamnya. Tapi, coba bacalah kembali dengan pelan berulang kali sampai terasa sensasi kenikmatan saat melewati alur demi alurnya. Dari membaca kita akan belajar mengenal karakteristik kepribadian diri. Kalau kamu lebih suka dibuai dengan sinetron roman picisan di tivi-tivi, maka jangan heran seterusnya kamu akan tumbuh menjadi pribadi yang kemayu, gampang galau dan mudah frustasi. Beda dong buat kamu yang doyannya baca kisah-kisah romantisme dalam novel-novel Kang Abik, kemungkinan besar kamu akan lebih mampu berpikir serta bersikap dewasa kala cinta melanda. Bukan dengan jalan pacaran yang haram, namun dengan menempuh jalur syar’i meski penuh halangan menerpa. Belum lagi kalau kamu menajamkan diri dengan sering-sering baca kisah para heroik islam seperti Sultan Al Fatih atau Salahuddin Al Ayyubi, siapa menyangka setelah itu kamu mengikuti jejak mereka dan tumbuh menjadi ksatria pejuang islam, penolong addinullah yang setia sampai khusnul khotimah jadi kado terindah saat ajal menemuimu.

Untuk melatih kemampuan berdiksi itu sebenarnya mudah sekali. Kamu nggak perlu pusing mengumpulkan buku-buku dengan gaya bahasa yang sulit dicerna. Justru, kamu harus lebih sering memperhatikan setiap fakta dan peristiwa di depan mata. Sederhananya nih, kata ‘tikus berdasi’ adalah sebutan bagi para koruptor di parlemen pemerintahan yang kerjaannya suka mencuri uang rakyat. Pikir deh, kenapa kok harus diibaratkan dengan kata ‘tikus berdasi’? Padahal ada beragam pilihan kata yang bisa kita sandingkan kepada mereka yang selalu menyalahi amanah rakyat. Contohnya, dalam satu kalimat berbunyi ‘Koruptor dari partai A itu hari ini resmi menjadi tahanan KPK.’ Kalimat itu bisa kok kamu mainkan sesuka hati, ganti aja dengan kalimat yang lebih ringan namun langsung mengena seperti ‘Pencuri uang rakyat dari gerakan politik semu itu hari ini tercatat sah dimasukkan dalam daftar penghuni rutan si Mister.’ Rasain deh sensasinya saat kamu baca kalimat pertama dengan kalimat kedua. Nah! Dari sinilah kamu akan belajar menata hati, melebarkan pikiran, mencerdaskan akal dengan berbagai problema yang ada. Jangan pernah lari dari masalah, tapi temuilah masalah itu agar kamu makin pintar bermain kata. Saat itulah kemampuanmu sebagai penulis sejati akan teruji satu per satu, karna setiap penulis dituntut untuk memiliki ciri khas tersendiri dalam berkarya. Makin banyak melihat fakta, saya jamin kamu bakal makin stress. Konten berita setiap harinya tidak luput dari kasus kriminal yang dimulai dari tubuh atasan sampai bawahan, banyak korban berjatuhan yang berujung mulai dari penjara sampai pemakaman. Semua itu gara-gara siapa? Hem. Kalau kata Bang Agung Pribadua, semua itu Gara-Gara Indonesia. Kalau menurut kamu, semua itu gara-gara siapa? Nah, untuk menjawabnya kamu harus belajar dari fakta dan sejarah yang sumbernya terpercaya. Wajar kalau Bang Darwis Tere Liye menganggap negeri ini adalah Negeri Para Bedebah. Lantas kalau semua penghuninya adalah para bedebah, lalu yang jadi superheronya siapa? Ya kamu lah superheronya, kamu yang akan membaca fakta dan sejarah itu secara mendalam dan tuntas dari akar hingga pucuknya. Kamu adalah orang yang mulai saat ini saya amanahkan untuk mengkaji fakta, menganalisa dan mengamati perkembangan dunia dari waktu ke waktu. Kamu adalah orang pertama yang saya mandatkan untuk menjawab tantangan ini, menyelesaikan problema manusia dengan diksimu.

Tidak perlu kebingungan dengan fakta, karna itu bukan fiksi yang menuntut kamu untuk berimajinasi tinggi-tinggi. Justru dari fakta lah kamu lebih mampu bersikap realistis terhadap kehidupan ini. Real, semua datangnya dari Alloh dan akan kembali hanya kepada Alloh saja. Real, semua yang datang dan kembali padaNya maka wajib paham petunjuk dari Alloh untuk mengarungi samudera dunia. Real, petunjuk yang dimiliki ummat islam hanya Al Qur’an dan Assunnah. Real, secara fitrahnya seorang hamba akan mengikuti perintah tuannya dalam setiap firman yang telah diwahyukan Alloh dan dirisalahkan Nabi Muhammad Rosul Alloh. Sangat real ketika kamu muak dengan fakta, tapi sungguh fiktif ketika semakin memahami fakta justru kamu semakin jauh dari petunjuk. So, bertahanlah sebagai penulis yang mencintai fakta dengan segala keburukannya. Tidak selamanya keburukan itu akan menghancurkan bangsa ini. Justru kini telah lahir penulis-penulis dengan segala kebaikannya yang terpaksa mencintai fakta demi membersihkan keburukan sebelumnya. Hanya dengan petunjuk nyata dari bahasa langit, maka seluruh fakta itu akan membuatmu tersenyum bahagia ketika kau sanggup menemukan solusi jitu lalu menyebarkan pesanmu lewat karya agar pembaca turut tercerdaskan. Ingatlah! Pembaca sudah mulai bosan dengan selebaran brosur, pamflet, spanduk hingga buku-buku karya kader parpol yang kontennya sekedar menjual nama, mempromokan partai, lalu melakukan ‘serangan fajar’ (baca: membagikan sembako, uang, atribut partai). Inilah deretan karya-karya fiksi penuh tipudaya, ilusi mata yang kini tak lagi tersambut simpati rakyat. Ada pilu saat menyaksikan gelontoran uang yang mereka habisi untuk meraih suara rakyat, namun semua janji manis itu selalu mengecewakan rakyat. Rakyat dibebani dengan kesehatan gratis, padahal dengan Kartu ASKES saja gaji mereka sudah dipotong sekian persen. Sekali lagi, kita dibohongi. Tampaknya gratis, entar di belakang tiba-tiba uang udah lenyap entah kemana. Pemerintah lebih pintar mengakali rakyat untuk menunaikan janji-janjinya. Pendidikan gratis ‘katanya’, lalu pemerintah menyerahkannya pada lembaga-lembaga swasta untuk memenuhi janjinya itu. Pemerintah gak mau dikatakan turun tangan, tapi pemerintah angkat tangan dan membangun kerjasama seluas-luasnya dengan berbagai lembaga swasta non pemerintah yang sudah terlebih dulu sukses mengelola pendidikan atau semacamnya. Lantas, peran pemerintah dikemanakan?

Kalau kamu pengen jauh lebih cerdas dari pemerintah, kamu pun harus lebih pandai membuat akal-akalan baru dengan sejuta pena. Berkaryalah dengan apa saja, termasuk dengan jemarimu. Bacalah, Tulislah, Sampaikanlah. Kamu tidak akan mungkin menyampaikan isi tulisanmu sebelum membaca fakta dan sejarah lalu menelurkannya dengan riang diatas mesin tik atau kertas kosong. Faktanya, sebuah tulisan yang akan diingat oleh pembacanya adalah tulisan yang sangat dekat mengupas kehidupan para pembaca. Cermati, saat ini masyarakat Indonesia sedang gerah dengan segala problematika yang mereka alami disebabkan ulah pemerintah. Dilegalkannya kebolehan mengkonsumsi miras jelas membuat para orangtua khawatir dengan tumbuhkembang putra-putri mereka, mengontrol pun sudah kewalahan karna remaja akan punya pembenaran absolut yang mereka anggap sah untuk dijadikan pedoman, yaitu gaya hidup pemerintah dengan rentetan Undang-Undang jahatnya. Kalau sudah begini, bersiaplah kamu tampil sebagai penulis kontra yang akan dimusuhi pemerintah. Jangan takut, Alloh akan selalu membersamaimu. Kiblatmu bukan mereka yang duduk di parlemen menggodok Undang-Undang norak, saja. Saat mereka menggodok Undang-Undang pun menggunakan pilihan kata agar masyarakat seolah setuju, mengiyakan, dan bersepakat dengan pasal demi pasalnya. Padahal, mereka tidak bisa mengatur dan menentukan hidupmu sekehendak hatinya. Hanya Alloh satu-satunya yang berhak menuntunmu dengan syariatnya, bukan dengan pasal-pasal buatan manusia yang justru semakin menenggelamkanmu dalam kenikmatan semu dunia.

Para penulis, berkaryalah untuk Alloh. Persembahkanlah diksimu untuk membantu kemenangan islam agar lebih banyak pembaca yang lebih tercerdaskan dengan islam. Menulislah untuk akhiratmu, jangan lupakan DIA Yang menitipkan jemari untuk menyemburkan fakta yang telah kau baca dengan cantik. Tersenyumlah, walau fakta itu membuatmu menangis. Berbahagialah, karna diksimu mampu mematahkan fakta buruk dan menggantikannya dengan solusi syurga. Jadilah penulis yang beriman dan bertakwa, mengakui keberadaan Alloh sebagai Pencipta dan Pengatur kehidupan. Mudabbir, hanya Alloh yang punya hak paten untuk mengatur seluruh kehidupanmu.

Tak ada alasan bagi jemarimu untuk menuliskan bahwa pacaran itu dibenarkan, karna jomblo yang halal selamanya tak akan pernah bersatu dengan jomblo yang ngenes. Hanya islam yang mampu menjadi solusi terbaik sepanjang masa, meski berganti masa, meski berpindah jaman. Maka jika pacaran itu tidak dibenarkan, jelas hanya menikah yang halal bagi Alloh dan islam. Hehee… Saat inilah kamu akan dikenal sebagai penulis kontradiktif, berlawanan dengan diksi! Timpalin aja, “Aku sedang belajar mencintai fakta dengan memainkan diksi!” Bukan malah seperti tikus berdasi dan para bedebah yang selalu mencintai fakta dengan memanfaatkan diksi. Hem, syurga menantimu!