Surat Kecil Untuk Gentleman

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Inspiratif
dipublikasikan 02 Agustus 2016
Surat Kecil Untuk Gentleman

Berawal saat kegersangan hati diterpa badai cinta palsu, bukan berlandaskan iman takwa, tidak dihadirkan atas dasar cinta karena Alloh. Semua bermula ketika seorang laki-laki yang dianggap ‘ikhwan’ mulai berani menampakkan sikap jantannya pada seorang akhwat yang sangat menjaga dirinya dari aktivitas dan komunikasi dengan lawan jenis. Tanpa malu-malu si ikhwan mengeluarkan jurus pedekate, si akhwat justru sedikit memberikan respon timbal balik. Sampai akhirnya si akhwat sadar bahwa pedekate ala kuno itu tidak sesuai dengan pemahamannya mengenai konsep ta’aruf yang dibenarkan islam. Maka si akhwat berkirim surat kecil pada ikhwan yang ‘kata temannya’ sih dia masuk nominasi gentleman?

Oh No! Sepertinya sobat perlu tau nih makna ‘gentleman’ yang original tuh kayak gimana, seperti apa, dan pada kondisi bagaimana mereka harus dilabeli cap ‘gentleman’.

Suguhkan gelas kosong, tinggalkan semua ambisi maya. Mari sejenak tempatkan diri di posisi si akhwat selaku penulis Surat Kecil ini. Biarkan dakwah islam memelukmu, meraba senti demi senti uluh hatimu agar tak tercecer bagai angin lalu tanpa bekas. Si akhwat hanya ingin berbagi gundah gulananya agar Alloh selalu di hatinya, maka surat ini tertujukan untuk seluruh ikhwan dan penyejuk bagi para akhwat yang dilanda rasa senada. Let’s Move On, Bro en Sist!

-------------------------------------------------------

Atas nama Alloh, In The Name Of God, Bismillah…

Semoga surat ini mampu menenggelamkanmu menuju sumber mata air abadi, syurga yang mengalir didalamnya air mata para bidadari yang cemburu pada wanita bumi yang selalu menjaga syari’at Alloh tertinggi dan sunnah Rosul yang mulia. Hanya islam tolak ukur atas seluruh gerak dan laku. Demi Alloh saja, buatlah bidadari syurga benar-benar merindukan dan menginginkanmu, ikhwan…

Akhii, dirimu lebih indah di mataku dengan kesempurnaan akhlak yang telah Alloh hadiahkan. Tapi rupanya aku tertipu dengan tampilan sekejapmu. Tolonglah buat bidadari syurga merindukanmu sekali lagi, Akhii… Once again..

Akhii, ketika kau datang padaku. Saat itu juga cinta bekerja ketika Alloh menghujamkan dalam dadaku sebuah rasa yang kau kirim lewat radar jelekmu. Saat itu, tanda yang kuterima begitu sulit diterima akal sehat. Semua yang kau tampakkan tak sedikitpun buatku bergeming atau sekedar membalas sinyal darimu. Akhii, cinta padamu bukan inginku. Jujur kukatakan karna cinta tulusku hanya pada dia yang mengabdikan dirinya di jalan islam, dan kau bukan ikhwan pilihanku.

Maaf, Akhii. Dalam hidup semua hal perlu dipilah dan dipilih. Cinta memang suatu pilihan, tapi antum bukanlah ikhwan pilihanku.

Maaf, Akhii. Cintaku hanya tertuju pada dia yang mempersembahkan seluruh harinya untuk menolong agama Alloh. Hanya pada dia yang tak pernah putus berdakwah, meski ummat kadang mengacuhkannya.

Cinta yang kau pesankan tak mampu terbaca hatiku. Bahkan sudah kucoba meraba isi hati yang paling dalam sampai terpaksa memikirkan bahwa kau lah orang terbaik pilihanNya. Namun, rasa itu bergejolak terus-menerus. Semakin aku mulai belajar menumbuhkan cinta itu, justru yang kurasakan bukanlah sebuah cinta tulus karena Alloh. Yang kudapati hanya kesia-siaan. Yang Alloh hujamkan dalam hatiku kemudian hanya rentetan penyesalan karena telah berani memulai interaksi denganmu.

Maafkan, Akhii. Maaf jika kehadiranku sempat menghadirkan gelisah berkepanjangan dalam hati kecilmu. Maaf jika bayangku selalu mengganggu ibadah sucimu denganNya. Maaf, aku telah menghalangi kedekatanmu dengan DIA Yang Maha Membolak-balikkan hati kita.

Akhii, kutau DIA sangat cerdas memainkan perasaanku padamu. Kukira aku pun demikian adanya sepertimu. Kuanggap hatiku menerima balasan cinta darimu. Ah, itu semua hanya perkiraan diluar dugaanku. Kembali kucoba menetralkan hati hanya untuk memastikan kebenaran hatiku padamu. Namun, sekali lagi tolong dimaafkan, Akhii. Hatiku bukan untukmu. Cinta sejatiku bukan tertuju padamu yang kurasa masih tak peduli dengan islam.

Akhii, bagiku islam adalah segalanya. Segalanya adalah dakwah yang tak akan pernah sanggup lepas dari denyut nadiku. Dakwah begitu kucintai melebihi cintaku pada diriku sendiri. Dan Alloh telah membuat hatiku terpikat sampai aku mampu menyingkirkanmu dari pikiranku. Maaf, aku telah mengecewakan cinta palsumu. Akhii, cintamu itu terlalu palsu untukku yang terus mencoba mengenal Alloh lebih dekat. Cintamu tidak seasli lakumu. Cintamu tak layak kuperjuangkan, Akhii. Kau telah berani menyalahi syari’at dengan caramu yang sangat hina dalam pandangan agama kita. Kau telah berani melawan arus syari’at Rosul yang mulia hingga aku merasa tak sepadan denganmu. Bukan karena aku merasa lebih tinggi dan merendahkanmu. Namun, Alloh lebih utama di hatiku. Alloh lebih dulu dalam setiap laku. Tapi kau tak begitu, Akhii. Kau dahulukan ego dan nafsumu yang selalu ingin memenangkan cinta picisanmu.

Duh, Akhii. Cintamu terlalu berbau picisan dan aku tak suka ikhwan macam dirimu. Maaf, Akhii. Mungkin kau perlu mencintai islammu lagi agar suatu saat nanti kau paham pantasnya seorang laki-laki memperlakukan cinta yang datang dalam hatinya. Cinta itu bukan untuk kau umbar sesuka hatimu, meski ‘kata  orang’ kau paham agama.

Aku tak sepenuhnya percaya ‘kata orang.’ Aku hanya butuh melihat sejauh mana aksimu menunjukkan cintamu padaku. Bukan membuatku tenang, justru semakin hari kau seolah mengabarkan pada dunia bahwa kau benar-benar inginkan diriku.

Perlu kau tahu, Akhii. Aku bukanlah wanita yang tertarik pada kisah roman picisan berbalut celana cingkrang dan baju kokomu yang necis itu. Aku bukan perempuan yang mudah terjerumus hawa semu berbingkiskan sorban dan peci di atas kepalamu. Aku tak ingin berpura-pura mencintaimu, Akhii. Maka kuputuskan bahwa kau bukan cintaku saat ini.

Maaf, Akhii. Temui saja wanita lain yang dengan mudahnya menerima dan membalas sinyal-sinyal cintamu yang bodoh itu. Jangan pernah kembali padaku, Akhii. Karna selangkah kau maju menghampiriku, maka aku akan berlari kencang seribu langkah untuk menghindarimu. Aku tak ingin bermain dengan sandiwara cinta, Akhii. Aku ingin jujur, bahwa kau bukan pilihan Alloh yang tepat untukku.

Alloh hanya akan memasangkan para pencinta islam dengan pengembannya. Alloh hanya akan menguatkan dakwah di tubuh ummat islam dengan mempertemukanku dengan dia yang masih dirahasiakan Alloh. Aku tak tau jika esok hari ternyata kau lah orang yang dipilihkan Alloh untukku. Aku tak pernah tau jika lusa Alloh merestui kau bersanding denganku, Akhii. Aku tak akan tau rencana Alloh setiap detiknya. Siapa jodohmu, siapa pula jodohku. Alloh Maha Tahu. Sedangkan aku, kamu, kita tak tahu. Tapi, aku tetap akan berusaha menerima khitbah dari dia yang juga seorang pengemban dakwah. Agar hanya dia yang melejitkan dakwahku, agar hanya dia tempatku berbakti setelah Alloh dan Abi Ummii. Ambillah jalan dakwah itu sebagai jalan hidupmu, Akhii. Cintailah ia layaknya kau cintai aku. Tapi, jangan pernah kau tunjukkan cintamu padaku sampai harus menentang jalur syari’at. Cintailah islam, sayangi dakwah karna Alloh, layaknya kau gencar menampakkan cintamu padaku, Akhii. Begitulah Alloh meminta diriNya diperlakukan dengan sangat istimewa karena setelahnya penduduk langit dan bumi pasti menaruh hormat padamu.

Akhii, tahanlah sedikit egomu dengan berpuasa. Atau menikahlah jika kau telah merasa sanggup, karna itu bagian yang mampu menghantarkanmu pada kesucian dan penyempurna addiin-mu.

Salam ukhuwah, semoga Alloh kau jadikan ratu cinta agar ummat ini senang diobati olehmu. Ummat ini masih sakit, Akhii. Jadilah kau dokternya, sulaplah dirimu bagai tabib yang tau kapan harus beroperasi dan pada siapa hendak mengabdikan hidup. Pada Alloh hidupmu diabdikan, maka tolonglah agama Alloh ini agar kelak Alloh menolongmu perkara jodoh. Alloh tak pernah ingkar pada janjiNya. Laki-laki yang baik hanya untuk wanita baik-baik. Jaga dirimu baik-baik, perlakukan ummat ini dengan dakwah yang baik lagi santun. Maka saat itulah kau telah lahir kembali sebagai ikhwan gentleman!

Atas nama Alloh, In The Name Of God, Bismillah…

Kuakhiri surat kecil ini untuk ikhwan gentleman kebanggaan islam.

Allahumma’antaarobbanaafardzuqna al’istiqoomah. Semoga Alloh memberikan keistiqomahan bagi kita. Aamiin Yaa Mujibassaiin..

 

Catatan kecil

Ikhwan             : laki-laki

Akhwat            : perempuan

Akhii                : saudara laki-laki(ku)

Ukhtii               : saudara perempuan(ku)

Abii                  : Bapak(ku)

Ummii             : Ibu(ku)

Addiin              : agama

  • view 337