Pasukan Berani Putus

Baiq Dwi Suci
Karya Baiq Dwi Suci Kategori Buku
dipublikasikan 26 Juli 2016
Pasukan Berani Putus

Bila kuingat wajahnya, serasa masa itu terlalu jahil. Kelam kurasa masa produktif itu, sampai akhirnya kupahami islam secara sempurna. Tiada mulianya diriku yang hina saat interaksi tanpa batas menjadi santapan yang sangat nikmat. Begitulah masa muda mengajarkanku arti pengendalian iman. Tidak akan pernah aku mampu mempertahankan syariat jika tak mengenal dekat agama suci ini.

Kegelapan membayang setiap kuputar lagi rentetan daftar tumpukan dosa masa lalu. Kala itu aku tengah terbuai bisikan manis para lelaki perayu. Aduhai, pintar benar mereka keluarkan kata-kata rayuan pada setiap wanita idaman. Tentu aku pun tak luput dari sasaran empuknya. Salah seorang coba dekati dan mulai mainkan sandiwara denganku. Persis telenovela, terlalu picisan! Itulah romansa remaja yang penuh gelut asmara, addinullah tersingkirkan sejenak dari pikiran.

Lama-kelamaan aku semakin sering merespon aksi pemuda playboy cap kakap itu. Bukan satu dua orang yang dirayu, mungkin puluhan jumlah perempuan berhasil masuk perangkap gombalannya. Dan aku termasuk korban percintaan semu tanpa ikatan halal. Melanggengkan hubungan pacaran menjadi keputusan final. Pasalnya sederhana saja, kata-katanya telah mampu menghipnotis benciku jadi rasa yang lain. Sebuah rasa yang kuanggap aneh kini, seketika enyah sejak konflik mulai muncul diantara kami.

Sebut saja Zain nama lelaki yang memacariku saat itu. Ah, tak ingin lagi menyebutnya sebagai mantan pacar atau bekas kekasih. Sejak dulu sampai sekarang ia saudara satu aqidah denganku, sama-sama muslimnya, sama-sama terhinanya di hadapan syariat tertinggi. Duhai syariat, andai aku jauh mengenalmu lebih lekat pasti maksiat itu tak kan terlaksana. Tapi sudahlah, berharap saja agar tak kembali terperosok pada lubang yang sama. Bagaimana tidak, jatuhnya aku ke lubang paling hina itu berarti akan selalu siap menghadapi pengadilan akhirat kelak. Untuk apa kau gunakan masa mudamu? Mulut tak bisa bohong, seluruh anggota tubuh akan bersaksi atas persaksian mereka masing-masing. Baiklah, masa mudaku tidak sepenuhnya kugunakan untuk melanggar syariatMU. Akan kuperbaiki ia agar lebih berat timbangan pahala daripada dosaku di masa lampau. Aish, tetap saja tak bisa kulupakan masa-masa menjijikkan itu. Bahkan saat mencuat tingkah polah melepas kerudung didepan Zain. Astaghfirullah… masih ingat betul bagaimana tanganku berjabat setiap kali bertemu dengannya. Masih terngiang jelas ucapan-ucapan mesra nan menjerumuskan. Hanya satu yang sanggup kujaga saat itu, tak lain adalah karunia Alloh yang tak terhingga nilainya. Sebuah manifestasi iman bergejolak setiap Zain meminta hal itu segera dilaksanakan, sayang beribu sayang selalu kutolak tegas setiap ia minta melakukan kissing meski via telepon.

Teringat munafiknya diriku saat itu. Di SMA aku sempat aktif di organisasi keislaman, maka saat jadi mahasiswi aku pun sekaligus aktif pacaran. Mengingat ROHIS, justru yang muncul dibenakku adalah Kak Kusuma. Dia sama saja seperti para ikhwan yang saling ingatkan sholat dhuha, puasa sunnah senin-kamis, dan seterusnya. Aku mengenalnya perantara diskusi-diskusi ilmiah. Lama-kelamaan jadi diskusi soal jodoh dan menikah. Parah banget yah! Maklum, saat itu aku belum terlalu memahami interaksi laki-laki dan wanita dalam islam. Pikirku, asal tak ciuman, pelukan, dan seterusnya tidak apa-apa. Ah, sudah kelihatan benar pemahaman islam yang sangat dangkal bagi remaja seusiaku saat itu. Maka jangan heran kalau aku pun sering menggali ilmu-ilmu agama dari Kak Kusuma, ku tau dia cukup banyak paham soal islam. Sampai pada saat itu, semua obrolan melenceng menuju percakapan dua sejoli yang tengah saling suka. Tampak naluri sedang bermain dan saling mengacak jalan cinta dibalik polosku.

“Adek sudah punya pacar?” pertanyaannya memunculkan rasa ingin tahuku sebab ditanyakan kalimat itu. Maka kubalik saja pertanyaannya, “Memang Kakak sudah punya pacar?” mulai berani kutanyakan soal itu, pasalnya sinyal-sinyal yang ditunjukkan membuatku semakin GE-ER. “Kakak bukan milik siapa-siapa, Kakak selamanya milik Alloh saja..” mantap benar prinsipnya. Kalimat itu yang makin membuatku takut berpacaran. Sampai saat mengenal Zain, saat itulah iman mulai goyah. Seketika aku coba membandingkan Kusuma dan Zain. Kak Kusuma sangat menjaga arah bicaranya, justru Zain selalu katakan yang tak membuatku nyaman.

“Cuma kissing,” katanya makin buatku geram. Permintaan itu sudah hampir puluhan kali dan hatiku berhasil terus menepis nafsunya. Sungguh hanya keimanan saja yang membuatku bertahan dengan godaan nan menggiurkan. Alhamdulillah imanku tak sekarat atau mati, segera kusembuhkan dari sakitnya.

“Sudahlah, kita putus aja..” begitulah kesimpulan akhir perjalanan gejolak pemikiranku. Antara cinta pada larangan Alloh dan kehendak syaithon yang terus bisikkan keindahan sesaat.

“Ya deh gak diulangin lagi,” sahutnya mengiba agar tak diakhiri hubungan haram tersebut.

“Sudahlah, Adek capek kalau kayak gini terus.. Kakak nggak bisa menghargai saya,” harapku kalimat itu sanggup jadi penutup segala cerita menghinakan. Namun rupanya ia pandai mengaduk-aduk ketegasanku.

“Iya, Kakak minta maaf.. janji nggak akan kayak gitu lagi,” silahkan sampaikan beribu janji, tapi aku sudah muak mendengarnya.

“Kak, bukan cuma itu kesalahanmu..” aku sudah berada di atas kenormalan setelah sempat menjadi tak normal karena halalkan pacaran.

“Ya terus Adek maunya apa?” ia bertanya seolah membuka peluang segar bagiku untuk segera meninggalkan zona hina.

“Ya kalau Kakak pengen ngelakuin kissing mending sama cewek laen aja,” betapa naïf diriku dalam anggapannya seketika.

“Adek tu munafik ya..” aku hanya tertawa gurih menyimak pernyataannya.

“Yang munafik itu, justru yang tau itu salah tapi malah dianggep bener, kok malah Adek dibilang munafik?!” kesal mulai menghampiri, maklumlah terlalu miris jika ummat islam tak tau definisi syar’i dari kata munafik. Beda di hati beda di lisan, itu munafik. Sedangkan aku, setara lisan ucap dan pikirku. Tertambat pada satu kepastian syariat, itu bukan munafik.

“Ya.. lagian Kakak kan udah punya cewek laen, jadi ya nggak usah munafik deh..” membalikkan penilaian memang caraku membantahnya. Padahal sudah kuminta untuk mengaku saja jika memang sudah ada tambatan hati lain, jangan pernah mengingkari. Begitulah aku mengenal lelaki, ratusan wanita sudah lezat diliriknya. Tidak berdosakah mata itu?!

“Maksud Adek? Kakak nggak ngerti…” ketidakmengertiannya membuatku menyatakan bahwa laki-laki selalu punya dalih untuk mengelak, macam orang tak punya dosa. Lain halnya dengan lelaki beriman, tentu ia selalu mbenarkan hukum agama dibanding mencari pembenaran tanpa dalil.

“Ica itu pacarmu juga kan, Kak?”

“Darimana Adek kenal Ica?” sebenarnya lewat jejaring sosial aku sudah bisa mengintai semua aktivitasnya. Dipikirnya aku terlalu sibuk sampai tak sempat berkelana di social media. Jarak lah yang membuatku tak pernah percaya padanya, mana ada lelaki betah jauh dari pujaan hati.

“Adek emang sibuk di kampus, tapi bukan berarti nggak tau kegiatan Kakak disana..” mulutnya bisu tak mampu berdalih lebih lanjut. “Nggak penting tau darimana, tapi bener kan kalian pacaran?” sambungku mencoba menyudutkannya. Aku tipe orang yang agak segan menyakiti hati orang lain, maka saat ia terpojok, itulah saat aku bisa memutuskannya.

“Kakak udah lama putus kok sama dia, Dek..” malang benar dalih yang dipakainya.

“Udahlah jujur aja, Kak.. Adek udah ngobrak-abrik Facebook Kakak kok.. udah baca semua pesan di inbox..” siapa suruh mempersilahkanku membuka akun pribadinya, jadilah aku leluasa mencari tahu. Dasar pelupa, tak ingat dia berikan username plus password FBnya padaku.

“Jadi?”

“Iya, jadi kita putus mulai detik ini..” lantang kusuarakan agar terdengar jelas di telinganya.

“Dek,” lirihnya menimpali. Aku terdiam saja menanti perkataan berikutnya yang sedang berusaha ia rangkai.

“Kakak tau Adek orang baek,” lantas haruskah aku membenarkan bahwa diriku baik-baik saja? Oh tidak, rasanya aku mulai merasa bersalah mengambil keputusan itu terlalu cepat. Air mataku mulai meleleh mengingat transfer penyemangat yang selalu ditularkan setiap kali aku lelah dan bosan dengan aktivitas perkuliahan. Kuseka tangis yang tak terbendung, tapi tetap saja ia berjatuhan tak kian surut.

“Tapi apa nggak terlalu cepet, Dek? Kakak janji bakal perbaiki diri lebih baek lagi, seperti yang Adek mau…” mauku agar ia tak lagi liar dengan pergaulan di luaran sana.

Terlalu sering kutitahkan obsesi dahsyatku padanya. Ambisi yang berubah mimpi dan ia sudah berkali-kali mendengarnya. Aku inginkan seorang ikhwan yang menjadikan dakwah sebagai hobinya, tidak lebih dari itu. Boro-boro berdakwah, ia masih lebih memilih hobi balapan motor ketimbang duduk diam di masjid. Padahal sudah kukatakan lebih suka ikhwan yang memakmurkan masjid daripada membuat onar di jalanan.

“Mulai saat ini kita sudah nggak ada urusan lagi, Kak.. kata-katamu nggak bisa dipegang, udah bisa ditebak alurnya, pasti selalu begitu..”

“Karna saya nggak bisa ninggalin dunia ini! Saya sudah terlalu cinta sama dunia motor..” amarahnya mulai memuncak, inilah macam pria tak tau adab berlemah-lembut.

“Motor aja lebih Kakak cintai daripada Alloh, gimana nanti kalau saya nikah sama Kakak, bisa-bisa nggak makan karna uang habis cuma buat service motor..”

Kali ini aku tak akan terpedaya ke sekian kali meski menangis jutaan kali. Percuma usaha panjang ikuti kajian di kampus dan segala agenda yang dekatkanku dengan Alloh. Sia-sia jika semua upaya lepaskan diri dari belenggu maksiat berujung pada keabnormalan. Aku tak mau jadi diri yang ambigu, karna biasanya samar-samar itu selalu berhenti pada titik kegumulan.

Sungguh lucu lelaki negeri ini, berhasil masuk perangkap asing yang telah sebarkan budaya sesat. Hiduplah mereka ala kebarat-baratan, bahkan benda tak bernyawa saja lebih dicintai daripada Alloh dan RosulNya. Tapi aku tak berharap hal itu terus berlanjut pada diri Zain, maka kuputuskan menitahkan hukum syariat agar tak makin berketerusan keharaman yang kami lakukan.

“Ehm.. Adek baru tau kalo pacaran itu dilarang, Kak.. jadi mending kita putus aja ya, lagian kan masih bisa saudaraan toh..” sekedarnya kuungkap alasan pembenaran padanya. Sudah malas kami bicarakan dunia motor, karna ujung-ujungnya pasti pertengkaran. Lekas kualihkan pada inti keputusan yang siap kutempuh. “Dan mulai saat ini jangan hubungi Adek lagi ya, Kak.. karna interaksi seperti ini nggak diperbolehkan dalam islam,”

“Jangan bilang kalo Adek punya cowok laen?” Sedikit kecewa, bukan menanggapi permintaanku justru ia semakin mencari dalih yang lebih konyol. Tak ada minatku sama sekali menjawab pertanyaan bodohnya.

“Adek udah nggak mau pacaran lagi, itu intinya..” menunggu bermenit-menit keputusan darinya buatku tak sabar. Benar-benar membingungkan berada di posisi memutuskan, bukan yang diputuskan. Tapi kupaksakan juga karna inginkan mulutku bersaksi dan berbuah jannah kelak di pengadilanNya.

Seketika, tut tut tut… tak ada suara dari arah seberang. Hilang, lenyap, hape dimatikan.

1 pesan diterima. Zain pengirim pesan singkat itu, begini bunyinya :

Kalau itu maunya Adek, Kakak nggak bisa maksa. Mulai saat ini blockir pertemanan di FB, hapus nomer hape Kakak. Adek jangan pacaran, fokus kuliah.

 

            Ternyata jadi pasukan Berani Putus tak sulit, mulus saja Alloh lancarkan jika demi iman. Tapi agak tak mengerti aku dibuatnya. Zain yang berdalih agar tak diputuskan seakan berbalik ratusan derajat. Begitu jelas es-em-es itu kubaca dengan khidmat. Begitu jelas juga kebingunganku. Entahlah, ia telah sadar haramnya pacaran atau ada alasan lain. Tak ambil pusing, sujud syukur aku bisa lepas dari jeratan pacaran. Semoga ia tersadarkan dengan dakwah islam. Alloh Maha Melindungi, semoga DIA amankan imannya Zain sampai saat dipertemukan dengan jodohnya.

Teringat kalimat analogi Ibu yang sampai saat ini kujadikan pegangan. “Ketika kita sudah gila cinta pada manusia, saat itu sebenarnya Alloh marah. Sewaktu-waktu Alloh akan pisahkan orang yang kita cinta, apapun caranya. Dikhianati, diselingkuhi, atau lewat kematian. Karna sesungguhnya, Alloh nggak pernah rela diduakan. Begitu juga manusia, nggak ada yang suka diduakan. Makanya, jangan pernah mencintai seseorang melebihi cinta kepada Alloh saja,” kurang lebih seperti itu kalimat yang masih terngiang dibenakku. Kalimat yang selalu buatku yakin bahwa tak ada yang lebih berkuasa selain dariNya. Jangan sekali-kali menggila mencintai manusia manapun, kendalikan kehormatanmu sebagai muslim yang taat syariat.

Sejak saat itu Ibu sadarkanku bahwa cinta bukan mainan. Ia ada untuk dirajut dalam bingkai syari’at, bukan justru merajut ke pinggiran maksiat. Sejak saat itu pula kucoba memintal kembali hati yang sempat kusut. Bersyukurnya bertemu para pendakwah, tersadarkan bahwa diatas romansa insan, tahta cintaNya tetap bersemayam jaga iman. Kita bukan golongan picisan yang munafik terhadap ayatNya !