Kereta dan Handphone

imam baili
Karya imam baili Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 11 April 2017
Kereta dan Handphone

Kereta api commuter line menjadi andalan beberapa warga Jakarta dan sekitarnya untuk beraktifitas setiap hari. Jangan kaget ketika pagi maupun sore, butuh perjuangan besar untuk menaikinya. Kenyamanan menaiki KRL pada hari libur tidak akan terasa ketika hari-hari kerja. Perjuangan yang dimaksud disini adalah harus ada kekuatan mental yang  dikombinasikan dengan kebugaran fisik untuk menghapapi kenyataan. Perjuangan yang tentunya akan menjadi rutinitas yang jika tidak disikapi dengan bijak akan menjadikan diri mudah stress dan akan menyerah dengan keadaan.

Kepadatan di commuter line sudah mulai terasa dari pagi hari. Bahkan sebelum ayam berkokok. Semua orang pergi meninggalkan rumah untuk beraktifitas, baik itu untuk berangkat kerja, atau berangkat ke sekolah. Tidak hanya warga ibukota saja, semua orang dari daerah bogor maupun depok serempak menuju ke arah Jakarta. Tidak hanya itu, untuk orang yang tinggal di bekasi pun, ada diantara mereka yang sudah mulai melangkahkan kaki ketika keadaan langit masih gelap.

Sudah menjadi rahasia umum jika penduduk dunia dewasa ini memiliki benda kesayangan, ketika benda itu hilang atau ketinggalan, maka seakan dunianya menjadi sempit. Seperti kehilangan nafas yang berimbas pada perubahan sikap. Alat itu adalah handphone. Sebuah benda kecil, mungil, mudah di genggam, tetapi dia mampu membuat kita tak berdaya ketika kita berjauhan jarak darinya. Dia mampu menyihir diri kita menjadi lemah ketika beberapa menit tidak menyentuhnya. Layaknya udara yang harus kita hirup dan hembuskan, handphone merupakan alat yang selalu kita genggam kemana pun dan dimana pun berada.

Melihat fenomena yang ada bahwa setiap stasiun tempat pemberhentian kereta, orang-orang sibuk dengan telepon genggamnya masing-masing. Mereka lebih senang bercengkrama dengan alat yang mungil tersebut dibanding menyapa atau berkenalan dengan seseorang yang ada di sampingnya. Jika dulu perbedaan antara masyarakat perkotaan dan pedesaan sangat jauh sekali. Masyarakat pedesaan dinilai sebagai masyarakat yang memiliki rasa sosial lebih tinggi dibanding penduduk kota. Mereka lebih akrab dengan sesama dibanding masyarakat kota yang lebih individualis. Namun, seiring berjalannya waktu dan berkembangnya teknologi, sekarang baik desa maupun kota kultur masyarakatnya hampir sama. Rasa kebersamaan di masyarakat desa mulai lntur dan berganti dengan budaya baru; individualis. Gejala yang sebenarnya sebagai hal yang harus segera di antisipasi.

Handphone sudah membius setiap orang dari berbagai kalangan. Baik itu anak kecil, remaja maupun orang yang sudah berusia lanjut. Mereka lebih sibuk dan asyik dengan handphonenya dibanding dengan dunia nyata. Namun di sisi lain tidak bisa dipungkiri bahwa dengan kemajuan teknologi, ketika orang memegang handphone bisa berkomunisi secara langsung. Menembus jarak dan waktu. Bahkan kalau bisa dimanfaatkan degan bijak, bisa sebagai sarana untuk menambah wawasan dan pengetahuan lainnya. Artinya dari beberapa hal negatif dari handphone tentu kita tetap bisa mengambil hal yang positif darinya. Tinggal bagaimana kita memposisikannya dengan bijak sehingga kita bisa meminimalisir hal-hal yang buruk dari perkembangan teknologi yang sudah menjadi keniscayaan.

  • view 67