Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Politik 20 Juni 2018   23:15 WIB
Menakar Peluang Capres Partai Amanat Nasional (PAN)



Menjelang pendaftaran calon Presiden untuk Pemilihan Umum 2019 pada Agustus 2018, beberapa partai politik menyodorkan nama yang akan diusung. Partai Kebangkitam Bangsa (PKB) mencalonkan Ketua Umumnya Muhaimin Iskandar untuk maju di Pilpres. Partai Keadilan Sejahtera (PKS) bahkan mengajukan sembilan nama kader.

Selain PKB dan PKS, Partai Amanat Nasional (PAN) juga memunculkan empat nama kadernya sebagai capres. Mereka adalah Zulkifli Hasan (Ketum), Hatta Rajasa (Mantan Ketum), Amin Rais (Mantan Ketum), serta Sutrisno Bachir (Mantan Ketum). Bagaimana peluang keempatnya?

Munculnya empat nama tersebut bagi sebagian orang cukup mengagetkan. Pasalnya, menjelang pilpres 2019, PAN sering mengemukakan bahwa Ketum Zulkifli adalah calon presiden yang akan diusung. Bahkan, banyak beredar spanduk bertuliskan "Zulkifli Calon Presiden".

Dalam narasi pencapresan di Indonesia, keempat nama tersebut sudah tidak asing lagi. Pada pilpres 2004, Amin Rais sempat mencalonkan diri sebagai capres. Menjelang pilpres 2009, Ketum PAN saat itu, Sutrisno Bachir juga sempat dikabarkan akan mencalonkan sebagai capres. Ia bahkan sempat meminta dukungan Abdurrahman Wahid (Gus Dur). Kemudian pada pilpres 2014 lalu, Hatta Rajasa maju sebagai cawapres mendampingi Prabowo Subianto. Dari pengalaman tersebut, wajar jika Zulkifli juga didorong maju sebagai capres atau cawapres PAN di 2019.

Pemilu 2019 nanti memang berbeda dari Pemilu-Pemilu sebelumnya. Pada 2019, pemilihan legislatif akan dilaksanakan serentak dengan pemilihan presiden. Dengan model demikian, parpol yang tidak mencapreskan kadernya diperkirakan sulit meraup suara. Sementara itu di sisi lain angka parliamentary threshold (ambang batas parlemen) yang tinggi yakni 4% (empat persen), menjadi momok parpol. Jika tidak sampai batas itu, otomatis tidak duduk di DPR RI. Padahal, tujuan Pemilu adalah menempatkan kader parpol di parlemen, terutama di pusat (DPR RI).

Pencapresan empat kader PAN ini bisa dilihat dari upaya PAN untuk mendapatkan coattail effect atau yang sering disebut "efek jas kera". PAN tentu berharap dengan munculnya capres tersebut dapat meningkatkan elektabilitasnya. Teori efek jas kera terbukti dirasakan oleh Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP). Pencapresan Joko Widodo turut berdampak pada tingginya elektabilitas partai.

Pencapresan keempat kader sekaligus tokoh PAN tersebut sebetulnya memiliki peluang yang cukup besar. Dari sisi massa pemilih, PAN merupakan parpol yang basis pemilihnya mayoritas warga Muhammadiyah. Tentu ini menjadi modal pencalonan dan pembentukan koalisi dengan parpol lain. Namun di sisi lain, persoalan yang dapat penulis identifikasi adalah tidak semua warga Muhammadiyah pemilih PAN.

Tantangan bagi capres PAN adalah tentang elektabilitasnya yang tidak diungulkan dalam berbagai survei. Dari berbagai survei, dari empat capres PAN hanya Zulkifli yang sering muncul. Meski elektabilitasnya masih jauh bila dibanding capres lain seperti Jokowi, Prabowo dan Agus Harimurti Yudhoyono. Elektabilitas Zulkifli juga rendah jika ia menjadi cawapres, masih di bawah Muhaimin Iskandar (PKB) dan Anies Baswedan (Gubernur DKI Jakarta).

Selain elektibilitas rendah, yang juga menjadi tantangan PAN adalah resistensi terhadap capresnya terutama Amin Rais. Seperti diketahui, Amin kerap melancarkan kritik pedas terhadap Jokowi. Amin bahkan mendoakan agar Jokowi tidak terpilih lagi dan menyebut Allah akan malu jika tidak mengabulkan doa umat Islam yang ingin ganti presiden.

Beberapa pernyataan kontroversial Amin berujung pada ketidakpercayaan beberapa aktivis 1998. Mereka bahkan ingin meninjau kembali gelar Amin sebagai "Bapak Reformasi" Indonesia.

Nama Amin yang muncul sebagai capres usulan PAN langsung mendapat reaksi dari sesama politisi. Yusril Ihza Mahendra misalnya mengingatkan Amin agar tidak "plin-plan" dalam berbicara. Lain halnya dengan Mardani Ali Sera. Menurut politisi PKS itu, sebaiknya memberikan kesempatan pada generasi yang lebih muda.

Capres lain, Hatta Rajasa dan Sutrisno Bachir juga cukup berat untuk disandingkan dengan calon-calon lain. Namanya tidak sepopuler beberapa tahun silam. Hatta misalnya, sejak tidak terpilih Ketum PAN sudah jarang muncul dimuka publik sebagai politisi dan tokoh parpol. Demikian halnya dengan Sutrisno Bachir.

Akhirnya, jika merujuk hasil survei elektabilitas capres/cawapres, tidak ada pilihan lain bagi PAN untuk bekerja ekstra keras meningkatkan elektabilitas kader dan tokohnya.

Oleh: Ali Thaufan Dwi Saputra
(Peneliti Parameter Politik Indonesia)

Karya : Baidowi Muchlis