Berani Berfikir Hebat !

Ahmad Baehaqi
Karya Ahmad Baehaqi Kategori Agama
dipublikasikan 10 Maret 2016
Berani Berfikir Hebat !

Salah satu kelebihan manusia dari pada makhluk lainnya ialah manusia diberikan akal oleh sang pencipta, dan dengan akal inilah dia bisa membedakan antara yang benar dan yang salah menurut penilaian manusia dan menurut penilaian Tuhannya, namun, terkadang perkara yang benar dihadapan manusia belum tentu benar dihadapan Tuhannya.

Namun, tugas manusia bukanlah untuk menyerah dia ada untuk terus menerobos melewati segala kesukaran-kesukaran yang menjadi penghambat dalam dirinya, terus berlari untuk mencari kebenaran yang sesungguhnya. Salah satunya adalah dengan menggunakan akal untuk berfikir, sehingga disitulah dapat ditemukan perbedaan makhluk bernama manusia dengan makhluk yang lainnya, dengan adanya akal yang diberi Tuhannya maka kedudukan manusia mendapatkan porsi yang lebih tinggi dibandingkan dengan makhluk yang lainnya, karena dia merupakan makhluk yang berfikir.

Jika manusia dengan kelebihan akalnya mendapatkan posisi yang strategis dari makhluk lainnya, lantas bagaimanakah posisi manusia yang tidak berfikir, seperti di ungkapan dari seorang filsuf? perancis Descartes ?Cogito ergo Sum? aku berfikir maka aku ada. Masihkah manusia yang tidak berfikir akan dikatakan sebagai sesuatu yang ada, ataukah keberadaanya sebagai manusia ?akan mati karena tidak menjadi salah satu yang berfikir sebagai syarat dikatakan sebagai yang ada.

??ada? yang dimaksud disini adalah ada secara eksistensi yaitu keberadaan manusia. Sebut saja, mereka yang telah kehilangan ke-normalan akalnya, secara eksistensi keberadaan manusia yang sedemikian wajib kita akui sebagai manusia yang ?ada? meskipun telah kehilangan kenormalan akalnya dan jika hanya menitikberatkan pada ?berfikir? sehingga ia disebut ada, maka secara nyata telah meniadakan manusia yang telah kehilangannya akalnya, yaitu manusia, yang telah dijunjung tinggi kedudukannya di dalam Al-Qur?an, dalam konteks keIslaman.

Jika manusia secara eksistensi itu diakui sebagai sesuatu yang ada, baik ia berfikir, setengah-setengah berfikir atau tidak bisa berfikir sama sekali (kehilangan akal). Maka, manusia yang memaksimalkan peran akalnya untuk berfikir, bahkan berfikir sebebas-bebasnyapun, semisal dalam memahami obyek tertentu sampai keakar-akarnya merupakan manusia yang menghargai secara totalitas akan pemberian Tuhan berupa benda yang istimewa ini yakni ?akal?.

Keberanian berfikir merupakan bentuk dari pengejewantahan bahwa manusia adalah makhluk yang merdeka secara asasi, ia berani mengekspresikan pikiran-pikirannya tanpa suatu tekanan, tanpa suatu paksaan. Dalam buku catatan Ahmad Wahib pergolakan pemikiran islam, disana menjelaskan bahwa manusia yang berani dan tidak ragu untuk berfikir bebas akan lebih tahu tentang dirinya sendiri dan akan lebih banyak tahu tentang kemanusianya.

Maka, hari ini sangat diperlukan manusia-manusia yang berani berfikir, khususnya berfikir tidak hanya untuk dirinya sendiri namun juga untuk kemaslahatan bersama, mencari formulasi baru dalam menyelesaikan persoalan-persoalan keumatan, kebangsaan dan juga berani berfikir untuk melahirkan karya-karya baru untuk terlibat mewarnai peradaban dunia.

  • view 246