Nalar Kritis BerAgama

Ahmad Baehaqi
Karya Ahmad Baehaqi Kategori Agama
dipublikasikan 23 Maret 2016
Nalar Kritis BerAgama

Nalar Kritis BerAgama

Pernahkah kita mempertanyakan keberadaan kita dalam memeluk suatu keyakinan keagamaan, atau mencoba untuk merenungkan kembali atas apa-apa yang pernah kita lakukan dalam ritual-ritual keagamaan. saya kira ini merupakan suatu pertanyaan yang perlu untuk direfleksikan kembali dalam diri tiap-tiap pemeluk agama.

Kita boleh sedikit merasa bangga memeluk suatu keyakinan agama karena turun-temurun dari keluarga, dengan begitu sedikit menghemat waktu dan tenaga untuk tidak bersusah-payah mencari jenis keyakinan keagamaan, jika di bandingkan dengan seseorang yang lahir dari sebuah lingkungan keluarga yang sama sekali tidak menganut suatu keyakinan apapun dan juga tidak percaya dengan adanya Tuhan.

Dari model tipikal yang kedua diatas, kita tidak dibenarkan untuk semena-mena memaksakan kehendak seseorang untuk mememeluk suatu keyakinan tertentu, jika kita boleh jujur tanpa disuruh untuk berkeyakinan, manusia dengan sendirinya akan membutuhkan sandaran dalam kehidupannya kepada hal-hal yang bersifat ghaib, adikodrati, supranatural dan tak terbatas, al-haq al-awwal.

Sedangkan, untuk model tipikal yang pertama, apakah kita sudah beragama secara benar, memeluk agama yang memang benar-benar murni dari kesadaran kritis diri kita tanpa adanya factor eksternal (baca; keluarga) yang mempengaruhinya, ini merupakan sebuah pertanyaan yang memang perlu kita jawab bersama-sama.

Beragama yang turun-temurun dari keluarga, biasanya bersifat normatif-dogmatif, dalam. perkara norma-norma keislaman dan juga kegiatan spiritual yang sudah dianut oleh keluarga yang turun temurun dan sudah menjadi bagian rutin untuk dijalankan tidak dibenarkan untuk meragukan bahkan untuk mempertanyakan-pun dilarang, apalagi mengkritisi atas ajaran yang didapatkan dari teks-teks yang dijadikan pegangan.

Tidak sampai disitu, dalam memahami ayat-ayat Al-Quran biasanya hanya sampai pada pembacaan secara tekstual tanpa mencoba untuk menelaah lebih jauh lagi tentang apa pesan yang sebenarnya ingin disampaikan oleh ayat-ayat tersebut, memahami ayat-ayat Al-Quran, khususnya ayat-ayat tentang “jihad” secara tekstual tanpa memahami secara Kontekstual akan melahirkan cara pandang beragama yang ekslusif, sempit, intoleran dan ini sangat berbahaya dalam kelangsungan hidup beragama.

Karena hal demikian akan mengalami salah pembacaan dalam mengamalkan ajaran-ajaran agama, sehingga sangat tidak mungkin nantinya akan rentan adanya kekerasan yang mengatas namakan agama. maka melihat kondisi seperti ini sangat,diperlukan dalam memahami ayat-ayat alquran dengan pembacaan secara tekstual juga konstektual, dengan dibarengi oleh semangat zaman.

Nalar kritis dalam beragama sangat diperlukan dalam memahami agama, agar tidak terjebak pada karakter beragama yang normative-dogmatif, tidak menerima ajaran-ajaran agama secara mentah-mentah melainkan dengan memperdayakan rasio sebagai instrument untuk mengenal lebih jauh serta merekontruksi diri dan menanyakan setiap hal yang menjadi sebuah pertanyaan, dalam beragama dan berkeyakinan.

Seperti, menanyakan eksistensi  Tuhan, apakah Tuhan itu benar-benar ada, apakah memang ada surga dan neraka, apakah memang ada kehidupan setelah kematian dan sebagainya, saya pikir pertanyaan-pertanyaan ini tidak akan sampai merubah keimanan seseorang hanya karena sebuah pertanyaan, bahkan dengan banyaknya pertanyaan dalam diri mansusia, akan mendorong manusia untuk mencari sebuah kebenaran yang akhirnya akan  menemukan kekuatan diluar diri manusia dan alam ini yakni kehadiran yang ghaib yang tak terlihat tetapi “Ada”  al-haq al-awaal,yakni Tuhan. sehingga akan mnjadikan seseorang memiliki keyakinan yang utuh tanpa keragu-raguan.

Tidak ada agama yang murni mengajarkan hal-hal yang mengesampingkan sisi kemanusiaan, ia akan membawa pesan-pesan perdamaian, wajah-wajah ramah, toleran, dan kemanusiaan untuk umat manusia, namun sebaliknya, Agama akan menjadi momok yang menakutkan, apabila agama dalam praktik dan esensinya membelenggu kehidupan manusia, merampas kemerdekaan asasi, menindas dan bahkan membatasi pikiran-pikiran manusia dalam mempertanyakan hal-hal yang bersifat irrasional, dan ghaib.

Tidak beragama bukan berarti tidak berTuhan, sebaliknya ada yang beragama namun tidak berTuhan. Manusia wajib ber-Tuhan dan tidak mesti beragama, jika agama itu membelenggu manusia masihkah anda mau beragama?

 

 

 

 

Gambar ; pencerahan9.wordpress.com

 

 

 

 

 

 

 

 


  • Agungz agungzulkarnaen@gmail.com
    Setiap jalan pasti bertujuan, pun sebaliknya

  • Irfan Kriyaku.com
    Irfan Kriyaku.com
    1 tahun yang lalu.
    Jadi ingin menanyakan ttg bergama yg dimaksud utk tipekal yg pertama nih mas.. sebuah pertanyaa yg mendasar jika kita beragama secara keturanan apakah kita otomatis menjadi pemeluk agama tersebut? Sedangkan setiap agama (mungkin) memiliki syarat syah seseorang jadi pemeluk agama tersebut. Contoh Islam : syarat syah adalah bersyahadat.. apakah kita yg lahir keturunan otomatis menjadi islam? Atau harus melakukan syahadat dulu? *note : setahu saya ada beberapa ucapan syahadat yaitu dalam rukun solat dan rukun nikah.. *maaf jika salah. Dan syahadat tersebut adalah syarat rukun sholat dan nikah bukan rukun islam. :-)

  • Komentator Ngasal
    Komentator Ngasal
    1 tahun yang lalu.
    Absen: saya juga beragama karena keturunan...

  • Nur 
    Nur 
    1 tahun yang lalu.
    Luar biasa, dalam beragama kita memang harus kritis tanpa ada faktor dogma semata

  • Dicky Armando
    Dicky Armando
    1 tahun yang lalu.
    Siap @Ahmad Baehaqi