TIKRORAN, SEBUAH TRADISI PESANTREN

Badrun Munajat
Karya Badrun Munajat Kategori Agama
dipublikasikan 02 Maret 2016
TIKRORAN, SEBUAH TRADISI PESANTREN

TIKRORAN, SEBUAH TRADISI PESANTREN

Tikroran yang merupakan kata serapan dari bahasa Arab adalah salah satu istilah yang populer di kalangan pondok pesantren, terkhusus pondok pesantren salaf. Kata tersebut barasal dari suku kata kerja karroro yang berarti mengulang. Lalu, kata kerja tersebut diubah menjadi kata benda tikroron, berarti pengulang-ulangan.

Karroro - Yukarriru - Takriiron - Takrooron - Tikroron - Mukarroron - Fa huwa Mukarrirun - Wa dzaka Mukarrorun - Karrir - La Tukarrir - Mukarrorun 2 x

?

Tikroran sering digunakan sebagai istilah untuk bentuk pengulang-pengulangan materi yang telah dihafalkan. Hampir seluruh pondok pesantren menjadikan hafalan sebagai salah satu kegiatan wajib seluruh santrinya. Biasanya, setiap cabang ilmu memiliki memiliki kitab hafalan. Seperti dalam ilmu nahwu ada Alfiyyah Ibn al-Malik, ?Imrithy, Jurumiyyah, Qowa?id al-I?rob, dll. Dalam ilmu tashrif ada Qowa?id ash-Shorfiyyah, Amtsilah at-Tashrifiyyah, dll. Sementara dalam ilmu tajwid ada Hidayah ash-Shibyan, Tuhfah al-Athfal. Masih banyak lagi hafalan setiap santri yang tidak disebutkan, setiap pondok memiliki kitab kajiannya masing-masing. Bagi penghafal al-Qur?an pun berlaku tikroran, yaitu mengulang setiap ayat-ayat yang telah dihafalkan. Tujuan utama dari tikroran ini adalah agar setiap materi yang dihafalkan tidak hilang.

Hafalan menjadi hal yang penting bagi setiap santri, karena lewat hafalan, maka proses memahami akan lebih mudah. Ketika sudah hafal, meskpiun tidak faham, kemungkinan faham di kemudian hari akan lebih besar dibanding yang tidak hafal. Seperti yang diungkapkan oleh Syeikh Syarifuddin Yahya Al-?Imrithy dalam karangannya yang terkenal di kalangan Nuhah (ahli nahwu) yaitu Nadzm al-?Imrithy yang berbunyi:

Wa an yakuna nafi'an bi'ilmihi?? #?? Man i'tana bihifdzihi wafahmihi

(Bait ke-19)

Arti dari penggalan nadzom tersebut kurang lebih seperti ini: ?Semoga Allah Yang Maha Pemberi Anugerah memberikan kemanfaatan ?ilmu nadzom?ku kepada siapa saja yang mau menghafalkan dan memahaminya?. Oleh karena itu, hafalan menjadi salah satu metode yang wajib di banyak pondok pesantren. Tidak heran jika, lulusan pondok pesantren masih hafal betul mater-materi yang pernah dipelajarinya. Manfaat lain dari hafalan adalah mengasah otak dalam hal hafalan. Ketika otak kita jarang dipakai untuk menghafal, biasanya susah untuk menghafal atau cepat hafal tapi cepat lupanya.

Setiap santri biasanya memiliki cara tersendiri dalam melakukan tikroran. Ada yang menyendiri di tempat yang sepi, tikroran di waktu malam hari, dibaca setelah sholat sebagai bentuk dzikir, bahkan sambil berjalan ataupun aktifitas lainnya pun bibirnya komat-kamit melafalkan tikroran.

Tikroran sebelum masuk pelajaran merupakan hal yang sunnah muakkadah bagi kebanyakn santri, biasanya mereka akan secara bersama-sama melakukan tikroran dengan nada yang terkadang lari sana-lari sini. Tidak memikirkan fals tidaknya, apalagi tanda nada, yang penting tikroran. Setelah sang Guru masuk, maka otomatis paduan suara tersebut akan berhenti dengan sendirinya tanpa ada perintah. Nah, istilah untuk tikroran bersama-sama sebelum ngaji dimulai disebut lalaran. Meskipun setiap daerah pasti memiliki nama yang bebeda-beda, namun inti tradisinya Insya Allah tidak jauh berbeda, yaitu metode hafalan.

Walaupun dalam metode pendidikan modern metode hafalan dianggap tidak terlalu penting, tapi di dunia pesantren hal tersebut masih menjadi tradisi kuat yang memberikan warna tersendiri bagi metode pendidikannya. Inilah keunggulan pesantren, selalu memberikan ruang pada hal baru yang dianggap baik, tapi tidak juga menghilangkan tradisi yang telah berjalan.

?-Badrun Munajat, Ponpes Al-Luqmaniyyah Yogyakarta-

?

  • view 276