Tulisan Foto Grafis Video Audio Project
Kategori Agama 28 Februari 2016   02:40 WIB
Menjadi Santri Ma'nan di Tengah Masyarakat

MENJADI SANTRI MA?NAN DI TENGAH MASYARAKAT

Santri adalah tanggungjawab. ungkapan tersebut tidak ada salahnya untuk mengartikan santri secara ma?na. Berbeda ketika berbicara santri dalam tataran lafdzon. Mungkin santri akan diartikan sebagai seseorang yang menetap di sebuah pondok pesantren, ia mengaji kitab kuning, membaca al-Qur?an dan lain sebagainya. Namun, hal itu belumlah cukup, seorang santri seharusnya mempunyai akhlaq al-karimah, menjadi hamba Allah SWT secara total, menjadi uswah bagi lingkungannya. Intinya, santri itu harus lafdzon maupun ma?nan (tersurat dan tersirat). Namun, jalan utama untuk menjadi santri ma?nan adalah dengan menjadi lafdzon terlebih dahulu. Karena, di pondok pesantren-lah setiap insan mendapatkan tetesan demi tetesan ilmu agama yang menjadi sarat utama menemukan shirothol mustaqim.

Walaupun tak dapat dipungkiri, kebenaran dapat dicari dimanapun dan kapanpun, bukan hanya di pondok pesantren. Tapi peluang di pondok pesantren mendapatkan hal tersebut lebih terbuka dibanding lembaga atau instansi lainnya, karena di situlah nilai-nilai Islam ditanamkan pada diri setiap santri secara isiqomah atau terus menerus, bahkan setelah seorang santri muqim (lulus dari pondok untuk kembali ke kampung halaman, istilah lainnya adalah boyong) sekalipun. Idealnya, ketika santri kembali ke kampung halamannya, ia harus manjadi uswah atau percontohan bagi masyarakat. Ia harus menunjukkan bahwa ia pantas menyandang predikat santri, lulusan pondok pesantren, belajar ilmu dan nilai-nilai agama, itulah tanggungjawab santri.

Keunggulan santri ketika di masyarakat adalah cepat berbaur. Hal itu dikarenakan atmosphere kemajemukan masyarakat sudah dapat dirasakan ketika menjalani kesehariannya di pondok pesantren. Oleh sebab itulah, pondok pesantren biasa disebut sebagai miniaturnya masyarakat. Karena di sana, santri berhadapan dengan santri lainnya yang heterogen (etnis, bahasa, watak, kepribadian, sikap, dll) setiap waktu. Jadi, ketika terjun di tengah-tengah masyarakat ia sudah terbiasa menghadapai mayarakat yang heterogen. Berbeda dengan sekolah formal semisal SMA ataupun Perguruan Tinggi yang intensitas pertemuan antar anggotanya tidak setiap waktu. Meskipun masih ada lulusna pondok pesantren yang sulut bahkan tertutup untuk bersosialisasi dengan orang-orang sekitarnya, mungkin ada yang salah ketika ia masih di pondok.

Ketika di kampung halaman, santri harus menyebarkan apa yang telah di dapat pondok pesantren kepada masyarakat. Selain itu juga, pengamalan atau peng-aplikasi-an ilmu menjadi sebuah keharusan. Karena al-?ilmu bila ?amalin ka asy-syajaroti bila ats-tsamroh (ilmu tanpa amal bagaikan pohon tak berbuah). Ketika ilmu tidak diaplikasikan, maka hal tersebut hanya akan menjadi ladang dosa bagi pemiliknya. Inilah tantangan santri sesungguhnya, menyebarkan ilmu kepada masyarakat agar kehidupan menjadi lebih baik dengan didasari nilai-nilai Islam. Pesan penting bagi santri, ?di manapun kamu berada, apapun pekerjaanya, sempatkanlah menyebarkan ilmu-mu, meskipun hanya mengajar alif-ba-ta?. Inilah pengertian santri ma?na yang selalu ingat akan tanggungjawab keilmuannya di tengah-tengah masyarakat. Tidak hanya menjadi orang yang kuminter sing nguminteri wong.

Karya : Badrun Munajat