Tergoresnya Nurani memaknai ini

Bachtiar Saputra
Karya Bachtiar Saputra Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 30 Januari 2016
Tergoresnya Nurani memaknai ini

Ah mungkin judul? yang terlalu lebay atau metafora. Tapi biarlah kata hati yang nantinya bicara apakah ini mengada-ada, lebay atau hanya sekedar metafora.

Peristiwa yang membuat nuranikuku tergores adalah sebuah cerita tentang seorang dokter yang berlari-lari menuju kamar operasi karena ada panggilan operasi darurat.
Dia menjawab panggilan itu secepatnya, mengganti dengan baju operasi dan langsung menuju ruang operasi.

Dia bertemu dengan ayah dan ibu sang anak yang mondar-mandir sepanjang lorong menunggu kedatangan dokter.

Ketika ayah tersebut mengetahui bahwa dokter itu yang akan mengoperasi anaknya ia marah dan berteriak.

?Tak bisakah anda lebih cepat dan lebih profesional. Berapa nyawa yang akan hilang kalau semua dokternya telat memeberikan pelayanan seperti anda.? Ayah sang anak berteriak hingga tak memberi waktu sedetikpun pada sang dokter untuk menjelaskan alasan keterlambatannya.

?Sudahlah yah, kita berdoa saja. Biarkan dokter ini berkonsentrasi mengoperasi putra kita yang sedang membutuhkan bantuannya.? Bujuk sang istri berusaha menenangkan situasi.

?Tidak bisa bu, ini dokter tak punya rasa tanggung jawab harus diberi pelajaran supaya menghargai waktu.? Sang ayah tetap tak terima.

?Mohon maaf saya terlambat? sambil membungkukkan diri sang dokter meminta maaf dengan tulus. Lalu dokter itu tersenyum dan menjawab "Maafkan saya yang tadinya tidak sedang di rumah sakit dan saya baru datang setelah menerima panggilan darurat, sekarang saya mohon bapak dan ibu tenang dulu supaya saya bisa masuk dan menjalankan tugas saya."

"Tenang? Bagaimana jika anak anda yg di dalam sana saat ini, apa anda bisa tenang? Jika anak anda meninggal sekarang, apa yg akan anda lakukan? Jika terjadi apa-apa pada anak saya maka anda dan rumah sakit ini akan saya tuntut." Jawab sang ayah sambil menahan amarah.

"Dokter dan rumah sakit tidak bisa memanjangkan umur manusia. Kami akan mengusahakan yang terbaik dan tetap berdoa akan bantuan Tuhan supaya menyelamatkan nyawa anak anda" Dokter itu berusaha member penjelasan.

"Ngomong saja memang gampang kalau tidak perduli" gumam sang ayah.

Operasi berlangsung beberapa jam dan dokter itu keluar dengan tergesa karena istrinya di rumah sedang membutuhkannya.

"Syukur Alhamdulillah, anak anda selamat" Tanpa menunggu jawaban dari sang ayah dan ibu sang anak, dia terus saja berjalan tergesa untuk segera menemani istrinya" Kalau ada yang mau ditanyakan tentang kondisi detail dari anak bapak dan ibu, tanyalah pada suster yang tadi ikut membantu operasi anak anda"

Sang ayah semakin kesal karena merasa tak diperdulikan. "Kenapa dia sombong sekali?" Bahkan dia tidak bisa menunggu sebentar jadi saya bisa menanyakan tentang keadaan anak kita" komentar sang ayah pada istrinya.

?Sudahlah yah, Alhamdulillah anak kita selamat. Kita tak perlu banyak berucap dulu. Kita tunggu dulu suster yang membantu operasi anak kita keluar dari ruang operasi. Nanti kita bisa minta penjelasan tentang sikap-sikap dokter tadi.? Sang ibu yang sudah tenang karena anaknya selamat berusaha memberikan solusi.

Tak lama kemudian seorang suster keluar dari ruang operasi.

?Bagaimana kondisi anak kami sus?sudah bisakah kami melihat keadannya?? Sang ibu segera menuju dan meminta penjelasan.

?Alhamdulillah anak bapak dan ibu selamat. Sekarang sedang dipindahkan ke ruang rawat. Nanti kami kabari kalau sudah bisa dilihat? Sang suster memberi penjelasan keadaan anak mereka.

?Kenapa dokter tadi sombong sekali. Dia datang terlambat lalu pergi dengan tergesa tanpa menjelaskan alasannya?? Sang ayah tetap tak terima perlakuan dari sang dokter.

"Anaknya meninggal kemarin karena kecelakaan, beliau baru saja dari pemakaman dan menemani istrinya yang sedang pingsan ketika kami memanggilnya untuk mengoperasi anak bapak dan ibuk. Sekarang setelah menyelamatkan anak bapak, beliau buru-buru kembali ke rumahnya untuk menemani dan menenangkan istrinya yang sangat terpukul akan kepergian anak semata wayangnya". Suster itu menjawab sambil menangis, tetes air mata membasahi pipinya. Ia tak kuasa menahan rasa haru akan perjuangan sang dokter.

?

  • view 156