Arti Sebuah Ujian Bagian 1

Zulqaidah Babyblue Vanilla
Karya Zulqaidah Babyblue Vanilla Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 18 Februari 2016
Arti Sebuah Ujian Bagian 1

?
??????????? Hari Senin, hari yang sangat melelahkan karena kemarin Aya harus membersihkan rumah dan memcuci baju, sedangkan adiknya bernama Ika sedang sakit dan Aya yang harus merawatnya.
??????????? Sesampainya ia disekolah, ia merasakan sesuatu yang berbeda. ?Wahh, sekolah kita udah di cat ulang ternyata.? Ujar Aya senang. Dan dia melihat seseorang yang asing dikelasnya. Awalnya Aya tidak terlalu memperdulikan anak baru itu. ?Ternyata benar apa yang dikatakan Pak Matsuhana, ternyata ada murid baru?
??????????? Saat kelas dimulai, guru yang bersangkutan tidak hadir. Dan tiba-tiba ada pengumuman mendadak dari Kak Lana. Kalau akan diadakan ujian tengah semester besok. ?Apa??? Besok??? ujar Aya terkejut. ?Padahal kita belum dikasih kisi-kisi loh, gimana mau belajar..?
?Iya, gimana sih, bayarannya aja juga belum?
?Lagian juga guru-guru jarang masuk untuk mengajar kita, ya gak??
?iya nih, Kak Lana ada-ada saja??
Itulah ocehan para murid ketika mendengar kalau besok ada ujian tengah semester. Sementara Aya hanya diam dan mendengar ocehan teman-temannya. Setelah itu, ia membuka laptopnya dan membuka internet. Karena para guru sedang tidak hadir makanya mereka leluasa untuk membuka internet. Kala itu Aya sedang membuka you tube.
Sepulang sekolah, Aya melirik kamar untuk memastikan kalau Ika baik-baik saja, tapi yang sekarang ia lihat adalah, adik tersayangnya itu sedang menonton film kartun dari laptop. ?Asyik banget, udah minum obatnya belum?? Tanya Aya. ?Sudah,kak..?
?Baiklah, aku mau ganti baju dulu..? ujarnya kemudian beranjak ke kamar sebelah dan mengganti baju. Kemudian menuju lemari belajarnya dan mencatat jadwal ujiannya. Lalu mulai mengambil bukunya untuk ia pelajari nanti malam.
Sore itu, udara diluar cukup dingin karena angin berhembus dengan cukup kencang. Ika si adik yang terlihat masih asyik dengan film yang ditontonnya hanya dengan serius menonton. Melihat si adik sedang enak menonton, Aya pun ikut-ikutan menonton. ?Kakak??
?Ya? Ada apa? Kamu mau makan?? jawab Aya sigap. Ika mengangguk dan kemudian ia beranjak ke dapur untuk mengambil makanan untuk si adik.
Malam itu, Ika masih dengan tontonannya yang terlihat seru. Aya yang berada disampingnya sambil membaca buku untuk ujian besok tampak tergoda. ?ihh, kayaknya seru banget ya kalau nonton. Gimana kalau belajar nya sambil nonton, pasti seru.?
Kemudian Aya membuka bukunya dan memegang pensilnya kemudian mulai mengingat apa yang akan keluar dalam ujian nanti. Namun konsentrasinya buyar karena film yang ditontonnya terlihat seru dan ingin menonton lagi sampai habis. Dan, belajar malamnya menjadi sia-sia karena terlalu banyak menonton dibandingkan ia harus menghafal pelajarannya. Jam sudah menunjukkan pukul 11 malam. Aya masih menonton film kartun itu, sedangkan Ika sudah tertidur pulas bersama yang lain.
First Day in Middle Test Examination
Keesokan harinya, ia berniat untuk mengerjakan ujian nanti sambil mendengarkan music menggunakan earphone. Tujuannya adalah supaya ia bisa konsentrasi dan tidak ada yang mengganggunya. Ternyata yang terjadi adalah, konsentrasi Aya buyar karena music tadi. Tapi ia tidak menampakkan wajah panic ataupun takut. Ia tetap tenang dan kembali mengingat apa yang telah dipelajarinya. Walaupun sedikit dan tingkat keberhasilannya hanya 40%, ia pun tampak optimis.
Sedangkan teman-teman yang lain sedang asyik saling contek-mencontek,Aya kemudian menghentikan music di earphone nya dan mulai menenangkan diri. Ditengah-tengah ujian, Aya terdiam. Memikirkan apa yang terjadi pada dirinya. Dalam renungannya itu ia melirik teman-temannya yang sedang menikmati contekan dari teman yang lain. ?selama 3 tahun aku sekolah disini, aku pernah merasakan nikmatnya mencontek. Namun, aku sangat tidak nyaman. Entah kenapa, tulisan yang berisi contekan itu bukan hasil dari berfikirku, bukan hasil dari jerih payah belajarku, bukan dari hasil kefahamanku akan pelajaran tersebut. Apakah mereka pernah merasakan hal seperti ini ? merasakan apa yang aku rasakan??
Tidakkah seharusnya mereka malu terhadap diri mereka sendiri? Jika kamu masih punya kemampuan untuk menjawab soalan itu, kenapa tidak berusaha dahulu? Kenapa langsung teman yang kau tanya? Bukan dirimu sendiri?
Aku memang payah dalam pelajaran umum, apalagi matematika,sosiologi, dan geografi.. aku tidak membencinya. aku tidak membenci ataupun menyukai materi yang ada di dalam pelajaran itu.. aku hanya ingin mengerti, memahami itu.. selama ini, yang aku sukai dari semua pelajaran hanyalah pelajaran bahasa Inggris.
Bisa karena biasa?
Aku bisa bahasa inggris karena aku terbiasa menonton film bahasa Inggris serta membaca kamus. Bukan karena aku hafal rumus ataupun tenses-tenses yang harus ku hafal.. aku tidak menghafal? aku hanya paham apa arti tersebut.
?Ya, yang sudah selesai, silahkan dikumpulkan.. istirahat 5 menit, lalu masuk kembali lanjut ke pelajaran selanjutnya.? Ujar guru pengawas. ?Aku harus yakin dengan jawabanku sendiri, semangat Aya, kamu pasti berhasil walaupun tidak memuaskan, yang penting hasil jawaban sendiri.? Gumam Aya saat ingin mengumpulkan kertas soalannya.
Hatinya terasa lega saat ia memberi lembar jawaban itu pada guru pengawas. Keadaannya kembali tenang. Kemudian ia memanfaatkan 5 menit itu untuk menghafal pelajaran selanjutnya, tanpa harus mendengarkan music. Aya menaruh earphone serta hp nya itu ke dalam tas. Tak ingin terganggu rupanya.
Aku pasti bisa melakukannya.. aku hanya harus yakin pada diriku sendiri.. aku harus yakin pada jawabanku sendiri.. walaupun hasilnya tidak memuaskan.. tapi, inilah hasil belajarku.. jika memang membuatku kecewa, akan ku perbaiki semuanya untuk kedepannya.. aku harus lebih giat lagi?
Pelajaran kedua? ketiga ? keempat?
Akhirnya Aya dan semuanya pulang kerumah mereka masing-masing. Aya pulang kerumah dengan berjalan kaki sambil mendengarkan lagu dengan earphone nya. Kemudian merenungkan diri,
Pokoknya besok aku harus lebih berkonsentrasi lagi, supaya aku bisa mengerjakan soalan dengan baik dan benar.
Hari berikutnya, Aya tidak lagi membawa earphone yang akan mengganggu konsentrasinya saat ujian berlangsung, kemudian tanpa sengaja ia melihat sahabatnya, Ifa sedang membuka buku di bawah mejanya. Aya terkejut.
Ifa? Sebodoh itukah dirimu? Kenapa kau tidak percaya pada jawaban mu sendiri? Kenapa kau tak mengeluarkan seluruh kemampuanmu? Kenapa kau mengandalkan sebuah contekan? Kenapa kau terlihat tenang ketika kau sedang melakukan itu?
Padahal, tadi pagi aku melihatmu begitu serius belajar saat aku sampai disekolah, membuka buku, dan menghafal dengan sangat serius. Tapi, disaat ujian sudah berlangsung apa yang kau pikirkan? Sebenarnya yang kau pelajari tadi itu apa?
Aya hanya melotot dan tak berkutik saat melihat sahabatnya melakukan itu. Karena pengawasnya ketat, Ifa tetap tenang membuka buku di bawah mejanya. Saat pulang sekolah, Aya dan Ifa pulang bersama. Biasanya mereka berdua pasti mengobrolkan sesuatu saat dijalan, namun kali ini Ifa hanya diam dengan tatapan datar pada Aya.
Ifa juga tidak mau membahas apa yang tadi sahabatnya itu lakukan saat ujian. Aya ingin berbuat sesuatu untuk menyadarkan sahabatnya itu agar tidak melakukan hal seperti itu lagi.
Malam ini, Aya bertekad untuk belajar dengan serius untuk menghadapi ujian besok, ujian tengah semester dilaksanakan selama seminggu. Maka dari itu, Aya harus memanfaatkan waktu yang ia punya untuk belajar.
Sampai ia berlanjut ke hari ke tiga ia ujian, kali ini pelajaran yang akan diujian pada hari ketiga ini adalah pelajaran matematika, bahasa Indonesia, dan bahasa Inggris. Aya berusaha untuk selalu tenang dalam mengerjakan soalan, Aya cukup percaya diri, walaupun tingkat keberhasilannya hanya sampai 60%, tapi Aya cukup lega karena ujian yang dia kerjakan adalah hasil jerih payahnya sendiri.
Aku memang bukan ahli matematika, tapi aku yakin pada diriku kalau aku bisa mengerjakannya sendiri. Ujian ini mengingatkanku untuk selalu sabar dan selalu tenang. Walaupun memang terlihat sulit, aku cukup tenang.. kepanikan dan ketakutan tidak membuyarkan konsentrasiku.. untuk itu aku akan berusaha semampuku..
Karena aku yakin pada jawaban diriku sendiri..
Lagi-lagi, ditengah berlangsungnya ujian hari ketiga ini, sahabatnya Ifa kembali melakukan hal itu lagi.
Ini gak adil untukku Fa,.. kau memiliki kemampuan untuk menjawab soalan itu, kenapa kau tak memakai otakmu yang cerdas itu untuk menjawab soalan yang kau bilang sulit ini?
Aya tetap diam dan tak berkutik melihat sahabatnya melakukan itu lagi. Aya sudah kesal dengan kelakuannya selama ini. Ia kemudian buang muka karena sudah tak ingin melihatnya lagi.
Hari ke tiga, empat, lima, dan enam pun selesai. Ujian tengah semester yang dijalani Aya dan semua teman-temannya telah selesai dilalui.
Pada hari senin berikutnya, saatnya pengumuman hasil tes per mata pelajaran. Betapa terkejutnya Aya mendapat nilai diatas rata-rata walaupun ada yang lebih tinggi darinya.
Saat melihat nama Ifa di madding, Aya terkejut karena nilai Ifa lebih rendah darinya. ?kenapa nilai Ifa lebih rendah dariku? Padahal kan seharusnya dia mendapat nilai diatas ku. Apakah ini akibat dari semua yang dia lakukan? Ahh, tidak-tidak? bersikap biasa saja, jangan seterkejut begitu?? batin Aya. Saat ia selesai melihat-lihat nilanya, kemudian ia kembali ke kelasnya dan melihat Ifa terlihat biasa-biasa saja.
Aya kemudian duduk di kursinya dan menatap Ifa yang sedang tertawa bersama teman-teman yang lain.
Ifa, apa arti ujian ini untukmu? Untuk main-main kah? Apa suatu saat, disaat kita sedang menghadapi Ujian Akhir yang diawasi dengan ketat, lalu kau masih berfikir kalau mencontek itu mudah untukmu? Apa yang kau fikirkan selama ini Fa,? Tak hanya ujian, disaat kita sedang mengerjakan soal-soal saja kau tetap mengandalkanku, padahal belum tentu punyaku itu betul dari yang lain.
Ifa, apa arti ujian ini untukmu? Menyembunyikan kelemahanmu? Menyembunyikan semua itu sehingga kau tidak dianggap rendah oleh orang lain kah?
Apa engkau saja yang terus kuperhatikan? Kau sahabatku sejak kelas 1. 2 tahun aku terus menasihatimu, memberi dukungan untukmu agar selalu percaya diri saat mengerjakan soal-soal. Selalu memberimu jalan keluar setiap kau kesulitan.
Ah, Aku jadi terlalu su?uzon sama Ifa.
Sudah saatnya aku memperhatikan diriku sendiri?focus Aya focus?ini masih ujian tengah semester, kamu akan melewati banyak ujian setelah ini. Tetaplah pada pendirianmu dan pertahankan cara belajarmu. Jangan sampai kau terkecoh dan goyah.
Aku yakin jika Ifa belajar dengan giat, aku yakin nilai ujian sekarang ini, nilainya lebih tinggi dariku. Ifa, aku selalu mendoakanmu dari kejauhan agar kau selalu diberikan kemudahan dalam urusanmu.
Habis ini aku akan giat belajar untuk ujian selanjutnya. Sebenarnya aku belum puas dengan nilaiku. Nilai Ira dan Safitri lebih tinggi dariku .untuk ujian selanjutnya, aku tidak akan kalah dari mereka!
Seminggu setelah ujian tengah semester mencekik para murid, akhirnya selesai. Semuanya terlihat tenang dari biasanya. Begitu pula dengan Ifa.
Saat jam istirahat tiba, Ifa menghampiri Aya yang tengah duduk dikursinya sambil membuka kotak bento yang ia bawa untuk makan siangnya. ?Aya,??
?Ya?? Aya menoleh menghadap nya. ?ada sesuatu yang mau aku omongin ke kamu.? Ujar Ifa memulai. Ia tersenyum memandang sahabatnya itu, ?Bagaimana kalau kita ke atap sekolah sambil makan bekal kita dan mengobrol??. Ifa tersenyum dan menerima ajakannya.
Saat sedang jalan menyusuri lorong sekolah, ada seorang yang memanggil Aya dari kejauhan. Keduanya menghentikan langkahnya dan menoleh ke belakang. ?Ira?? batin Aya. ?Aya, aku butuh bantuanmu nanti.?
?Lho? Kenapa tiba-tiba begini??
?Sudahlah menurut saja. Hanya itu saja kok, kalau gitu aku pergi dulu ya, dah?.? Ujar Ira kemudian langsung pergi. Kemudian keduanya melanjutkan perjalanannya.
Baru saja kami sampai diatap sekolah dan duduk dengan kotak bento yang sudah berada di hadapan kami, aku melihat Ifa tengah menundukkan kepalanya dalam-dalam. Awalnya aku kira dia sedang apa, ternyata dia??
?Ifa? Kau tidak makan bento mu?? tanya Aya.
Dia menangis?
?Ifa? Kau tidak apa-apa??
Ya Ampun, apa yang telah aku lakukan?
Kemudian Aya menghampirinya yang tengah terisak-isak menangis dan memegang pundaknya. ?Kau kenapa??.
~
Malam hari..
??????????? Jadi begitu ya, sepertinya aku sudah salah menilai Ifa. Harusnya aku tidak perlu emosi jauh-jauh. Karena dia sendiripun sudah menyadarinya.dia sudah menyadarinya kalau mencontek itu salah.
?Kepercayadirian?
Keyakinan?
Ketenangan?
Dan yang lainnya, itu semua dibutuhkan saat kita menghadapi sebuah ujian. Ujian memang memiliki sebuah arti. walaupun ini baru ujian tengah semester. untuk ujian selanjutnya, akan lebih menantang dan menegangkan
~
??????????? Beberapa hari kemudian, Aya tengah duduk dikursinya. Memegang pensil dan sebuah kertas di mejanya. Mengerjakan soal, lalu Ifa menghampirinya dan duduk disampingnya. ?Ay?? panggil Ifa seraya merangkulnya. ?Ifa, ada apa??
??????????? ?Hmm, habis pulang sekolah, kamu mau ya temani aku mencari buku.?
??????????? ?Hah??
??????????? ?Telinga kamu lagi gak bermasalah kan??
??????????? Aya tertawa lepas. ?Ahahaha, tentu saja aku mau.?
TBC

  • view 165