Fragmen Yatsrib

Azzam Zakariya
Karya Azzam Zakariya Kategori Catatan Harian
dipublikasikan 02 Oktober 2016
Fragmen Yatsrib

Apakah makna sebuah peristiwa hijrah?

Orang-orang memang sudah terlalu lama menungguya, rasa gelisah menggelayuti benak mereka, akankah ‘sang kekasih’ selamat sampai ke kota, akankah lelaki ‘pembelah bulan’ itu berhasil melarikan diri dari kejaran para musuh di sana. Dan rasa rindu itu, kerinduan yang ganjil, kerinduan yang tak lazim, kerinduan kepada seorang yang belum dilihat apalagi dikenalnya.

Tetapi barangkali demikianlah Muhammad, lelaki yang seumur hidup tak pernah bertutur dusta itu, telah dicintai masyarakat Yatsrib bahkan sebelum mereka sempat bertatap muka. Dan rasa rindu yang menggebu itu terbayar lunas, kala onta Sang Nabi mulai tampak mendekat dari arah luar kota, orang-orang pun menangis haru. Dan kerinduan itu terbayar lunas, orang-orang yang berjajar di sepanjang jalanan itu menyenandungkan syair thola’al badru, mereka bersuka cita, bisa ditakdirkan berjumpa dengan Sang Nabi terkasih.

Peristiwa itu terjadi di tahun kesebelas kenabian, ancaman dari pihak quraisy memang terasa kian menghebat, setelah kematian Abu Thalib, paman yang senantiasa melindungi Muhammad, mereka berani mengancam keselamatan Muhammad. Pun malam itu, kala mereka akhirnya menyadari, beberapa warga mekah menghilang secara tiba-tiba. Meski rencana hijrah itu disusun dengan amat rahasia, dan berjalan dengan amat halus, orang-orang quraisy akhirnya sadar.

Migrasi orang-orang itu tentu tak dapat dibiarkan, agama yang dibawa Muhammad harus dimusnahkan, agar kehidupan jahili mereka kembali seperti sedia kala. Dalam kondisi panik, mereka pun menyusun sebuah rencana, lalu sebuah permufakatan pun tercipta, Muhammad harus dihabisi! Para pembunuh bayaran disewa, pemimpin-pemimpin kabilah berkumpul, mematangkan rencana eksekusi malam nanti.

Malam itu, di tengah dingin angin gurun yang menusuk, di bawah pekat malam yang berselimut sunyi, mereka mulai bergerak menuju rumah Muhammad, menyisir setiap lorong jalanan, mengawasi gerak-gerik yang terlihat, tak boleh ada yang terlewat, Muhammad harus tertangkap!

Posisi Sang Nabi memang telah terkunci, pemimpin quraisy tinggal memainkan biduk terakhir untuk menghabisinya, ia kini sedang berdiam di rumah bersama dua sahabat terkasih, Abu Bakar dan Ali, merancang langkah  terakhir agar dapat terhindar dari rencana jahat kaum quraisy.

Langkah-langkah jahat itu kian mendekat, menerobos gulita malam yang pekat, menghambur ke rumah Muhammad yang mereka awasi secara ketat. Mereka menyisir setiap ruangan, hingga tiba di dalam kamar, dan di atas ranjang itu, seorang tengah tidur nyenyak berselimut kain lusuh. Mata-mata culas itu menatap nanar, pedang-pedang tajam telah teracungkan. Muhammad, lelaki yang menjadi target operasi malam itu, tertidur pulas dibalik selimut, hanya dengan satu tebasan pedang, maka habislah nyawa Sang Nabi, lenyaplah risalah cinta yang di bawanya dari muka bumi.    

Selimut tersingkap, dan pedang pun terayun sudah, namun apa gerangan, lelaki yang tidur di ranjang itu bukan Muhammad, tetapi Ali, pemuda ingusan keponakan Sang Nabi. Sadar bahwa Muhammad meloloskan diri, orang-orang itu pun menghambur berlarian, mengejar Muhammad yang berlari menjauh dari Mekah, ditemani sahabatnya tercinta, Abu Bakar.

Muhammad lolos, di sebuah gua persembunyian, mereka hampir saja tertangkap, namun sarang laba-laba menyelamatkan mereka, di gua itu, sang guru peradaban membacakan firman-Nya untuk menghibur hati Abu Bakar “laa tahzan, Innallaha ma’ana” usah sedih, duhai Abu Bakar, kan Allah bersama kita, itu lebih dari cukup dari segala sesuatu yang ada di dunia ini.

Di akhir kisah, demikian kita baca dalam sirah nabawiyah, al qaswah, onta Sang Nabi berhenti sejenak kala memasuki yatsrib, orang-orang di sepanjang jalan gemetar, berharap onta sang Nabi akan berhenti di rumahnya, lalu onta itu berdiri lagi dan berjalan hingga tiba di rumah seorang anshar, Abu Ayyub. Di tempat berhenti pertama itulah Muhammad mengajak kaumnya untuk membangun masjid, dan di rumah Abu Ayyub lah Nabi memilih untuk bertempat tinggal.

Dalam sebuah kesempatan, nabi memberikan pesan hijrah, “tebarkan salam, sambung kekerabatan, berbagilah makan, shalatlah di malam ketika banyak manusia terpejam”. Pesan yang mengandung muatan keshalihan individu dan keshalihan sosial, Pesan yang membagi relasi manusia dengan Tuhan dalam sebuah kesetimbangan, pesan yang akan selalu relevan sepanjang zaman. Pertanyaanya, sudahkah kita amalkan?

  • view 218