Mengeja Bahagia

Azzam Zakariya
Karya Azzam Zakariya Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 10 September 2016
Mengeja Bahagia

..bahwa terkadang, patah hati pada dunia itu perlu, agar kita tahu siapa yang sebenarnya kita tuju...

“Pak, aku mau tamiya yang itu...” rengekku di salah satu toko mainan yang berada di pojok utara pasar Comal, terik mentari menyengat kulitku, usiaku baru sembilan atau sepuluh tahun kala itu, bapakku seorang guru, ibuku menjual sembako di toko kecil yang terletak di serambi rumahku. Hari itu rasa kecewa menyelimutiku, sebab bapak tidak membelikan tamiya yang kuinginkan, aku tak pernah tahu alasannya, yang kutahu, aku kecewa.

Sore itu aku duduk di selasar masjid sebuah sekolah di kota Jogja, tubuhku terasa letih setelah menempuh enam jam perjalanan menuju Jogja, mentari senja menyapaku hangat, sebuah pohon tegak berdiri, meneduhkan siapa saja yang kala itu duduk-duduk di selasar, angin sore menari-nari sepoi dan membelai. Tanpa sengaja sebuah peristiwa melintas di depan membuatku sendu, seorang anak tengah bercengkerama mesra dengan ayah, ibu dan adiknya, dari parasnya yang khas kutaksir ia berasal dari daerah timur, kelak kala ia memperkenalkan dirinya, ku tahu bahwa ia berasal dari daerah sumba.

Hari itu aku bersama dua teman kecilku datang ke kota Jogja, mendaftarkan diri  di salah satu sekolah tertua yang telah ada bahkan sebelum Republik ini merdeka, meniti takdir yang kelak akan merubah jalan kehidupanku. Namun ada yang terasa miris kala itu, kala dua teman ku berangkat ke kota pelajar dengan disertai ayah ibu, pun anak sumba yang kulihat di depan masjid itu, sementara aku? hanya ditemani kakak ku, yang kuliah di semarang kala itu, menyusul ke jogja sebagai pengganti bapak ibu untuk menemaniku.

Usiaku dua belas, baru saja tamat dari bangku sekolah dasar, tentu saja aku belum bisa memahami, bahwa ibu ku sedang kurang sehat kala itu, lalu sebersit kesedihan merasuk jiwa, ini jelas tidak adil, mengapa temanku bisa diantar ayah ibunya, mengapa ibu harus sakit menjelang aku berangkat ke jogja, mengapa bapak lebih memilih menemani ibu di rumah sana, ketimbang menemani anak kecilnya yang merantau untuk pertama kalinya.

Senja menjelang sewaktu aku balik ke asrama, “zam, bapakmu tadi telpon....” seru seorang teman ketika melihatku pulang, aku sudah duduk di bangku kelas dua sekolah menengah pertama kala itu, sudah setahun lebih aku hidup ‘sendiri’ di kota Jogja, jauh dari kedua orang tuaku, hanya doa meraka yang terus menyertaiku. Tentu saja kadang terbersit rasa rindu, teringat bagaimana dulu bapak ibu memanjakanku.

Pikirku, pasti bapak ibu juga merasakan hal serupa, apalagi aku adalah anak terakhirnya. Untuk menebus rasa rindu, bapak sengaja ke Comal untuk menelponku. Waktu itu komunikasi tak semudah sekarang, maka demi  mendengar kabar dariku, ia rela menempuh jarak yang lumayah jauh. Namun sore itu, aku membuatnya kecewa, kala ia berniat untuk menelponku, aku justru tidak berada di asrama, aku malah asyik main game di luar sana. Tak pernah kutanya bagaimana perasaan bapak kala harus kembali ke rumah tanpa ada kabar dari anaknya. Ah, tentu saja bapak kecewa.

Suatu hari aku pulang ke rumah, aku hanya pulang ketika ada libur panjang tiba, mungkin hanya tiga sampai empat kali dalam setahun. Sejak kecil aku ditempa sang takdir, berkawan dengan kerinduan yang terkadang menyembilu, berjauh-jauh dengan ayah ibu, demi sesuatu yang saat itu belum ku tahu. Sesampai di rumah aku baru tahu, ibu baru saja dirawat selama beberapa hari di rumah sakit, dan aku tidak diberitahu, aku sedih karena tak tahu sakit yang diderita ibu, kecewa karena hanya aku yang tidak diberitahu perihal sakit yang membuatnya terbaring di rumah sakit itu.

 “mulai bulan depan...” kata ku suatu ketika kepada Ibu “aku tinggal di sekretariat bu, biar irit, ga perlu bayar kos”. Itu tahun pertamaku kuliah di Tegal, aku mulai aktif berorganisasi dan aku memilih tinggal di sekretariat, uang saku memang masih di jatah oleh kakak ku namun setidaknya aku bisa belajar sederhana, begitu pikirku kala itu. Kakak ku adalah teladan kesederhanaan yang luar biasa, sewaktu kuliah ia memilih tinggal di salah satu masjid di sekitar kampus dan menempa diri di sana.

Beberapa saat menjelang wisuda, kondisi ibu kembali tidak fit, karena sakitnya dulu, ia tidak bisa terlalu capek, padahal sewaktu muda dulu ia biasa mengurus anak-anaknya pada pagi hari, siangnya menyiapkan makanan untuk keluarga, menanam sayuran di kebun kecil yang kami punya di sore hari, dan menjahit pakaian hingga larut malam tiba. Ibuku seorang penjahit dulunya, hasil jahitannya yang konon rapi membuat banyak pelanggan memilih untuk mengantri lama ketimbang harus menjahit baju di tempat lain. Maka sewaktu wisuda aku hanya ditemani bapak dan kakak ku, tanpa ibu, sekali lagi tanpa ibu, seperti dulu waktu aku mendaftar sekolah di Jogja sewaktu kecilku.

Pagi itu mentari mulai menaik tinggi, barang-barangku sudah terkemas rapi, rapi sekali, semalaman ibu membantuku menata memasukkan baju-baju ke dalam tas ku. Hari itu aku kembali pergi dari rumah tercintaku, menyelami lautan takdir yang entah akan kemana ia membawaku, lalu tiba-tiba rasa haru menyelimutiku, kala ibu terisak memelukku, lantas ia membisikiku “hati-hati di perantauan nak, di manapun kamu ditempatkan, jaga selalu shalatmu, semoga Allah selalu bersamamu”. Dan takdir membawaku terbang ke tananh rencong.

Suatu shubuh di masjid Teuku Umar aku kembali disergap rindu yang menggebu, merindukan shalat shubuh berjamaah dengan ibu di mushalla rumahku, mencium mesra telapak tangannya yang tak lagi lembut seperti dulu. Kini aku tahu, mengapa dulu bapak ibu mengirimku ke jogja sejak usiaku baru dua belas, ‘tega’ meninggalkan anak terakhirnya sendirian di kota yang teramat asing baginya, memilih untuk tidak memberiku kabar kala ibu harus masuk rumah sakit agar aku tidak khawatir dan sedih, aku pun bersyukur karena dulu aku tak dibelikan tamiya oleh bapak ku, hingga aku bisa belajar bahwa tak setiap ingin kita harus segera terwujud, dan bahwa terkadang, patah hati hati pada dunia itu perlu, agar kita tahu siapa yang sebenarnya kita tuju.

Barangkali, demikianlah cara bapak ibu ku mengeja rasa bahagia, mengungkapkan rasa cinta, memilih bersikap sederhana, memaknai kehidupan di dunia. Bukankah ia hanya sementara? Maka mengapa tak kita siapkan saja sebanyak mungkin bekal-bekal cinta? Agar kita dapat selalu bersama, sehidup sesyurga.

 

  • view 233