Kalimat Rindu Untuk Ayana : Bagian 2

Azmi Robby
Karya Azmi Robby Kategori Cerpen/Novel
dipublikasikan 13 April 2017
Kalimat Rindu Untuk Ayana : Bagian 2

Kalimat Rindu Untuk Ayana

Bagian II

               

Ayana,

            Hanya tinggal kamu yang belum mengucapkan selamat ulang tahun kepadaku. Padahal, aku masih menanti ucapan manis di hari ulang tahunku. Seperti beberapa tahun yang lalu. Dengan malu-malu kamu akan memberi sekotak kado kecil untukku. Tak terlalu mahal tapi menjadi berharga untukku karena kamu yang memberikanya. Walaupun terakhir kali kamu memberikan kado adalah 7 tahun yang lalu, tapi  sampai detik ini aku masih terus menginginkan kado darimu.

            Aya,

            Waktu itu adalah pertama kali aku membuatmu menangis. Aku merasa menjadi manusia paling jahat kepadamu. Waktu itu saat kita berniat menghabiskan long weekend bersama. Dompet milikmu hilang,  semua uangyang kamu punya ada didompet itu. Saat itu kamu berubah menjadi wanita yang sangat panik, kamu menangis ingin segera pulang. Kamu sangat gelisah waktu itu Aya. Maaf, adalah kata yang aku bisikkan dengan lembut kepadamu waktu itu. Kamu hanya mengangguk sembari terus meneteskan air mata. Orang-orang yang berpapasan dengan kita memperhatikanku dengan tatapan curiga. Aku makin khawatir padamu.

            “Sudah, nanti kita tetap bisa pulang kok” Kataku, sembari mengusap rambutmu.

            Kamu masih terus menunduk. Tangismu sudah bisa kamu hentikan. Tapi kamu masih terus diam. Aku memelukmu perlahan, mendekapmu hangat. Kepalamu melemas.

            “Hei, apa yang kamu khawatirkan? Setidaknya kamu tidak kehilangan diriku disini bukan?.” Tanyaku lembut ditelingamu.

            “Tapi aku ingin pulang” Lirih kamu membalasku. Kamu mulai menangis lagi.

            Aku mendekapmu makin erat.

            “Mari pulang. Tapi janji, kamu jangan menangis lagi”

            Kamu mengangguk berjanji, lalu kita beranjak dari tempat itu menuju stasiun. Aku memegangi tanganmu agar kamu merasa aman. Kamu mengusap air matamu tergesa-gesa. Mungkin kamu malu dilihat orang ya?. Seharusnya masih ada 2 hari kita bersama di Jogja. Tapi kau ingin segera pulang. Aku tak tega melihatmu seperti itu. Jadi kuputuskan membeli tiket langsung dihari itu juga untuk pulang ke Bandung.

            “Aku ngantuk” keluhmu.

            “Sini tidur dulu, keretanya masih lama” Lalu kubelai kepalamu diatas bahuku. kamu terlihat kecapaian, lalu tertidur pulas. Aku tersenyum menikmati lembut wajahmu saat memejamkan mata.

            Aya,

            Aku rindu saat kita masih bersama-sama. Memanja senja bersama tarian awan. Diatas mobil tua milik ayahku. Mobil tua yang tak sengaja aku rusak itu haha. Kamu harus tahu Aya, ayah sama sekali tidak marah kepadaku. Tapi tetap saja, aku merasa tidak enak kepadanya.

            Aya,

            Lagu kita melantun syahdu dari benakku menemani aku yang  selalu sendirian. Kenangan indah bersamamu melesat mengacaukan pikiran.

            “Aku diterima di STPB!” ceritaku sepulang sekolah waktu itu.

            “Wah, Selamat Aris!” Kau berteriak sambil lompat-lompat.

            “Tapi kita tidak satu sekolah lagi” Keluhku padamu.

            “Yang penting masih satu kota. Kenapa kamu jadi cengeng gitu sihh”Godamu.

            “Haha, iya juga Ya. Aku masih bisa menjemputmu di sekolah atau tempat bimbel”

            Kamu hanya tersenyum dihadapanku. Aku membantu kamu memakai helm. Saat itu rambutmu sudah bisa diikat. Aku suka sekali setiap saat kamu mengikat rambutmu yang selalu harum itu. Sering aku memerhatikan kamu ketika pelajaran olahraga, hari Kamis. Dari lantai tiga aku bisa langsung melihatmu mengikatkan rambutmu. Kamu akan selalu mencariku. Jika tepat, kita bisa saling beradu pandangan. Setelah itu aku melambaikan tangan sambil memberi semangat. Ahh, aku rindu moment itu Aya.

Aya,

            Kenapa kamu pergi ketika aku sedang berbahagia?

            Aku tidak bermaksud menyalahkan dirimu. Mungkin aku yang belum bisa menerima kenyataan ini. Tapi juga, aku yang merasa bersalah akan hal ini. Bukanya tak mau aku mengungkapkan perasaanku padamu lalu kita resmi menjadi sepasang kekasih. Bukanya tidak ingin aku melakukanya. Bukanya aku pengecut yang tidak bisa mengatakan satu kalimat cinta padamu untuk bisa mengabulkan keinginanmu untuk berpacaran denganku.

            Tapi kenapa Aya? Aku selalu menjadi seperti ini. Penuh kebimbangan, penuh kegoisan. Aku percaya dan meyakini apa yang aku pikirkan itu yang terbaik. Aku tak peduli pendapatmu aku tak akan pernah memikirkan bagaimana perasaanmu terhadap apa yang aku lakukan. Semua yang aku lakukan terasa sudah benar dan tidak perlu orang lain untuk membuatnya benar.

            Pada akhirnya, aku salah. Aku yang salah Aya. Kuingin kembali ke masa lalu. Saat aku masih bisa menikmati senyummu setiap senja. Aku akan berusaha menjadikanmu kekasihmu. Walaupun aku tahu kini, bukan kamu yang tercatat akan menjadi jodohku. Perasaan bersalah ini tak akan bisa aku lupakan. Dan kesalahan terbesarku adalah merasa paling benar.

            Aya,

            Maafkan aku yang tak pernah bisa mengerti apa mau kamu. Tanpa sadar, bulir-bulir air turun perlahan dari mata membasahi pipi. Jalan basah karena hujan. Nuansa dingin merasuki hati. Menyayat hatiku lebih dalam bersama rasa bersalahku padamu Aya. Ada sebagian dariku yang menolak untuk menghampirimu. Memaksakan langkah untuk berbalik arah. Ada juga sebagian dariku yang memaksa dengan penuh dengan rindu  untuk menghampirimu setelah 6 tahun tak jumpa.

            Aya,

            Semakin dekat aku denganmu. Hatiku semakin berguncang dengan keras. Apakah aku salah jika menghampirimu saat ini. Apakah aku masih harus menyatakannya padamu?. Apa sebaiknya aku kembali? Lalu dengan perasaan yang sama menjauh darimu, lagi?. Seandainya aku berbalik kembali pulang. Aku akan tetap menjadi lelaki penuh penyesalan di dunia.

            Aya,

            Sepertinya aku harus mengungkapkan dan melepaskan semua perasaan yang mengendap dihati ini sekarang juga. Aku tak mau terbebani lagi dengan semua perasaan buruk ini. Barisan batang-batang besi pagar rumahmu perlahan semakin jelas. Aku gugup setengah mati. Aku lawan mati-matian keinginan untuk kembali dan menjauh darimu. Satu tangkai bunga mawar harum terlihat tidak seindah ketika aku memetiknya.  Aku memacu mobil lebih kencang menghantam ribuan bulir hujan diiringi lagu-lagu patah hati dari memoriku.

            Hujan telah reda, bersamaan dengan sampainya aku ditempat tujuanku, kamu. Kubawa setangkai bunga harum itu. Langkahku rapuh semakin dekat padamu. Kutundukan kepalaku mengumpulkan nyali. Kulihat rumput-rumput pekarangan menyambut langkahku. Tak disangka terdengar oleh telingaku, derap kecil langkahmu. Otakku merespon dengan memutar kembali ingatanku tentang caramu berjalan, berlari, meloncat, semua bagai film yang diputar super cepat. Melesat-lesat mengganggu konsentrasiku. Kuberanikan diri untuk memastikan dengan kedua mataku. Perlahan-lahan kuangkat kepalaku, berat.

            Deg! 1 detik setelah jelas aku melihatmu untuk pertama kalinya setelah 7 tahun. Hatiku terbelah perlahan, lalu pada 1 detik selanjutnya hatiku terpotong-potong terhempas, terpecah-pecah dengan keras. Bulir mata memaksa untuk turun. Tapi aku tak bisa membiarkanya. Perasaanku hancur seketika.

            Aya,

            Aku tahu bukan aku jodohmu, tapi mengapa aku masih harus sakit hati melihat perut hamilmu?

            Aya,

            Izinkan aku mendekatimu walau hanya 10 detik saja.

            Aya,

            Diam Disitu, aku perlahan berjalan mendekatimu. Apakah kamu menyadari kehadiranku disini?. Aku melangkah gontai. Memaksakan segala sakit ini untuk menjadi lebih sakit lagi. Kamu berbalik badan hendak masuk kedalam rumah. Aku makin cepat memaksakan langkahku.

            Aya,

            Maafkan diriku yang telah lancang seperti ini, memegang tanganmu tanpa malu. Kamu terdiam di mulut pintu. Tapi seperti tidak berniat untuk berbalik badan. Dari dalam hati kalimat itu menjalar memenuhi tenggorokan. Merangsek masuk memenuhi mulut. Ingin aku meneriakkanya. Tapi yang kulakukan selanjutnya adalah mendekatkan bibirku pada telingamu.

            “Aku sayang kamu Ayana, mau kan jadi perempuanku?” Bisikku perlahan membawa sejuta penyesalan kehadapanmu.

            “Aku taruh bunga ini, di meja ini ya?” Kataku, sambil menaruh setangkai bunga mawar harum itu di meja depan rumahmu.

            Sedikit-demi sedikit kamu membalikkan badan. Kerinduanku perlahan terhapus oleh rupamu yang perlahan semakin jelas.

           

 

 

 

 

Aya,

            Akhirnya aku bisa pergi dengan damai. Satu persatu bagian tubuhku terhapus waktu. Menjadi partikel-partikel kecil mengudara bersama angan, kasih, dan cintaku kepadamu. Aku menangis, aku menangis sekeras-kerasnya menyadari dirimu adalah bukan untukku. Aku menangis, menangisi segala kebodohan masa lalu. Aku juga menangisi tentang kamu, tentang kamu yang detik ini mungkin sudah lupa kepadaku.

            Ayana,

            Cinta pertama dan terakhirku. Aku pergi. Pada akhirnya, perasaan ini tak ada yang berubah. Aku masih rindu kamu. Pasti akan selalu merindukanmu.

                        “Aku sangat merindukan kamu Ayana”

            Matamu perlahan berair. Seperti memikirkan sesuatu, kamu menutup wajah dengan kedua telapak tanganmu, menggeleng-gelengkan kepala. Segera masuk kedalam rumah. Aku tersenyum melihatmu seperti itu.

            Karena untuk cinta aku bersemayam. Melewati waktu untuk sampai pada hari dimana aku mengucapkannya. Kalimat tulus tanpa manipulasi. Kalimat rindu penuh dengan penyesalan. Kalimat rindu penuh kesedihan. Aku pergi Aya. Maaf, selalu rindu kamu.

            Lalu, pandanganku memudar. Parasmu yang selalu aku rindukan sudah tidak bisa kunikmati lagi. Aku menghilang bersama semua rasa rindu ini.

           

            Bersambung

 

Ilustrasi dibuat oleh Fajar Fadlilah, Bisa dikepoain lewat akun Instagramnya @fadl.in)

  • view 72